Islam,menjawab berbagai pertanyaan dan ketidakpastian dalam agamanya

0
ABDUL AZIZ LAIA (Lianus Laia) berasal dari Lölömatua. Ayahnya Ama Tiana Laia dan ibunya Ina Tiana Bulölö. Abdul Aziz yang pernah jadi tukang pangkas rambut di Riau ini adalah anak pertama dari tujuh bersaudara.

Saat remaja, seorang guru berkerudung membuatnya kagum. Beranjak dewasa, hatinya terketuk oleh materi khutbah Jumat serta kumandang tilawah Alquran yang didengarnya setiap menjelang Maghrib. Kini, pria bernama Abdul Aziz Laia itu telah menghafal tiga setengah juz Alquran.

Abdul Aziz berislam sembilan tahun lalu, setelah beberapa tahun lamanya kebenaran Islam menyusup ke dalam sanubarinya. Islam, katanya, menjawab berbagai pertanyaan dan ketidakpastian dalam agamanya. “Tak ada alasan untuk keluar dari agama Allah ini,” kata pria bernama asli Lianus Laia ini.


                                                       
                                                                            ***

Abdul Aziz. Demikian nama yang dipilihnya setelah ia memutuskan mengucap syahadat pada Januari 2002 silam. “Laia,” nama marga yang tak ingin ditanggalkannya, ia sematkan di belakang nama barunya itu. Dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga Kristiani, Aziz tak pernah mengenal Islam. Terlebih di Nias Selatan, kota kelahirannya, umat Islam adalah masyarakat minoritas.

“Yang kuingat, dulu aku dan teman-teman kerap merobek gambar apapun yang disebut-sebut sebagai gambarnya orang Islam. Tapi aku sendiri tak tahu apa itu Islam,” ujar Abdul Aziz kepada Republika yang menemuinya di kampus LIPIA, Jakarta Selatan, Kamis (15/3) lalu.

Satu hal yang ia tahu tentang Muslim kala itu; mereka berbeda. Perbedaan itu ditemukannya dalam diri salah seorang guru perempuan di sekolahnya. “Aku masih ingat, dulu aku sering mengamati pakaiannya. Ia mengenakan kerudung dan rok panjang yang menutupi kakinya, tidak seperti pakaian guru-guru perempuan lain di sekolahku.”

Tak hanya itu, Aziz kagum pada bagaimana sang ibu guru berperilaku dan bertutur kata. “Akhlaknya mencerminkan kebaikan budi pekerti. Jika semua Muslim seperti itu, saya yakin akan banyak sekali orang yang tertarik pada Islam,” kata Abdul Aziz, masih dengan nada kagum.

                                                                            
                                                                           ***

Semua hanya sebatas kekaguman, hingga akhirnya Abdul Aziz menamatkan sekolah menengah pertamanya dan melanjutkan studinya ke sebuah sekolah kejuruan di Medan. Di kota itulah segalanya berawal. Aziz bekerja sebagai fotografer pada sebuah keluarga Muslim dan tinggal bersama mereka di rumah yang berdekatan dengan masjid.

Setiap hari, selama tiga tahun, Aziz mendengar rekaman tartil Alquran lengkap dengan terjemahannya dikumandangkan setiap menjelang Maghrib. Al-Anbiyaa’ dan Maryam adalah dua surah yang paling sering diputar kala itu. “Aku sangat terheran-heran kala itu. Nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah kami (umat Kristiani) pelajari,” kata Aziz.

Berangkat dari situ, perhatian Aziz pada Islam muncul secara perlahan. Khutbah yang didengarnya setiap hari Jumat melengkapi perhatiannya dan mengubahnya menjadi keingintahuan. “Aku semakin ingin tahu lebih banyak hal tentang Islam. Dan secara perlahan pula, aku semakin jarang pergi ke gereja.”

Tak hanya itu, Aziz merasa ada yang mengetuk-ngetuk hatinya kala melihat para jamaah masjid berwudlu. “Itu seperti baptis dalam ajaran kami. Aku merasa Islam dekat dengan berbagai hal yang pernah kuketahui sebelumnya tentang agamaku.” Meski belum resmi berislam, keingintahuan yang bertambah besar setelah itu membuat Aziz memilih menjadi remaja masjid. Sesekali, ia bahkan ikut mengerjakan amalan-amalan Muslim.

                                                                         
                                                                          ***

Lulus dari sekolah kejuruan, pria kelahiran 25 Oktober 1980 ini lalu merantau ke Riau dan bekerja di sana. Dua tahun pertama di sana, katanya, ia semakin giat mendalami Islam. “Aku mulai membandingkan antara Islam dan Kristen,” katanya.

Pada waktu yang sama, Aziz mulai meragukan dogma-dogma agamanya. Seperti dogma yang mengatakan bahwa dosa-dosa umat Kristiani dihapuskan pada Natal dan tahun baru. “Ketika yang kulihat justru bahwa banyak dari kami merayakan Natal sambil mabuk-mabukan, jaminan pengampunan dosa itu mustahil,” ujarnya.

Hingga akhirnya, ia memilih salah seorang kawannya yang juga seorang penggiat masjid untuk menjawab pertanyaannya. Setelah sempat tidak mampu memejamkan mata pada malam sebelumnya, Aziz melontarkan tiga pertanyaan pada kawannya itu. “Aku bertanya tentang siapa Muhammad, bagaimana posisi Isa dan Maryam dalam Islam, dan mengapa babi haram dimakan.”

Dari uraian sang kawan, Aziz mengetahui bahwa perihal Nabi Muhammad juga disebutkan di dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran. Dan ia semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki surah bernama Maryam, sementara agamanya tidak.

Tak ada lagi keraguan dalam hati Aziz untuk membantah kebenaran Islam saat itu. Tak ingin menunda, Aziz meminta diislamkan saat itu juga, dua minggu setelah ia merayakan Natal. Meski tak disaksikan siapapun selain Allah dan kawannya, Lianus Laia pun resmi berhijrah dengan nama Abdul Aziz Laia.


                                                                         ***

Pasca berislam, Aziz semakin menunjukkan perannya sebagai remaja masjid. Ia dipercaya sebagai ketua, diundang berbicara di berbagai masjid, dan menjadi penggagas pengajian khusus mualaf di Kecamatan Tualang Perawang, Siak, Riau. Selain itu, Aziz juga belajar membaca Alquran pada sang marbot yang mengislamkannya.

Hanya saja, Aziz merasa, ia tak banyak belajar banyak tentang Islam kala itu. Bahkan, ia malu karena tak juga mampu membaca Alquran. “Tak ada yang membimbingku mendalami agama. Namun di tengah kondisi itu, aku tak pernah absen untuk shalat berjamaah di masjid.”

Hingga akhirnya, ia bertemu seorang ustadz yang menyarankan Aziz untuk menimba ilmu agama di Jawa. Di luar dugaan, masyarakat Tualang Perawang mendukung dan bergotong royong menyiapkan biaya keberangkatannya. “Saya bertolak dari Riau dengan membawa uang sebesar 13 juta yang dikumpulkan oleh masyarakat. Subhanallah.”

Di Jawa, Aziz mula-mula menimba ilmu selama tiga bulan di sebuah pesantren di Pandeglang, kemudian setahun di Tasikmalaya. Dari kedua pesantren tersebut, Aziz merasa kebutuhannya sebagai mualaf tidak terpenuhi, dikarenakan tidak ada sistem pembimbingan khusus bagi mualaf seorang seperti dirinya.

Kondisi itu semakin parah karena Aziz mulai kehabisan bekal sehingga harus bekerja. Ia bekerja di klink pesantren dan hanya diperbolehkan ikut belajar bersama para siswa Aliyah setelah tugas-tugasnya selesai. Itupun tanpa terlibat aktif dan menerima rapor karena ia tak mampu membayar SPP. “Di kelas, aku hanya jadi pendengar.”

Solusi datang dari Allah saat ia bertemu seorang teman yang kemudian mengenalkannya pada seorang teman lain dari Medan. Dari teman yang terakhir, Aziz bertemu seorang mualaf yang mengelola pesantren khusus mualaf An-Naba’ Center, Syamsul Arifin Nababan.

                                                                         ***

Ustaz Nababan, demikian Aziz memanggilnya, mengizinkannya untuk tinggal di An-Naba’ Center dan mempelajari Islam tanpa dibebani kewajiban finansial. “Di sanalah aku mulai belajar Alquran secara intensif dan kemudian mulai menghafalnya.”

Atas perjuangan sang ustadz pula, Aziz dapat berkuliah di LIPIA . Di samping itu, semangat dakwah yang tinggi dalam dirinya mendorongnya untuk mendalami ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta Selatan. Selain berkuliah, pria yang bercita-cita menjadi dai ini juga sibuk berdakwah di berbagai tempat.

Mengenai keislamannya, Aziz mengaku puas dan tenang. “Subhanallah, kehidupan menjadi sangat indah dengan Islam.” Keindahan itu, katanya, tidak akan ia gadaikan dengan apapun. “Diiming-imingi apapun, dan diancam dengan apapun, aku tidak akan meninggalkan agama ini. Jiwa ragaku untuk Islam,” tegasnya.

Tentang cita-citanya, Aziz mengaku akan terus mempersiapkan diri untuk itu. Sulung dari tujuh bersaudara ini bertekad untuk terus menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang ‘mumpuni’ di bidang agama. “Setelah lulus S2, aku akan kembali ke Nias dan berdakwah di sana.”

Tayyibah Taylor,Portrayal of American Muslim Women in the Media

0

Increasing attention on issues involving Islam and Muslims across the globe has led to increasing exposure of Muslims in the media. With many media outlets portraying Muslims, and Muslim women in particular, as objects of the news, Azizah magazine is uniquely interested in providing a vehicle for the voices of Muslim American women. During this lecture and networking event, Tayyibah Taylor, Editor-in-Chief and Publisher of Azizah magazine, will speak about the portrayal of Muslim women in the media, as well as her work with Azizah magazine.

Dibandingkan tahun 2000,Masjid di Brasil meningkat 4 Kali Lipat

0
As-salamu’ alaikum,” ucap Umar kepada para jemaah semasa memasuki masjid pertama di Rio yaitu Mesquita da Luz, selepas ia berbuka puasa.

Itulah antara bahasa Arab yang Umar tahu dan ia buru-buru meneruskan perbincangannya dalam bahasa Portugis bersama teman-teman Islam yang lain, yang sepertinya baru memeluk agama tersebut di negara dengan penganut Kristen Katolik terbesar ini.

Di tanah yang lebih terkenal dengan bikini-mini dan karnival mewah yang memaparkan wanita yang berpakaian minim, satu kelompok kecil dan kini sedang bertambah besar, orang Brazil dari berbagai kaum telah memeluk agama Islam.


Selama beberapa dekade, hanya keluarga berketurunan dari Libya, Palestina dan Suriah saja yang mengamalkan Islam di Brazil.

Umar, yang empat tahun lalu merupakan seorang pendeta dari sebuah gereja setempat, menceritakan mengapa ia memeluk Islam.

“Dalam Islam, saya menjumpai semua benda yang tengah saya cari. Saya jumpa Tuhan sebagaimana yang Dia mahu, tanpa melakukan adaptasi,” kata Umar, 34 dikutip AFP.

Berpakaian jubah panjang djellaba, ia enggan memberikan nama sebenarnya, tetapi hanya memberikan nama Muslim nya, sebagai nama barunya, Umar Israfil Dawud bin Ibrahim.

"Pada saat ini, Anda akan belajar bahawa Islam adalah salah satu agama monoteistik. Tidak ada prejudis terhadap agama ini," kata Umar, yang berada di sisi isterinya, Alessandra Faria, yang menggunakan nama “Fatima” selepas memeluk Islam dan membuat keputusan untuk memulai menggunakan jilbab.

“Pada awalnya, ibu saya amat takut untuk berada di luar dengan saya. Saya pakai jilbab untuk menunjukkan saya Muslimah dan sadar bahwa saya adalah sebagian dari golongan minoritas,” kata Fatima.

Hijab Fatima mungkin menarik perhatian karena ia sangat ganjil di Rio, yang rata-ratanya lebih lumrah melihat wanita-wanita berjalan hanya dalam bikini-mini di tepi laut, namun ia percaya kepercayaannya akan ada tempat di Rio.

“Brazil adalah satu tempat berbagai budaya. Campuran ini menyebabkan orang Brazil sedang beradaptasi dan toleransi.”

Seperti umat Islam di sini, Umar and Fatima adalah orang baru dalam Islam. Mereka berencana untuk berkunjung ke Arab Saudi tahun depan dalam sebuah undangan beasiswa dari pemerintah Saudi untuk belajar bahasa Arab.

Renovasi di masjid yang mereka hadiri di pinggiran utara Rio Tijuca mulai berlangsung empat tahun lalu dengan sumbangan dari para jamaah. Masjid ini akan segera menampung sekitar 400 jamaah shalat, sebuah kenaikan yang ketara.

“Jumlah umat Islam semakin bertambah, dan banyak orang Brazil telah memeluk Islam. Kita mencari anggota baru secara online,” kata Sami Isbelle, jurubicara Beneficent Muslim Society (SBMRJ).

“Di Rio, terdapat 500 keluarga Muslim, 85 persen adalah orang Brazil yang berganti agama tanpa ada hubungan dengan Arab,” kat Isbelle.

Berlainan pula di Sao Paulo dan bagian selatan Brazil, di mana kebanyakan umat Islam dilahirkan sebagai Islam dan berketurunan Arab.

Sementara itu, sensus Brazil tidak mengambil data jumlah umat Islam, tapi hanya mengeluarkan data mengenai Katolik, Kristen evangelis, orang-orang Yahudi, spiritualis dan pengikut agama Afro-Brazil.

“Muslim dikategorikan dalam senarai ‘agama lain-lain’ bersama Buddha, sebagai contoh,” kata pakar Islam Paulo Pinto dari Fuminense Federal University, yang menengarai Brazil adalah kediaman bagi sejuta umat Islam.

Indikasi terbaik terhadap perkembangan Islam di negara ini adalah dalam peningkatan tempat beribadat, ujar Pinto. Sekarang ini terdapat 127 masjid, empat kali lebih banyak berbanding tahun 2000.

Selepas serangan 11 September di Amerika Serikat (AS), “ada perkembangan minat terhadap Islam dan banyak yang ingin memeluknya,” tambah Pinto.

“Islam kini dilihat sebagai bentuk baru perlawanan.”

Sebuah “telenovela” yang dilancarkan tiga minggu selepas serangan 2001, “The Clone” menyemarakkan minat orang Brazil terhadap Islam.

Bertempat di Morocco, drama popular itu telah menunjukkan “imej positif bagian dunia tersebut, dengan seroang pahlawan yang baik hati,” kata Pinto.

"Terdapat kecenderungan untuk berfikir bahwa budaya Brazil, yang liberal dan sensual seperti yang ada, bertentangan dengan kaedah-kaedah Islam.
Tapi pada kenyataannya, ada aturan konservatif yang merupakan bagian dari kontrol moral dan seksual. Lihatlah berapa banyak evangelis Kristen sukses di Brasil!"*/rossem, AFP

Mereka beramai ramai Bersyahadat di Regent Park Mosque

1 komentar

ATAS saran Imam Syeikh Khalifah, saya ikut dan datang ke pengajian hari Sabtu. Walau tidak bisa datang setiap hari Sabtu, namun kehadiran kami cukup dikenal oleh brother Naugal dan istrinya serta teman-teman yang lain. Selain ke masjid, kami juga menyempatkan bersilaturahim dengan teman lainnya. Kadang kita lanjutkan dengan minum kopi atau makan malam.

Masjid ini memang lokasinya sangat sentral, sangat nyaman karena terletak di pusat kota, dai Regent Park, satu kawasan dengan Baker Street. Tempatnya Madame Tussaud (Rumah muesium lilin) sehingga di masjid ini kadang dijadikan meeting point untuk amprokan atau rendevous, bahasa keren-nya.

Syahdan, ‘Islamic Circle’ ini didirikan oleh brother Yusuf Islam pada tahun 1979, saat ia baru masuk Islam. Alhamdulilah pengajian ini masih berjalan secara langgeng yang kini di koordinir oleh brother Naugal Durani yang beristrikan orang Inggris. Sementara Yusuf Islam sendiri hampir jarang berada di UK, selain beliau punya kesibukan lain seperti sekolahnya yang bernama Islamiya, charity-nya dan juga kegiatan bisnis lainnya.



Pengajian ini berlangsung sangat simpel dan sederhana. Dimulai sekitar jam 3 sore setiap hari Sabtu dan dilaksanakan di basement atau kadang kita menggunakan ruang di lantai pertama.

Pengajian dihadiri oleh siapa saja termasuk non-Muslim atau bagi mereka yang masih mencari tahu tentang Islam.

Pembicaranya bisa dari mana saja dan siapa saja. Selama mampu berorasi dengan ilmu yang memadai dengan durasi selama 1 jam. Biasanya, acara ditutup dan di akhiri dengan minum teh dan biscuit. Setelah itu para jamaah saling bersilaturahmi, saling berkenalan dan menambah teman baru.

Tidak ada sesi tanya jawab apalagi diskusi mengingat setiap pembicara sudah punya jadwal di tempat lain. Atau bila ada permintaan dari para jamaah yang ingin diskusi atau bertanya jawab, dilanjutkan sehabis sholat Ashar.

Saya berada di kantornya Syeikh Khalifa, saya tertarik dengan bundelan sertifikat yang bertumpuk di meja kerja beliau. Saya lihat sertifikat para muallaf (orang yang baru masuk Islam).
Saya beranikan untuk meminta ijin pada beliau dan melihatnya. Alhamdulillah, beliaupun mengijinkan.

Luar biasa. Para muallaf datang dari berbagai macam latar belakang baik bangsa, agama dan warna kulit. Ada yang berasal dari kulit hitam, coklat, kuning dan mereka yang berkulit putih baik dari London bahkan dari Jerman dan Prancis. Bahkan ada yang datang dari Eropa Timur seperti; dari Polandia, Romania dan lainnya.

“Ya Syeikh berapa banyak orang yang berikrar syahadat di masjid ini?”

“Ada sekitar 5-6 orang seharinya, terlebih hari Jumat ramai sekali orang bersyahadat, pokoknya ada saja orang berikrar, “ ujar Syeikh Khalifah, Imam masjid lulusan Universitas Al Azhar ini.

Bahkan di akhir pecan, kadang yang ingin bersyahadat jauh lebih banyak dari biasanya. Jika sudah begitu, acara dilakukan di aula yang lebih besar, ujar beliau.

Selain mengurusi masjid, menjadi imam shalat dalam sehari, Syeikh Khalifah juga mengurus pernikahan, nasihat bagi yang sedang mengalami keretakan rumah tangga dan urusan lainnya tentang Islam di London.

Bergetar

Suatu saat saya dapat SMS untuk menghadiri acara ‘ikrar ber-syahadat’ bagi calon pendatang Muslim. Alhamdulilah, saya sempat hadir dan menyaksikan acara yang amat mengharukan ini.
Banyaknya orang yang akan bersyahadat kali bahkan memerlukan ruangan yang lebih besar karena sister Amina membawa rombongan sekitar 19 orang wanita.
Ternyata jumlah yang 19 jadi membengkak hingga mencapai 28 dan mungkin 30 orang karena ada tambahan 2 kelompok lagi. Satu kelompok lelaki saja dan satu kelompok lagi laki-laki dan perempuan dan bahkan ada yang mendadak sontak ingin berikrar pada saat itu juga.

Yang membuat kami semua agak terkejut, hari itu brother Yusuf Islam tiba-tiba hadir. Betul-betul sebuah kejutan bagi yang lainnya juga. Ia nampak santai dengan mengenakan kemeja berlengan pendek dan berpantalon warna khaki. Tidak memakai baju koko Muslim panjang lengkap dengan sorbannya, sebagaimana yang sering ia pakai.
Beliau duduk di sebelah brother Abu Muntasir. Tak tak ayal, brother Naugal, sang panitia memintanya mengucap sepatah dua patah kata sebagai sambutan.

Sepertinya hadirin mendapat privillage (keistimewaan) dengan kunjungan Yusuf Islam hari itu. Tambahan siraman rohani darinya tentunya menambah semangat para muallaf. Maklum Yusuf Islam adalah seorang tokoh selebriti yang kami banggakan di UK.

Momen menggetarkan ketika mendengar para calon saudara-saudari Muslim mulai mengucapkan kalimah Syahadat.

“Asy hadu..ala... ila..ha iIl Allah..wa asyhadu ana..Muhammad dar Rasulullah....” (yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris).

Usai bersyahadat mereka ditakbiri lalu disalami dan berpelukan antara teman, sahabat mereka dengan penuh haru. Bahkan ada yang terisak-isak menangis.
Lalu setiap mereka dapat paket (hadiah) berupa sajadah, al-Quran dan beberapa leaflet atau buku-buku kecil berisi panduan tentang Islam

Berikrar syahadat adalah sebuah transformasi akan sebuah kehidupan untuk seorang manusia dengan segala risiko dan akibat. Tak sedikit para muallaf ini akan mengalami isolasisi atau kehilangan keluarga, teman dan sahabat atau masyarakat sekitarnya. Maklum, keyakinan baru ini akan menghilangkan kebiasaan yang mereka lakukan dulu; baik soal makanan, minuman dan pakaian harus mereka rubah pula. Dan kadang, mereka jauh lebih kaffah dan komit dari pada kita yang lahir sebagai Muslim di Indonesia.

Menariknya lagi, hari itu yang bersyahadat terus bertambah untuk berikrar. Mereka sibuk mengisi formulir baik lelaki dan perempuan. Dan Syeikh Khalifa melakukan dan membimbing mereka untuk bersyahadat sampai 3 atau 4 kali.

Ada sedikit kelelahan pada wajah Syeikh Khalifah karena harus melayani dan membimbing orang-orang yang ingin memeluk Islam hingga sore hari. Namun beliau masih sempat melemparkan senyumnya di saat saya mengarahkan kamera ke wajahnya.

Terus Meningkat

Seperti diketahui, dalam masa seputuh tahun terakhir ini, diperkirakan ada sekitar 100.000 orang British (Inggris, Scottish, Irlandia dan Wales) telah mengikrarkan dua kalimah Syahadat. Mereka menemukan dan memeluk agama baru, bernama Islam. Ini menurut angka statisktik dari para peneliti yang berbasis di Universiats Swansea.

Berita ini sudah beredar di koran cetak atau eletronik tahun lalu yang lumayan membuat dunia terkejut. Ini berita yang luar biasa significan dibanding satu dasawarsa lalu yang berjumlah sekitar kurang lebih 60.000 orang.

Yang mengagumkan, dua pertiga dari jumlah yang bersyahadat adalah wanita, dan rata-rata cukup muda. Berarti Islam amat diminati perempuan di Eropa.  [baca juga; Lautan Jilbab di Britania Raya]

Ini sangat kontradiktif dibanding tuduhan bahwa Islam itu menindas (oppress) perempuan atau tuduhan tidak ada kebebasan terutama dalam hal mengenakan jilbab, menikmati pendidikan, bekerja, memilih suami, soal kawin cerai dan soal harta waris.
Faktanya, wanita Eropa justru berbondong-bondong masuk Islam, menyatakan testimoni-nya bertauhid dan mengakui ke Rasulan Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam.

“Jazakllah khair ya Sheikh for your great job.”

Dan kepada saudaraku yang baru, semoga Allah tidak akan menarik kembali hidayah yang telah Allah semaikan di lahan qalbu kalian. Mudah-mudahan iman terus tumbuh subur bersemi dan akan kuat dan tangguh bak pohon-pohon yang memultigandakan melalui anak cucu mereka. Amien ya Rabb.*/Nizma Agustjik, London, 18 Maret 2012
Keterangan foto: 1. Seorang muallaf mengangkat sertifikat tanda telah memeluk Islam. 2, kehadiran Yusuf Islam yang mengagetkan dan 3, para wanita Eropa yang antri mengucapkan Syahadat[Hidayatullah]

Aminah Assilmi,A Girl On A Mission

1 komentar
"I am so very glad that I am a Muslim. Islam is my life. Islam is the beat of my heart. Islam is the blood that courses through my veins. Islam is my strength. Islam is my life so wonderful and beautiful. Without Islam I am nothing, and should Allah ever turn His magnificent face from me, I could not survive." It all started with a computer glitch. She was a Southern Baptist girl, a radical feminist, and a broadcast journalist. She was a girl with an unusual caliber, who excelled in school, received scholarships, ran her own business, and were competing with professionals and getting awards – all these while she was going to college. Then one day a computer error happened that made her take up a mission as a devout Christian.

Awalnya ingin cari kesalahan dan kelemahan Al Qur'an tapi justru akhirnya memilih jadi muslim

0
Aminah Assilmi, mantan jurnalis penyiaran ini harus membayar mahal keislamannya. Ia diceraikan oleh suaminya, kehilangan pekerjaan dan hak asuh atas kedua anaknya, serta ditinggalkan teman-temannya. Bahkan, ayahnya mengatakan ia layak dibunuh.

Tapi, Aminah tak mundur selangkahpun, dan Allah mengembalikan semuanya berlipat ganda. Tak hanya mendapatkan kembali kepercayaan dan penerimaan dari orang-orang terdekatnya, Aminah bahkan dapat kembali memeluk orang-orang terdekatnya sebagai saudara sesama Muslim. Menjadi ketua Persatuan Wanita Muslim Internasional dan masuk dalam daftar 500 Muslim paling berpengaruh dunia pada 2009 adalah hadiah lain atas keteguhan hatinya.


***

Semua berawal dari kesalahan yang tak mampu ia hindari pada 1975 silam. Tahun itu menjadi tahun pertama penggunaan komputer untuk pemrograman mata kuliah di kampusnya. Tak disangkanya, terjadi kesalahan sehingga komputer memasukkan Aminah dalam mata kuliah yang tak pernah dipilihnya; Teater.

Sayangnya, Aminah baru mengetahui kesalahan itu setelah hari aktif perkuliahan memasuki minggu kedua karena harus mengurus bisnis keluarganya di Oklahoma. Perubahan tak bisa dilakukan. Dan Aminah yang berkuliah dengan beasiswa penuh tak mungkin meninggalkan kelas itu dan memperoleh nilai 'F' yang akan membatalkan beasiswanya.

Aminah adalah perempuan cerdas yang selalu tampil menonjol. Selain memperoleh beasiswa untuk kuliahnya, jemaat Southern Baptist (aliran gereja Protestan terbesar di Amerika Serikat) ini bekerja sebagai jurnalis penyiaran dan memenangkan penghargaan yang diperuntukkan bagi para profesional.

“Namun satu hal lain tentang diriku adalah bahwa aku seorang yang pemalu,” katanya. Karena itulah, Aminah merasa kacau ketika harus mengikuti kelas yang mengharuskannya tampil di hadapan sejumlah orang.

Atas saran suaminya, Aminah memilih mencari solusi daripada mengorbankan beasiswanya. Ia mendatangi dosennya untuk meminta saran dan bantuan terkait perencanaan pertunjukan yang harus ia tampilkan. Sang dosen menyanggupi dan Aminah segera menuju kelas Teater untuk pertama kalinya.

Di pintu kelas, Aminah tak mempercayai pandangannya. “Aku melihat sejumlah orang Arab (Muslim) di sana. Tak ada yang terlintas dalam benakku kecuali membatalkan niatku mengikuti kelas itu. Aku tidak mungkin berada di antara orang-orang kafir itu,” kisahnya dalam buku 'Choosing Islam' yang ditulisnya.

Tanpa pikir panjang, Aminah kembali menutup pintu kelasnya dan berjalan pulang. Di rumah, ia kembali ditenangkan suaminya. “Ia bilang, ‘Mungkin Tuhan punya rencana di balik ini’.”

Dua hari lamanya Aminah berdiam dalam kamarnya. Setelah berpikir panjang, ia membenarkan kata-kata suaminya dan berpikir mungkin dalam kelas Teater itu ia bisa mengkristenkan orang-orang berhijab di kelasnya.

Maka, Aminah mulai berbicara banyak hal tentang Kristen dan Yesus pada teman-teman Muslimnya, dan mengatakan mereka akan masuk surga jika mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat mereka. “Mereka menyikapi penjelasanku dengan sangat sopan, namun tak satupun dari mereka masuk agamaku,” ungkap Aminah.

Aminah tak menyerah. Ia pun berencana mencari kelemahan dan kesalahan Islam, yakni dengan mempelajari kitab mereka. Dari salah seorang temannya, Aminah mendapatkan salinan Alquran. Ia tekun membaca dan mempelajarinya setelah itu, dan membuat catatan-catatan mengenai hal-hal dalam Alquran yang dapat diperdebatkan. “Niatku masih sama, mengkristenkan mereka,” tegas dia.

Tanpa ia sadari, keseriusan Aminah mempelajari Alquran justru membawa perubahan pada dirinya. Ia tidak lagi tertarik untuk pergi ke pesta dan klub-klub malam, aktivitas yang biasa ia lakukan bersama suaminya. “Suamiku menaruh curiga dan mengira aku selingkuh. Lalu ia mengusirku dari rumah,” jelas dia.

Setelah berpindah ke apartemen yang baru bersama kedua anaknya, misi Aminah tak berubah. Ia terus mendalami Alquran untuk mengkristenkan teman-teman Muslimnya di kelas Teater.

Satu setengah tahun sejak mulai mempelajari Alquran, pada 21 Mei 1977, seseorang mengetuk pintu apartemennya. Aminah terkejut mengetahui tamunya adalah seorang pria dengan pakaian panjang berwarna putih, dengan kain surban di kepalanya. Pria itu didampingi tiga orang pria lain, pria itu mengatakan, “Saya tahu Anda ingin menjadi seorang Muslim.”

Aminah membantahnya dan mengatakan dirinya adalah seorang Kristiani yang tidak pernah berkeinginan masuk Islam. “Namun kukatakan padanya bahwa aku memiliki beberapa pertanyaan jika ia tidak keberatan.” Maka Aminah mempersilahkan keempatnya masuk.

Aminah mengeluarkan catatan-catatan yang telah dibuatnya dan menanyakannya pada pria yang mengaku bernama Abdul Aziz al-Shiek itu, yang sabar menjawab semua pertanyaan Aminah. “Pria itu menjelaskan, mencapai pengetahuan tentang segala sesuatu adalah seperti menapaki anak-anak tangga. Jika aku melangkah tergesa-gesa dan melewati beberapa anak tangga sekaligus, aku bisa jatuh.”

Setelah berbincang dan mendiskusikan banyak hal, di hari yang sama, Aminah mengambil keputusan besar. Ia bersyahadat di hadapan keempat tamunya. “Namun aku belum bisa menerima beberapa hal dalam Islam, sehingga di belakang dua kalimat syahadat yang kuucapkan, aku menambahkan pengecualian, ‘Tapi aku tidak akan mau menutup rambutku dengan kerudung dan tidak akan pernah setuju dengan poligami',” kenangnya.

Namun di atas semua, kata Aminah, syahadat yang diucapkannya hari itu menjadi langkah awal yang mengubah hidupnya. “Islam adalah hidupku. Islam adalah detak jantungku, darah yang mengalir di pembuluh venaku. Islam adalah kekuatanku, yang membuat hidupku begitu indah dan mengagumkan. Tanpa Islam, aku bukanlah apa-apa," katanya seperti dikutip laman www.welcome-back.org.

Aminah terus mendalami Islam, dan menjadi aktivis Islam yang giat berdakwah hingga akhir hayatnya. Dua tahun lalu, 5 Maret 2010, sebuah kecelakaan mobil di New York menewaskan perempuan luar biasa ini, dalam sebuah perjalanan pulangnya usai menyampaikan pesan tentang Islam.[republika]

Berawal dari Buku Harun Yahya dan Rasa ingin Tahu Akhirnya Ia Memilih Jadi Muslim

1 komentar

Terlepas dari banyaknya kontroversi terkait sosok Harun Yahya dengan karya-karyanya, namun beberapa karya Harun Yahya telah membuat banyak orang tersadar dan mulai mengkaji Islam, sebut lah salah satunya Ron Mastro yang mulai tertarik Islam setelah membaca salah satu buku karya Harun Yahya.
Dan berikut kisah perjalanan Ron Mastro menemukan Islam:
Nama saya Ron Mastro, dan saya ingin memberitahu Anda hari ini bagaimana saya tertarik mengkaji dan masuk Islam setelah membaca karya Harun Yahya.

Ketika saya masih kecil, saya dibesarkan sebagai seorang Kristen di Amerika Serikat. Saya pergi ke gereja setiap hari Minggu dan saya pergi ke Sekolah Minggu, sama seperti anak-anak Amerika lainnya lakukan. Tapi pada saat saya berusia sepuluh atau sebelas tahun, saya berhenti pergi ke gereja, karena saya tidak bisa menemukan jawaban yang saya cari, dan hal itu membuat saya sedih, belum penjelasan yang saya terima dari gereja belum bisa memuaskan saya.
Di masa remaja saya, saya telah meninggalkan semua agama secara bersama-sama. Meskipun begitu, saya tidak pernah melakukan sesuatu yang "buruk," tapi saya melupakan Tuhan, sya lupa bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan mengasihi seluruh umat manusia.
Di awal usia tiga puluhan, saya pindah ke ibukota Praha di Republik Ceko, kota yang indah penuh dengan arsitektur yang menakjubkan dan banyak hal yang menyenangkan.
Suatu hari, ketika saya dalam perjalanan pulang, saya berhenti di stasiun kereta, dan di stasiun kereta ada toko buku kecil. Saya menemukan satu buku dalam bahasa Inggris berjudul "Matter: The Other Name for Illusion" karya Harun Yahya. Yang buku tersebut akhirnya saya beli.
Menemukan Islam
Saya membawa pulang buku dan mulai membacanya. Dan ketika saya membaca buku ini, saya menyadari bahwa banyak pertanyaan yang saya miliki di masa muda bisa terjawab. Apakah sifat realitas? Apakah kebenaran itu? Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab bagi saya di tahun-tahun saya sewaktu masih muda.
Singkat cerita, semakin saya mendalami buku-buku yang saya baca membuat banyak hal yang mulai masuk akal bagi saya. Saya mulai mengerti dan memahami hal-hal di tingkat yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.
Karena rasa ingin tahu dengan Islam membuat saya berhasil memperoleh kitab suci Al-Quran. Jadi, saya mulai membaca Al-Quran (terjemah, tentunya) dari surah pertama. Dan saat saya selesai membacanya, beberapa hari kemudian, dalam hati saya saya menyadari bahwa saya telah berurusan dengan kebenaran. Alhamdulillah.
Saya menyadari bahwa Al Qur'an benar-benar firman Allah yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad, saw. Ini menjawab begitu banyak pertanyaan yang saya punya; pertanyaan tentang Yesus, pertanyaan tentang Musa, Daniel, Yehezkiel dan banyak dari nabi besar Allah yang lain, damai sejahtera atas mereka semua.
Dan saya mulai menyadari secara perlahan dengan bertahap sehingga terbuka hati saya bahwa jalan Islam adalah jalan yang benar untuk mengenal Allah, dan Islam adalah agama yang benar untuk umat manusia.
Hari ini saya sekarang tinggal di Jerman, saya memiliki pekerjaan yang baik, saya sangat senang dengan apa yang saya miliki, saya sangat senang dengan apa yang saya lakukan. Saya melakukan shalat setiap hari, dan saya tahu bahkan jika saya telah melakukan hal-hal buruk di masa lalu, Allah akan mengampuni saya karena dosa saya.
Sesungguhnya, Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia, dan benar-benar Islam semuanya dari Allah, Alhamdulillah.(fq/oi/eramuslim)

Inilah Ilmuwan yang "islamkan" 5 Mahasiswa sebelum menjadi Muslim

0
''Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'' (QS. An-Nisa: 56)

Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Namun tidak demikian bagi Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.

                                                                    
                                                                        ***

Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.

Tejasen yang beragama Buddha kemudian mengatakan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut pada mereka.

Setahun kemudian, Mei 1982, Tejasen menghadiri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya, dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.

Ia kemudian menerima saran para ilmuan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari tiga lapisan global, yakni Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan yang terakhirlah, Sub Cutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.

Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub Cutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka bakar tersebut.

Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan kebenaran Alquran. Ayat 56 surah An-Nisa’ mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar, agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.

Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”

                                                                               ***

Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”

Mereka memberitahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah, yang membuat Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.

Dari para ilmuan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.

Profesor yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai lalu itu kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worlofislam.info menyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu, di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.

Hingga akhirnya, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.

Di akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konferensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Alquran, juga kekagumannya pada makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini kebenaran Islam.

“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran, yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Maha Pencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat syahadat.[REPUBLIKA]

Bukanlah pilihan Emosional tapi Pilihan Logika dan Rasional menghantarkannya Kepada Islam

0
Ketika memutuskan memeluk Islam, ia tak mendapat dukungan dan panduan khusus dari Muslim lain. Namun tekadnya bulat untuk tetap belajar dan berkontribusi dalam dakwah demi bisa membantu mualaf lain menjalani transisinya dengan lebih mudah.
Itulah Abdallah, lelaki berdarah India yang lahir dan besar di Toronto. Kehidupan dia sebelum Muslim adalah campuran antara India, agama Hindu dan budaya barat ala Kanada. “Sehingga ketika saya besar, saya masih mengenal baik budaya, bahasa saya dan juga agama orang tua,” tuturnya.

Ia juga kerap mendatangi kuil, selalu pergi ke kemah musim panas, sekolah Minggu dan mengikuti kegiatan keagamana. “Jadi saya melalui semua adat istiadat dan ritual baik milik orang tua saya di rumah maupun di sekolah,” ungkapnya.

Sewaktu menjadi pelajar, Abdallah mengaku tipe yang serius, terutama saat duduk di bangku SMA. Namun ia juga tetap suka bersenang-senang. “Saya sangat suka musik, bahkan pada usia 11 tahun saya bisa bermain gitar,” katanya.
Perjalanannya menuju Islam, menurut Abdallah jauh dari kebanyakan mualaf lain. “Saya merasa tidak memiliki masalah secara emosional yang mendorong saya menuju kebenaran,” tuturya. “Hanya saja sewaktu muda saya sudah merasa tidak cocok dengan agama orang tua,” imbuhnya.
Meski, ungkapnya, ada suatu saat ia begitu membela dan taat terhadap agama orang tuanya. “Saya begitu taat seperti kerang. Namun saat itu yang terasa kosong, karena saya sadar bahwa saya hanya mencoba membela diri dan berpikir orang-orang akan menyerang keyakinan ini dari berbagai aspek,” ujarnya.
Abdallah sulit menerima gagasan banyak tuhan untuk disembah. “Itu rasanya tidak cocok untuk saya. Selain itu banyak pemaparan berbeda yang sama sekali tak logis apalagi ilmiah,” ujarnya. “Saya tidak puas dengan kebenaran yang saya yakini saat itu.”
Ia pun memutuskan untuk meninggalkan agama orang tua pada usia remaja. Keluar dari Hindu ia pun menuju Injil. “Saya membaca kitab itu dan begitu indah karena saat itu ada konsep satu Tuhan. Kalau tidak salah saya temukan itu pada Kitab Perjanjian Lama,” tutur Abdallah.
Tuhan yang Abdallah kenal dari Injil, menurutnya sangat baik hati dan di saat bersamaan, hadir konsep nabi, seorang manusia pembawa pesan tuhan dan ia bukanlah entitas Esa. “Bisa saya bilang konsep itu sangat menarik hati saya. Setelah itu pencarian saya terus berjalan.”
Ia pun membuka bagian Kitab Perjanjian Baru. “Lagi-lagi saya bahagia dengan nilai-nilai yang saya temukan. Saya jatuh cinta dengan karakter Yesus. Namun sosok dia sebagai entitas lain Tuhan, sulit saya terima dalam hati, tidak cocok bagi saya,” tuturnya.
Saat itulah ia mulai menolak semua agama dan menjadi atheis untuk beberapa saat. Namun ia pun sulit untuk bisa menerima konsep atheisme. “Karena saya tahun, dari dalam hati ataupun dari logika yang saya temukan di sekitar, semua ini pasti diciptakan oleh sesuatu yang luar biasa. Jadi saya pun terus berjalan dari satu agama ke agama lain, Budha, Katholik, kuil Sikh, bahkan juga kembali berdoa bersama orang tua saya,” ungkapnya.
Satu-satunya agama yang tak pernah ia usik dan ia lihat saat itu adalah Islam. Mengapa? “Orang tua saya dari India dan tinggal d kota Muslim di sana. Jadi ketika kami dewasa kami bersentuhan dengan Islam, meski mungkin bukan ajarannya, melaikan gaya hidup Muslim di sana,” tutur Abdallah.
Ia merasa memiliki pehamaman selip. “Setiap kali berpikir tentang Islam maka saya memiliki pandangan mereka adalah teroris, atau menindas hak wanita. Itulah yang menahan saya untuk melihat agama itu lebih jauh,” ujarnya.
Sebenarnya ia memiliki beberapa teman Muslim di SMA, bahkan ada yang menjadi teman baiknya. Namun karena mereka bukan tipe yang taat beribadah, Abdallah mengaku tak menangkap pesan-pesan Islam lewat perilaku mereka.
Akhirnya saat ia masuk universitas, Abdallah menemukan tempat di mana ia bisa membuka diri dari gagasan apapun. “Saya bisa mempertanyakan apapun dan bahkan diri saya,” ujarnya. Hingga akhirnya ia menemukan buku tentang sains dalam Al Qur’an saat hendak menulis tugas akhir untuk gelar sarjana. “Baru itulah saya benar-benar mengkritisi dan melihat apa yang diajarkan oleh Islam.”
Saat mengkaji, Abdaallah mengaku dalam kondisi sangat rasional. Ia ingin berpikir berdasar fakta alih-alih emosi. “Karena saya telah melibatkan banyak emosi dalam aktivitas keagamanan sebelumnya dan tak ada yang mengena, sementara yang saya pahami, kebenaran bukan hanya perkara emosi, tapi juga mengandung komponen logis dan rasional,” paparnya.
Pada momen penentuan itulah justru Abdallah menemukan pencerahan. “Semua bahan bacaan mengenai sains dalam Al Qur’an mulai mendorong saya dengan kuat. Tapi yang pasti momen penentuan itu terjadi ketika akhirnya saya mengucapkan syahadat,” aku Abdallah.

Kehidupan seusai Memeluk Islam

“Setelah menjadi Muslim, Abdallah bercerita kepada orang tuanya dan orang-orang di dekatnya. Ia juga mulai memelihara janggut. “Mereka pun memiliki pandangan selip terhadap saya, seperti yang pernah saya punya,” ungkapnya.
Namun Abdallah tak menyalahkan mereka. “Sebenarnya itu disebabkan murni ketidaktahuan dan tak ada seorang pun yang menjelaskan kepada mereka, tak ada yang merangkul mereka untuk memaparkan seperti apa kebenaran dan betapa indahnya Islam itu,” kata Abdallah.
Begitupun saat orangtuanya sedikit bereaksi negatif, Abddalah melihat itu sekedar reaksi  emosi. “Mereka toh akhirnya tidak memandang rendah ketika saya akhirnya menjadi orang lebih baik dan mengapa saya memutuskan berubah,” ujarnya.
Saat menjadi Muslim, Abddalah tidak menemukan jaringan dukungan atau bahkan web sosial yang bisa memandunya sebagai Mualaf. “Tak ada mesin besar untuk menyebarluaskan kebenaran tentang agama. Karena itu saya berpikir kontribusi pribadi saya akan bermanfaat, sekaligus jalan bagi saya untuk memahami agama ini setiap hari,” ujanya.
“Saya melakukan ini agar bisa memberi panduan pula bagi mualaf lain, membantu mereka melakukan transisi semulus dan semudah mungkin dan membuat mereka memahami bahwa ketika mereka menjadi Muslim, mereka tak akan kehilangan identitas.”
Abdallah ingin memastikan bahwa mereka masih tetap diri mereka yang dulu dengan kesukaan, ketertarikan dan hobi masing-masing.
“Saya pikir hal terbesar yang saya dapat dari Islam adalah kepuasan dalam hati. Saya akhirnya memahami mengapa saya di sini dan mengapa alam semesta diciptakan. Saya merasa menyatu dan sejalan dengan alam di sekitar saya, menyatu dengan setiap manusia, bahkan makhluk-makhluk tuhan,” ungkap Abdallah.
“Sungguh menimbulkan perasaan indah setiap kali bangun pagi, mengingat Tuhan dan mengingat anugerah yang telah Ia berikan kepada manusia. Itulah yang memunculkan sikap hormat saya terhadap setiap manusia, setiap makhluk, hewan, tumbuhan, apa saja. Islam adalah sistem kebenaran di banyak hal. Saya kini belajar untuk lebih menghormati orang tua, tetangga saya, orang-orang dari keyakinan lain dan dari budaya lain,
“Saya kira ini adalah jenis rasa hormat yang diperlukan, terutama di kekinian di mana kita masih perlu menyembuhkan luka dari masa lalu,”
sumber :republika.co.id

Banyak Turis di Turki Masuk Islam karena mendengar lantunan Adzan

1 komentar
Menurut sumber informasi, semakin banyak orang asing yang masuk Islam di Turki, terutama mereka yang datang ke negeri itu untuk melakukan bisnis maupun berpariwisata. Beberapa dari mereka masuk Islam disebabkan karena terpengaruh oleh lantunan suara adzan yang sering terdengar sebanyak lima kali sehari di Turki.
Sumber tersebut mengatakan: "Setiap tahun sejumlah besar non-Muslim dengan peran penasehat kota Turki menyatakan mereka masuk Islam dan sebagian besar yang masuk Islam tersebut adalah wanita."
Menurut informasi yang dikeluarkan oleh kementerian Urusan Agama Turki sedikitnya 634 orang telah masuk Islam selama tahun lalu (tahun 2011), termasuk 467 wanita, yang berusia rata-rata 30 sampai 35 tahun, dan berasal dari kebangsaan yang berbeda mulai dari Jerman, Maldiva, Belanda, Perancis, Cina, Brasil, AS, Rumania dan Estonia.

Di kota Kayseri Turki sendiri, sedikitnya 14 orang telah masuk islam selama empat tahun terakhir, termasuk 10 wanita, kata Grand Mufti kota, Syaikh Ali Marasyalijil.
"Suara lantunan adzan adalah efek pertama di sebagian besar dari mereka yang menyatakan masuk Islam, dan setelah mendengar suara adzan beberapa dari mereka mulai bergerak untuk mencari informasi tentang agama Islam," kata Syaikh Ali, "dan mereka kemudian mulai membaca terjemah Al-Quran sehingga semakin terpengaruhi oleh ayat-ayat Al-Quran," tambahnya.(fq/imo/eramuslim/youtube)

Perubahan Jason Perez membuat 55 orang terdekatnya ikut masuk Islam

0


Jason perez in The New Muslim CoolTayangan The New Muslim Cool sangat menyentuh publik Amerika Serikat. Di dalamnya berisi tentang pengalaman rohani salah satu rapper negeri itu, Jason Perez – namanya menjadi Hamza Perez setelah masuk Islam dan pandangannya tentang agama.
Ada satu kutipan satir tapi membuat publik terhenyak tentang betapa SARA di AS mulai memprihatinkan adalah, “Anda seorang ayah tunggal, sekarang Anda menikah lagi, jadi Anda seorang pria yang sudah menikah, Anda muslim, Anda orang Amerika, Anda Puerto Rika, kau dari the hood, Anda seorang seniman, Anda rapper … terdengar seperti mimpi terburuk Amerika!”

Berikut ini wawancara islamicbulletin.com dengan Jason:
Islamicbulletin:
Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang diri Anda?
Jason: Saya lahir di Brooklyn, NY. Saya dibesarkan di sebuah proyek perumahan di seberang jalan masjid. Ibu saya membesarkan saya di sana. Setelah saya besar, kami pindah ke Puerto Rico, dan setelah itu kami pindah bolak-balik antara Massachusetts dan Puerto Rico.
Islamicbulletin:
Dapatkah Anda menceritakan sedikit tentang pendidikan agama Anda?
Jason: Ya, ibu saya Katolik. Tapi, nenek saya di Puerto Rico adalah Pembaptis. Selama sekolah, saya selalu di sekolah Katolik.
Islamicbulletin:
Bagaimana Anda bisa berpindah menjadi Muslim?
Jason: Saya memiliki seorang teman bernama Louie Ekuador. Kami tumbuh bersama, dan kemudian kami terlibat dalam penjualan narkoba bersama-sama. Saya adalah pencari kebahagiaan sebagai orang muda, tetapi saya tidak pernah menemukannya. Saya mencoba kehidupan jalanan dan obat-obatan tapi itu hanya membuat saya lebih tertekan. Meskipun kita menghasilkan uang, tidak memberi kita rasa atau kepuasan kebahagiaan. Suatu hari, ia berjalan dengan masjid, dan dia duduk di tangga. Seorang Muslim mendekatinya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana dan mulai berbicara kepadanya tentang Islam. Dan dia akhirnya menjadi seorang Muslim. Kami tahu masjid ini karena kami dibesarkan di jalan, tapi, kami tak pernah tahu tentang Muslim dan ajarannya. Satu-satunya hal yang kita tahu tentang mereka adalah bahwa mereka membunuh kambing. Jadi, dalam masyarakat, masjid mereka lebih dikenal sebagai tempat dimana kambing dibunuh. Jadi kita akrab dengan gedung tetapi tidak benar-benar tahu tentang apa yang terjadi di dalamnya. Louise berakhir menjadi Muslim dan sempat menghilang selama 40 hari. Dia pergi dengan Jamaah Tabligh (komunitas guru Islam) menyebarkan Islam.
Namanya pun berubah, menjadi Lukman. Suatu hari Lukman datang berpakaian serba putih dengan seorang syekh bernama Iqbal. Kami sedang bermain dadu, minum, dan merokok saat itu. Tiba-tiba aku melihat sisi berbeda darinya. Ia terlihat lebih bercahaya. Saya bisa melihat perubahan dalam dirinya. Saya pikir, sesuatu yang serius telah terjadi dalam hidupnya. Jadi, saya meninggalkan orang lain yang minum dan merokok dan berjalan ke arah mereka. JDi sana, syekh bertanya apakah aku percaya bahwa hanya ada satu Allah. Aku berkata, “Ya.” Dan kemudian dia bertanya apakah saya percaya pada Nabi Muhammad. Terus terang, saya tak pernah tahu tentang Muhammad SAW, tapi saya melihat cahaya dalam karakter dan wajah Luqman teman saya, jadi saya percaya. Saat itu juga saya minta dituntun mengucapkan syahadat, di pinggir jalan. Adik saya yang menyaksikan, ikut pula bersyahadat.
Islamicbulletin:
Bagaimana orangtua Anda bereaksi terhadap Anda yang menerima Islam?
Jason: Keluarga saya awalnya kesal. Tetapi setelah mendapatkan kami bebas dari narkoba dan jauh dari kegiatan berbahaya lainnya, mereka menyukainya. Ibu saya sangat mendukungnya. Dia pikir itu sangat positif. Saya pun menjadi lebih peduli padanya;  Saya  membantu dalam urusan rumah tangga, dan melakukan apapun yang dimintanya. Dulu sebelum menjadi Muslim, saya tak pernah peduli padanya. Perubahan dalam diri saya membuat kakak saya menjadi Muslim juga. Kemudian salah satu teman saya menjadi Muslim. Lebih dari 55 orang yang kita kenal menjadi Muslim. Kami kembali ke tempat yang sama kita gunakan untuk menjual obat-obatan dan memasang tanda yang mengatakan, “Heroin membunuh kamu dan Allah menyelamatkan Anda!” Jadi, Anda tahu, banyak dari mereka dipengaruhi oleh Lukman. Termasuk saya.
Islamicbulletin:
Apakah Anda pernah menemukan masalah dengan penerimaan Islam Anda?
Jason: Pada awalnya, karena saya merek baru Muslim, saya pikir saya harus mendengarkan setiap apa yang dikatakan seorang Muslim. Saya benar-benar tidak ada arah. Beberapa orang mengajarkan saya untuk melihat Muslim lain dan mengkritik umat Islam lain yang berjanggut panjang dan ‘pakaian aneh’ mereka. Sampai kemudian di satu titik: mengkritik orang menjadi lebih sering sementara mengingat Allah menjadi sedikit. Aku mulai kehilangan rasa manis yang saya alami ketika saya pertama kali menjadi Muslim. Kemudian saya melewati sebuah transformasi besar; hanya melihat kesalahan diri dan bukan kesalahan orang.
Islamicbulletin:
Apakah Anda melihat kesamaan antara Islam dan agama-agama lain?
Jason: Ya, tentu saja. Ini semua terhubung. Saya tahu siapa Yesus, saya melihat gambar yang dikaitkan dengannya, tapi saya tidak benar-benar tahu tentang Yesus selain Natal, dan ayat-ayat yang kita baca diarahkan kepada kita oleh para imam dan pendeta. Kadang-kadang saya merasa kini saya menjadi pengikut Kristus dengan cara yang lebih baik setelah saya menjadi Muslim. Isa adalah Nabi-nya, bukan Tuhan.
Islamicbulletin:
Apa dampak yang Islam telah pada kehidupan Anda?
Jason: Islam telah membuka mata saya untuk kesalahan saya sendiri. Sebelumnya, saya punya hal yang disebut nafs. Saya tidak tahu tentang nafs. Islam membuat saya sadar bahwa, di jalanan, Anda selalu mencari musuh. Dan Islam mengajarkan saya bahwa, dalam rangka untuk menemukan musuh saya, saya harus melihat di cermin. Musuh saya adalah diri saya sendiri; nafsu saya.
sumber :republika.co.id
dan inilah salah satu tayangan The New Muslim Cool