Subhanallah...Di Dubai,100 ekspatriat dari berbagai bangsa bersyahadat

0
Sebanyak 100 ekspatriat dari kebangsaan berbeda mengucapkan dua kalimat syahadat pada Oktober tahun ini. Demikian laporan Pusat Informasi Islam Dar Al Ber,  Dubai, Senin (7/11).

Direktur Pusat Dar Al Ber, Yusuf Al-Saeed, mengatakan setiap hari ratusan orang, dari berbagai negara mengunjungi untuk mengetahui tentang Islam. Jumlahnya bahkan cenderung naik setiap harinya, dan yang lebih penting lagi mereka yang datang lebih memahami betapa Islam begitu toleran dan penuh kedamaian.

"Non-Muslim memiliki kesempatan untuk bertemu mualaf dan mendengarkan pengalamannya dalam bahasa mereka sendiri. Hasilnya, pesan yang tersampaikan tentang Islam diterima dan direspon dengan baik," papar dia seperti dikutip www.khaleejtimes.com, Senin (7/11)



Yusuf mengungkap pada Agustus lalu, Dar El Ber mengumumkan lebih dari 1.000 ekspatriat dari kebangsaan berbeda masuk Islam tahun ini. Sementara tahun lalu, jumlah ekspatriat yang memeluk Islam mencapai 1.521 orang (548 pria dan 973 wanita). Sebelumnya, tahun 2009 silam, jumlah ekspatriat yang memeluk Islam mencapai 1059 (309 pria dan 750 wanita).

Dari mereka yang menjadi mualaf, ungkap Yusuf, Filipina berada ditempat teratas dengan 80 persen, diikuti India dan Cina. Lalu disusul Inggris, Amerika, Jerman, Perancis, Italia, Rumania, Rusia dan Belanda. "Mereka tersentuh dengan ajaran Islam yang memerintahkan pengikutnya untuk bersikap jujur, adil dan baik kepada semua orang, tanpa mempertimbangkan agama, ras, bahasa dan warna," katanya.

Guna mendukung para mualaf belajar mendalami Islam, Dar EL Ber membuka kelas tentang Islam. Dalam kelas bimbingan ini, para mualaf mendapatkan literatur tentang Islam baik berupa buku ataupun CD. Adapun bahasa pengantar yang digunakan meliputi  Cina, Rusia, Tagalog, Inggris, Urdu, Hindi dan Arab.[republika]

Keislaman Abdullah kini jadi Cahaya bagi Muslim dan NonMuslim

0

Seorang mualaf terkadang lebih taat menjalankan ajaran Islam dan memiliki lebih banyak pengetahuan tentang agama Islam, dibandingkan dengan mereka yang memang sejak lahir berasal dari keluarga muslim. Itu karena para mualaf, biasanya lebih sungguh-sungguh dalam mempelajari dan menghayati ajaran Islam, sehingga bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan mereka sendiri, dan orang-orang di sekitarnya. Kehadiran para mualaf ini, bahkan menjadi cahaya baik bagi komunitas Muslim, maupun non-Muslim.
Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak mualaf di AS. Pendidikannya hanya sampai sekolah menengah atas, tapi ia pernah bertugas di kemiliteran AS selama beberapa tahun dimana ia belajar beberapa ketrampilan teknis. Sekarang, Abdullah mencari nafkah dengan menjadi tukang memperbaiki mesin fotokopi dan fax.
Tapi yang menarik adalah kisah Abdullah menjadi seorang muslim. Saat Perang Teluk kedua atau perang Irak yang diawali dengan invasi AS ke negeri itu, Abdullah masih aktif di dinas kemiliteran AS. Ia ditempatkan di basis militer AS di Arab Saudi. Suatu hari, Abdullah berbelanja di sebuah pasar di Saudi. Ia membeli beberapa barang kebutuhan.
Ketika Abdullah akan membayar barang-barang yang dibelinya pada penjaga toko, tiba-tiba terdengar suara azan dari masjid terdekat. Penjaga toko berkata, "sudah" sambil mengibaskan tangan dan menolak mengurus pembayaran Abdullah.
Abdullah menyaksikan bagaimana penjaga toko itu langsung menutup tokonya dan bergegas ke masjid. Abdullah cuma terbengong-bengong dan bertanya-tanya dalam hati melihat tingkah si penjaga toko itu, "Kenapa lelaki ini tidak mau mengambil uang pembayarannya, padahal harganya sudah disepakati."
Abdullah merasa, seumur hidupnya tidak pernah melihat orang yang menolak uang. Apalagi dalam bisnis, setiap orang pasti saling berlomba-lomba mendapatkan uang. "Orang macam apa penjaga toko ini, agama apa ini yang sangat diprioritaskan penjaga toko ini?" tanya Abdullah dalam hati.
Pikiran Abdullah dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang agama yang dianut penjaga toko itu. Ia lalu membaca buku-buku tentang Islam selama bertugas di Saudi, dan akhirnya memutuskan masuk Islam saat kembali ke AS.
Di New York, Abdullah belajar dengan sejumlah ustaz yang mengajarinya pengetahuan dasar tentang Islam dan mengajarkannya membaca Al-Quran. Abdullah pun menjadi seorang muslim yang taat dan selalu berusaha menunaikan salat di masjid. Saat pindah ke Detroit, Abdullah meneruskan kebiasaannya itu dan aktif dalam berbagai kegiatan di masjid Detroit.
Abdullah kini sudah hapal beberapa surat dalam Al-Quran dan mampu membaca Al-Quran dengan lantunan suara yang indah. Ia sering ditunjuk untuk menjadi imam salat dan hapalan Quran-nya terus bertambah setiap hari. Dalam keseharian hidupnya, Abdullah juga berusaha mencontoh apa yang biasa dilakukan Rasulullah Saw. sampai cara Rasulullah tidur dengan posisi menghadap kanan, dan tangan dilipat dibawah kepala.
Suatu hari, ada jamaah masjid yang melihatnya berbaring seperti dan khawatir kalau Abdullah sakit. Tapi Abdullah menjawab bahwa ia baik-baik saja, "Beginilah posisi tidur Rasulullah Saw," kata Abdullah menjawab kekhatiran jamaah tadi.
Abdullah tanpa malu-malu selalu berusaha mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Al-Quran dan hadis. Berkat teladan yang ditampakkannya sebagai seorang muslim, Abdullah berhasil membuat banyak anggota keluarganya yang tertarik dengan Islam dan akhirnya memutuskan masuk Islam. Abdullah juga mengajar dan mendidik anak-anaknya sendiri untuk menghapal Quran dan membiasakan diri salat ke masjid, meski di kala Subuh dan dalam kondisi cuaca yang teramat dingin.
Abdullah juga belajar bahasa Arab dengan bimbingan seorang ulama bernama Dr. Syaikh Ali Suleiman. Kemampuan berbahasa Arab-nya yang baik, membuatnya mudah menghapal surat-surat Al-Quran. Abdullah juga belajar tentang hadis, dan sekarang kerap diminta untuk memberikan khutbah Jumat. Dengan keislamannya, Abdullah menjadi penerang bagi banyak non-Muslim menuju ke cahaya Islam. (kw/TTT)

Kaum Aborigin Juga Berbondong Bondong menjadi Mualaf

0


 

SAAT menyaksikan ANZAC parade pada tanggal 25 April 2011 di depan War Memorial, Canberra, saya mendapati demonstrasi yang dilakukan oleh puluhan kaum Aborigin. Mengusung tema “healing spirit” mereka memprotes penindasan oleh bangsa Eropa yang terjadi dimasa lampau, dengan membentangkan tulisan-tulisan protes serta membagi-bagikan stiker bergambar benua Australia bercorak bendera Aborigin. Di antara puluhan demonstran, baik Aborigin maupun orang Eropa pendukungnya, tiba-tiba seorang demonstran seperti blasteran Aborigin-Eropa tersenyum dan menunjukkan kafiyeh di lehernya kepada istri saya (berjilbab), seolah ingin memberikan sebuah isyarat.
Dengan kalung kafiyeh itu ia cukup menonjol di antara para pemrotes tersebut. Saya tidak bisa memastikan apakah ia seorang Muslim atau bukan. Yang pasti senyumannya itu ingin menunjukkan rasa kesedihan yang dialami oleh orang-orang Palestina.



Sebagai seorang Aborigin, ia seperti mengidentikkan dirinya dengan orang-orang yang diusir dari tanah airnya dan tercerabut dari sumber-sumber kehidupannya oleh rezim apartheid, Zionis Israel.
Di tengah cemoohan beberapa penonton parade yang khidmad memperingati kekalahan tentara Australia di Gallipoli Turki, ia mencoba menyampaikan perasaannya ketertindasan yang dirasakan.
Tentang berbagai insiden pembunuhan serta stolen generation (upaya memberadabkan suku-suku Aborigin dengan mengambil paksa anak-anak mereka untuk dididik secara Eropa) yang sempat dirasakan oleh orangtua mereka. Melihat kami Muslim, demonstran Aborigin itu melempar senyum getirnya yang bisa kami terjemahkan; solidaritas!.
Di Australia, Aborigin Muslim adalah komunitas yang berkembang dengan pesat. Jumlahnya sulit diketahui secara pasti, namun perkiraan konservatif berjumlah lebih dari 1000 orang (hasil sensus tahun 2006), meningkat sebesar 60% dari hasil sensus 1996 yang berjumlah sekitar 600 orang. Jumlah Muslim Aborigin di tahun 2011 ini diperkirakan terus meningkat, dari keseluruhan suku Aborigin yang berjumlah 517 ribu orang pada tahun 2006 yang tersebar di seluruh Australia.
Mengenal Islam
Kontak pertama mereka dengan Muslim adalah saat mereka bertemu dengan para pencari teripang orang-orang Makassar dan Bugis yang singgah di Australia Utara setiap bulan Desember dari periode 1700-an sampai 1907. Sejarah selanjutnya terkait dengan para Muslim penunggang unta Afhanistan (dari Rajastan dan Baluchistan) antara 1860 sampai 1890 yang didatangkan oleh kolonial Eropa untuk membantu menembus isolasi gurun pasir Australia mengirimkan bahan makanan serta pembangunan rel kereta api waktu itu.
Kaum Muslim Afghanistan tersebut sempat membangun masjidnya, disamping ada pula yang menikah dengan penduduk asli Aborigin seperti kakek buyut Muslim keturunan Aborigin bernama Shahzad dalam sebuah program televisi multikultural SBS.
Sepeniggal buyutnya kakek Shahzad sempat kembali ke Baluchistan dengan keluarganya, hal yang diakuinya menjaga keIslaman mereka sampai kembali lagi ke Australia. Selain itu, orang-orang Aborigin dari berbagai suku mengenal Islam dari komunitas-komunitas Muslim imigran yang datang ke Australia dalam tahun-tahun terakhir.
Perasaan ketertindasan sejarah adalah salah satu alasan mengapa aborigin dengan nama Muslim Khaled memasuki Islam yang ia kenal saat di dalam penjara. Sementara Justin yang masuk Islam saat menempuh kuliah di jurusan ilmu Hukum merasa dalam Islam ia mendapatkan perasaan merdeka dan terputus dari beban sejarah kelam komunitasnya. Ia sekarang merasakan lebih kuat dan mampu meredam kemarahan serta menjadi manusia seutuhnya, sama seperti manusia lainnya.
Berbondong-bondongnya Aborigin menjadi mualaf setelah mengenal ajaran Islam ibarat sebuah protes karena menurut mereka mengikuti agama orang Eropa seperti menyetujui penindasan di masa lampau. Namun, kemusliman mereka itu juga bukanlah sebuah pelarian semata, karena kadang-kadang mereka lebih mempraktekkan Islam daripada para Muslim imigran yang datang ke Australia karena alasan ekonomi. Setelah memeluk Islam, mereka bisa melepaskan diri dari alkoholisme dan obat-obatan terlarang, penyakit yang parah melanda suku asli Australia itu.
Lebih lanjut, seperti disampaikan Solomon yang mengenal Islam dari rekan kerjanya, nilai-nilai Islam ia rasakan lebih kompatibel dengan adat-istiadat mereka yang cenderung menghargai komunalitas dan saling menjaga. Penghormatan kepada orang yang lebih tua juga mereka rasakan sama dengan nilai-nilai tradisional mereka. Hal tersebut berbeda dengan nilai-nilai bangsa Eropa yang cenderung individualistis, egaliter namun kurang menghargai orang tua dan kebiasaan mandiri sejak dianggap telah dewasa.
Perkembangan Islam yang cepat diantara kaum Aborigin Australia adalah sebuah kenyataan yang mengejutkan, dimana agama Kristen adalah mayoritas meski prosentasenya terus menurun dari tahun ke-tahun ditengah semakin banyaknya orang atheis dan agnostic. Hal serupa juga terjadi pada Muslim Indian Amerika Latin yang masuk Islam sebagai “protes” atas sejarah kelam mereka yang pada abad ke-16 dipaksa masuk agama Katolik oleh penjajah Spanyol. Mereka bertemu kelompok-kelompok kecil Muslim Spanyol (Murabitun) yang melarikan diri ke Benua Latin itu dari sisa-sisa kekhalifahan Spanyol karena menghindari inquisisi kaum Katholik.
Mirip pula yang dirasakan orang-orang Negro Muslim Afrika yang ratusan tahun didatangkan sebagai budak di Amerika Serikat sampai awal abad ke-20. Beberapa keturunan mereka berupaya mencari akar kemusliman nenek moyang mereka yang telah terkikis, seperti termanifestasi dalam gerakan Nation of Islam. Hal yang juga dirasakan seorang Aborigin juara tinju yang menjadi mualaf bernama Antony Mundane yang mengenal Islam dari tulisan-tulisan Malcom X.
Muslim Aborigin yang terus berkembang jumlahnya adalah sebentuk protes atas penindasan bernuansa rasis di masa lampau, meskipun pemerintah Australia terus melakukan banyak upaya untuk mendorong integrasi, multikulturalisme dan pemberdayaan kepada mereka. Di sisi lain, semakin berkembangnya pula mualaf bangsa Eropa di Australia dimana Islam yang terus tumbuh mungkin akan menjadi healing spirit bagi Australia dimasa depan.*/Abu Alfathtinggal di Canberra/hidayatullah/

Manuel Gomez Warga suku Indian Maya yang Bangga menjadi Muslim

1 komentar

Dibesarkan sebagai seorang Kristen, Manuel Gomez sekarang berganti nama menjadi Mohamed Chechev. Tepatnya, setelah ia bersyahadat beberapa tahun lalu. Bersama beberapa Tzotzil lain, iabersyahadat setelah menrima pencerahan dari seorang Muslim asal Spanyol yang bermukim di Meksiko selatan.

"Saya Muslim, saya tahu kebenaran kini. Saya berdoa lima kali sehari, merayakan Ramadhan dan telah melakukan perjalanan ke Makkah," kata Chechev dalam bahasa Spanyol.

Dia tinggal di sebuah komunitas Protestan di Chiapas disebut yang disebut Nueva Esperanza di pinggiran San Cristobal de las Casas. Dia berbagi sebuah rumah sederhana dengan 19 kerabat dan menjual sayuranyang ditanamnya di sebidang tanah.


Referensi Alkitab berlimpah-limpah di Nueva Esperanza, dengan jalan-jalan bernama Betlehem dan sejenisnya. Tetapi, Nueva Esperanza kini juga menjadi rumah bagi sekitar 300 warga Tzotzil, masyarakat adat asal Maya, yang telah masuk Islam dan hidup selaras dengan sisa populasinya.

Istri Chechev yang bernama Noora (terlahir bernama Juana) dan adik iparnya, Sharifa (sebelum berislam bernama Pascuala) juga menjadi Muslim mengikuti jejaknya. Mereka mengenakan gaun panjang dan kerudung menutupi rambut mereka.

Noora adalah putri dari seorang pemimpin pribumi Protestan yang diusir dari San Juan Chamula, kota terdekat di mana Partai Revolusioner Institusional dan keuskupan tertinggi Katolik memerintah. bersama puluhan keluarga lainnya, mereka terusir tahun 1961 karena mempertahankan agama Protestan.
Beberapa langkah dari rumah Chechev, sebuah bangunan sederhana berdiri. Bangunan yang didirikan oleh Gerakan Murabitun, sebuah komunitas Sufi yang didirikan pada tahun 1968 oleh seorang Skotlandia yang telah masuk Islam, kini difungsikan sebagai mushala dan madrasah. 

Dari beberapa mualaf, Chechev belajar Islam. Selain dari kepala suku yang lebih dulu menjadi Muslim, ia juga belajar dari Aurelanio Perez, seorang Spanyol yang berubah nama menjadi Amir Mustapha setelah berislam. Ia mendirikan komunitas Marabutin di Chiapas dan aktif berdakwah di antara suku Tzotzil, suku Indian Maya.

Chechev yang tidak dapat membaca atau menulis Spanyol tapi bisa berbahasa Spanyol, kini fasih melafalkan beberapa surat Alquran dan beberapa doa.

"Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis. Saya juga. Tapi saya bisa melafalkan suci Alquran. Ini adalah keajaiban untuk dapat masuk Islam," katanya.

Di matanya, Allah sungguh penyayang. "Dia mengajarkan kita segalanya dan memberi kita segala sesuatu yang datang dari dia," tambah Chechev.

Dia kini rajin membaca hadis, mempelajari tuntunan keseharian Rasulullah. Lalu, ia mencoba menerapkan dalam kesehariannya. "Petunjuk Islam sungguh komplet," katanya.

Chechev telah melakukan perjalanan ke jantung Islam, di Arab Saudi, pada tahun 1998 untuk menunaikan ibadah haji, dengan bantuan Amir Mustapha. Beberapa kerabat Chechev, termasuk istrinya, turut serta.

"Aureliano mengatakan kepada saya bahwa jika kita menerima Allah, kami harus mengunjungi rumah Allah. Seperti mimpi, kami semua berpakaian putih.Di sana, mereka yang berkulit putih, hitam, orang cokelat, berbaur, tidak ada masalah. Kami semua sama di mata Allah," katanya.

Noora, istrinya,  wajah berbinar begitu dia mendengar tentang Makkah.

"Ketika saya pergi ke sana, aku merasa bangga sebagai Muslim. Saat itu saya berdoa pada Allah meminta masjid untuk kampung kami. Insya Allah, jika Tuhan menghendaki, kami akan memilikinya dalam waktu dekat," katanya.

Noora berharap bahwa putranya, Ibrahim (Anastacio), akan menjadi seorang imam setelah sekolahnya selesai

"Di Chamula, tak menjadi Katolik atau anggota partai PRI adalah sebuah kejahatan. Mereka juga marah karena Protestan menganjurkan berhenti minum alkohol, salah satu bisnis lokal utama," kata Susana Hernandez, yang tinggal di wilayah itu.

sebelumnya. Seorang pemimpin adat bernama Domingo Lopes, yang juga aktivis gereja Advent, belakangan menemukan pencerahan setelah mengenal Islam. 

Ia menyatakan keislamannya tahun 1993, dan menjadi buah bibir di wilayah itu. Namun pada perkembangannya kemudian, banyak yang mengikuti jejaknya; menjadi Muslim.
Menurut antropolog Gaspar Morquecho, sebanyak 330 ribu warga Tzotzil di Chiapasmemang mempunyai sejarah beberapa kali pindah agama. Dulu, mereka dipaksa dengan kekerasan untuk menganut Katolik saat kollonialisme Spanyol merambah wilayah itu pada abad ke-16. Saat itu, hanya sedikit yang beragama Islam. Umumnya, mereka percaya agama leluhur, dan Protestan.