Roxanne Uddin, Salah Satu Perempuan Inggris yang memilih Islam

0

Pada tahun 2010, Swansea University di Inggris merilis hasil studinya yang menunjukkan indikasi makin meningkatnya jumlah orang Inggris kulit putih yang masuk Islam.

Studi yang dilakukan atas kerjasama dengan organisasi Faith Matters itu, menggunakan hasil sensus tentang orang-orang Skotlandia yang masuk Islam sejak tahun 2001. Dari data tersebut diketahui, jumlah orang Inggris yang menjadi mualaf sekitar 5.200 orang dan hampir setengahnya adalah kaum perempuan dari kalangan kulit putih.

Salah satu perempuan Inggris yang masuk Islam adalah Roxanne Uddin. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2007 di sebuah masjid di East London karena akan menikah dengan kekasihnya, Ali.

Roxane dan Ali bertemu di perguruan tinggi tempat mereka kuliah. Roxane mengakui hidupnya berubah menjadi lebih baik setelah masuk Islam dan menikah dengan lelaki muslim.

"Saya melakukan banyak hal yang buruk di masa lalu, saya memutuskan masuk Islam, lalu saya dan kekasih saya memutuskan untuk menikah. Islam dan pernikahan mengubah hidup saya, dan menjadikan hidup saya lebih baik, buat saya dan keluarga saya," ungkap Roxane.

"Saya jadi berhenti minum minuman keras dan berhenti merokok, tapi saya tidak punya banyak teman yang dulu sudah merampas kepribadian saya, Saya berasal dari latar belakang pergaulan yang kurang baik. Saya kabur dari rumah pada usia 15 tahun dan saya terpaksa lebih cepat dewasa ..."

"Waktu itu, saya tidak punya banyak teman yang baik. Kegiatan saya cuma kuliah, keluyuran dan perlaku saya sungguh buruk," tuturnya.

Roxane mengatakan bahwa suaminya tidak memaksanya untuk pindah agama tapi dirinya sendiri yang merasa tertarik dengan Islam setelah melihat Ali salat dan mendengarnya membaca Al-Quran. Rasa ingin tahu Roxane muncul dan membuatnya ingin lebih jauh mengenal Islam.

Setelah masuk Islam pada tahun 2007, Roxane memberitahu keluarganya tentang keislamannya. Awalnya, keluarga Roxane syok. Tapi seiring berjalannya waktu, keluarga Roxane akhirnya bisa menerima keislamannya.

"Keluarga saya pasti datang dan ikut merayakan Idul Fitri bersama keluarga kami. Ramadan tahun lalu, kakak perempuan saya datang dan ikut berpuasa. Ia ingin tahu bagaimana rasanya berpuasa. Beberapa orang dari keluarga saya juga ikut berpuasa, kami semua menikmatinya," ujar Roxane.

Yang masih menjadi persoalan justru dari pihak keluarga Ali, suami Roxane, yang tidak menyetujui pernikahan Ali dengan Roxane. Keluarga Ali, sesuai kultur budaya mereka, sudah menyiapkan pernikahan atas dasar perjodohan buat Ali.

Tapi sikap keluarga Ali sedikit demi sedikit berubah, apalagi Rahim--putera Roxane dan Ali--lahir dan Roxane bertemu dengan keluarga besar Ali pada tahun 2008-2009. "Saya merasa takut, sangat takut saat akan bertemu. Tapi ternyata mereka sangat baik, sikap mereka sangat berbeda dengan budaya Barat dimana saya pernah dibesarkan," tukas Roxane

"Keluarga Ali menjamu kami dengan aneka masakan dan membuat kami benar-benar merasa diterima dan merasa nyaman. Saya agak tercengang saat bertemu mereka, tapi saya jadi sedikit rileks di tengah mereka," sambung Roxane.

Sejak pertemuan pertama, hubungan Roxane dan keluarga suaminya menjadi erat dan itu membantu Roxane dalam menjalani kehidupannya sebagai mualaf. Sampai hari ini, Roxane masih terus belajar tentang Islam, terutama belajar Al-Quran. (ln/rhm.org)

Kisah Madame Fatima yang mendapat Hidayah cukup Unik seperti Keajaiban

0

Kisah Madame Fatima Mil Davidson mendapatkan hidayah Islam terbilang unik. Seperti sebuah keajaiban, cahaya Islam itu menyentuhnya saat ia baru saja masuk ke kehidupan biara. Waktu itu ia memang sudah berniat untuk menjadi biarawati.

Saat ini Madame Fatima menjabat sebagai Menteri Pembangunan Sosial dan Pemerintah Lokal, Republik Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan di kawasan Laut Karibia bagian selatan. Pada majalah berbahasa Arab Men-bar-al-Islam di Kairo, ia menceritakan awal mula menemukan Islam dan bagaimana akhirnya ia menjadi seorang Muslimah.

"Saya membantah keras cerita yang mengatakan bahwa saya masuk Islam pada tahun 1975 dengan tidak mengakui ajaran Kristen. Sungguh, saya tidak bisa memahami dan menjelaskan apa yang saya alami. Saya akan mengajak Anda kembali ke tanggal 9 Maret 1950, hari yang sudah ditetapkan buat saya untuk masuk biara. Ketika saya bangun pagi di hari itu , saya merasa mendengar suara yang menyebutkan kalimat 'Allahu Akbar, Allahu Akbar', suara itu terngiang-ngiang di telinga saya dan membuat seluruh tubuh dan hati saya bergetar," kata menteri yang sebelum masuk Islam bernama Model Donafamik Davidson.

"Saya tidak begitu tahu, itu apa. Tapi hari itu saya menolak masuk ke biara. Setelah itu, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari petunjuk Tuhan, sampai akhirnya saya menemukan Al-Quran dengan terjemahannya. Lalu, dengan mudah saya menaruh kepercayaan pada terjemahan Al-Quran yang saya baca," sambungnya.

Secara kebetulan, Madame Fatima kemudian bertemu dengan seorang cendikiawan muslim asal Pakistan Maulana Siddiq dan ulama dari India Syaikh Ansari. Ia terlibat pembicaraan yang mendalam dengan kedua ulama itu, tentang budi pekerti dan apa yang dirasakan dalam hatinya. Begitu banyak pertanyaan detil yang diajukan Madame Fatima, hingga kedua ulama berseru, "Alhamdulillah, Anda seorang muslim ! Anda sekarang seorang muslim. Bacalah apa yang Anda sukai, masuklah ke masjid dan berdoa. Kami siap menerima Anda, kapanpun Anda merasa ingin belajar apapun."

Madame Fatima merasa gembira dengan respon kedua ulama tersebut. "Saya bahagia. Setelah hari itu, saya merasa hati saya dilimpahi dengan keimanan dan rasa cinta serta kebanggaan terhadap Nabi Muhammad Saw," ujarnya.

Meski demikian, Madame Fatima mengaku baru secara resmi memeluk Islam sekitar tahun 1975. "Sampai sekarang, sudah 36 tahun saya menjadi seorang muslim. Sejak saya mendengar suara misterius yang menggetarkan kalbu, dan lalu saya menolak masuk biara. Hati saya sudah memproklamirkan Allahu Akbar," tukasnya.

"Saya menjadi gadis pertama dari komunitas kulit berwarna yang masuk ke masjid. Dan ini mendorong banyak remaja muslimah untuk juga datang ke masjid-masjid untuk salat, khususnya ke Masjid Anjuman Jami' Sanatal yang didirikan oleh ulama besar Dr. Syaik Ansari di kota Francis di Trinidad. Masjid itu sekarang dipimpin oleh Al-Haj Shafiq Muhammad," tutur Madame Fatima.

Ia juga menceritakan bahwa warga di lingkungannya masih berpikir bahwa Islam adalah agama orang India, yang memiliki ajaran dari beragam kepercayaan dan agama. "Dalam perkembangannya, di kalangan warga pribumi, kebanyakan yang berasal dari Afrika, makin banyak yang memeluk Islam. Rasio warga muslim meningkat hingga 13 persen dari total penduduk Republik Trinidad dan Tobago. Selebihnya, 31 persen penduduk negara ini beragama Kristen, 27 persen beragama Protestan, 6 persen pemeluk agama Hindu dan 23 persen pemeluk keyakinan lainnya, " papar Madame Fatima.

Lalu, apakah keislamannya membawa dampak pada pekerjaannya sebagai salah satu pejabat di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim? Menjawab pertanyaan ini, Madame Fatima menjawab, "Islam mengajarkan kita untuk ikhlas dan efisien dalam menjalankan pekerjaan dan saya mempraktekkan ajaran Islam dengan tulus ..."

"Saya tidak berbohong, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi saya. Saya berusaha menghindari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, semampu saya dan dengan kesadaran diri yang kuat. Jadi, dampak keislaman saya pada pekerjaan, tidak lain hanyalah semua pekerjaan saya berjalan baik dan penuh rahmat. Mantan perdana menteri bahkan menganjurkan saya untuk berkunjung ke Mesir, tempat sekolah Islam terkenal Al-Azhar dan salah satu pusat peradaban. Dia suka membicarakan Islam juga," ujar Madame Fatima.

Ia sungguh beruntung, karena perdana menteri yang sekarang menjabat, mengizinkannya berkunjung ke Mesir terkait tugasnya sebagai menteri pembangunan sosial dan pemerintahan lokal. "Perdana Menteri juga menganjurkan saya mengunjungi Al-Azhar dan Mahkamah Tinggi Agama Islam," imbuhnya.

Madame Fatima beberapa kali berpartisipasi dalam pemilu parlemen dan sukses. Ia pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Ia menjadi teladan sebagai seorang muslim yang mampu menunjukkan kemampuannya di bidang politik.

"Hal penting yang harus Anda ketahui, Republik Trinidad dan Tobago memberikan hari libur resmi pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Komunitas Muslim bebas menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik di rumah maupun di masjid-masjid," jelas Madame Fatima.

Sebagai bagian dari umat Islam, ia menyerukan dunia Islam untuk bersatu dibawah bendera Islam agar posisi dunia Islam dan kaum Muslimin menjadi kuat. "Allah Yang Mahabesar telah membimbing saya ke jalan Islam dan saya berdoa padaNya untuk membimbing umat Islam ke arah persaudaraan dan perdamaian, agar umat Islam menjadi masyarakat terbaik di masa kini, dan sudah menjadi inspirasi bagi umat manusia," tandas Madame Fatima. (ln/SP/eramuslim)

Abu Bakar Ruben

2

The story of Abu Bakar Ruben’s quest started when he was in college. At that time he suffered much trouble. Close friend died of a drug addict. His parents divorced and he was experiencing financial difficulties.“I began to ask what is the purpose of life?” he said. Difficult events that occurred made Ruben to glance at religion.Ruben was raised in Melbourne by parents who do not believe in God. “As a child I was brought up to embrace Christianity, but my parents were atheists, so I tend to have a view of atheists,” said Ruben.
The first religion which he tries to learn is Christian. Incidentally a friend invited him to come to a spiritual camp. “They sing, their sound are good, but I am confused what it means,” said Ruben.
“They then say that God loves me.” Ruben surprise. “How could God love me while I had a dog he does not love me,” he said. Apparently at that time Ruben life aimlessly. He is not the type of person who can be relied upon, even though the request for help is their parents and he has a dog which he never mismanagement.
Not finding what he was looking he stepped back, now turn to the Catholic and Anglican Baptist. But there are things that make it annoyed every time he asked his followers. “They would open the gospel and then say ‘Oh, the answer is here my brother’ as they perceived,” said Ruben.
“Every time they answered they made some opinions, so I concluded of course many interpretations of Christianity,” he said. In fact, he added, that does not include differences in the church.
Between a pastor and other pastors could have different interpretations and each claimed one another. “The Gospel of taste but interpretations vary and each person can do, it’s very confusing,” he said.
Next he did encounter with Hinduism. He made friends with a devout belief that while working part time. “I was then introduced to the elephant-headed god.” Again Reuben asked, why should the elephant-headed god, what is the relationship with the elephant god. “Why not a lion? More powerful. For me highly illogical and difficult to understand.”
Investigate further he investigated the Jewish religion. “Yes my name is Abu Bakar Ruben, came from Rubenstein, a very Jewish name so I also tried to find out what it was Jews,” he said.
Until one day he met a Christian friend. “I asked how your search, what was you learn?” Ruben said. He answered all, started the Christian, Catholic, Hindu, Buddhist, Jewish, Anglican but no one could pull his heart.
The friend asked, “What about Islam?”. Questions immediately struck by Ruben with scorn, “What is Islam? Why would I investigate the religion of terrorism? That’s crazy.”
But his body respond said another. “I do not know why and what moves me, which obviously I wear shoes, neatly dressed and go to the mosque. I do not have a clue, how I do it,” said Ruben.
Once inside the mosque, Ruben feel anxious. “I thought ‘Oh I’ll die here, I was the only white person in sight,” he said. When it is a Middle Eastern man with a big thick sideburns wearing an abaya approached. His name is Abu Hamza.
Sudden unexpected by Reuben, Abu Hamza greeted him with friendly and even asked someone else to make tea for Ruben. “I never imagined I would receive such treatment,” said Ruben.
He began to ask many questions, about his friends who had died, of what is past and the future. Abu Hamza, as manifested Ruben, stood to take the Qur’an and opened the book and shows a paragraph and ask for Ruben to read this and say the answer.
“It really strikes me,” he recalls. He also asked other difficult things, like why grow a beard, why use the hijab, why have four wives. “I thought it was tough questions, but really amazing, they always open the Qur’an and then give it to me to read. It is always they did prior to further review by the hadith books that also exist in the mosque,” said Ruben.
“They always open the Qur’an to answer and no opinion at all,” he said. Ruben then asked, “I’m curious about your opinion about this, about the rules.” Beyond hope Ruben, they replied, “I can not and should not be perceived on the Word of God.”
“Subhanallah, that’s what really touched me and always makes me think,” said Reuben, who had converted to Islam while telling his story. At night he brought home the Qur’an. “And when I read, I not only found the story, but as if there are something guiding me.”
He saw the Qur’an not only correct but also logical and scientific. He was amazed at how the Qur’an also describes the process of creation and birth of man, the narrative process of the fertilized egg cell to create blood clots, bone growth, blowing spirit to eventually form the fetus then ready to be born to the earth.
“This is what I was looking for, this is what I need,” he said. It took six months before he came to the conclusion. But when he wanted to make major changes, Reuben wants another justification for strengthening decision. “I was ready to make a big leap, but only want one drive, not necessarily large, even small enough,” he said.
For that he even had a dialogue to the God. “Come on God, one thing,” he mimicked his own words then. He sits in the middle of the dam with one candle lit room. Long he waited. Nothing happened.” Quite frankly very disappointed. “Ouch you miss a chance” said Ruben to God.
He returned to wait for a second sign. Again, no change, no clue. “Oh please do not disappoint me again. I am once again very disappointed.” Ruben said that finally decided to open the Qur’an. He stopped by a few verses, one of which reads “And he hath constrained the night and the day and the sun and the moon to be of service unto you, and the stars are made subservient by His command. Lo! herein indeed are portents for people who have sense. (Sura an Nahl:12)
Reading the paragraph then Reuben realized. “How dare i am demanding specific signs as I want. The sun and all creation on earth is a sign to us all,” said Ruben.
Once confident with the decision he returned to visit the mosque. “I do not know what to do and have to say anything, so I decided to mosque.” Arriving at the mosque was surprised to see Ruben room so full of people. It appears that as the first day of Ramadan.
Expresses its intention, he was asked to say shahadah. “It’s very messy, my guide said ‘ASYHADU’ I replied” As what?” to many times. Ludicrous.” Ruben recalls.
The guide insisted on Ruben that he had to say it in its original language, Arabic. The sentence can not be spoken in English. Practicing a few moments, Reuben is finally smooth oath. On the first day of Ramadan that he had officially become Muslim.
Once completed Ruben admitted there are loads who are interested in and escape out of her body. “I feel lighter,” he said. He thinks that time will get a welcome shout and Takbir ‘Allahu Akbar’. “But it was not, one by one they approached me, shook my hand.
“But it’s extraordinary events, very valuable and I can not forget. I feel happy because at that time I also got a lot of brothers.”
Knowing he converted to Islam, his parents got worried. “They’re afraid I’ll suddenly have shouldered an AK 47 and holding a grenade,” he said. “I explained it was not possible. To be honest I feel calm. Mentally I am more stable, I am also more focused and they (the parents) see that change.” said Reuben.
By curiousity, his father, too, reading the Qur’an. They said to Ruben since becoming a Muslim he becomes a better person. “You become a more reliable, trustworthy and can be asked for help, ‘said Reuben imitate his father’s speech.”That’s what I feel and I will continue to believe in and explore this religion.”


Pencarian Ruben akhirnya Berakhir setelah menemukan Islam

0

Kisah pencarian Abu Bakar Ruben dimulai sejak ia berada di bangku kuliah. Saat itu ia ditimpa banyak masalah. Teman dekatnya meninggal karena kecanduan narkoba. Orangtuanya bercerai dan ia mengalami kesulitan keuangan.

"Saya pun mulai bertanya apa sebenarnya tujuan hidup itu?" tuturnya. Peristiwa sulit yang terjadi hampir bertubi-tubi itu menjadi katarsis bagi Ruben untuk melirik agama.

Ruben dibesarkan di Melbourne oleh orangtua yang tak percaya Tuhan. "Saat kecil saya memang dibesarkan untuk menganut Kristen, tapi orang tua saya atheis, sehingga saya cenderung memiliki pandangan atheis," ungkap Ruben.

Agama pertama yang ia coba pelajari adalah Kristen. Kebetulan seorang teman mengundangnya untuk datang ke kemah keagamanan. "Mereka bernyanyi, suara mereka bagus, tapi saya bingung apa artinya," tutur Ruben.

"Mereka kemudian bilang bahwa Tuhan mencintai saya." Ruben keheranan. "Bagaimana mungkin tuhan mencintai saya sedangkan saya punya anjing dia tidak tidak mencintai saya," tuturnya. Rupanya saat itu kehidupan Ruben tak tentu arah. Ia bukan tipe orang yang bisa diandalkan, meskipun yang meminta bantuan adalah orang tuanya dan ia memiliki seekor anjing yang kemudian tak pernah ia urus.

Tak menemukan apa yang ia cari ia pun melangkah lagi, kini giliran Katholik dan Anglican Baptis. Namun ada hal yang membuat ia terganggu setiap saat ia bertanya kepada pemeluknya. "Mereka akan membuka injil dan kemudian berkata 'Oh jawabannya ini saudaraku' sambil beropini," tutur Ruben.

"Setiap kali mereka menjawab mereka beropini, sehingga saya menyimpulkan tentu banyak sekali intepretasi dalam Kristen," katanya. Padahal, lanjutnya, itu belum termasuk perbedaan dalam gereja.

Antara satu pendeta dengan pendeta lain bisa memiliki intepretasi berbeda dan saling mengklaim satu sama lain. "Injil satu rasa tapi intepretasi bermacam dan setiap orang bisa melakukan, itu sangat membingungkan," ujarnya.

Berikutnya ia melakukan persentuhan dengan Hindu. Ia berteman dengan seorang penganut keyakinan tersebut saat bekerja paruh waktu. "Saya kemudian dikenalkan dengan tuhan berkepala gajah." Lagi-lagi Ruben bertanya, mengapa tuhan harus berkepala gajah, apa hubungan gajah dengan tuhan. "Mengapa tidak singa? lebih perkasa. Bagi saya sangat tidak logis dan sulit untuk dipahami."

Menginvestigasi lebih jauh ia menyelidiki agama Yahudi. "Ya nama saya Abu Bakar Ruben, berasal dari Rubenstein, nama yang sangat Yahudi karena itu saya juga mencoba mencari tahu apa itu Yahudi,' tuturnya. Namun tak ada satupun dari keyakinan itu yang mengena di hatinya.

Hingga suatu saat ia bertemu temanya yang beragama Kristen. "Saya ditanya bagaimana pencarianmu, apa saja yang sudah kampu pelajari?" kata Ruben menirukan ucapan si teman. Ia menjawab semua, mulai Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Yahudi, Anglikan tapi tak ada yang bisa menarik hatinya.

Si teman bertanya lagi, "Bagaimana dengan Islam?". Pertanyaan langsung disambar Ruben dengan cemooh, "Apa, Islam? Buat apa saya mengivestigasi agama terorisme? Itu gila."

Tapi respon tubuh Ruben berkata lain. "Saya tidak tahu mengapa dan apa yang menggerakan saya, yang jelas saya mengenakan sepatu, berpakaian rapi dan pergi ke masjid. Saya tak punya petunjuk, bagaimana saya melakukan itu," tutur Ruben.

Begitu masuk masjid, Ruben merasa cemas. "Saya berpikir 'Aduh saya bakal mati di sini, saya satu-satunya kulit putih yang terlihat," tuturnya. Ketika itu seorang pria Timur Tengah berperawakan besar dengan cambang tebal mengenakan abaya mendekatinya. Ia bernama Abu Hamzah.

Tiba-tiba diluar dugaan Ruben, Abu Hamzah menyapanya dengan ramah dan bahkan meminta seorang yang lain untuk membuatkan teh bagi Ruben. "Tak pernah saya bayangkan bakal mendapat perlakuan seperti itu," kata Ruben.

Ia pun mulai banyak bertanya, tentang teman-temannya yang telah meninggal, tentang apa itu masa lalu dan masa yang akan datang. Abu Hamzah, seperti yang dituturkan Ruben, berdiri mengambil Al Qur'an dan membuka kitab itu lalu menunjukkan sebuah ayat dan meminta Ruben membaca seraya berkata ini jawabannya.

"Itu benar-benar menghentak saya," kenangnya. Ia pun menanyakan hal-hal sulit lain, seperti mengapa menumbuhkan janggut, mengapat menggunakan hijab, mengapa memiliki istri empat. "Saya pikir itu adalah pertanyaan-pertanyaan sulit, tapi sungguh luar biasa, mereka selalu membuka Al Qur'an dan lalu memberikan kepada saya untuk dibaca. Itu selalu mereka lakukan sebelum mengulas lebih jauh dengan buku hadis yang juga ada di dalam masjid," tutur Ruben.

"Mereka selalu membuka Al Quran untuk menjawab dan sama sekali tidak beropini," ujarnya. Kemudian Ruben pun bertanya, "Saya ingin tahu tentang opini anda tentang ini, tentang aturan itu." Diluar harapan Ruben, mereka menjawab, "Saya tidak mungkin dan tidak boleh beropini tentang Firman Tuhan".

"Subhanallah, itulah yang benar-benar menyentuh saya dan selalu membuat saya teringat," ujar Ruben yang telah memeluk Islam saat menuturkan kisahnya. Malamnya ia pun membawa pulang Al Quran. "Dan ketika saya membaca, saya bukan hanya menemukan kisah, tapi seolah-olah ada yang memandu saya."

Ia memandang Al Qur'an tak hanya benar tetapi juga logis dan ilmiah. Ia takjub bagaimana Al Qur'an juga menguraikan proses penciptaan dan kelahiran manusia, penuturan proses sel telur yang dibuahi hingga tercipta gumpalan darah, tumbuh tulang, peniupan ruh hingga akhirnya membentuk janin yang siap dilahirkan ke bumi.

"Inilah yang saya cari, ini yang saya perlukan," ujarnya. Butuh enam bulan sebelum ia sampai pada kesimpulan itu. Tapi ketika hendak membuat perubahan besar, Ruben menginginkan pembenaran lain untuk menguatkan keputusannya. "Saya sudah siap melakukan lompatan besar, tapi ingin satu dorongan saja, tak perlu besar, kecil pun cukup," tuturnya.

Untuk itu ia bahkan melakukan dialog Tuhan. "Ayolah Allah satu saja," ujarnya menirukan ucapannya sendiri saat itu. Ia duduk diam di tengah ruangan dengan satu lilin menyala. Lama ia menunggu. Tak satupun hal terjadi. "Terus terang sangat kecewa. 'Aduh Engkau melewatkan satu kesempatan'" ujar Ruben saat itu kepada Tuhan.

Ia kembali menunggu pertanda kedua. Lagi-lagi tak ada perubahan, tak ada petunjuk. "Aduh tolong jangan kecewakan aku lagi. Saya lagi-lagi sungguh kecewa." tutur Ruben yang akhirnya memutuskan membuka Al Quran. Ia terhenti oleh beberapa ayat, salah satunya berbunyi "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya) (QS 16:12)

Membaca ayat itu Ruben tersadar. "Betapa arogannya saya menuntut tanda spesifik seperti yang saya mau. Matahari dan semua ciptaannya di muka bumi adalah tanda bagi kita semua," tutur Ruben.

Begitu yakin dengan keputusannya ia kembali berkunjung ke masjid. "Saya tidak tahu harus berbuat apa dan harus mengucapkan apa, jadi saya putuskan ke masjid." Tiba di masjid Ruben terkejut menjumpai ruangan begitu penuh orang. Rupanya saat itu hari pertama Ramadhan.

Mengutarakan niatnya, ia pun diminta untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. "Sangat belepotan, pemandu saya bilang 'Asyhadu' saya jawab "As, apa?" sampai berulang kali. Menggelikan." kenang Ruben.

Si pemandu menegaskan pada Ruben bahwa ia harus mengucapkan syahadat dalam bahasa aslinya, Arab. Kalimat itu tak bisa diucapkan dalam bahasa Inggris. Berlatih beberapa saat, lidah Ruben akhirnya lancar mengucapkan ikrar tersebut. Pada hari pertama Ramadhan itu ia pun resmi menjadi Muslim.

Begitu selesai Ruben mengaku ada beban yang tertarik dan lepas keluar dari tubuhnya. "Saya merasa ringan," ujarnya. Ia mengira saat itu akan mendapat sambutan teriakan dan takbir 'Allahu Akbar' dari jamaah pria yang berada dalam masjid. "Tapi ternyata tidak, satu persatu mereka mendatangi saya, menjabat tangan saya dan mencium saya. Bahkan saya belum pernah mendapat ciuman sebanyak itu dari wanita," tutur Ruben berkelakar.

"Tapi itu peristiwa sangat berharga dan tidak bisa saya lupakan. Saya bahagia karena saat itu juga saya mendapat banyak saudara."

Mengetahui ia masuk Islam, orangtuanya sempat cemas. "Mereka takut tiba-tiba nanti saya sudah memanggul AK 47 dan memegang granat," selorohnya. "Saya jelaskan itu tidak mungkin. Terus terang saya merasa tenang. Mental saya lebih stabil, saya juga lebih fokus dan mereka (orangtua-red) melihat perubahan itu." tutur Ruben.

Penasaran, ayahnya pun ikut membaca Al Qur'an. Mereka berkata kepada Ruben sejak menjadi Muslim ia menjadi pribadi lebih baik. "Kamu menjadi orang yang lebih bisa diandalkan, dipercaya dan bisa diminta tolong,'kata Ruben menirukan ucapan ayahnya. "Itulah yang saya rasakan dan saya akan terus meyakini dan mendalami agama ini."[Republika]

Sebelumnya Aktif di Forum Penghujat islam tapi Kini akhinya Memilih jadi Mualaf

1 komentar

- Bertahun-tahun yang lalu, William Junaedi menganggap semua agama sama, yang membedakan hanyalah nama-nama Nabi sebagai utusan Tuhan. Namun kelak, pandangan itu berubah sepenuhnya ketika ia mulai bergaul dengan internet.

Pada tahun 2008, lelaki berdarah Cina-Betawi itu berhenti dari tempat kerjanya. Ia membeli sebuah komputer dan melanggan internet.

"Ketika sedang menganggur, sehari-hari saya hanya bermain internet. Browsing sana-sini, mencari tahu segala hal yang belum saya ketahui," tutur Wiliam.

Hingga suatu hari ia menemukan satu laman yaitu forum kumpulan orang non-Muslim. Dalam forum itu, mereka menjelek-jelekan agama Islam.

Beberapa minggu William aktif memantau forum tersebut. Isinya hanyalah hujatan dan caci maki terhadap agama Islam. Penghuni forum itu menampilkan diri seolah-olah mengetahui dan paham betul mengenai sejarah Islam, Al-quran beserta hadist yang menurut mereka sangat tidak masuk akal.

Ketika membaca postingan penuh hujatan terhadap Islam, William menggeleng-gelengkan kepala. "Apa benar yang mereka bicarakan? Saya pun menjadi semakin penasaran ingin mengetahui kebenarannya.” lanjut pria berusia 29 tahun itu.

Akal sehat William tak bisa menerima komentar-komentar kasar dari anggota forum yang ia nilai sangat mengintimidasi dan melecehkan. William pun melakukan pencarian. Saat itu ia mendapat info alamat email sebuah live chat perdebatan mengenai Islam. Ternyata di sana jauh lebih parah.

Salah satu admin live chat, tutur William, mengatakan mereka telah menemukan satu hadist yang menceritakan bahwa Nabi dulu pernah melakukan perbuatan asusila terhadap Abu Sofyan saat masih kecil, "Disebutkan pula bahwa Nabi pernah tidur dengan mayat. Kami memperdebatkan itu semua," kata si bungsu dari 5 bersaudara ini.

Satu tahun lebih William mengikuti debat di live chat. Berbarengan dengan itu, toko milik kakaknya bangkrut. William beserta keluarga akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta. Berbeda saat memantau forum non-Muslim, kali ini kata-kata di live-chat itu merasuk ke hatinya.

Ketika pindah ke Jakarta, William berada dalam fase ‘kebencian tingkat tinggi’ terhadap Islam. Sampai-sampai ia selalu berdebat dengan kakak iparnya yang Muslim.

“Setiap hari saya mendebat kakak ipar saya, mengapa Islam begini? Mengapa Islam begitu?. Kakak ipar William, menurut dia, sampai terlihat dilema dan kesulitan dengan kelakuannya yang selalu mendebatnya tiada henti.

Namun William berhenti juga mendebatkan Islam dan memilih memelajari Kristen yang sudah lama ia anut. Ia berharap dengan mengetahui Kristen lebih dalam ia dapat menemukan jawaban atas semua kebenaran Tuhan. Tetapi, William mengaku tak mendapat apapun.

“Awalnya saya ingin memperdalam ilmu agama saya, tetapi apa yang saya peroleh? Semua nihil. Saya tidak mendapat jawaban yang masuk akal dari agama saya sebelumnya," ujar William. "Saat membaca alkitab saya hanya merasa seperti membaca novel, tidak ada yang spesial” ungkap William.

Kebimbangan dengan agamanya justru mendorong William mencari tahu Islam lebih lanjut. Dj sisi lain ia juga tertarik dengan Muslimah berjilbab dan mengunduh foto-foto wanita berkerudung serta menyimpannya dalam satu folder. Keisengannya itu ternyata diketahui oleh kakak iparnya.

“Saat itu kakak ipar saya bongkar-bongkar komputer, dia menemukan folder koleksi foto wanita berkerudung yang saya miliki," tutur William. Kontan kakak ipar William pun menanyakan perihal itu kepadanya. "Tapi saat itu saya membantahnya," kenang William

Ketika mengingat forum ‘non-Muslim’, William terbersit untuk mencari forum Muslim. Ia menemukan satu chatt room khusus pemeluk Islam, bernama ‘café Islam’. Di dalam forum itu ia banyak bertanya mengenai agama Islam. Hingga William memutuskan bertemu salah satu anggota chatt room untuk berbagi langsung.

“Berbeda dengan forum non-Muslim yang saya temukan sebelumnya, di ‘café Islam’ tidak ada makian kasar untuk agama non-muslim” cerita William

Pertemuan William dengan salah satu anggota ‘café Islam’ membuatnya terkesan. Anggota itu juga memberikan sebuah buku kepada William, berjudul “Saksikan Aku Sebagai Muslim”.

“Saya senang dengan pertemuan itu, berbincang dengan orang Islam yang membuat saya semakin tertarik dengan Islam," akunya "Ditambah lagi, dia memberikan saya buku. Walaupun pada saat itu saya kebingungan menyimpannya. Karena takut ketahuan orang di rumah” tutur William.

Usai pertemuan itu William kian intens mendalami Islam, hingga muncul keinginan untuk memeluk Islam. Dorongan itu kian kuat ketika ia--yang mulai sering melamun di atas rumahnya--mendengar suara orang mengaji. Di kuping William, suara itu terdengar merdu. Saat itu pula terbesit di benak William untuk berdoa kepada Allah.

“Suara lantunan ayat Al Qur'an itu terdengar sangat berirama dan enak sekali di dengarnya," ungkap William. Ia tak pernah mendengar semacam itu di agamanya." Saya pun langsung berdoa dalam hati ‘ya Tuhan, kalau memang ini Agama yang benar dan merupakan karuniamu tolong dekatkan aku dengan Islam, jika bukan maka jauhkanlah” kenang William

Beberapa waktu setelah itu, William membuat sebuah akun Facebook, di sana ia bergabung dengan group ‘Mualaf Indonesia’. Lagi-lagi ia banyak menanyakan mengenai Islam dan mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam

“Awalnya saya berpikir, lucu juga kalau muka Cina seperti saya pakai kopiah. Tapi ternyata di Mualaf Indonesia banyak orang-orang seperti saya (Cina-red) dan mereka memeluk Islam. Saya jadi tak merasa asing,” tuturnya

Keinginan William masuk Islam mendapat sambutan hangat dari anggota grup Mualaf Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 13 September 2009, William di-Islamkan oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan melakukan khitan pada 5 November 2009.

Resmi menjadi Muslim, William menceritakan keputusan besar itu kepada orang tua. Saat itu, ibu William marah besar dan mogok bicara dengan William. Sementara ayahnya lebih membebaskan William memilih.

“Mama tidak mau bicara sama saya, terlihat sekali kalau mama kecewa," tutur William. Ayahnya tidak melarang, karena ayah William rupanya pernah menjadi seorang muslim. "Tetapi lantaran tidak ada yang membimbingnya akhirnya ia menjadi murtad” kata William

William mengaku berat ketika keputusannya tidak disetujui oleh sang ibu. Tapi William tak berputus asa. Saat hubungan dengan ibunya menegang, William mengambil wudhu dan berdoa kepada Allah agar membukakan pintu hati ibunya.

Doa yang dipanjatkan William ternyata dijabahi Allah. Hanya dua hari berselang, ibunya tak sanggup lagi mogok bicara dengannya. Akhirnya ibu dan anak itu pun berbicara dari hati ke hati dan ibunya pun menerima keputusan William.

“Setelah mama bisa menerima saya sebagai seorang muslim saya menjadi lega, meski banyak teman-teman saya yang juga keturunan Cina mengucilkan dan memutuskan silaturahmi dengan saya.” ujar William Walaupun ada yang tak menyukai keputusan William, tak lantas mengendurkan semangatnya untuk mempelajari Islam.

Setelah memeluk agama Islam, William kian merasakan kedekatan Allah terhadap dirinya. Ia mengaku menjadi Muslim itu nikmat. “Yang paling luar biasa, ketika shalat berjamaah dimasjid. Semua orang Muslim, mulai pedagang, pegawai bahkan pejabatpun shalat berdampingan tanpa ada perbedaan,” ujar William

Tak lama setelah ia menjadi Muslim, ia merasa kian mendapat banyak berkah. William mendapat panggilan kerja di salah satu SMA Negeri di Jakarta sebagai guru bahasa Inggris.

“Memang Allah tak pernah tidur, ia akan menolong setiap umatnya yang membutuhkannya. Kita hanya perlu berdoa dan bersabar. Sama seperti saya yang harus berdoa dan bersabar demi menemukan agama yang benar” tuturnya.

Saat ini William terus mempelajari Islam. Ditemani salah satu rekan kerjanya, William aktif mengikuti kegiatan pengajian yang ada di masjid-masjid.

Dr. Gary Miller (Abdul-Ahad Omar) Converto To Islam

0


A very important Christian missionary converted to Islam and became a major herald for Islam, he was a very active missionary and was very knowledgeable about the Bible. This man likes mathematics so much, that's why he likes logic. One day, he decided to read the Qur'an to try to find any mistakes that he might take advantage of while inviting Muslims to convert to Christianity. He expected the Qur'an to be an old book written 14 centuries ago, a book that talks about the desert and so on. He was amazed from what he found.

He discovered that this Book had what no other book in the world has. He expected to find some stories about the hard time that the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) had, like the death of his wife Khadijah (may Allah be pleased with her) or the death of his sons and daughters. However, he did not find anything like that. And what made him even more confused is that he found a full "Sura" (chapter) in the Qur'an named "Mary" that contains a lot of respect to Mary (peace be upon her) which is not the case even in the books written by Christians nor in their Bibles. He did not find a Sura named after "Fatimah"(the prophet's daughter) nor "Aishah" (the Prophet's wife), may Allah (God) be pleased with both of them. He also found that the name of Jesus (Peace Be Upon Him) was mentioned in the Qur'an 25 times while the name of "Muhammad" (Peace Be Upon Him) was mentioned only 4 times, so he became more confused. He started reading the Qur'an more thoroughly hoping to find a mistake but he was shocked when he read a great verse which is verse number 82 in Surat Al-Nisa'a (Women) that says:

“Do they not consider the Qur'an (with care)? Had it been from other than Allah, they would surely have found therein much discrepancy”.

Dr Miller says about this verse: “One of the well known scientific principles is the principle of finding mistakes or looking for mistakes in a theory until it’s proved to be right (Falsification Test). What’s amazing is that the Holy Qur'an asks Muslims and non-muslims to try to find mistakes in this book and it tells them that they will never find any”. He also says about this verse: "No writer in the world has the courage to write a book and say that it’s empty of mistakes, but the Qur'an, on the contrary, tells you that it has no mistakes and asks you to try to find one and you won’t find any."

[Gary Miller]
Dr. Gary Miller.

Another verse that Dr Miller reflected on for a long time is the verse number 30 in Surat “Al-Anbiya” (The Prophets):

“ Do not the Unbelievers see that the heavens and the earth were joined together (as one unit of Creation), before We clove them asunder? We made from water every living thing. Will they not then believe?"

He says: ”This verse is exactly the subject of the scientific research that won the Noble Prize in 1973 and was about the theory of the “Great Explosion”. According to this theory, the universe was the result of a great explosion that lead to the formation of the universe with its skies and planets.

Dr Miller says: “Now we come to what’s amazing about the Prophet Muhammad (PBUH) and what’s pretended about the devils helping him, God says:

“No evil ones have brought down this (Revelation), it would neither suit them nor would they be able (to produce it). Indeed they have been removed far from even (a chance of) hearing it.” The Holy Qur'an, Chapter 26, Verses 210-212.

“When thou does read the Qur'an, seek Allah's protection from Satan the Rejected One” The Holy Qur'an, Chapter 16, Verse 98.

You see? Can this be the devil’s way to write a book? how can he write a book then tells you to ask God for protection from this devil before reading that book? Those are miraculous verses in this miraculous book! and has a logical answer to those who pretend that it’s from the devil”.

And among the stories that amazed Dr Miller is the story of the Prophet(PBUH) with Abu-Lahab. Dr Miller says: “This man (Abu Lahab) used to hate Islam so much that he would go after the Prophet wherever he goes to humiliate him. If he saw the prophet talking to strangers, he used to wait till he finishes and then ask them: What did Muhammad tell you? If he said it’s white then it’s in reality black and if he said it’s night then it’s day. He meant to falsify all what the prophet says and to make people suspicious about it. And 10 years before the death of Abu Lahab, a Sura was inspired to the prophet, named “Al-Masad”. This sura tells that Abu Lahab will go to hell, in other words, it says that Abu Lahab will not convert to Islam. During 10 years, Abu Lahab could have said: “Muhammad is saying that I will not become a Muslim and that I will go to the hell fire, but I’m telling you now that I want to convert to Islam and become a Muslim. What do you think about Muhammad now? Is he saying the truth or no? Does his inspiration come from God?”. But Abu Lahab did not do that at all although he was disobeying the prophet in all matters, but not in this one. In other words, it was as if the prophet(PBUH) was giving Abu Lahab a chance to prove him wrong! But he did not do that during 10 whole years! he did not convert to Islam and did not even pretend to be a Muslim!! Throughout 10 years, he had the chance to destroy Islam in one minute! But this did not happen because those are not the words of Muhammad (PBUH) but the words of God Who knows what’s hidden and knows that Abu Lahab will not become a Muslim.

How can the prophet (PBUH) know that Abu Lahab will prove what is said in that Sura if this was not inspiration from Allah? How can he be sure throughout 10 whole years that what he has (the Qur'an) is true if he did not know that it’s inspiration from Allah?? For a person to take such a risky challenge, this has only one meaning: that this is inspiration from God.

“Perish the hands of the Father of Flame (Abu Lahab)! perish he! No profit to him from all his wealth, and all his gains! Burnt soon will he be in a Fire of blazing Flame! His wife shall carry the (crackling) wood; As fuel! A twisted rope of palm-leaf fibre round her (own) neck!” The Holy Qur'an, Chapter 111.

Dr Miller says about a verse that amazed him: One of the miracles in the Qur'an is challenging the future with things that humans cannot predict and to which the “Falsification Test” applies, this test consists of looking for mistakes until the thing that is being tested is proved to be right. For example, let’s see what the Qur'an said about the relation between Muslims and Jews. Qur'an says that Jews are the major enemies for Muslims and this is true until now as the main enemy for Muslims are the Jews.

Dr Miller continues: This is considered a great challenge since the Jews have the chance to ruin Islam simply by treating Muslims in a friendly way for few years and then say: here we are treating you as friends and the Qur'an says that we are your enemies, the Qur'an must be wrong then! But this did not happen during 1400 years!! and it will never happen because those are the words of The One who knows the unseen (God) and not the words of humans.

Dr Miller continues: Can you see how the verse that talks about the enmity between Muslims and Jews constitutes a challenge to the human mind?

“Strongest among men in enmity to the Believers wilt thou find the Jews and Pagans; and nearest among them in love to the Believers wilt thou find those who say, "We are Christians": because amongst these are men devoted to learning and men who have renounced the world, and they are not arrogant. And when they listen to the revelation received by the Messenger, thou wilt see their eyes overflowing with tears, for they recognize the truth: they pray: "Our Lord! We believe; write us down among the witnesses” The Holy Qur'an, Chapter 5, Verses 82-84.

This verse applies to Dr Miller as he was a Christian but when he knew the truth, he believed and converted to Islam and became a herald. May Allah support him.

Dr Miller says about the unique style of the Qur'an that he finds wonderful: No doubt there is something unique and amazing in Qur'an that is not present anywhere else, as the Qur'an gives you a specific information and tells you that you did not know this before. For example:

"This is part of the tidings of the things unseen, which We reveal unto thee (O Prophet!) by inspiration: thou was not with them when they cast lots with arrows, as to which of them should be charged with the care of Maryam: nor was thou with them when they disputed (the point)” The Holy Qur'an, Chapter 3, Verse 44.

“Such are some of the stories of the Unseen, which We have revealed unto thee: before this, neither thou nor thy People knew them. So persevere patiently: for the End is for those who are righteous” The Holy Qur'an, Chapter 11, Verse 49.

“Such is one of the stories of what happened unseen, which We reveal by inspiration unto thee: nor was thou (present) with them when they concerted their plans together in the process of weaving their plots” The Holy Qur'an, Chapter 12, Verse 102.

Dr Miller continues: “No other holy book uses this style, all the other books consist of information that tells you where this information came from. For example, when the Holy Bible talks about the stories of the ancient nations, it tells you that a this King lived in a this place and a that leader fought in that battle, and that a certain person had a number of kids and their names are. But this book (Bible) always tells you that if you want to know more, you can read a certain book since that information came from that book”.

Dr Garry Miller continues: “This is in contrary to the Qur'an which gives you the information and tells you that it’s new!! And what’s amazing is that the people of Mecca at that time (time of inspiration of those verses) used to hear those verses and the challenge that the information in those verses was new and was not known by Muhammad (PBUH) nor by his people at that time, and despite that, they never said: We know this and it is not new, and they did not say: We know where Muhammad came from with those verses. This never happened, but what happened is that nobody dared to say that he was lying to them because those was really new information, not coming from the human mind but from Allah who knows the unseen in the past, the present and the future”.

[The Amazing Qur'an]



The Amazing Qur'an Dr. Miller's famous work.

Jennifer Fayed,Convert to Islam

1 komentar

There comes a time in peoples’ lives that you are compelled to think, why am I here what is my purpose in this life. These were my thoughts during summer of 2001. I had been married to my first husband for about 3 years. The marriage was going downhill. There was no ambition in my former husband, and with two children barely old enough to take care of themselves finding out I was pregnant; I started to ponder my purpose in this earth.
Yes, I was a wife a mother a daughter; however, the same thought came passing through my mind there has to be a reason for my existence. My family had recently moved to the Dominican Republic I felt abandoned. Abandoned you might ask, she’s married with children how can she feel abandoned? I was 21 years old and my parents were the base of who I was who I strived to be. They were my example.
I was sleeping, when I got a frantic call from my former mother-in-law screaming “there was a plane crash a plane crash in downtown Manhattan” confused I said “what, what are you talking about!” I turned on the television only to find out that the second tower of the world trade center was being hit by the second aircraft. I was shocked! Who could’ve done this, who was capable of such atrocity? I was in disbelief on what I saw on the news. Was this real I kept thinking to myself, it was must be a movie please, please tell me this was a movie. I had just been in the world trade center the day before. I saw this as some proof that it wasn’t my time to die and I hadn’t completed my purpose in this life. I didn’t know what purpose, but it wasn’t my time. There was chaos in New York City that day; little did I know this day among other events in my life would only be the beginning of drastic changes that were about to happen.
Soon after the attacks of September 11th I went to Dominican Republic to visit my parents. I was about a month pregnant and no soul other than my mother-in-law, my former husband and I knew about the pregnancy. How was I going to break the news to my parents I mean I got pregnant with my first child out of wedlock and soon married as to make things right. So here I was pregnant with my third baby and I thought well at least I can think things through while being in the Caribbean. I left on American Airlines flight 587. This was the first time I was in an airplane so soon after the attacks of the world trade center. The security in the airport was intense, and people in the airplane kept praying some even during the whole flight. I started to laugh within myself. If we’re going to die well then it’s our fate. I kept thinking about my pregnancy. I didn’t want this pregnancy it was unplanned and a third mouth to feed I could barely support two children let alone three. I was so confused. I spent time with my family trying to tell them about the baby. I couldn’t bear to tell them that there first born daughter was yet again going to bring another major disappointment to them; therefore, I decided well I’ll terminate the pregnancy and no one has to even know I’m pregnant. Easy solution, I thought to myself but at the same time I came from a strong Christian family and to even fathom having an abortion was a sin and taboo. After my quick trip to the Caribbean I went back to New York and finally called Planned Parenthood to set-up the appointment to terminate the pregnancy. I asked them if I could take the abortion pill and I was devastated to find out that I would have to go through a full abortion because my window for the abortion pill was one week past the time to end the pregnancy with a pill. I was so depressed; I thought to myself oh my God their going to rip this baby out of my womb. What am I doing?
I really didn’t know if I could go through with it; as a result, I decided to pray to God not using the rosary or going to church but for the first time I was going to pray directly to him like a friend, someone who I felt had to help me it was my last resort. I cried while I continuously supplicated, oh God please I don’t know what to do I want this baby, but my marriage is on the rocks and we don’t have money to bring another baby into the world. I will put my full trust in you my Lord, please if it’s your will for me to have this baby then I will accept that and if it’s your will to end the pregnancy I will accept that too. I emptied my sorrows unto a God, a God that I worshipped my own way not the way I was taught to do. A God; one that to me had no partners and no son but just a being that I knew created me. I was at my wits end thinking about the pregnancy and just went through my usual daily routine. A few days past, I was watching television when a program was interrupted by a special report. I said oh no not another attack what happened next blew me away. I soon found out another plane had crashed, this time in Queens where I am originally from in New York. I was so worried I thought it must have been brought down by one of these terrorists yet again. I was astonished when they mentioned the flight number and its destination. It was American Airlines flight 587; yes the flight that I was on but only a week ago and it was headed to the Dominican Republic. I got chills up my spine.
I was numb all over thinking that this could’ve been me on this flight at this time. I saw this as a message from God that he was trying to tell me something. This wasn’t the first time in less then a month that I came close to death. I thought to myself God is trying to tell me something. A week after that supplication I started to have cramps, these cramps were different from the usual first trimester cramping. I brushed it off like no big deal. As the weekend continued the cramping got more severe and then I started to have bleeding. I was so frightened was I having a miscarriage? I hurried to the hospital and they put me on strict bed rest. I went home that evening and stayed in bed the cramping got better. Once asleep there was this shocking pain and with this pain I felt that something came out. I didn’t know what to do; I went to the bathroom only to discover a piece of round flesh on the pad. I was devastated. I never saw anything like this I lost my baby I was two months pregnant. I went back to the hospital and they confirmed to me that yes I had a miscarriage and they were sorry for my loss. The next day was the day of my abortion appointment October 15, 2001.
I had the miscarriage just a day before this appointment. They called me from Planned Parenthood and asked me why I missed the appointment. I told them that I had a miscarriage a day before. It was so surreal, was it a miracle from God, did God answer my prayer, and what did he have in store for me. I felt that God was telling me that my life was going to change. How was it about to change? I had no idea but I did know that I couldn’t stay married any longer to someone who didn’t want to work and had no ambition in life. So I made a conscious decision toward getting my degree and taking steps to divorce my first husband.
I saw how badly Muslims were being treated in New York. The aggression that played out so soon after the September 11 attacks, every other day there was a report on the news about a Muslim hate crime. It was horrible; I would literally see people walking on the opposite side of side walks if they even thought a person was a Muslim. Muslim businesses were empty people refused to buy from them. People would yell out horrible things to them in the street, “Go to your country, Terrorist, Taliban!! Why are people saying these things to innocent people? I agree the people who did this were horrible people, but why blame people who didn’t have anything to do with the attacks. It felt like a witch hunt. I was curious about what these people really stood for my interest grew larger everyday. I soon enrolled in college and I would meet Muslims and anxiously ask them questions about Islam. Why do you wear a scarf? What do you believe in? Who is this Mohammed who you always talk about? Some had answers but on the most part people didn’t know how to answer me. Most of the Muslim girls I did know didn’t wear the scarf and would say it’s a choice and I’m not that knowledgeable about Islam. I felt that no one was able to give me answers so I turned to the internet for answers. There I found out about Islam.
I couldn’t believe that God (Allah) had sent another prophet after Jesus (pbuh). I knew God couldn’t have put me and everyone on this earth without answers to our many questions. Why we are here? Why do people say God is three when in fact it only confirmed what I personally had believed in since I was fourteen years old that God was one with no partners. I was seeking the truth to my questions and Islam answered all of them. This was amazing prophet Mohammed (pbuh) was the last prophet the last one God had sent to reveal is final message unto us. His favor upon us was done. Then I decided to do more research on this Mohammed (pbuh) was he a real person did he actually exist? To my surprise he was a real person and not only was he our messenger but his whole life had been documented. I was stunned, this was my religion I thought, the faith I have been searching for many years and it’s called Islam. I attended my first Ramadan that fall of 2002.
Jennifer Fayed
The mosque was full of people. It wasn’t like a diocese in that generally one kind of race or nationality attends a specific church. The mosque had people of all different spectrums of the rainbow. They were all so friendly and kept saying salaam walakium, at the time I didn’t know what that meant but I would just nod in embarrassment. It was time to perform the salah (prayer); this was my first time ever to pray like the Muslims. I had no idea what they were doing but a friend of mine at the time just told me “do what they do” so that’s exactly what I did. I would mumble what I thought they were saying and perform the prostrations not knowing the significance or reason for it. I did enjoy it. I was amazed that all the Muslims face the Kabah in Mecca, Saudi Arabia at the same time for every prayer no matter what part of the world they come from. We didn’t have this in Christianity, not at all. The Muslims had an unspoken code that unified them to Allah the Most High. I wore a scarf that day in respect to them. I didn’t know how the women would put the scarf on so I bought a two piece scarf that I just slid on. I felt so wonderful and warm inside when I wore the scarf. I could walk the streets without men looking at me as a sexual object. I did get stares, but that didn’t bother me at all. After that day in the mosque I made a conscious decision to wear hijab all the time. People kept emphasizing to me that I didn’t have to wear hijab because I wasn’t Muslim. I would just comment that it’s my decision and it’s none of their business. When I wore hijab there was this feeling of security, warmth in my heart and soul that I was pleasing my Lord. I didn’t care about the stares or the negative remarks. I felt in my heart that I wasn’t doing enough to worship Allah. I was fasting some days during that Ramadan. Then I started to ponder how I would tell this to my family.
I had told my father that I was reading about a religion that comes from the east, all he told me was “it’s good to gain knowledge in different cultures and religions” I think that one flew by his head by a long shot. When my mother arrived from the Dominican Republic I was seriously considering declaring my shahada. I just didn’t know how I would tell all of my family especially my mom considering she was so critical of me. I was wearing hijab already so I didn’t feel good taking it off just to please her because my duty was to Allah then my parents. As a result, I decided to get it passed my younger sister Catherine. She and I are five years apart but I thought to tell her first as to see what might be the response of my parents. I called her and said, “Hey Catherine I did something” She wasn’t shock as I usually did things that were out of the norm. She told me “What did you do this time Jennifer?” I bluntly told her that I was considering becoming a Muslim and that I already wore the headscarf. She went ballistic in laughter. She told me that now I had definitely done it and that my parents would kill me figuratively, and that she couldn’t believe that I was one of those terrorists.
She quickly followed with you’re my sister and I love you no matter what religion you become but that our parents would probably go into an attack of some sort. The funniest thing though was that telling my younger sister you can only expect some form of sibling rivalry. She soon remarked “Don’t tell mom and dad without me being there so I can see you go down with a laugh”. I knew she was joking, and to my surprise I couldn’t believe how mature she had become during that year. As you can expect, I told my parents and my dad took it well I guess most men would if it means that their daughters would cover their bodies. My mother on the other hand, was furious and shocked. She kept trying to convince me that I was in the wrong and that Islam wasn’t the right religion. The thing that bothered her the most was that I was wearing hijab. It took them about two weeks to calm down with the whole idea that I was changing my religion. They soon accepted me after that, however my mom kept persisting that this was only a phase and that I would come to my senses. One week later, I had made my decision to declare my shahada.
I woke up on the first Friday of January with the feeling that this was the day, this was the day I was going to say my shahada. I was going to make my declaration that there is no true god (deity) but God (Allah) and Mohammed is the Messenger (Prophet) of God. I took my shower and jumped on the train and went to the mosque to make my declaration. I saw the sheik and told him I want to make my shahada today. He looked at me with a smirk and said “Are you sure, is this what you really want to do?” I was so excited I told him “Yes, Yes, this is my decision” and so that day all my fellow brothers and sisters in Islam joined with me to witness my reversion to Islam. All and all I felt normal that day so many people congratulated me on my reversion and told me if I needed anything they would help me. I felt so lucky; here I was with a new family a nation of people from all different parts of the world. On that Friday night I went to sleep. My first night as a Muslim I thought, later that evening around fajr time I had the most beautiful dream a blessed vision.
I was in a valley, full of beautiful green grass and gorgeous hills nothing I have ever seen in this life, and I was walking there towards a man. The person came towards me also, he was dressed in a white galabiya his face was like light not a humanly face but bright like the sun. I felt so warm and safe. He held my hand and we walked together to a big round rock which he sat on and I sat on the grass. He then told me “Welcome to Islam”. When I woke up I had this wonderful feeling in my heart. I thought this was the Prophet may the blessings of Allah be upon him. He came to welcome me to Islam. I later found out that it wasn’t Prophet Mohammed (pbuh), but it was one of Allah’s (swt) angels who had welcomed me into the fold of Islam for angels don’t have a human face but it is blurred. I felt so special from that day forward. An angel, an angel of Allah came to greet me to Allah’s religion my religion the faith that I so eagerly craved from a young age, Islam the one true religion.
Source: http://islamonline.net/english/journey/2006/02/jour02.shtml
Jennifer Fayed is an aspiring writer living in North Carolina, USA. She has a degree in business marketing and is an active member of the Muslimah Writers Alliance. Read more of her writings at http://jenniferfayed.blogspot.com/

Jennifert Fayed, Akhirnya memilih Islam setelah merenungi Tujuan Hidup

0

jennifer Fayed merasakan perkawinannya suram. Ia melihat tak ada ambisi pada suaminya yang pengangguran, yang telah dinikahinya tiga tahun. Ia mendapati dirinya hamil, sementara dua anaknya yang masih kecil belum bisa lepas dari pengawasan.

Jennifer, yang berusia 21 tahun dan masih kuliah, mulai merenungi tujuan hidupnya di dunia. Pikiran itu menggantung di benaknya: “Pasti ada alasan atas keberadaan saya.”

Orang tuanya baru saja pindah ke Republik Dominika, sebuah negara kecil di Karibia. Ia merasa ditinggalkan, kendati punya suami dan dua orang anak. Ini lantaran selama ini ia merasa orang tua lah yang menjadi panutan baginya, yang menjadi dasar bagi siapa dirinya dan akan menjadi siapa ia berjuang.

Kala itu ia sedang tertidur saat mendapat telepon panik dari ibu mertuanya yang berteriak “Ada pesawat jatuh, pesawat jatuh di Manhattan.” Jennifer bertanya bingung, “Apa, apa yang Ibu bicarakan!” Ia menyalakan televisi dan melihat menara kedua World Trade Center (WTC) dihantam pesawat.

“Saya shock! Siapa yang bisa melakukannya, siapa yang sanggup melakukan kekejian ini?” ujar Jennifer. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. “Apakah ini mimpi?” Ia berharap ini hanyalah sebuah film. “Ayo katakana ini hanya film,” katanya dalam hati.

Ia baru saja mengunjungi WTC sehari sebelumnya. Ia melihat ini sebagai bukti bahwa belum saatnya dia mati. Ia merasa belum mencapai tujuan dalam hidup. “Saya tak tahu apa tujuan itu, tapi ini bukanlah saatnya bagi saya.”

Hari itu Manhattan dilanda chaos. Jennifer tak tahu hari itu menjadi awal perubahan drastis yang akan terjadi dalam hidupnya.

Tak beberapa lama setelah serangan 11 September, Jennifer terbang mengunjungi orang tuanya di Republik Dominika. Saat itu kehamilannya berusia satu bulan. Suaminya telah mengetahui kehamilannya.

Ia berpikir bagaimana memberi tahu kehamilan ini kepada orang tuanya. Maklum, anak pertamanya adalah hasil hubungan di luar nikah, yang membuatnya terpaksa menikah guna menutupi aib. Well, katanya dalam hati, saya akan memikirkannya di Karibia nanti.

Ia terbang menggunakan American Airlines dengan nomor penerbangan 587. Ia merasa begitu cepat terbang setelah serangan WTC. Keamanan di bandara sangat ketat, dan orang-orang di pesawat berdoa, beberapa bahkan tak lepas berdoa sepanjang penerbangan. “Saya mulai tertawa dalam hati. Jika kami akan mati, maka itu takdir kami.”

Jennifer terus memikirkan kehamilannya. Ia sebenarnya tak ingin kehamilan ini. Selain tak direncanakan, ini berarti mulut ketiga untuk diberi makan, sementara ia sudah kewalahan menghidupi dua orang anak, apalagi tiga.

Ia begitu bingung. Ia menghabiskan waktu bersama orangtuanya mencoba memberitahu mereka tentang jabang bayi. Ia merasa tak sanggup memberi tahu mereka, bahwa putri tertua mereka kembali mengecewakan mereka.

Karenanya, Jennifer memutuskan untuk aborsi dan tak ada yang perlu tahu dirinya hamil. “Solusi yang gampang,” pikirnya dalam hati. Namun, di sisi lain, ia berasal dari keluarga Kristen yang taat, yang memandang aborsi adalah sesuatu yang tabu dan dosa.

Ia kembali ke New York dari Karibia, dan membuat janjian dengan klinik Planned Parenthood untuk mulai melakukan aborsi. Ia bertanya apakah bisa menggunakan pil untuk aborsi ini.

Betapa kecewanya Jennifer bahwa dirinya harus menjalani aborsi penuh karena tenggat untuk melakukan aborsi dengan pil sudah terlewati satu pekan. Ia sangat depresi. “Saya berkata dalam hati, Oh Tuhan, mereka akan mengangkat bayi ini dari perut saya. Apa yang telah saya lakukan?” Ia tak tahu apakah sanggup melalui ini semua.

Ia memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan. Namun, tidak menggunakan Rosario atau pergi ke gereja. Untuk pertama kali, ia akan berdoa langsung kepada Tuhan layaknya teman. Ia merasa Tuhan harus menolongnya. Tuhan adalah tumpuan terakhir.

“Saya menangis sambil terus memohon. Oh Tuhan tolonglah, saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Saya ingin bayi ini, tapi pernikahan saya sedang guncang, dan kami tak punya uang untuk menghadirkan seorang bayi lagi ke dunia ini. Saya percayakan sepenuhnya kepada Tuhan. Tolonglah, jika Tuhan menghendaki saya memiliki bayi ini, saya akan menerimanya. Dan, jika kehendak Tuhan untuk mengakhiri kehamilan ini, saya juga akan menerimanya.”

“Saya memasrahkan penderitaan ini kepada Tuhan. Tuhan yang saya sembah dengan cara saya sendiri, bukan dengan cara yang diajarkan kepada saya. Tuhan, yang bagi saya tak punya pendamping, tak punya anak, hanya sesuatu yang saya tahu telah menciptakan saya,” kata Jennifer. Ia kehabisan akal memikirkan kehamilannya.

Hari-hari berlalu, Jennifer sedang menyaksikan televisi saat sebuah siaran berita menginterupsi acara. “Oh tidak. Tidak serangan teroris lagi,” katanya. Sebuah pesawat kembali jatuh di New York, kali ini di kawasan Queen, daerah asal Jennifer. Ia khawatir ini kembali ulah teroris. Ia terheran-heran mendengar nomor penerbangan dan tujuan pesawaat tersebut. Pesawat naas itu American Airlines dengan nomor penerbangan 587 tujuan Republik Dominika. Ya, pesawat yang ditumpanginya sepekan lalu. Rasa dingin menjalar di punggungnya.

Jennifer terpaku. Ia membayangkan bisa saja dirinya yang ada dalam pesawat itu. Ia merasa ini pertanda dari Tuhan. Ini bukan pertama kali dalam kurang dari sebulan ia begitu dekat dengan kematian. “Tuhan mencoba mengatakan sesuatu.”

Sepekan setelah permohonannya kepada Tuhan, Jennifer mulai merasakan keram. Keram ini berbeda dengan yang biasa dirasakan pada trimester pertama kehamilan. Ia mengacuhkannya, bukan masalah besar.

Hari berlalu, rasa keram itu semakin parah, dan perdarahan pun mulai terjadi. Ia begitu takut. “Apakah saya keguguran?” Ia bergegas ke rumah sakit dan menjalani istirahat (bed rest) ketat.

Pulang ke rumah, Jennifer masih harus beristirahat di tempat tidur kendati rasa keram mulai berkurang. Saat tertidur, ia merasakan sakit luar biasa. Ia merasakan sesuatu keluar. “Saya tak tahu apa yang harus dilakukan. Saya pergi ke kamar mandi dan menemukan segumpal daging keluar.” Jennifer keguguran di usia kehamilan dua bulan. Saat kembali ke rumah sakit, pihak rumah sakit memastikan ia telah keguguran. Padahal, keesokan harinya, ia dijadwalkan oleh Planned Parenthood untuk menjalani proses aborsi, pada 15 Oktober 2001.

“Ini seakan tidak nyata. Apakah ini keajaiban dari Tuhan? Apakah Tuhan menjawab doa saya. Saya merasa Tuhan memberitahu bahwa kehidupan saya akan berubah. Akan berubah seperti apa? Saya tak tahu. Yang saya tahu, saya harus menyelesaikan kuliah dan saya tidak bisa bertahan lebih lama dengan suami yang tak ingin kerja dan tak punya ambisi dalam hidup.” Jennifer akhirnya memutuskan untuk bercerai dari suami pertamanya.

Di lingkungannya, New York, Jennifer menyaksikan betapa buruknya perlakuan terhadap Muslim. Perlakuan ini terjadi begitu cepat setelah serangan 11 September. Setiap hari selalu ada berita yang melaporkan tentang kejahatan karena kebencian terhadap Muslim. “Sungguh mengerikan. Saya menyaksikan langsung orang-orang pindah berjalan di trotoar seberang jalan hanya karena mengira ada Muslim. Bisnis Muslim sepi. Tak ada yang ingin membeli dari toko Muslim. Di jalan, orang-orang berteriak kepada Muslim, Pergi ke negaramu, Teroris, Taliban!!”

“Mengapa orang-orang mengatakan kata-kata ini kepada orang-orang yang tak bersalah? Saya sepakat pelaku serangan adalah orang yang kejam, tapi kenapa menyalahkan orang-orang yang tak ada hubungannya dengan serangan?”

Dari sinilah muncul ketertarikannya. Jennifer mulai penasaran apa yang diyakini oleh Muslim. Ketertarikannya semakin besar setiap hari. Ia kemudian mendaftar untuk mengikuti sebuah acara di kampus. Di sana ia bertemu Muslim dan melontarkan berbagai pertanyaan tentang Islam. “Mengapa Anda mengenakan jilbab? Siapa yang Anda yakini? Siapa itu Muhammad yang sering Anda bicarakan?”

“Beberapa orang punya jawaban, namun sebagian besar tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan saya. Kebanyakan wanita Muslim yang saya tahu tak mengenakan jilbab dan mengatakan ini pilihan, dan mengatakan tak memiliki pengetahuan yang dalam tentang Islam.” Jennifer merasa tak ada orang yang mampu memberikannya jawaban. Sehingga, ia berpaling ke internet untuk mencari jawaban. Di sana lah ia mengetahui tentang Islam.

“Saya tak percaya bahwa Tuhan telah mengutus nabi lainnya setelah Yesus. Saya tahu Tuhan tak akan menciptakan saya dan semua orang di dunia tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami. Mengapa kami di sini? Mengapa orang-orang selalu mengatakan Tuhan itu tritunggal, dan ini hanya menguatkan apa yang saya percayai sejak berusia 14 tahun bahwa Tuhan itu satu tanpa pendamping.”

“Saya mencari kebenaran atas semua pertanyaan saya dan Islam menjawab semuanya. Muhammad adalah nabi yang luar biasa. Ia adalah nabi terakhir, yang terakhir diutus Tuhan untuk menyampaikan pesan terakhir-Nya kepada kita.”

Jennifer memutuskan untuk menggali lebih jauh tentang Nabi Muhammad. “Apakah ia manusia sungguhan? Apakah dia benar-benar ada?” Jennifer terkejut mengetahui Nabi Muhammad adalah manusia sungguhan. Bukan saja Muhammad adalah seorang nabi yang menyampaikan wahyu, namun seluruh hidupnya telah terdokumentasikan. “Saya takjub, inilah agama saya,” pikirnya. “Keyakinan yang selama bertahun-tahun saya cari, yang disebut Islam,” katanya.

Jennifer mengikuti tarawih Ramadhan pada musim gugur 2002, meski ia belum masuk Islam. Saat itu masjid penuh oleh jamaah. “Tak seperti keuskupan yang hanya dihadiri satu jenis ras atau kebangsaan di sebuah gereja khusus, masjid dipenuhi berbagai orang dari berbagai spektrum. Mereka sangat akrab dan selalu mengatakan Assalamualaikum,” ia mengisahkan. Ia tak tahu apa artinya itu. Ia hanya mengangguk malu.

“Saatnya melaksanakan sholat. Ini sholat pertama saya seperti seorang Muslim,” katanya. Ia sebenarnya tak tahu apa mereka lakukan. Namun, seorang temannya mengatakan ‘ikuti saja apa yang mereka lakukan’. Jadi, itulah yang ia lakukan.

Jennifer berkomat-kamit meniru jamaah lainnya. Ia juga ikut bersujud, tanpa tahu maksud dan alasannya. “Saya menikmatinya. Saya kagum bahwa semua Muslim menghadap Kabah di saat yang sama setiap shalat, tak peduli dari belahan bumi mana mereka berasal. Kami tak punya ini di Kristen, sama sekali tak punya,” paparnya.

Saat itu ia mengenakan jilbab untuk menghormati para jamaah. Ia tak tahu bagaimana cara mengenakan jilbab. Jadi, ia membeli dua helai selendang (scarf) yang ia pasang sekenanya. “Saya merasa anggun dan hangat saat mengenakan jilbab. Saya bisa berjalan di jalanan tanpa dipandang sebagai obyek seksual. Orang-orang memang menatap saya, tapi saya tak peduli.”

Pulang dari masjid pada hari itu, ia bertekad untuk mengenakan jilbab setiap saat. “Orang-orang terus mengatakan bahwa saya tak perlu mengenakan jilbab karena saya bukan seorang Muslim. Saya hanya berkomentar ini keputusan saya dan ini bukan urusan mereka. Saat mengenakan jilbab, ada perasaan aman, perasaan hangat dalam hati, bahwa saya mengikuti perintah Tuhan. Saya tak peduli terhadap tatapan dan komentar negatif dari orang-orang.”

Jennifer merasa belum melakukan cukup. Ia pun melakukan puasa dalam beberapa hari di bulan Ramadhan. Lalu, ia berpikir bagaimana mengatakan ini semua kepada orang tuanya.

Saat orang tuanya datang dari Republik Dominika, Jennifer tengah serius mempertimbangkan untuk mengucap syahadat. “Hanya saja, saya tak tahu bagaimana memberi tahu keluarga saya, terutama ibu saya karena ia sangat cerewet kepada saya. Saya telah mengenakan jilbab, jadi saya tak bisa melepaskannya hanya karena mempertimbangkan perasaan ibu saya, karena kewajiban saya adalah kepada Allah, lalu baru kepada orang tua,” ungkapnya.

Sebagai awal, Jennifer memberitahu adiknya, Catherine, yang lima tahun lebih muda. Ia ingin melihat reaksi Catherine, yang mungkin akan sama dengan reaksi orang tuanya. Ia memanggil Catherine dan berkata, “Hey Catherine, saya melakukan sesuatu.”

Adiknya tak terkejut. Maklum, Jennifer memang biasa melakukan sesuatu di luar norma. “Apa yang kamu lakukan kali ini Jennifer?”

Jennifer mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan masuk Islam, dan ia kini telah mengenakan jilbab. Catherine tertawa kencang. “Ia mengatakan kini saya benar-benar telah ‘melakukannya’ dan orang tua kami akan ‘membunuh’ saya. Ia juga mengatakan tak percaya saya kini salah satu dari teroris itu.”

Namun, Catherine segera menyambung kalimatnya, “Kamu kakak saya dan saya menyayangi kamu tak peduli apa agama yang kamu anut.” “Ia juga mengatakan bahwa orang tua kami akan mengamuk,” ujar Jennifer. Tak berhenti di situ, Catherine lantas mengatakan “Jangan beri tahu ayah dan ibu tanpa saya ada di sana, jadi saya bisa mentertawakan kamu.” Jennifer tahu adiknya hanya bercanda.

Jennifer akhirnya memberanikan diri memberi tahu orangtuanya. “Ayah saya bisa menerimanya. Saya pikir kebanyakan pria akan bisa menerimanya jika hal itu berarti sang anak akan menutupi tubuhnya.”

Namun, ibunya sangat marah dan shock. “Dia terus meyakinkan saya bahwa saya salah langkah dan Islam bukan agama yang tepat. Satu yang yang paling memberatkannya adalah saya mengenakan jilbab.”

Butuh dua pekan bagi ibunya untuk kembali tenang. “Tak lama mereka ahirnya bisa menerima. Bagaimanapun, ibu saya terus mengatakan bahwa ini hanyalah sementara, sebuah tahapan, dan saya akan kembali tersadar,” ungkap Jennifer. Sepekan berselang, Jennifer akhirnya memutuskan untuk mengucap syahadat.

Hari itu, Jumat pertama Januari, Jennifer bangun pagi dengan perasaan membuncah. Ini dia hari H, hari dimana ia akan mengucap syahadat. Ia lalu mandi dan mengejar kereta untuk pergi ke masjid guna mengucap syahadat.

Di masjid, ia menemui imam dan mengatakan ingin mengucap syahadat. Sang imam menatapnya dengan senyuman dan mengatakan “Anda yakin, ini yang benar-benar Anda kehendaki?” Dengan semangat Jennifer menjawab “Ya, ya, ini keputusan saya.”

“Maka, di hari itu, seluruh saudara seiman, laki-laki dan perempuan, bergabung untuk menyaksikan saya masuk Islam,” kata Jennifer. “Hari itu, begitu banyak orang mengucap selamat dan mengatakan kepada saya jika saya membutuhkan apa pun, mereka akan membantu saya. Saya begitu beruntung. Di sini lah saya bersama keluarga baru, sebuah keluarga yang anggotanya berasal dari seluruh belahan bumi.”

“Pada Jumat malam itu saat saya tidur, malam pertama saya sebagai Muslim, saya mengalami mimpi terindah, sebuah karunia. Saya berada di sebuah lembah yang dipenuhi rerumputan hijau nan indah. Perbukitannya begitu indah, tak pernah saya lihat sepanjang hidup, dan saya berjalan di sana menuju seorang pria. Dia juga berjalan ke arah saya, dia mengenakan galabiya putih. Wajahnya samar, tak mirip wajah manusia yang sebenarnya, namun terang seperti matahari. Saya merasa begitu hangat dan aman. Dia memegang tangan saya dan kami berjalan bersama ke arah sebuah batu melingkar yang besar. Di batu itu ia duduk dan saya duduk di rumput. Ia kemudian mengatakan kepada saya ‘Selamat datang ke Islam’.”

Saat terbangun, Jennifer merasakan perasaan yang begitu indah dalam hatinya. “Saya pikir inilah Rasul. Ia datang untuk menyambut saya masuk Islam. Saya kemudian mendapati bahwa itu bukan Nabi Muhammad, tapi salah satu malaikat Allah yang telah menyambut saya, karena malaikat tak memiliki wajah manusia, namun wajahnya samar (blur).”

Jennifer merasa sangat spesial sejak hari itu. “Sebuah malaikat, malaikat Allah datang untuk menyambut saya kepada agama Allah, agama saya. Agama yang begitu saya dambakan sejak kecil. Islam adalah agama yang sebenarnya.”

Jennifer Fayed kini menjadi penulis yang tingal di Carolina Utara, AS. Berbagai tulisannya telah menginspirasi banyak orang. Ia memiliki gelar di bisnis pemasaran, dan anggota aktif Muslimah Writers Alliance.