Mereka beramai ramai Bersyahadat di Regent Park Mosque


ATAS saran Imam Syeikh Khalifah, saya ikut dan datang ke pengajian hari Sabtu. Walau tidak bisa datang setiap hari Sabtu, namun kehadiran kami cukup dikenal oleh brother Naugal dan istrinya serta teman-teman yang lain. Selain ke masjid, kami juga menyempatkan bersilaturahim dengan teman lainnya. Kadang kita lanjutkan dengan minum kopi atau makan malam.

Masjid ini memang lokasinya sangat sentral, sangat nyaman karena terletak di pusat kota, dai Regent Park, satu kawasan dengan Baker Street. Tempatnya Madame Tussaud (Rumah muesium lilin) sehingga di masjid ini kadang dijadikan meeting point untuk amprokan atau rendevous, bahasa keren-nya.

Syahdan, ‘Islamic Circle’ ini didirikan oleh brother Yusuf Islam pada tahun 1979, saat ia baru masuk Islam. Alhamdulilah pengajian ini masih berjalan secara langgeng yang kini di koordinir oleh brother Naugal Durani yang beristrikan orang Inggris. Sementara Yusuf Islam sendiri hampir jarang berada di UK, selain beliau punya kesibukan lain seperti sekolahnya yang bernama Islamiya, charity-nya dan juga kegiatan bisnis lainnya.



Pengajian ini berlangsung sangat simpel dan sederhana. Dimulai sekitar jam 3 sore setiap hari Sabtu dan dilaksanakan di basement atau kadang kita menggunakan ruang di lantai pertama.

Pengajian dihadiri oleh siapa saja termasuk non-Muslim atau bagi mereka yang masih mencari tahu tentang Islam.

Pembicaranya bisa dari mana saja dan siapa saja. Selama mampu berorasi dengan ilmu yang memadai dengan durasi selama 1 jam. Biasanya, acara ditutup dan di akhiri dengan minum teh dan biscuit. Setelah itu para jamaah saling bersilaturahmi, saling berkenalan dan menambah teman baru.

Tidak ada sesi tanya jawab apalagi diskusi mengingat setiap pembicara sudah punya jadwal di tempat lain. Atau bila ada permintaan dari para jamaah yang ingin diskusi atau bertanya jawab, dilanjutkan sehabis sholat Ashar.

Saya berada di kantornya Syeikh Khalifa, saya tertarik dengan bundelan sertifikat yang bertumpuk di meja kerja beliau. Saya lihat sertifikat para muallaf (orang yang baru masuk Islam).
Saya beranikan untuk meminta ijin pada beliau dan melihatnya. Alhamdulillah, beliaupun mengijinkan.

Luar biasa. Para muallaf datang dari berbagai macam latar belakang baik bangsa, agama dan warna kulit. Ada yang berasal dari kulit hitam, coklat, kuning dan mereka yang berkulit putih baik dari London bahkan dari Jerman dan Prancis. Bahkan ada yang datang dari Eropa Timur seperti; dari Polandia, Romania dan lainnya.

“Ya Syeikh berapa banyak orang yang berikrar syahadat di masjid ini?”

“Ada sekitar 5-6 orang seharinya, terlebih hari Jumat ramai sekali orang bersyahadat, pokoknya ada saja orang berikrar, “ ujar Syeikh Khalifah, Imam masjid lulusan Universitas Al Azhar ini.

Bahkan di akhir pecan, kadang yang ingin bersyahadat jauh lebih banyak dari biasanya. Jika sudah begitu, acara dilakukan di aula yang lebih besar, ujar beliau.

Selain mengurusi masjid, menjadi imam shalat dalam sehari, Syeikh Khalifah juga mengurus pernikahan, nasihat bagi yang sedang mengalami keretakan rumah tangga dan urusan lainnya tentang Islam di London.

Bergetar

Suatu saat saya dapat SMS untuk menghadiri acara ‘ikrar ber-syahadat’ bagi calon pendatang Muslim. Alhamdulilah, saya sempat hadir dan menyaksikan acara yang amat mengharukan ini.
Banyaknya orang yang akan bersyahadat kali bahkan memerlukan ruangan yang lebih besar karena sister Amina membawa rombongan sekitar 19 orang wanita.
Ternyata jumlah yang 19 jadi membengkak hingga mencapai 28 dan mungkin 30 orang karena ada tambahan 2 kelompok lagi. Satu kelompok lelaki saja dan satu kelompok lagi laki-laki dan perempuan dan bahkan ada yang mendadak sontak ingin berikrar pada saat itu juga.

Yang membuat kami semua agak terkejut, hari itu brother Yusuf Islam tiba-tiba hadir. Betul-betul sebuah kejutan bagi yang lainnya juga. Ia nampak santai dengan mengenakan kemeja berlengan pendek dan berpantalon warna khaki. Tidak memakai baju koko Muslim panjang lengkap dengan sorbannya, sebagaimana yang sering ia pakai.
Beliau duduk di sebelah brother Abu Muntasir. Tak tak ayal, brother Naugal, sang panitia memintanya mengucap sepatah dua patah kata sebagai sambutan.

Sepertinya hadirin mendapat privillage (keistimewaan) dengan kunjungan Yusuf Islam hari itu. Tambahan siraman rohani darinya tentunya menambah semangat para muallaf. Maklum Yusuf Islam adalah seorang tokoh selebriti yang kami banggakan di UK.

Momen menggetarkan ketika mendengar para calon saudara-saudari Muslim mulai mengucapkan kalimah Syahadat.

“Asy hadu..ala... ila..ha iIl Allah..wa asyhadu ana..Muhammad dar Rasulullah....” (yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris).

Usai bersyahadat mereka ditakbiri lalu disalami dan berpelukan antara teman, sahabat mereka dengan penuh haru. Bahkan ada yang terisak-isak menangis.
Lalu setiap mereka dapat paket (hadiah) berupa sajadah, al-Quran dan beberapa leaflet atau buku-buku kecil berisi panduan tentang Islam

Berikrar syahadat adalah sebuah transformasi akan sebuah kehidupan untuk seorang manusia dengan segala risiko dan akibat. Tak sedikit para muallaf ini akan mengalami isolasisi atau kehilangan keluarga, teman dan sahabat atau masyarakat sekitarnya. Maklum, keyakinan baru ini akan menghilangkan kebiasaan yang mereka lakukan dulu; baik soal makanan, minuman dan pakaian harus mereka rubah pula. Dan kadang, mereka jauh lebih kaffah dan komit dari pada kita yang lahir sebagai Muslim di Indonesia.

Menariknya lagi, hari itu yang bersyahadat terus bertambah untuk berikrar. Mereka sibuk mengisi formulir baik lelaki dan perempuan. Dan Syeikh Khalifa melakukan dan membimbing mereka untuk bersyahadat sampai 3 atau 4 kali.

Ada sedikit kelelahan pada wajah Syeikh Khalifah karena harus melayani dan membimbing orang-orang yang ingin memeluk Islam hingga sore hari. Namun beliau masih sempat melemparkan senyumnya di saat saya mengarahkan kamera ke wajahnya.

Terus Meningkat

Seperti diketahui, dalam masa seputuh tahun terakhir ini, diperkirakan ada sekitar 100.000 orang British (Inggris, Scottish, Irlandia dan Wales) telah mengikrarkan dua kalimah Syahadat. Mereka menemukan dan memeluk agama baru, bernama Islam. Ini menurut angka statisktik dari para peneliti yang berbasis di Universiats Swansea.

Berita ini sudah beredar di koran cetak atau eletronik tahun lalu yang lumayan membuat dunia terkejut. Ini berita yang luar biasa significan dibanding satu dasawarsa lalu yang berjumlah sekitar kurang lebih 60.000 orang.

Yang mengagumkan, dua pertiga dari jumlah yang bersyahadat adalah wanita, dan rata-rata cukup muda. Berarti Islam amat diminati perempuan di Eropa.  [baca juga; Lautan Jilbab di Britania Raya]

Ini sangat kontradiktif dibanding tuduhan bahwa Islam itu menindas (oppress) perempuan atau tuduhan tidak ada kebebasan terutama dalam hal mengenakan jilbab, menikmati pendidikan, bekerja, memilih suami, soal kawin cerai dan soal harta waris.
Faktanya, wanita Eropa justru berbondong-bondong masuk Islam, menyatakan testimoni-nya bertauhid dan mengakui ke Rasulan Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam.

“Jazakllah khair ya Sheikh for your great job.”

Dan kepada saudaraku yang baru, semoga Allah tidak akan menarik kembali hidayah yang telah Allah semaikan di lahan qalbu kalian. Mudah-mudahan iman terus tumbuh subur bersemi dan akan kuat dan tangguh bak pohon-pohon yang memultigandakan melalui anak cucu mereka. Amien ya Rabb.*/Nizma Agustjik, London, 18 Maret 2012
Keterangan foto: 1. Seorang muallaf mengangkat sertifikat tanda telah memeluk Islam. 2, kehadiran Yusuf Islam yang mengagetkan dan 3, para wanita Eropa yang antri mengucapkan Syahadat[Hidayatullah]

1 komentar:

Post a Comment