Asiya Abdul Zahir, Buddhist Women Choosing Islam Way

1 komentar
Once converted to Islam, his name became Asiya Abdul Zahir. Both his parents are Buddhists, but he felt as a Christian school in the school because he was Christian and the Christian environment.
“I always believe in the existence of only one Creator, where all that is heavily dependent on the Creator. Since the age of 13, the sole creator of this, every day I pray and ask directions,” said Asiya told his life before converting to Islam.

Setelah 6 Bulan mempelajari Islam akhirnya Sunaku memilih jadi Muslimah

1 komentar

Meski dibesarkan oleh orang tua tunggal, kehidupan Sunaku bisa dibilang nyaman dan serba kecukupan. Sejak ayahnya meninggal, ibunyalah yang membesarkan dan mendidik Sunaku. Ibunya yang selalu berusaha memberikan rasa aman dan memastikan putri satu-satunya bahagia dan terpenuhi kebutuhannya.
"Tapi sejak kecil, saya sebenarnya tidak pernah betul-betul merasa bahagia. Saya malah sering diserang rasa gelisah yang berlebihan," ujar perempuan asal Jepang itu, "saya berusaha mengatasi rasa itu dengan memusatkan perhatian pada studi saya dan jalan-jalan keliling dunia sebagai turis. Tapi rasa gelisah itu tetap sering muncul saya sampai saya lulus sekolah menengah dan berangkat ke Inggris untuk kuliah jurusan Bahasa Inggris."



Suatu ketika saat liburan, Sunaku bersama teman-temannya yang juga dari Jepang berwisata ke Yordania. Seorang temannya yang sudah pernah ke Yordania, mengatur agar Sunaku bisa tinggal dengan warga lokal, sebuah keluar Muslim Yordania. Keluarga muslim itulah yang menimbulkan rasa kagum Sunaku pada Islam, sekaligus membuyarkan penilaiannya yang selama ini negatif terhadap Islam dan Muslim.
"Saya melihat kehidupan mereka sangat praktis dan teratur. Rumah mereka selalu bersih. Saya terkesan dengan kuatnya hubungan antar anggota keluarga mereka dan rasa tanggung jawab yang mereka tunjukkan pada lingkungan sekitar. Ada ketulusan dan rasa saling mempercayai diantara mereka, yang tidak pernah saya saksikan di manapun," kata Sunaku.
"Suami di keluarga itu bekerja untuk menafkahi keluarganya, sedangkan istrinya mengatur rumah dan terlihat senang dan puas dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Saya merasa inilah kebahagiaan yang saya impikan. Pada saat yang sama, saya menyadari bahwa gambaran saya selama ini tentang Islam ternyata salah besar ..."
"Saya tidak tahu realita Islam yang sebenarnya karena tidak pernah bergaul dengan orang Islam. Gambaran saya tentang muslim semata-mata hanya berdasarkan pada apa yang saya lihat di berita-berita tv, dan saya sudah semena-mena menganggap orang-orang Islam sebagai orang yang menyukai kekerasan," papar Sunaku.
Setelah melakukan perjalanan ke Yordania, ia memutuskan untuk mempelajari Islam dan mencari tahu pesan-pesan apa sebenarnya yang diajarkan Islam. Sunaku lalu mengunjungi Islamic Center di Tokyo dan meminta satu buah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Jepang. Ia juga mendapat sebuah buku tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw. Selanjutnya, secara rutin Sunaku belajar Islam di Islamic Center tersebut dengan bimbingan para ulama asal Jepang, Pakistan dan negara-negara Arab, hingga ia benar-benar menyadari bahwa Islam adalah agama kebenaran.
Sunaku merasa keyakinannya bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara alam semesta, semakin teguh. "Makin banyak saya membaca tentang Islam, keyakinan dan pemahaman saya pada Islam makin kuat. Saya menemukan bahwa Islam-lah yang mengangkat derajat kaum perempuan dan membebaskan kaum perempuan secara intelektual," tukas Sunaku.
Setelah enam bulan belajar Islam, Sunaku memutuskan untuk menjadi seorang muslimah dan mendeklarasikan dua kalimat syahadat. Ia mulai menunaikan salat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadan. Sunaku juga mulai menghapal surat-surat dalam Al-Quran.
"Allah memberikan kemampuan pada saya untuk menghapal surat-surat pendek dalam Al-Quran. Saya tertarik pada bahasa Arab, sejak pertama kali saya mendengar bahasa itu. Makanya saya memutuskan untuk mempelajari bahasa yang indah itu. Saya mengambil kursus di bahasa Arab di Islamic Center di Tokyo, dan nanti saya ingin melanjutkannya ke Mesir dengan mengambil studi Islam ..."
"Saya berdoa semoga Allah Swt. menjadikan saya dan kisah saya ini sebagai petunjuk bagi yang lainnya untuk menemukan cahaya Islam, karunia terbesar bagi orang yang menerimanya," tandas Sunaku. (kw/TTI)

Subhanallah... mesti "Terbuang" Akibat perang Vietnam,Kini jadi Dai di Amerika Serikat

0


Namanya Syekh Abdulbahry Yahya. Umurnya cukup muda. Namun mungkin jarang orang tahu, meski berwajah Chinese ia adalah penggiat dakwah. Seorang pria Vietnam yang tumbuh dari keluarga pecinta agama.
Namun sayang, pada gilirannya sang keluarga mesti “terbuang” dari tanah kelahiran akibat perang Vietnam yang berkepanjangan.
Abdulbahry kecil pun kemudian diboyong keluarga menuju Seattle, Amerika Serikat. Disana ia tumbuh besar dan dewasa. Kecintaan besarnya terhadap ilmu agama, mengantarkan dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Islam Madinah.
Sejak saat itu Madinah menjadi kota peraduannya dalam mengais ilmu demi ilmu. Sebuah langkah yang terlihat jarang dilakukan oleh pria Vietnam pada umumnya.



“Di Seattle saya besar selama 30 tahun, kemudian belajar di Madinah selama 6 tahun. Dua tahun kemudian saya mulai bolak balik ke Madinah” ujarnya saat ditanya Eramuslim.com di tengah-tengah kunjungannya ke Jakarta, Selasa 18/10.
Kita ketahui bersama, Vietnam adalah sebuah Negara dimana Buddha Mahayana, Taoisme dan Konfusianisme memiliki pengaruh kuat terhadap kehidupan berbudaya dan beragama masyarakat. Bahkan, menurut sensus tahun 1999, 80.8% orang Vietnam tidak beragama.
Akan tetapi, sapanyana, meski dikelilingi situasi penuh kekafiran, Syekh Abdulbahry tidak tergoda untuk pindah haluan. Ia istiqomah di jalan dakwah. Mungkin karena hal itu jua yang membuatnya semangat untuk melebarkan sayap dakwah ke seluruh dunia tentang betapa solutifnya ajaran Islam.
Pasca enam tahun mengenyam pendidikan di Madinah, ayah empat orang anak ini kemudian kembali ke Vietnam dan Kamboja. Disana ia menjadi seorang guru dan diamanahi poisisi sebagai Direktur Yayasan Amal Ummul Quro.
Kini Bersama keluarganya, pakar Tafsir dan Hadis ini menjabat sebagai Imam Masjid Jaamiul Muslimin di Seattle, WA. Tidak hanya itu, Syekh Bahri juga memegang posisi Presiden Masyarakat Pengungsi Cham dan Wakil-Presiden Islamic Center Washington State.
Syekh Bahry juga termasuk muslim yang banyak mengkirtik modernisme masyarakat Amerika. Pesatnya laju teknologi dan kesibukan tiada henti menjadi keladi dari krisis spiritualitas negeri Paman Sam itu. Maka itu Syekh Abdulbahry Yahya mencoba bergerak mengatasi kekacauan ini. Metodenya terlihat sederhana, yaitu bagaimana Islam bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita menggunakan metode-metode yang memungkinkan masyarakat tahu Islam bukanlah agama seperti yang digambarkan Barat sekarang ini.” Imbuhnya penuh semangat
Bersama Al Maghrib Institute, Syekh Abdulbahry setahap demi setahap mengajarkan masyarakat tentang indahnya ajaran agama Islam. Objek dakwahnya tidak hanya di Amerika, tapi juga Kanada. Khusus Amerika, mereka memiliki 15 cabang.
“Seluruh siswa kami di Amerika tidak pernah berhenti setelah belajar, karena Islam harus dipraktekan ke masyarakat. Dakwah itu tidak boleh berhenti.”
Al Maghrib Instutute berkembang menjadi lembaga pembelajaran keagamaan bagi masyarakat Amerika. Syekh Bahry banyak membuka kelas dan mengundang animo masyarakat Barat. “Al Maghrib memiliki banyak murid dari berbagai latar belakang yang ada.”
Al Maghrib sendiri, kata Syekh Bahry tidak merujuk hanya pada satu mazhab tertentu, namun jika disuruh untuk memilih maka ia akan merujuk kepada Imam Syafi’i. “Kami mengkombinasi seluruh ilmu pengetahuan dalam Islam,” terangnya.
Kini setelah 10 tahun berdiri, Syekh Bahry dan Al Maghrib Institute berencana membuka cabang di Indonesia dan Malaysia. “Dan kita berharap ini tidak saja menyebar di Amerika dan Kanada tapi di seluruh dunia.” pungkasnya. (Pz/mzs/eramuslim)

Dari perjalan spiritual yang cukup Panjang,Akhirnya ia Jatuh Cinta kepada Al Qur'an

1 komentar
Raphael, seorang warga negara Amerika Serikat menyadari betul setiap hal yang terjadi pada manusia sudah ditentukan oleh Allah. Semua itu sudah tertulis rapi, ketika malaikat meniupkan ruh ke dalam rahim seorang ibu ketika usia kandungannya mencapai 120 hari. Ia bersyukur, terlepas dari agama apa pun yang pernah ia anut di masa lalu, kini ia menjadi seorang muslim. Alhamdulillah.

Ia mengaku jatuh cinta dengan Alquran, apalagi dengan surat An-nasr.  “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3)


Alquran menurut dia adalah buku terbaik yang pernah ada. "Buku itu perlu dibaca untuk keselamatan umat manusia. Membaca Alquran sama saja dengan mencari tahu apa kehendak Tuhan," ujarnya.

Perlu perjalanan spiritul yang cukup panjang baginya sampai bisa menikmati nikmat Islam. Ia mengatakan Islam adalah satu-satunya agama yang tak perlu didebat. "Semuanya diterima dengan rasa keimanan," ujarnya.

Setelah memutuskan untuk memluk Islam, ia mengaku menerima apa yang diberikan Allah. Ia berharap  bisa melakukan yang terbaik dalam menjalani agama Islam.

Berasal dari sebuah keluarga yang taat dengan agama Yehuwa di kota kecil Lubbock, Texas barat, ia lahir di lingkungan yang sangat religius. Banyak gereja di kota itu. Disana dikenal pula sebagai pusat studi alkitab. Ia dibaptis dan dibesarkan menjadi seorang penganut agama Katolik sampai berumur enam tahun.

Ketika ia berumur enam tahun, beberapa tamu berkunjung ke rumahnya untuk mencari kakeknya. Tak lama kemudian, sebuah pusat studi injil berdiri di lingkungan mereka.

Setelah itu, Raphael beserta seluruh keluarganya menjadi saksi dari jemaat Yehuwa. Ia mengaku begitu banyak pengetahuan tentang Injil. Ia heran, semakin ia mengenal injil ia justru semakin merasa banyak yang ‘tercemar’ di kitab suci itu. "Sat itu saya berpikir terlalau banyak yang rancu dalam Injil," ujarnya.

Namun, ia selalu menganggap apa yang berasal dari Tuhan semuanya murni. Seperti halnya Taurat yang diberikan kepada kaum Yahudi, ia pun merasa Injil memang diberikan Tuhan kepada umat Nasrani.

Hidup di lingkungan yang taat, membuat Raphael yang sudah dibaptis berganti menjadi penganut Yehuwa pada usia 13 tahun. Sejak saat itu, ia sudah berambisi untuk mengabdikan dirinya kepad Tuhan.

Ia semakin dalam memperlajari Injil hingga di usia 16 tahun, ia sudah mendapatkan kehormatan untuk meberikan ceramah di hadapan para jemaat. Ia mulai berbicara di depan banyak orang sejak saat itu.

Menjelang usia 20 tahun, ia sudah memiliki jemaat sendiri. Ia harus berperan sebagai pendeta yang mengayomi para jemaatnya.

Ia termasuk salah seorang yang cukup mengakar dan tahu luar dalam ajaraan Yehuwa. Ia menyadari betul jamaat ini berbeda dari jemaat lain. Di negara barat, jemaat ini dipandang sebagai jamaat yang cukup ekstrem dan fundamental.

Dalam agama Yehuwa, diajarkan semuanya buruk kecuali penganut Yehuwa. Saksi-saksi Yehuwa dianggap sebagi satu-satunya yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Di tahun 1979, ia memutuskan untuk meninggalkan agama Yehuwa. Ia tak bisa lagi mempercayai ajaran agama yang ia anut.

Ia memutuskan untuk meninggalkan agama Yehuwa pada tahun 1979 dan tak akan kembali. Keluar dari Yehuwa ia merasa seperti orang tanpa agama. Tapi ia bersyukur, ia bukanlah manusia tanpa Tuhan.

Sejak saat itu ia mulai melakukan pencarian agama lebih intens. Ia bahkan kembali ke Katholik  selama tiga bulan. Namun, Rafael mengaku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa agama itu tidak sesuai dengan kata hatinya.

Lima tahun lalu, ia pernah berkesempatan bertemu dengan seorang Muslim. Ia melihat orang Muslim selalu tenang dan bahagia. Mereka sempat berbincang tentang Islam. Namun, ia mengatakan kepada orang yang baru dijumpainya bahwa tak pernah terpikir untuk menjadi seorang muslim.

Ia justru berniat menjadi seorang Kristen. Ia berpikir ia keluar dari Yehuwa barangkali karena Tuhan menginginkannya sebagai seorang Kristen.

Ia pun mulai mempelajari Alkitab pada malam hari. Selama beberapa hari, ia melahap habis bacaan mengenai perjanjian baru, mengulang perjanjian lama, kitab kejadian dan semuanya.

Saat ia membaca mengenai kisah nabi, ia tiba-tiba mengingat perjumpaannya dengan seorang Muslim yang sempat mengenalkannya pada Islam, Alquran dan Allah.

Ia mulai membuka pikiran. Ia tak ingin lagi berpikir seperti Yehuwa yang menganggap hanya ajarannya yang selalu benar. Ia mencari tahu kebenaran ‘teman barunya’ itu. Ia mulai meraba-raba tentang Islam. “Ada 1,2 milyar orang yang beragama Islam”. Ia kemudian memutuskan untuk meilhat Alquran dan mempelajarinya.

Ia mulai membaca Alquran. Seluruhnya ia baca, ia terkagum-kagum dengan Alquran yang baginya semua yang tertulis di situ masuk akal. Ia mengambil Alquran dan bergumam pada Alkitab, “Aku tahu semua ini saling berhubungan satu sama lain”. Ia justru mengerti Alkitab setelah membaca dari Alquran.

Ia mengambil kesimpulan, barangkali ia memang menjadi penganut Kristen yang baik setelah membaca Alquran. "Tuhan menjadikan saya seorang Kristen yang baik" ia lantas mempelajari Alquran.

Terus menerus mempelajari Alquran, ia merasakan kitab milik umat Islam ini lebih sederhana. “Alquran lebih menarik untuk hati dan akal saya”, ujarnya.

Lambat laun, ia mulai menyadari, seperti halnya Injil, Alkitab pun sudah tak murni lagi, banyak yang tercemar disana. Ia meninggalkan Alkitab dan membaca Alquran.

Tak puas hanya membaca Alquran, ia memutuskan untuk segera menemui orang-orang Islam untuk langsung melihat kedaaan mereka. Ia kemudian mendatangi masjid. Setelah mencari info, ia manuju masjid di Kalifornia Selatan. Ia sempat galau dan ragu untuk memasuki tempat ibadah itu. Sempat berkeliling, ia tak kunjung menemukan tempat parkir bagi kendaraannya. Ia bergumam dalam hati bahwa ia hanya ia akan masuk kalau ada tempat parkir.

Saat tepat berada di depan masjid, sebuah mobil keluar. Kegalauannya semakin memuncak. Ragu-ragu, ia berpikir "anda membuat situasi semakin sulit”. Kini ia tak punya pilihan lain kecuali harus memasuki masjid dan menglihat orang-orang Islam di dalam. “Saya merasa gugup pergi ke masjid untuk pertama kalinya”, ujarnya.

Ia mulai berjalan ke pintu masuk masjid. Ada ada seorang keturunan Arab dengan jenggot lebat sedang berjaga.  Si penjaga masjid mempersilakan Raphael untuk berkeliling.

Ia sampai di sisi lain masjid, ia melihat beberapa pria sedang berdoa. Sadar kehadirannya cukup mendapat perhatian, Raphael berujar “saya hanya melihat saja”. Saat sudah selesai shalat, Raphael lantas berbaur dengan orang-orang itu.

Mereka mengucapkan salam sapaan "Asalamualaikum", sebuah bahasa yang asing. Raphael tak mengerti apa yang mereka ucapkan. 

Melihat raut kebingungan di wajah Rafael, seorang lelaki datang menghampiri. “Anda baru kan?”, kata lelaki yang bernama Umar itu.

"Ya, ini pertama kalinya saya ke masjid", kata Raphael. Umar lantas mengajak rafael berkeliling, menuju tempat wudhu laki-laki. 

"Apa itu voodoo", tanya Raphael. Umar menjelaskan apa yang sedang dilakukannya bernama wudhu bukan voodoo. Ia mengajari rafael melakukan wudhu dan begaimana wudhu bisa menyucikan.

Terkesan dengan wudhu, ia memutuskan untuk berdoa seperti orang Islam. Ketika menjadi Kristen, ia hanya berdoa dengan berlutut saja. Ia menemukan sesuatu yang unik ketika berdoa sambil ruku dan sujud.

“Tuhan menciptakan alam dengan segenap isinya mengapa saya tidak bersujud kepadanya? apakah saya sombong?”, ujarnya.

kini Raphael selalu mengingat dan memuja Alquran, "Kita telah memiliki buku paling indah yang pernah diciptakan Tuhan untuk penyelamatan manusia untuk hidup dalam kedamaian, Alquran," ujarnya. Baginya itu adalah kitab yang perlu dibaca sepanjang masa untuk mencari tahu tujuan hidup di muka bumi.