mahasiswa asal Iowa AS dapat Hidayah saat Berwisata di Spanyol

0

Hidayah memang bisa datang dari arah yang tak terduga. Bagi Karima Burns, mahasiswa asal Iowa, Amerika Serikat, hidayah justru datang saat ia tengah berwisata ke Spanyol.

Pemandu wisatanya mengajaknya ke Masjid Alhambra di Granada, Spanyol. Melihat banyak ejaan Arab bertebaran di bangunan yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata panyol ini, ia tertegun. "Itu adalah bahasa yang paling indah yang pernah kulihat," ujarnya.

"Bahasa apa itu?" ia berkata seorang turis Spanyol. "Bahasa Arab," jawab mereka.

Hari berikutnya, ketika petugas tur ditanya tentang bahasa apa yang dia ingin di buku turnya, ia menjawab, "Arab."

"Arab?" katanya, terkejut. "Apakah Anda bisa berbicara bahasa Arab?"

"Tidak," Karima menjawab. "Dapatkah Anda memberi saya satu dalam bahasa Inggris juga?"

Pada akhir perjalanan, tasnya penuh brosur berbahasa Arab. "Aku memperlakukannya seolah-olah mereka terbuat dari emas. Aku akan membukanya setiap malam dan melihat huruf-huruf yang mengalir di seluruh halaman," ujarnya.

Hari itu dia bertekad, akan belajar bahasa Arab.

***

Karima dibesarkan di Midwest. Orang tuanya penganut agama yang taat. Namun Karima selalu bertanya-tanya, mengapa berdoa pada Tuhan harus melalui perantara? "Aku intuitif merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan itu. Tanpa memberitahu siapa pun, aku diam-diam berdoa kepada "Tuhan." Saya sungguh-sungguh percaya bahwa hanya ada satu entitas berdoa. Tapi, aku merasa bersalah karena ini bukan apa yang telah agama lama saya ajarkan."

Suatu hari, acara bersilaturahim ke rumah guru rohaninya semakin membulatkan tekad untuk meninggalkan agama itu. "Aku melihat rak penuh dengan Alkitab. Aku bertanya apa saja kitab itu. "Versi berbeda dari Alkitab," jawab guruku. Ini tampaknya tidak terganggu dia sama sekali bahwa ada begitu banyak versi yang berbeda. Tapi, itu menggangguku. Beberapa dari mereka benar-benar berbeda dan beberapa bab bahkan hilang dari Alkitab yang aku punya. Aku sungguh bingung," ujarnya.

***

Muslim gugur usai, Karima kembali ke kampusnya di Northwestern University. Liburan ke Spanyol, sungguh mencerahkannya.

Ia seolah menemukan alternatif dari kebuntuannya. "Aku telah meninggalkan gereja hanya beberapa bulan sebelum pergi berlibur dan tidak tahu ke mana harus berpaling. Aku tahu bahwa aku tidak nyaman dengan apa yang apa yang diajarkan selama ini, tapi aku tidak tahu apakah ada alternatif lain," katanya.

Kembali ke kampus, ia mengambil kelas bahasa Arab juga. "Aku ingat, aku adalah salah satu dari hanya tiga orang di kelas yang sangat tidak populer itu," ujarnya terkekeh.

Ia menenggelamkan diri dalam studi bahasa Arab dengan gairah yang menyala. Ia senang mengerjakan PR kaligrafi dan ia pergi ke daerah-daerah Arab di Chicago hanya untuk melacak botol Coca Cola yang ditulis dalam bahasa itu.

Hingga suatu hari, ia berkenalan dengan Alquran. Salah satu tugasnya, adalah menyalin beberapa ayat. Bukannya mengerjakan, dia malah asyik berselancar dari satu ayat ke ayat lainnya. "Sungguh indah. Itu yang aku cari selama ini, agama yang menyatakan sangat jelas bahwa hanya ada satu Allah," ujarnya.

Sebuah nama dalam Alquran diyakini sebagai "pemilik versi" Alquran, seperti halnya ada Injil dengan beragam versi. Namun ketika ia mengungkapkan para profesornya, sang profesor terkekeh.

"Hanya ada satu versi Alquran. Yang kau pikir, itu adalah penerjemahnya," ia menirukan sang profesor.

Ia makin mendalami Alquran, bahkan kemudian memutuskan untuk pergi ke Mesir belajar Islam.

Suatu hari seorang teman bertanya mengapa ia tidak masuk Islam jika menyukainya begitu banyak. "Hatiku sudah Muslim," ia menjawab sekenanya.

Namun sang teman menyatakan, bersyahadat tetap harus. Maka, di sebuah masjid di Mesir, ia menyatakan keislamannya.[republika]

Sang Mantan Preman Kramat Tunggak kini merasakan ketentraman

0

BUKU berjudul “Fragmentasi Sejarah Islam Indonesia” karya Ahmad Adaby Darban, terselip di kantong sisi kiri celananya. Mengenakan seragam sekuriti warna abu tua, pria berperawakan tegap itu tergopoh gopoh menyusuri koridor lapang menuju ruang Sekretariat Jakarta Islamic Center (JIC), Jl. Kramat Raya, Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, siang jelang pertengahan bulan Januari (13/01) lalu.

Pria murah senyum itu, Dian Apriyadi, 46 tahun, dipanggil H. Paimun, Kepala Humas JIC yang menyambut hidayatullah.com siang itu di kantornya.

“Ok, siap. Habis shalat Ashar ya,” ujar Dian, menanggapi permintaan bincang-bincang hidayatullah.com. Seraya mengulum senyum lebar, kami bergegas menuju ruang utama masjid karena kumandang adzan Ashar telah berbunyi.

Berkarir sebagai sekuriti di lingkungan Jakarta Islamic Center yang luasnya 5,6 hektar itu, begitulah kesibukan sehari hari lelaki yang biasa disapa Pak Dian ini. Melaporkan, mendatangi panggilan, menyampaikan pesan, dan mengamankan, sekaligus menjadi “ahli masjid”.

Di JIC, Dian bekerja sebagai sekuriti selama 8 jam sehari dengan sistem shift malam dan siang. Kalau bertugas malam ia berangkat jam 05:00 kalau tugas siang star jam 07:00.

***

Dian adalah anak Betawi asli lahir di bilangan Haji Ung, Kemayoran, Jakarta Pusat, 46 tahun silam. Masa kanak kanak hingga dewasa dihabiskan di Tanjung Priok. Di daerah inilah ia kemudian pernah berkenalan serta bergumul dengan pikuk erotisme malam malam di Kramat Tunggak, lokalisasi seks populer di Jakarta, yang kini telah disulap menjadi Islamic Centre (JIC).

Dian bekerja sebagai tukang parkir dan keamanan di lokalisasi Kramat Tunggak sejak tahun 1972. Kala itu, biaya parkir masih 100 perak. Keberadaan Kramat Tunggak kala itu sebenarnya diuntukkan pertama kali untuk rehabilitasi dengan nama "Teratai Harapan". Harapannya, agar para pelacur bisa dibina. Namun lama lama, karena tidak ada perhatian serius dari pemerintah, "Teratai Harapan" berubah fungsi menjadi lokalisasi mewah bisnis esek esek di Jakarta.

“Dulu daerah ini susah dijangkau,” kisah Dian.

Selain menjadi preman dan juru parkir, ia juga menjadi guide (pemandu) para lelaki hidung belang yang datang “bertamu”. Tugasnya memperkenalkan bos-bos yang datang dengan para pelacur melalui mucikari. Ia kemudian mencocok-cocokkan pilihan pelanggan yang datang.

Selama menjadi preman itu, Dian merasa kehidupannya sudah sangat glamor. Uang tidak pernah putus di kantong. Namun masalahnya, uangnya lekas sekali habis tanpa arti karena dipakai minum dan main judi.

“Walaupun serba cukup, tapi saya rasakan tidak ada enaknya,” katanya mengenang.

Ia mengisahkan, bersama sejumlah sejawatnya di lokalisasi itu, mabuk mabukan sudah menjadi tradisi dan dianggap sebagai bahasa pengantar wajib dalam setiap momentum. Baginya, kalau tidak minum, maka tidak dapat duit. Dan hal itu sudah menjadi semacam kesepakatan tak tertulis di antara mereka.

Karena kebiasaan buruk itu, bahkan ketika Kramat Tunggak telah ditutup dan ia telah bekerja di JIC tahun 2004, tradisi buruk itu masih berlanjut. Pernah bulan Ramadhan ia berfoya foya seenak hati. Akibatnya, empat hari menjelang lebaran, gaji yang sudah diterimanya di awal, ludes total.

Dalam keadaan miskin harta , Dian memberanikan diri pulang ke rumah. Ia disambut istrinya dan sempat menanyakan apakah ada uang untuk beli pakaian baru lebaran anak anak.

"Kok bapak masih mabuk aja, gak ada kapok kapoknya," cecar istrinya ketika itu. Dian beringsut, yang ia rasakan, kepalanya mau pecah saja.

"Saya juga bingung, saya juga mau berubah," begitu jawab Dian.

Setelah kejadian itu, Dian acap kali merenung. Tak jarang ia berfikir, salah apa dirinya kok tidak bisa berubah dan tidak bisa bertaubat.

Apalah daya, duit tak punya. Selama 3 hari setelah lebaran tahun itu, Dian tidak pulang ke rumah. Padahal jarak rumahnya dengan JIC hanya sepelemparan batu. Dian mengaku sangat malu kepada istri dan anak anaknya. Bersama sejumlah teman-teman dekatnya, saban malam ia tidur di bekas gedung milik Adi Karya yang berlokasi sekitar JIC.

Suatu malam, ia mendapatkan kejadian yang tak bisa lepas dari ingatannya. Saat itu, di malam ketiga, sekitar pukul 02:00 WIB, ia baru saja mabuk bungsa selasih. Dian tiba-tiba terjaga dari peraduannya dan berkomat-kamit menyebut asma Allah berjanji tidak akan merokok dan minum minum lagi.

Sejak peristiwa yang tak bisa dilaupakannya itu, Dian tidak pernah lagi merokok dan minum.

Kisah spiritual yang didapatkan Dian dilalui dengan beberapa kejadian-kejadian yang dialaminya. Pernah juga, saat sedang bekerja menjadi juru parkir, dari dalam Masjid JIC, Dian mendengar ustadz berceramah membahas tentang infaq.

“Setiap penghasilan kita ada hak orang lain 2,5 persen," ucap Dian menirukan kalimat yang menyentuh hatinya itu.

Siang itu, setelah mendengar ceramah itu, Dian pun berjanji dalam hati akan mengeluarkan infaq 25 ribu dari gajinya nanti.

“Alhamdulillah, tenyata benar benar ada perubahan,” imbuhnya.

Berkah Kehidupan

Menurut pengetahuan Dian, Kramat Tunggak ditutup bukan karena ada demo. Justru demo mulai marak dilakukan ketika menjelang penutupan saja pada tahun 1999. Dian memuji Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kala itu yang dinilai punya cara bagus menutup lokalisasi pelacuran tersebut.

“Beliau mengajak mediasi seluruh masyarakat. Gubernur datang memantau, mahasiswa datang meneliti. Mereka menasehati,” demikian kisah suami dari Juriyah ini.

Pada saat penggusuran terjadi, jelas Dian, dirinta sangat bersyukur. Bukan karena mendapat ganti rugi, tapi dia mengaku malah mendapat ganti untung. Yang sebelumnya tidak ada pekerjaan, kini ia bisa dapat pekerjaan tetap. Yang rumuahnya tergusur juga diganti.

Ketika lokalisasi ini ditutup oleh Gubernur Sutiyoso tahun 1999, pas juga menjelang Ramadhan. Sehingga kondisinya dinilai Dian, pas momennya. Semua orang pada tenang-tenang. Tidak ada keributan.

Kini, di luar kesibukannya, menjadi staf keamanan di JIC, Dian juga aktif menjadi pendidik dan guru untuk anak anaknya. Sebagai orangtua, Dian mengaku tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada anak anak. Dia bersyukur, sebab anak-anaknya baik-baik saja, tidak ada yang merokok, apalagi minum-minuman keras. Mereka juga sudah mengerti tentang latar belakang ayahnya.

Dalam membina anak-anaknya, Dian mengaku biasa melakukan sharing dengan istri tercintanya. Banyak hal yang mereka bicarakan tentang anak-anak mereka.

“Biasanya menjelang tidur, atau sebelum berangkat kerja,” papar pria yang gemar membaca ini.

Berhasilnya ia lepas dari jerat hitam Kramat Tunggak masa lalu, membuat Dian tak dapat membahasakan kesyukuran. Sudah lebih 10 tahun ini ia mengaku mendapatkan ketentraman hidup dan berumah tangga yang lebih baik sehingga bisa mengarahkan anak anak dan keluarga.

“Prinsip saya dalam mendidik, kita laksanakan dulu sebelum kita sampaikan nasehat kepada anak,” katanya.

Dian menceritakan, saat masih menjadi perokok berat, rutin pengeluarannya untuk biaya asap beracun dan kopi setiap bulannya tidak kurang dari Rp 400 ribu. Hebatnya, setelah berhenti, Dian justru bisa beli motor dengan cicilan selama 3 tahun saja. Pada tahun 2010 lalu, ia bahkan membeli rumah di Cikarang, Bekasi.

“Semua berawal dari berhenti merokok,” katanya.

“Saya seperti orang yang tercebur kemudian dimandikan. Alhamdulillah, kami bisa membersihkan diri di tempat dulu kami main kotor kotor,” ungkapnya, berkaca kaca.

Sekarang Dian sadar betul, bahwa jika mau menemukan ketentraman dan kebahagiaan adalah dengan mengikuti aturan dan tidak melanggar fitrah kemanusiaan.

Kini kakek yang sudah punya 1 orang cucu ini hidup bahagia di dekat masjid JIC bersama istri, keenam orang anaknya, dan Titin Kartina, ibundanya tercinta. * [AC/hidayatullah.com]

Saat depresi,Alisya Braja temukan ketenangan dalam islam

0
Suasana Masjid Agung Sunda Kelapa, seperti biasa, begitu tenang dan rindang. Tampak terlihat jamaah yang sedang shalat, mengaji atau berdiskusi santai. Suasana tampak berbeda ketika menaiki lantai empat gedung utama.

Selembar kertas bertuliskan "Pembinaan Mualaf" menempel di pintu berwarna coklat. Jelas terdengar suara ustad yang mengatakan "Anda-anda yang hadir disini merupakan tamu-tamu Allah SWT. Apa yang anda kerjakan hari ini akan mendapatkan balasan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya," kata si Ustad.

Perkataan ustad itu tampaknya tepat dengan pengalaman Alisya Braja. perempuan yang sudah memutuskan memeluk Islam tiga tahun lalu. Perempuan yang bernama lengkap Alisya Fianne Jane Braja tidak pernah membayangkan apa yang dia dengar menghantarkan dirinya pada Islam.

Dia mendapatkan petunjuk di saat ia tidak tenang dengan kehidupan yang dijalaninya. Dia depresi, gagal dalam pekerjaan dan mempertahankan rumah tangganya. "Pada saat itu saya tertekan tapi tidak ada yang membantu saya bahkan teman satu keyakinan. Jadi, saya harus berdoa sendiri dan menyelesaikan masalah sendiri," papar dia kepada republika.co.id.

Ketiadaan bantuan dan kondisi psikologis membuat dirinya berada di persimpangan. Disatu sisi, dia dihadapkan pilihan apakah menyelesaikan masalah itu dengan hal-hal berbau hura-hura. Artinya dia harus merapat pada teman-temannya yang memang suka bersenang-senang berlebihan.

Pilihan kedua, dia mendekan pada temannya yang Muslim. Teman-teman yang dianggapnya memberikan rasa iri lantaran rasa tenang yang terpancar ketika mereka selesai menjalankan shalat dan mengaji. "Saya benar-benar berada di ujung persimpangan," kata Alisya yang mengaku dulu memeluk Katholik.

Namun Sang Pencipta menghendaki ia mendekati teman-temannya yang muslim. Dia pun semakin tertarik melihat teman-temanya shalat lima waktu. Dia juga kian terlibat dengan aktivitas keagamaannya teman-temannya di masjid.

Hingga, teman-temannya itu merasa aneh dengan prilakunya "Teman saya waktu itu bahkan bilang ke saya, 'Kamu tidak masalah kalau saya mau ngaji dulu?'. Dia pun tidak memaksa saya masuk. Akhirnya saya pun menunggu diluar. kala itu, ustad yang tengah berbicara adalah Quraish Shihab," papar istri dari Oktobrawijya Tri

Apa yang didengarnya, membuat dia ketagihan. Alisya pun mengikuti pengajian selepas kantor setiap Senin dan Kamis. Rasa merinding berbalut dengan tenang seperti obat yang manjur bagi depresi yang tengah diderita Alisya.

Dia mengaku seolah diarahkan untuk beralih. "Hati saya bergejolak dan seolah rindu untuk datang ke masjid Sunda Kelapa. Saya bilang ke teman saya, kalau kesini lagi saya ikut dong," kata perempuan kelahiran Manado 38 tahun lalu ini.

Mendengar kemudian mendalami, demikian langkah Alisya. Dia pun meniatkan membeli Alquran di sebuah toko buku. Kemudian secara sembunyi-sembunyi Alisya mulai membandingkan Injil dengan Quran. Sejak 2004, Alisya mulai mempelajari Islam.

Hingga pada suatu ketika, dirinya bermimpi. Dalam mimpi itu disebutkan, "Hanya Muhammad utusan Allah, dan hanya Alquranlah yang paling benar." Alisya pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ustad Rahim, yang kebetulan memang salah seorang pembina mualaf.

"Saat itu dia mengatakan itu merupakan hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kamu. Kamis bertanya pada ustad tentang mimpi itu, Ahadnya saya memutuskan masuk Islam," cerita Alisya.

Setelah masuk Islam, Alisya mulai belajar shalat dan surat-surat Quran untuk bacaan shalat. Saat itu, Alisya secara perlahan dibimbing untuk membaca Alfatihah saja atau Allahuakbar, Allahuakbar. Di awal ia mengaku kadang ia melaksanakan shalat selalu lebih cepat dari saudara-saudaranya yang lain.

Ia pun mengakali itu dengan membuat tulisan bacaan surat lalu ditempelkan di dinding. Saat saudara-saudara semuslim lain bertanya apakah dirinya mualaf, Alisya mengaku terharu. Pasalnya, mereka berkata agar tidak merasa berat dalam mengerjakan shalat. "Itu yang membuat saya merasa didukung. Saya terharu," ujarnya mulai meneteskan air mata.

Setelah fasih melaksanakan shalat, Alisya mulai belajar berdoa. Doa yang pertama kali diucapkannya adalah meminta keluarganya menerima dirinya. Hal itu terus dilakukannya hingga tahun 2008, dia mendapatkan kesempatan untuk umrah.

Di Baitullah dia kembali dikejutkan dengan kuasa-Nya. Ritual umrah dijalaninya dengan penuh kemudahan. Dia pun merasa tegang sekaligus merinding. Dihadapan kabah ia diberdoa, agar keluarganya bisa menerimanya.

Doa itu pun dikabulkan yang Maha kuasa. Sepulangnya dari Makkah, dia mendapat telepon dari keluarganya di Manado. Dia pun terkejut. "Keluarga saya menelpon sekitar Juni akhir, sampai saya menangis doa saya didengarkan," kata ibu dari tiga anak ini.

Keluarganya ternyata ingin bertemu dengannya. Komunikasi pun lancar layaknya tanpa ada masalah. Hingga kini, Alisya dengan keluarganya selalu berkomunikasi. "Mereka menghargai saya sebagai seorang Muslim, dan saya menghargai mereka sebagai seorang nasrani," ujarnya.

Bahkan komunikasi yang terjalin sudah sampai pada pembahasan tentang Islam. Alisya mengatakan dia banyak mendapat pertanyaan tentang teroris dan jihad dari mereka. Dia pun menjelaskan kepada keluarganya bahwa hal itu bukanlah Islam sesungguhnya.

Kini, Alisya mulai menerjuni dunia mubaligh. Bersama-sama teman-temannya yang mualaf ia mendirikan paguyuban mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa. Harapannya, para mualaf memiliki wadah untuk berbagi dan belajar tentang Islam. Ia ingin terlibat membantu saudara-saudaranya yang memang membutuhkan arahan tentang mengenal Islam dan mempelajarinya. Hal yang sama juga ditujukan pada keluarganya. "Saya berharap keluarga saya diselamatkan atau diberi hidayah seperti saya."[Republika]

Ayesha Kim,Kini ia dikenal sebagai "mercusuar" iman untuk wanita Korea

0

Dari namanya, orang akan tahu dari mana dia berasal. Ia sengaja tak membuang Kim dari nama barunya, Ayesha, setelah masuk Islam. Kim adalah identitas Koreanya.

Kini ia dikenal sebagai "mercusuar" iman untuk wanita Korea, dan khususnya bagi siswa perempuan negara itu. Dia membimbing mereka menuju jalan Kebenaran Islam. Ia aktif berdakwah, dari kampus ke kampus. Ia lebih menyukai pendekatan logika dalam mengajarkan Islam.

Islam pertama kali datang pada suaminya, Imam Mahdevoon, yang kini ketua Persatuan Muslim di Korea Selatan. Perdebatan panjang beralhir pada tekad, mereka berdua akan selalu bersama untuk melintasi jalan Kebenaran.

Aisyah mampu menemukan kebenaran di tengah-tengah perang dahsyat yang berkobar ketika ia memilih Islam untuk agamanya. Ia mengadopsi nama Ayesha Islam setelah nama istri mulia Rasulullah SAW. Dia berpikir bahwa akan menjadi sumber berkat bagi dirinya. "Serangan misionaris di Korea sangat gencar, saya nyaris berbelok sebelum dalam Islam yang saya menemukan kebenaran yang saya yakini."

Ketika ditanya tentang keterlibatan awal dirinya dengan Islam, ia pertama diam dan memejamkan mata, seolah-olah dia berusaha mencari sesuatu yang tersembunyi dalam relung hatinya. Setelah beberapa saat terdiam, ia melanjutkan, ia ingin ketenangan dalam hidup. Suaminya, telah lebih dulu berislam.

"Kebenaran suara hati saya mendorong saya bahwa ada satu-satunya cara untuk mencapai Kebenaran," ujarnya.

Pada waktu yang sama pecah Perang Korea yang memaksanya untuk berpindah sampai ke pelabuhan Pusan. Ia makin merenungi makna hidup. "Akhirnya saya berkata pada suami saya bahwa "oke, saya akan masuk Islam" setelah saya melihat, memang Islamlah satu-satunya benteng untuk menyelamatkan diri kita sendiri serta masyarakat," katanya.

Tentang keterlibatannya dalam dunia dakwah, tak lepas dari persinggungannya dengan Omar Kim, mualaf Korea pada tahun 1950-an.

"Dia telah memeluk Islam secara terbuka. Sebelum meninggal dia pernah berpesan, tepatnya mendesak kami, untuk menyebarkan pesan-pesan Islam dan mengundang orang untuk menerima Islam," ujarnya.

Usai perang, ia melaksanakan amanah Kim. Ia mendatangi keluarga korban dan menguatkan. Beberapa tertarik masuk Islam, beberapa lagi tetap menganut agama lamanya, namun hubungan mereka tetap terjalin hingga bertahun-tahun kemudian.

Setelah ini, dia mengarahkan perhatian terhadap anak-anaknya. Dia berkata, "Saya hanya memiliki dua anak perempuan saya menahan kesulitan tentang mereka. Tapi saya menyadari bahwa setelah semua ini, kebenaran yang bicara."

Yang dia ceritakan, adalah anak sulungnya. Ingin "merdeka", ia menolak segala bentuk campur tangan orang tuanya. Namun di usia 25 tahun, ia menerima berita lain, "Hati saya tenang bila mendengar Alquran dibacakan. Tapi saya akan mencari informasi yang maksimal tentang Islam sebelum memutuskan (untuk bersyahadat atau tidak)," ia menirukan omongan anaknya.

Setelah beberapa waktu, dia juga menerima Islam. Namanya diubah dari Yoong menjadi Jamila. Dia menikah dengan seorang Muslim Korea. "Putri saya yang lebih muda menerima Islam pada usia 20. Dia juga menikah dengan seorang Muslim Korea. Dia tinggal di Korea di dekat kami."

Ia tenang, mempunyai sandaran yang bisa diandalkan. "saya telah mempercayakan seluruh persoalan kepada Allah. Anggota keluarga yang lain belum Muslim, tapi saya telah mempertahankan hubungan ini tetap harmonis sesuai dengan prinsip-prinsip Islam," ujarnya.

Ia kini aktif berdakwah di kalangan wanita Korea. "Saya telah mendorong banyak wanita Korea untuk menerima Islam, saya telah membuat mereka memahami bagaimana Islam melindungi hak-hak bersama pasangan yang telah menikah, dan bagaimana Islam menyediakan dasar untuk kehidupan keluarga.. Segala puji bagi Allah, saya telah berhasil membimbing sejumlah besar wanita ke jalan Kebenaran."

Usaha ini bukannya tanpa rintangan. "Kesulitan lain adalah bahwa gadis-gadis yang baru menjadi Muslim harus tinggal di sebuah masyarakat di mana agama mayoritas memiliki otoritas. Untuk alasan ini, dalam rangka menjaga semangat gadis-gadis ini, adalah penting untuk mengatur pertahanan yang efektif. Pertahanan itu datang hanya melalui lembaga pendidikan Muslim. "

Ia bersyukur, para mualaf Korea cukup istikamah. Mereka umumnya juga menjadi pendakwah baru, seperti dirinya. Mereka juga terus didorong untuk aktif melakukan kegiatan sosial. "Itulah sesungguhnya inti pesan Islam, menjadi rahmat bagi siapa saja di sekelilingnya," ujarnya.

Gaby Gonzales, salah satu dari ribuan Latin yang telah masuk Islam

0

Sama seperti keturunan Hispanik lainnya yang telah lebih dulu menjadi Muslim, Gaby Gonzales juga selalu menolak disebut mualaf. Menurutnya, dia tidak berpindah agama, tapi "pulang" pada agama yang dianut nenek-moyangnya. "Saya kembali pada Islam," ujarnya.


Menurutnya, jauh sebelum Islam asuk ke Amerika dan negara lain di dunia, Spanyol telah lebih dulu berada di bawah kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun sebelum kerajaan Kristen Moor merebutnya pada tahun 1492. Dan sama seperti mualaf lainnya, ia menghidupkan tradisi masa lalu: memadukan nama Islam dengan nama asli mereka. Namun sehari-hari, ia lebih suka dipanggil dengan nama Islam; nama asli hanya untuk keperluan resmi.

Gaby lahir di Honduras, 20 tahun lalu. Di masa lalu, ia terfokus pada dirinya sendiri. "Saya tidak berpikir tentang orang lain, tentang orang tua saya, hanya saya dan lingkaran teman-teman saya," ujarnya. Sekarang, setiap hari ia berusaha untuk menjadi lebih baik, untuk melakukannya dengan baik, untuk membantu orang lain dan berhenti menjadi egois dan sombong.

Bahkan, ia mempunyai julukan baru di antara teman-teman kuliahnya di jurusan antropologi di Montclair State University: Suster Gaby. Pasalnya, ia kini berjilbab, dan jilbab warna giok hijau adalah favoritnya.

Gaby adalah salah satu dari ribuan Latin yang telah masuk Islam. Mualaf Latin beberapa tahun terakhir memadati banyak mesjid, termasuk beberapa di North Jersey. Bahkan, kini mereka mengorganisasi diri dengan embel-embel "Latino Muslim" dalam nama organisasinya. Bahkan, kini mulai dirintis penerbitan Alquran terjamah bahasa latin dan dai berbahasa Latin.


***

Seperti Hispanik banyak yang memeluk Islam, Gaby berasal dari keluarga Katolik yang saleh. Di Honduras, neneknya selalu memastikan bahwa ia benar-benar mengikuti aturan agama. "Nenekku akan mengamuk kalau aku tidak pergi ke gereja, kalau aku tidak membaca Alkitab hari itu. Akibatnya aku tak pernah berkembang secara alami," ujarnya.

Seperti remaja umumnya, di usia "memberontak", ia kerap berbenturan dengan aturan sang nenek. "Aku selalu stres, melakukan hal-hal saya tidak harus aku lakukan. Bila tersadar, aku akan selalu berdoa 'Tuhan, tunjukkan aku jalan-Mu yang lurus'," ujarnya.

Lepas dari SMA, ia melirik Amerika Serikat sebagai tempat menimba ilmu selanjutnya. Di negeri ini, ia bertemu teman dati berbagai bangsa dengan beragam latar belakang keyakinan.

Namun, ia mengaku hatinya tertambat pada Islam. Ilmu yang dipelajarinya barangkali sedikit banyak menyokong ketertarikannya; khususnya tentang peran Islam di abad pertengahan.

"Saya membaca lebih banyak tentang Islam yang saya ingin tahu. Untuk mengetahui apa yang menyebabkan begitu banyak orang untuk menyerahkan sepenuhnya kepada agama ini. Ketika saya membaca Quran, saya menemukan kebenaran itu berbicara tentang melayani orang lain, menempatkan orang lain terlebih dahulu.." ujarnya. Islam membuatnya merasa berlabuh.

Tapi belajar dari temantemannya yang telah lebih dulu menjadi Muslim, mereka "membayar mahal" untuk berpindah agama; antara lain dibuang keluarga. Mereka juga menjadi bahan ejekan dan peringatan oleh sesama Hispanik, apalagi bagi Muslimah yang bertukar penampilan juga.

Namun hatinya sudah mantap. Dan betapa beruntungnya dia, ketika akhirnya keluarganya menerimanya dengan hangat.[republika]

Kini Mantan Gangster itu merasakan ketenangan dan keteraturan hidup

1 komentar

Saat pindah ke bagian barat Jerman, usai tembok Berlin runtuh, Sayed Mann, kala itu 12 tahun, adalah bocah yang tengah bingung mencari identitas diri. Keluarganya berasal dari Jerman Timur.

Tumbuh besar di lingkungan sosialis, agama tidak pernah ada dalam kamus keluarga dan hidupnya. Ia cenderung tersenyum sinis saat melihat orang-orang pemeluk keyakinan tertentu, termasuk Muslim,

Di Jerman Barat ia melihat situasi yang berbeda. Imigran lebih banyak dijumpai dan ia pun berkawan dengan beberapa orang asing.

"Saya tidak terbiasa dengan kehidupan baru saat itu," aku Sayed. "Kami tiap hari hidup seperti sampah. Idola kami adalah orang-orang kulit hitam Amerika yang tinggal di pemukiman terisolir," tuturnya.

Mengidolakan mereka, pria yang dulunya bernama Sved Mann itu pun juga mencontoh perilaku para imigran itu. "Saya melakukan banyak hal buruk termasuk mencuri dan sebagainya," kenang Sayed.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang imigran berasal dari Turki yang menjadi kawan akrabnya. Si kawan itulah yang kemudian mengenalkan Sayed pada Islam dan berhasil mengajaknya memeluk agama tersebut.

Kawan Sayed memiliki kakak lelaki seorang imam masjid lokal. Ketika si adik memberi thau niatnya untuk mengajak Sayed berkunjung ke masjid, sang imam mengaku pesimis.

"Saya bilang, 'Dia? Tidak Mungkin'. Tapi adik saya sudah bertekad bulat. Bahkan ia mengatakan Sayed akan memeluk Islam sepulangnya saya dari bepergian," tuturnya.

Tiga bulan kemudian, ketika si imam pulang kembali ia tiba-tiba disambut oleh Sayed dengan sapaan Assalamu'alaikum. "Wow saya terkejut. Ini benar-benar luar biasa," ujarnya. "Saya bahkan sempat bertanya (pada Sayed-red) 'Apa yang terjadi padamu?'".

Rupanya si imam memahami selama ini Sayed selalu mencari, namun ia tak pernah-pernah meluangkan waktu dan cenderung mengabaikan ketimbang bersungguh-sungguh.

"Ia mengatakan selalu percaya dengan keberadaan Tuhan, saya kira itulah yang menuntun dia," kata si imam. "Saya melihat ia bahagia telah menemukan Islam.

Kini si imam bahkan menjadi guru mengaji Sayed. Dengan disiplin ia belajar bahasa Arab demi dapat membaca Al Qur'an

Tapi Sayeed tak ingin disebut pindah agama. "Tak pernah ada istilah berubah agama dalam Islam," ujarnya. "Dalam Al Qur'an disebutkan tak ada paksaan dalam beragama," imbuh Sayed lagi.

Lalu? "Saya lebih suka mendeskripsikan sebagai 'seseorang telah mengenalkan saya pada Islam dan saya menuju agama itu," papar Sayed.

Ketika ditanya oleh Cengiz Kultur, sebuah proyek independen pembuatan film dokumenter tentang agama dan budaya di Jerman, mengapa ia memilih Islam, dengan mantap Sayed menjawab, "Karena pada akhirnya semuanya adalah, Islam," ujarnya menekankan pada makna kata tersebut yakni berserah diri.

Ia telah mengucapkan ikrar dengan syahadat sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu ia rajin membaca untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam apa makna Islam, termasuk bagi dirinya.

Islam bagi Sayed adalah menyerahkan keinginan diri di bawah kehendak Tuhan. Mengapa ia mau melakukan? "Karena dengan itu nanti saya dapat bertemu dengan Pencipta saya, saya dapat menjumpai surga. Saya berhak untuk itu dan saya kira itulah Islam menurut saya saat ini," papar Sayed ketika ditanya esensi Islam o

Sejak sepuluh tahun pula, Sayed melakukan shalat lima kali dalam sehari. "Ketika anda shalat anda absen dan istirahat dari dunia dan seluruh isinya. Anda membersihkn dan menghadap Sang Pencipta," ujarnya.

Ia mengaku tak ada strategi khusus untuk melakukan shalat lima kali dalam sehari di Jerman. "Setiap orang pasti bisa menemukan tempat untuk berwudhu, membasuh diri dan melakukan shalat," ujarnya tanpa beban.

Sayed mengaku menemukan keyakinannya setelah diskusi panjang dengan si kawan tadi dalam satu malam. "Setelah itu saya langsung menyatakan ingin pergi ke masjid bersamanya," ungkap Sayeed.

Ketika itu subuh dan seorang anak kecil tengah melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Tiba-tiba Sayed pun menangis. "Saya tidak tahu mengapa. Saya tidak paham bahasa Arab, saya tidak tahu apa yang ia baca, tidak tahu apa pun," kenangnya.

"Tapi hati saya jelas telah memahami sesuatu. Itu benar-benar pengalaman luar baisa," tutur Sayed. "Saya yang terbiasa dengan hidup jalanan ala gangster tiba-tiba menangis dan tidak tahu mengapa."

Kini selain ketenangan dan keteraturan hidup Sayed juga menemukan hal berharga laindalam Islam. "Ketika anda menjadi seorang Muslim, anda kehilangan teman tetapi anda mendapatkan saudara," ujarnya. Dengan segera anda menjadi anggota sebuah keluarga. Ini sesuatu yang tidak bisa saya peroleh dalam gereja-gereja di Jerman."

Jenifer sebelumnya tidak membayangkan kalau Akhirnya menjadi seorang Muslimah

0
ia minta dipanggil Jennifer saja. Belum setahun perempuan asal La Courneuve, sebuah kawasan di utara Paris berusia 28 tahun ini masuk Islam. tepatnya, ia bersyahadat pada April tahun lalu.

Beberapa tahun yang lalu, katanya, dia tidak akan pernah membayangkan mengambil keputusan semacam ini. Jennifer, yang memilih untuk tetap menggunakan nama itu kendati telah menjadi Muslim, dibesarkan dalam keluarga Kristen KTP. Meskipun tidak pernah dibaptis, dia bilang dia selalu "percaya pada Tuhan" dan "percaya pada kekuatan doa."

Bukan asal bicara kalau soal ini. Pada pernikahan pertama, ia mengalami penganiayaan fisik oleh suaminya. "Doa-doa membantu saya untuk menjadi nyaman. Tidak terlalu banyak, lima menit sebelum tidur meminta Yesus Kristus untuk membantu. Tapi itu membantu untuk memberitahu diri sendiri bahwa ada pihak lain -- yaitu Tuhan -- yang bisa membantu," jelasnya.

Pun ketika akhirnya ia memutuskan bercerai, hidupnya tak kunjung tenang. Masalah tempat tinggal, seorang anak yang harus dihidupinya, dan kontrak kerja yang sementara selalu membayangi, di samping mantan suami yang terus merongrong. "Saya berpikir, tidak bisa melanjutkan hidup saya," katanya.

Kemudian, suatu malam di klub malam, ia bertemu dengan pria imigran asal Senegal. "Saya tidak pernah berpikir saya akan menikah seorang Muslim. Mereka adalah jenis pria yang gemar memukuli istrinya. Tapi belakangan saya sadar, prasangka saya itu jahat sekali."

Malam itu, pria Senegal itu tampak aneh di matanya. Ia tak minum, dan datang ke klab malam hanya untuk main poker. Mereka pun berteman sejak saat itu.

Dalam kesehariannya, pria itu tampak normal, katanya. "Hanya satu yang membedakan dengan yang lain, dia tak minum dan tak makan daging babi," katanya.

Meski sesekali berbicara tentang agama, dia tak pernah meminta Jennifer pindah agama. Namun satu candaannya, sangat membekas di hati Jennifer. "Suatu saat dia melihat saya berdoa, dan setelah saya selesai, dia bercanda, 'aku harap tadi kau tak sedang berdoa pada Yesus'."

Entah mengapa, ia tergelitik untuk mencari tahu tentang Islam melalui internet. Jennifer menemukan bahwa Muslim percaya kepada Yesus, tapi sebagai nabi. "Sementara dalam Alkitab, saya menemukan perbedaan antara Yesus dan Allah tampak ambigu. Islam seperti agama yang paling masuk akal pada tataran moral dan praktis," tambahnya.

Ia makin rajin mempelajari Islam. Hingga akhirnya pada bulan April, ia memiliki keberanian untuk bersyahadat, menafikan apa kata keluarga dan teman-temannya kemudian.

"Saya menjadi Muslim secara online, melalui sebuah website," ujarnya. Merasa tak puas dengan cara itu, "Akhirnya saya mendatangi masjid, dan di sana saya kembali bersyahadat."

Apa yang dirasakannya setelah menjadi Muslim? "Saya merasa sendirian," ujarnya tergelak. Maklum saja, ia belajar Islam dari internet dan buku-buku. Namun, kini ia memiliki banyak teman baru di Union des Organisations Islamiques de France (Union of Islamic Organisations of France).

Kini, Jennifer mengaku tengah belajar membaca Alquran. Sesekali, dia tampil berjilbab. ia lebih sering mengenakan pashmina untuk menutupi dada dan rambutnya. "Saya melihat gadis-gadis dengan jilbab mereka dan saya pikir mereka tampak seperti putri. Benar-benar indah," katanya.

Sebelum mendapat hidayah , ia merasa jiwanya kosong

0

Dalam soal penampilan, Kai Luhr tampak paling beda. Kai yang bersujud diantara pria-pria lain bercambang yang mengenakan baju tunik putih saat menunduk ke arah Mekkah, terlihat bersih dengan wajah tercukur rapi. Ia mengenakan jins dan jaket abu-abu.

Ia mungkin lebih cocok hadir di perkumpulan Gereja di sebelah. Namun terlihat jelas, ia paham bagaimana menjalankan shalat lima waktu. Ia juga melakukan ruku dan sujud serta berdoa dalam bahasa Arab. "Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya", lalu sujud lagi, berdiri, ruku lagi, begitu hingga duduk tahiyat akhir dan melakukan salam.

Kai Luhr adalah seorang dokter praktek di Jerman. Ia beralih memeluk Islam bersama istrinya dua setengah tahun lalu. Sejak itu ia mengganti nama menjadi Kai Ali Rashid, sementara sang istri berganti menjadi Katrin Aisha Luhr.

Kedua pasangan itu sempat tampil dalam sebuah wawancara di televisi. Dalam wawancara Katrin Luhr mengatakan sebelum mendapat kehormatan berupa hidayah memeluk Islam, ia merasa jiwanya kosong. Ia mengaku pergi ke gereja dari waktu ke waktu namun gagal menemukan jawaban yang ia cari. Kini ia menyatakan tak pernah menemukan kegembiraan seperti ini sebelumnya, juga jawaban terhadap pertanyaan di benaknya. Ia juga menikmati setiap perubahan bermanfaat yang ia rasakan setelah memeluk Islam.

Sementara Kai Luhr mengatakan ia memiliki impresi besar dengan sifat alami logis dan rasional dari jawaban yang ia peroleh begitu ia mengenal Islam pertama kali.

Kini pria berusia 43 tahun itu secara rutin menghadiri shalat Jumat di masjid di Frechen, dekat Cologne, dimana ia berjamaah bersama dengan imigran Maroko, Palestina dan dua orang Jerman lain yang juga memeluk Islam--satu mantan petinju, seorang lain teknisi. "Anda akan bertemu dengan sedikit Muslim asli kelahiran Jerman di masjid manapun pada hari-hari sekarang," ujar Luhr,

Sebuah buku berisi studi tentang kehidupan islam di Jerman menukilkan sedikit kisah dokter Jerman tersebut. Studi itu memberi seberkas cahaya terhadap fenomena yang mungkin mengejutkan bagi orang-orang dengan stereotip negatif Islam di Jerman, di mana agama itu diasosiasikan sebagai terorisme, pernikahan paksa dan pembunuhan atas nama kehormatan.

Di Jerman, sekitar 4.000 orang beralih memeluk Islam hanya dalam satu tahun dari Juli 2004 hingga Juni 2005. Studi yang dibiayai Menteri Dalam Negeri Jerman dan dilakukan oleh Institut Muslim untuk Arsip Islam Jerman, mengungkap jumlah warga Jerman yang memeluk Islam meningkat empat kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sebagian besar mereka yang beralih ke Islam, melakukan atas kesadaran dan keinginan sendiri. Banyak dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi dan warga kelas menengah, seperti Kai Luhr.

Dibaptis dan dibesarkan sebagai Kristiani, Kai mengambil jurusan kedokteran di universitan dan membuka praktek dokter umum. Ia kemudian mengambil spesialisasi dalam pengobatan naturopathik. Pendapataan Kai boleh dibilang sangat baik.

Luhr kemudian menikahi Katrin, seorang penari profesional dan mereka pun pindah ke apartemen bersama. Namun, di beberapa titik, pasangan itu menyadari ada sesuatu yang hilang. "Ketika ada orang-orang sakit kritis datang ke tempat praktek saya setelah awalnya seorang yang hebat tapi menjadi ringkih, itu membuat anda kadang merasa putus asa," tutur Luhr. Ia pun terdorong untuk lebih mendalami Kristen, Budisme dan Dalai Lama. Namun ia masih tak menemuka jawaban.

Proses beralihnya Luhr bisa dibilang hampir tipikal. Banyak orang yang beralih ke Islam awalnya penganut Kristen yang di titip tertentu mulai mengalami keraguan tentang agama mereka, demikian ujar seorang imam Berlin, Mohammed Herzog, seorang petinggi Gereja yang menjadi Muslim pada 1979.

Jumlah Muslim yang berbahasa Jerman di masjidnya juga meningkat. "Masih 10 tahun lalu, rata-rata jumlah yang beralih ke Islam setiap tahun sekitar 50 orang,--kini jumlah itu jadi dua kali lipat," ujarnya. "Hanya saja jarang sekali mereka yang memeluk Islam sebelumnya adalah atheis," ujarnya.

Seorang Kristen fundamentalis, Wohlrab-Sahr, memberi prespektif bahwa Islam membuat sesorang terlihat menonjol di antara kerumunan dalam level cukup mencolok. Terlebih Islam menjadi sorotan setelah banyak media mengulas debat-debat terhadap Muslim yang kerap terjadi. "Islam lebih terlihat sebagai alternatif yang murni," ujar Wohlrab.

Dalam buku disebutkan, mereka--kaum berpendidikan kelas menengah--yang beralih ke Islam karena keinginan sendiri cenderung mengapresiasi "aturan jernih dan jelas dalam berperilaku" yang disediakan dalam Al Qur'an. Seperti Luhr, yang saat ini selalu membawa sajadah di dalam mobil Alfa Romeo GT-nya. Apa alasan Kai Luhr? Salah satunya nilai-nilai di masyarakat Barat yang ia pandang merosot begitu parah. "Dalam Islam, nilai-nilai masih dijunjung untuk sebuah alasan," ujarnya.

Namun lucunya, sekaligus ironis, warga Jerman yang beralih cenderung menjalankan ritual ibadah lebih disiplin ketimbang yang sudah menjadi Muslim sejak Lahir. "Kadang yang terlahir Muslim lebih liberal."

Seorang kantor pengacara di Hamburg memberi contoh menarik tentang itu. Nils Bergner, berusia 36, tahun menghadap Allah lima kali sehari. Pria Jerman itu memiliki seorang kolega Turki, Ali Ozkan, yang juga Muslim. Keduanya mengunjungi masjid bersama-sama. Namun hanya di ruang kerja si pria Jerman, sajadah dibentang benar-benar 5 kali sehari. "Saya tidak bisa saja," aku Ozkan. "Shalat pertama pukul 6.00--masih terlalu pagi,"

Baru-baru ini, mereka diundang ke sebuah acara makan malam. Makanan penutup mulut yang disajikan adalah tiramisu. Bergner enggan karena ada alkohol dalam resep. "Saya bilang, oh kamu tidak mungkin serius," ujar Ozkan. "Makan saja, saya bilang. Itu hanya untuk rasa". Namun hingga akhir acara, Bergner meninggalkan meja dengan tiramisu tidak tersentuh.[republika]

Kisah Empat Remaja Inggris Menemukan 'Kehidupan' Dalam Islam

0

-Hasil survei terbaru dari Faith Matters menyatakan penyebaran Islam di Inggris lebih cepat ketimbang di negara Eropa lainnya. Per tahun, diperkirakan ada sekitar 5.000 mualaf baru di Inggris, sementara di Jerman dan Prancis jumlah mualaf per tahunnya sekitar 4.000 orang.

Peneliti dari Faith Matters menyurvei tiap masjid yang ada di London. Hasilnya, untuk Kota London saja, selama 2010 ada 1.400 mualaf baru. Ini belum termasuk data dari kota-kota di seluruh Inggris Raya.

Direktur Faith Matters, Fiyaz Mughal, mengatakan maraknya Islam di Inggris dipicu karena tingginya sorotan publik atas umat Muslim. "Warga ingin tahu apa sebenarnya Islam. Dan ketika mereka sudah tahu, sebagian kecil ada yang menjadi mualaf. Mereka menemukan kedamaian dalam Islam," katanya.

Simak pernyataan Hana Tajima (23 tahun) yang bekerja sebagai perancang busana. "Awalnya aku memiliki beberapa teman Muslim saat kuliah. Saat itu aneh saja. Mereka jarang keluar malam, ke klub atau nongkrong," katanya.

"Dan ketika aku mengambil mata kuliah filsafat, aku mulai bingung dengan makna hidupku. Padahal saat itu aku cukup terkenal di kampus. Aku sudah merasa cukup. Tapi aku bertanya, betulkah ini kehidupan yang aku inginkan?" kata Tajima, panjang lebar.

"Lalu aku membaca literatur tentang Islam dan perempuan. Anehnya, ternyata mereka sangat relevan. Semakin banyak aku membaca, semakin yakin aku terhadap Islam," katanya.

Lain lagi dengan pengalaman Denise Horsley (26) yang bekerja sebagai guru menari. Ia kenal Islam lewat pacarnya. "Saat itu banyak orang bertanya apakah aku menjadi mualaf karena pacaran? Aku jawab tidak! Aku menemukan Islam. Aku tumbuh sebagai penganut Kristen," katanya.

Horsley kini mengenakan jilbab. Ia mengatakan, jilbab adalah konsep penting dalam Islam. "Kerudung ini bukan sekedar pakaian atau tren. Mengenakan jilbab justru menyatakan kejujuran atas diri sendiri dan apa yang akan kau lakukan," katanya.

"Sebenarnya sih, aku masih orang yang sama dengan yang sebelumnya. Cuma aku tidak minum-minuman keras, makan babi, dan sekarang aku shalat lima kali sehari," katanya.

Pengalaman Dawud Beale (23) lebih unik. Sebelumnya, ia adalah pemuda rasis yang menyepelekan Islam. "Lalu aku berlibur ke Maroko. Di situ pertama kali aku berkenalan dengan Islam. Aku akui sebelumnya aku penganut rasis. Tapi sepekan usai pulang dari Maroko, aku memutuskan memeluk Islam," katanya.

Beale bermukim di Somerset. Ketika ia baru-baru menjadi mualaf, sangat sukar menemukan masjid di Somerset, yang memang tidak ada. Ia lalu bertemu dengan rekan-rekan dari Hizb-ut Tahrir, gerakan politik Islam. "Ternyata banyak yang media barat katakan tentang Islam salah," katanya.

"Aku yakin sudah menemukan jalan hidup yang tepat dalam Islam," katanya lagi.

Sementara Paul Martin (27) mengatakan ia menikmati gaya hidup sebagai muslim. "Awalnya aku berkenalan dengan Islam setelah mengamati gaya hidup teman-teman Muslim. Mereka tampak menikmati betul hidup, tidak merusak tubuhnya. Setelah itu, aku mendalami Alquran," katanya.

Seorang teman Martin lantas mengenalkannya ke seorang tokoh Islam yang berprofesi sebagai dokter. Martin banyak berkonsultasi tentang Islam dengannya. Mereka mengobrolkan Islam di kafe. "Saya mengucapkan dua kalimat syahadat saya di kafe," kata Martin. "Saya tahu banyak yang mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid, tapi bagi saya, Islam bukan sekedar tempat di mana kau percaya pada Allah SWT. Islam adalah tempat di hatimu," katanya.[telegraph/republika/faith-matters]

Kedamaian dari dalam hanya bisa diperoleh dengan menyerahkan diri kepada satu tuhan.

0

Amir Junaid Muhadith lahir di Chauncey Lamont Hawkins, Harlem, New York, Juni, 35 tahun silam. Ia lebih dikenal dengan nama panggungnya, Loon, mantan rapper Afro-Amerika, salah satu anggota Bad Boy Records milik Sean P. 'Diddy' Comb

Saat bersama Bad Boy, Amir mengaku tidak pernah merasakan kepuasan pribadi meskipun menikmati puncak kehidupan materi, kesejahteraan, sukses dan ketenaran. Seberapa keras ia berupaya, ia mengaku tak merasakan kedamaian di dalam dirinya.

"Loon bekerja di luar sistem diri saya," ujarnya mengenang sosoknya menyandang nama Loon ketika bergabung dengan Bad Boy "Kini saya bahagia menerima Islam dan menemukan kedamaian dalam benak, sesuatu yang selalu saya cari dalam bisnis musik. Terima kasih kepada Islam, sehingga saya mampu melengkapi pencarian dan kini saya sangat merasa damai. Bad Boys sudah usai. Saya kini dapat anda panggil "good boy." paparnya.

Amir mengucapkan syahadat pada Desember 2008 silam ketika melakukan tur di Dubai, Uni Emirat Arab. Kisah hidupnya dimulai dari tumbuh besar di lingkungan terisolir (ghetto) khusus kulit hitam di Harlem, New York, menjadi anggota geng jalanan hingga membentuk grup rap dan akhirnya menyadari kebenaran Islam sangat menginsipirasi kaum muda, terutama kulit hitam di AS

Kabar bahwa ia masuk Islam pun mendapat slot khusus dalam tayangan Al Jazeera, satu-satunya stasiun jaringan berita independen di Timur Tengah. Dalam pernyataan publiknya, Loon mengatakan kedamaian dari dalam hanya bisa diperoleh dengan menyerahkan diri kepada satu tuhan.

"Hidup untuk sesudah mati, bukan untuk kehidupan saat ini, adalah kepuasan dalam meyakini, memuja dan memohon kepada Allah," ujarnya. "Itulah mempraktekkan agama Islam yang indah."

Ketika akhirnya memeluk Islam, sempat muncul pertanyaan apakah Amir masih akan mengejar karir sebagai penyanyi rap? "Saat ini saya fokus mempelajari Islam dan memperluas pengetahuan tentang cara hidup islam," paparnya. "Berada di posisi yang mempengaruhi, saya pertama-tama harus mampu melindungi diri sendiri," ujarnya.

Ia menilai media kadang mencoba menggunakan transisi yang dilakoni para artis sebagai celah untuk mengolok-olok Islam, atau keyakin apa pun yang mungkin dipilih seseorang. "Namun Allah tahun yang terbaik, mungkin saya akan kembali ke rap," ungkapnya.

Namun kemudian, ia mengacu pada lagu Busta Rhymes, yang dipengaruhi budaya arab "Arab Money'. Lagi itu memasukkan fitur teks ayat-ayat Al Quran dalam musiknya.

"Pemerisa terbesar yang dijangkau sebagian besar artis rap khususnya berada di Klub. Jadi bisa dibayangkan, orang-orang dalam klub melantunkan ayat-ayat atau hal-hal berkaitan dengan Islam, itu sangat salah," ujarnya.

"Pengucapan dan kata-kata adalah hal yang selama ini selalu saya perhatikan. Saya memiliki kemampuan liris yang bisa menjadikan Islam menjadi indah. Namun, sulit untuk berjalan dengan lurus dalam garis ketika ada musik di latar yang memberi ritme tarian, atau membuat seseorang tak mampu memahami pesan sesungguhnya yang kita bawa. Kita sungguh harus berhati-hati," ujarnya. [ Republika]