Leopold Weiss :"Buat Saya, Islam Ibarat Sebuah Karya Arsitektur yang Sempurna"

0

Leopold Weiss, wartawan, penulis buku dan negarawan asal Austria, lahir di Livow (kota di Austria yang kemudian menjadi bagian dari Polandia) pada tahun 1900. Pada usia 22 tahun, ia sudah melakukan perjalanan ke Timur Tengah.

Setelah masuk Islam, Weiss yang kemudian menggunakan nama Islami Muhammad Asad, bekerja dan mengunjungi banyak negeri Muslim, mulai dari Afrika Utara sampai ke Afghanistan. Selama bertahun-tahun mempelajari Islam, dan akhirnya lebih dikenal sebagai salah seorang cendikiawan Muslim terkemuka di dunia internasional.

Ketika berdirinya negara Pakistan dideklarasikan, Muhammad Asad ditunjuk sebagai direktur Departemen Rekonstruksi Islam di Punjab Barat, lalu menjadi perwakilan bergilir untuk negara Pakistan di PBB. Ia juga menulis dua buku yang terkenal, berjudul "Islam at the Crossroads" dan "Road to Mecca", menerbitkan jurnal bulanan "Arafat" dan menyelesaikan terjemahan Al-Quran.

Perjalanan panjang Asad menuju Islam berawal pada tahun 1922. Pekerjaannya sebagai wartawan dengan jabatan koresponden khusus untuk sebuah koran terkemuka di Austria, menyebabkan ia harus meninggalkan tanah airnya dan pergi ke Afrika serta beberapa negara di Asia. Bisa dibilang, sebagian besar hidupnya dihabiskan di negari-negeri Muslim dan ia mulai tertarik mengamati kehidupan masyarakat di negeri-negeri Muslim itu.

"Saya melihat dengan mata kepala sendiri keteraturan dalam kehidupan sosial mereka, yang secara mendasar sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Eropa; sejak pertama sekali saya berada di sana (negeri-negeri Muslim), rasa simpati saya tumbuh melihat kehidupan yang lebih tenang--di Eropa, kalau saya bilang, kehidupan manusianya seperti mesin," ujar Weiss.

Rasa simpati itu pelan-pelan mendorongnya untuk mencari tahu mengapa perbedaan kehidupan itu bisa terjadi, dan ia mulai tertarik dengan ajaran religius masyarakat Muslim. Meski demikian, Weiss belum berkeinginan untuk mengetahui Islam lebih dalam.

"Tapi saya akui, Islam telah membuka jalan pada saya terhadap sebuah kehidupan manusia yang lebih maju dan rasa persaudaraan yang sejati. Meski realitanya sekarang, kehidupan umat Islam terlihat sangat jauh dari ideal seperti yang terdapat dalam ajaran Islam," tukas Weiss.

Ia menyayangkan sikap sebagian umat Islam yang malas dan stagnan, padahal Islam mengajarkan umatnya untuk dinamis dan bergerak maju.Weiss juga mengkritik kalangan umat Islam yang mengejewantahkan sikap murah hati dan kerelaan untuk berkorban, dengan cara pandang yang sempit dan cenderung mencari cara hidup yang mudah.

"Saya akhirnya mengetahui bahwa satu-satunya alasan mengapa kehidupan sosial dan budaya masyarakat Muslim banyak mengalami kerusakan, karena mereka tidak sungguh-sungguh menghayati ajaran Islam. Islam masih hidup di kalangan umat Islam, tapi seperti tubuh tanpa jiwa," ujar Weiss.

Weiss banyak berdiskusi tentang kemunduran umat Islam ini dengan komunitasMuslim dari berbagai negara, mulai dari Libya sampai Pamir, mulai dari kawasan Bosphorus sampai kawasan Laut Arabia.

Pada satu titik, Weiss mempertanyakan lagi keputusannya memeluk Islam, apa sebenarnya yang membuatnya tertarik pada Islam. "Saya harus mengakui, saya tidak punya jawaban memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan itu," kata Weiss.

"Bukan bagian tertentu saja dalam Islam yang membuat saya tertarik pada agama ini. Tapi keseluruhan ajaran moral dan petunjuk kehidupan sehari-hari, yang menurut saya mengagumkan dan mudah diaplikasikan, yang membuat saya tertarik pada Islam ... Buat saya, Islam terlihat seperti sebuah karya arsitektur yang sempurna. Semua bagiannya sangat harmonis dan saling mendukung satu dengan lainnya," jelas Weiss. (ln/TJCIeramuslim)

Denise Horsley :Citra Islam sangat tergantung pada bagaimana Muslim dan Muslimah bersikap

0
Menari adalah dunia Denise Horsley. Hobinya itu mengantarkannya melanglang buana, mendapatkan penghasilan lumayan, dan menjadi asisten dosen di fakultas seni di sebuah universitas di London.

Wanita berusia 25 tahun ini lincah di atas panggung, dan sesekali berjilbab di kesehariannya. Tak ada yang menyangka, jebolan London College of Dance/Middlesex University tahun 1998 ini melalui pergulatan batin panjang sebelum memeluk Islam.

Perkenalannya dengan Islam dimulai saat ia duduk di bangku kuliah. Ia enggan menceritakan siapa yang mengenalkan pertama kali, namun peraih gelar sarjana tari dengan nilai tertinggi ini menjadi sangat ingin tahu belajar tentang Islam.

"Semakin saya membaca banyak tentang Islam, semakin saya mengakui agama ini sungguh masuk akal," katanya. Di sela-sela kesibukannya, ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan Masjid Regent's Park hanya untuk membaca terjemahan Alquran.

Seperti Alkitab, Quran menyebutkan nabi, malaikat, mukjizat, perbuatan baik dan buruk, pahala dan hukuman, pertobatan dan pengampunan, surga dan neraka, Adam dan Hawa, Taurat, Injil dan banyak hal lainnya yang akrab baginya. "Namun pertanyaan yang telah berlama-lama mengendap dalam pikiran saya sejak sekolah Katolik akhirnya terjawab, tentang konsep ketuhanan," ujarnya.

Suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2009, ia memberanikan diri datang ke ruang shalat di masjid itu. "Saya memutuskan untuk menghadiri shalat Taraweh selama bulan Ramadhan. Menuju masjid, di dalam mobil saya gugup, bagaimana saya harus bershalat," ujarnya mengenang.

Ia mengamati shalat berjamaah yang sungguh menyentuh hatinya. Tekad Denise untuk menjadi Muslimah tak lagi bisa terbendung. Pertanyaan pertama yang dilontarkannya, "Bisakah seorang penari menjadi Muslimah?"

Komunitas masjid menyambutnya dengan hangat. Denise pun menyatakan syahadat.

Kini, ia tetap menjadi penari, dan makin rajin belajar agama. "Keluarga saya menerima dan bahkan sangat bahagia, karena saya menemukan sesuatu yang membuat saya begitu bersemangat," ujarnya.

Ia menyatakan, citra Islam sangat tergantung pada bagaimana Muslim dan Muslimah bersikap. "Tuhan telah menciptakan Anda dan membawa Anda dalam perjalanan hidup Anda karena suatu alasan, jadi biarkan orang melihat keindahan Islam melalui Anda," ujarnya.[REPUBLIKA]