Subhanallah...Di Dubai,100 ekspatriat dari berbagai bangsa bersyahadat

0
Sebanyak 100 ekspatriat dari kebangsaan berbeda mengucapkan dua kalimat syahadat pada Oktober tahun ini. Demikian laporan Pusat Informasi Islam Dar Al Ber,  Dubai, Senin (7/11).

Direktur Pusat Dar Al Ber, Yusuf Al-Saeed, mengatakan setiap hari ratusan orang, dari berbagai negara mengunjungi untuk mengetahui tentang Islam. Jumlahnya bahkan cenderung naik setiap harinya, dan yang lebih penting lagi mereka yang datang lebih memahami betapa Islam begitu toleran dan penuh kedamaian.

"Non-Muslim memiliki kesempatan untuk bertemu mualaf dan mendengarkan pengalamannya dalam bahasa mereka sendiri. Hasilnya, pesan yang tersampaikan tentang Islam diterima dan direspon dengan baik," papar dia seperti dikutip www.khaleejtimes.com, Senin (7/11)



Yusuf mengungkap pada Agustus lalu, Dar El Ber mengumumkan lebih dari 1.000 ekspatriat dari kebangsaan berbeda masuk Islam tahun ini. Sementara tahun lalu, jumlah ekspatriat yang memeluk Islam mencapai 1.521 orang (548 pria dan 973 wanita). Sebelumnya, tahun 2009 silam, jumlah ekspatriat yang memeluk Islam mencapai 1059 (309 pria dan 750 wanita).

Dari mereka yang menjadi mualaf, ungkap Yusuf, Filipina berada ditempat teratas dengan 80 persen, diikuti India dan Cina. Lalu disusul Inggris, Amerika, Jerman, Perancis, Italia, Rumania, Rusia dan Belanda. "Mereka tersentuh dengan ajaran Islam yang memerintahkan pengikutnya untuk bersikap jujur, adil dan baik kepada semua orang, tanpa mempertimbangkan agama, ras, bahasa dan warna," katanya.

Guna mendukung para mualaf belajar mendalami Islam, Dar EL Ber membuka kelas tentang Islam. Dalam kelas bimbingan ini, para mualaf mendapatkan literatur tentang Islam baik berupa buku ataupun CD. Adapun bahasa pengantar yang digunakan meliputi  Cina, Rusia, Tagalog, Inggris, Urdu, Hindi dan Arab.[republika]

Keislaman Abdullah kini jadi Cahaya bagi Muslim dan NonMuslim

0

Seorang mualaf terkadang lebih taat menjalankan ajaran Islam dan memiliki lebih banyak pengetahuan tentang agama Islam, dibandingkan dengan mereka yang memang sejak lahir berasal dari keluarga muslim. Itu karena para mualaf, biasanya lebih sungguh-sungguh dalam mempelajari dan menghayati ajaran Islam, sehingga bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan mereka sendiri, dan orang-orang di sekitarnya. Kehadiran para mualaf ini, bahkan menjadi cahaya baik bagi komunitas Muslim, maupun non-Muslim.
Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak mualaf di AS. Pendidikannya hanya sampai sekolah menengah atas, tapi ia pernah bertugas di kemiliteran AS selama beberapa tahun dimana ia belajar beberapa ketrampilan teknis. Sekarang, Abdullah mencari nafkah dengan menjadi tukang memperbaiki mesin fotokopi dan fax.
Tapi yang menarik adalah kisah Abdullah menjadi seorang muslim. Saat Perang Teluk kedua atau perang Irak yang diawali dengan invasi AS ke negeri itu, Abdullah masih aktif di dinas kemiliteran AS. Ia ditempatkan di basis militer AS di Arab Saudi. Suatu hari, Abdullah berbelanja di sebuah pasar di Saudi. Ia membeli beberapa barang kebutuhan.
Ketika Abdullah akan membayar barang-barang yang dibelinya pada penjaga toko, tiba-tiba terdengar suara azan dari masjid terdekat. Penjaga toko berkata, "sudah" sambil mengibaskan tangan dan menolak mengurus pembayaran Abdullah.
Abdullah menyaksikan bagaimana penjaga toko itu langsung menutup tokonya dan bergegas ke masjid. Abdullah cuma terbengong-bengong dan bertanya-tanya dalam hati melihat tingkah si penjaga toko itu, "Kenapa lelaki ini tidak mau mengambil uang pembayarannya, padahal harganya sudah disepakati."
Abdullah merasa, seumur hidupnya tidak pernah melihat orang yang menolak uang. Apalagi dalam bisnis, setiap orang pasti saling berlomba-lomba mendapatkan uang. "Orang macam apa penjaga toko ini, agama apa ini yang sangat diprioritaskan penjaga toko ini?" tanya Abdullah dalam hati.
Pikiran Abdullah dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Ia ingin tahu lebih banyak tentang agama yang dianut penjaga toko itu. Ia lalu membaca buku-buku tentang Islam selama bertugas di Saudi, dan akhirnya memutuskan masuk Islam saat kembali ke AS.
Di New York, Abdullah belajar dengan sejumlah ustaz yang mengajarinya pengetahuan dasar tentang Islam dan mengajarkannya membaca Al-Quran. Abdullah pun menjadi seorang muslim yang taat dan selalu berusaha menunaikan salat di masjid. Saat pindah ke Detroit, Abdullah meneruskan kebiasaannya itu dan aktif dalam berbagai kegiatan di masjid Detroit.
Abdullah kini sudah hapal beberapa surat dalam Al-Quran dan mampu membaca Al-Quran dengan lantunan suara yang indah. Ia sering ditunjuk untuk menjadi imam salat dan hapalan Quran-nya terus bertambah setiap hari. Dalam keseharian hidupnya, Abdullah juga berusaha mencontoh apa yang biasa dilakukan Rasulullah Saw. sampai cara Rasulullah tidur dengan posisi menghadap kanan, dan tangan dilipat dibawah kepala.
Suatu hari, ada jamaah masjid yang melihatnya berbaring seperti dan khawatir kalau Abdullah sakit. Tapi Abdullah menjawab bahwa ia baik-baik saja, "Beginilah posisi tidur Rasulullah Saw," kata Abdullah menjawab kekhatiran jamaah tadi.
Abdullah tanpa malu-malu selalu berusaha mempraktekkan apa yang diajarkan oleh Al-Quran dan hadis. Berkat teladan yang ditampakkannya sebagai seorang muslim, Abdullah berhasil membuat banyak anggota keluarganya yang tertarik dengan Islam dan akhirnya memutuskan masuk Islam. Abdullah juga mengajar dan mendidik anak-anaknya sendiri untuk menghapal Quran dan membiasakan diri salat ke masjid, meski di kala Subuh dan dalam kondisi cuaca yang teramat dingin.
Abdullah juga belajar bahasa Arab dengan bimbingan seorang ulama bernama Dr. Syaikh Ali Suleiman. Kemampuan berbahasa Arab-nya yang baik, membuatnya mudah menghapal surat-surat Al-Quran. Abdullah juga belajar tentang hadis, dan sekarang kerap diminta untuk memberikan khutbah Jumat. Dengan keislamannya, Abdullah menjadi penerang bagi banyak non-Muslim menuju ke cahaya Islam. (kw/TTT)

Kaum Aborigin Juga Berbondong Bondong menjadi Mualaf

0


 

SAAT menyaksikan ANZAC parade pada tanggal 25 April 2011 di depan War Memorial, Canberra, saya mendapati demonstrasi yang dilakukan oleh puluhan kaum Aborigin. Mengusung tema “healing spirit” mereka memprotes penindasan oleh bangsa Eropa yang terjadi dimasa lampau, dengan membentangkan tulisan-tulisan protes serta membagi-bagikan stiker bergambar benua Australia bercorak bendera Aborigin. Di antara puluhan demonstran, baik Aborigin maupun orang Eropa pendukungnya, tiba-tiba seorang demonstran seperti blasteran Aborigin-Eropa tersenyum dan menunjukkan kafiyeh di lehernya kepada istri saya (berjilbab), seolah ingin memberikan sebuah isyarat.
Dengan kalung kafiyeh itu ia cukup menonjol di antara para pemrotes tersebut. Saya tidak bisa memastikan apakah ia seorang Muslim atau bukan. Yang pasti senyumannya itu ingin menunjukkan rasa kesedihan yang dialami oleh orang-orang Palestina.



Sebagai seorang Aborigin, ia seperti mengidentikkan dirinya dengan orang-orang yang diusir dari tanah airnya dan tercerabut dari sumber-sumber kehidupannya oleh rezim apartheid, Zionis Israel.
Di tengah cemoohan beberapa penonton parade yang khidmad memperingati kekalahan tentara Australia di Gallipoli Turki, ia mencoba menyampaikan perasaannya ketertindasan yang dirasakan.
Tentang berbagai insiden pembunuhan serta stolen generation (upaya memberadabkan suku-suku Aborigin dengan mengambil paksa anak-anak mereka untuk dididik secara Eropa) yang sempat dirasakan oleh orangtua mereka. Melihat kami Muslim, demonstran Aborigin itu melempar senyum getirnya yang bisa kami terjemahkan; solidaritas!.
Di Australia, Aborigin Muslim adalah komunitas yang berkembang dengan pesat. Jumlahnya sulit diketahui secara pasti, namun perkiraan konservatif berjumlah lebih dari 1000 orang (hasil sensus tahun 2006), meningkat sebesar 60% dari hasil sensus 1996 yang berjumlah sekitar 600 orang. Jumlah Muslim Aborigin di tahun 2011 ini diperkirakan terus meningkat, dari keseluruhan suku Aborigin yang berjumlah 517 ribu orang pada tahun 2006 yang tersebar di seluruh Australia.
Mengenal Islam
Kontak pertama mereka dengan Muslim adalah saat mereka bertemu dengan para pencari teripang orang-orang Makassar dan Bugis yang singgah di Australia Utara setiap bulan Desember dari periode 1700-an sampai 1907. Sejarah selanjutnya terkait dengan para Muslim penunggang unta Afhanistan (dari Rajastan dan Baluchistan) antara 1860 sampai 1890 yang didatangkan oleh kolonial Eropa untuk membantu menembus isolasi gurun pasir Australia mengirimkan bahan makanan serta pembangunan rel kereta api waktu itu.
Kaum Muslim Afghanistan tersebut sempat membangun masjidnya, disamping ada pula yang menikah dengan penduduk asli Aborigin seperti kakek buyut Muslim keturunan Aborigin bernama Shahzad dalam sebuah program televisi multikultural SBS.
Sepeniggal buyutnya kakek Shahzad sempat kembali ke Baluchistan dengan keluarganya, hal yang diakuinya menjaga keIslaman mereka sampai kembali lagi ke Australia. Selain itu, orang-orang Aborigin dari berbagai suku mengenal Islam dari komunitas-komunitas Muslim imigran yang datang ke Australia dalam tahun-tahun terakhir.
Perasaan ketertindasan sejarah adalah salah satu alasan mengapa aborigin dengan nama Muslim Khaled memasuki Islam yang ia kenal saat di dalam penjara. Sementara Justin yang masuk Islam saat menempuh kuliah di jurusan ilmu Hukum merasa dalam Islam ia mendapatkan perasaan merdeka dan terputus dari beban sejarah kelam komunitasnya. Ia sekarang merasakan lebih kuat dan mampu meredam kemarahan serta menjadi manusia seutuhnya, sama seperti manusia lainnya.
Berbondong-bondongnya Aborigin menjadi mualaf setelah mengenal ajaran Islam ibarat sebuah protes karena menurut mereka mengikuti agama orang Eropa seperti menyetujui penindasan di masa lampau. Namun, kemusliman mereka itu juga bukanlah sebuah pelarian semata, karena kadang-kadang mereka lebih mempraktekkan Islam daripada para Muslim imigran yang datang ke Australia karena alasan ekonomi. Setelah memeluk Islam, mereka bisa melepaskan diri dari alkoholisme dan obat-obatan terlarang, penyakit yang parah melanda suku asli Australia itu.
Lebih lanjut, seperti disampaikan Solomon yang mengenal Islam dari rekan kerjanya, nilai-nilai Islam ia rasakan lebih kompatibel dengan adat-istiadat mereka yang cenderung menghargai komunalitas dan saling menjaga. Penghormatan kepada orang yang lebih tua juga mereka rasakan sama dengan nilai-nilai tradisional mereka. Hal tersebut berbeda dengan nilai-nilai bangsa Eropa yang cenderung individualistis, egaliter namun kurang menghargai orang tua dan kebiasaan mandiri sejak dianggap telah dewasa.
Perkembangan Islam yang cepat diantara kaum Aborigin Australia adalah sebuah kenyataan yang mengejutkan, dimana agama Kristen adalah mayoritas meski prosentasenya terus menurun dari tahun ke-tahun ditengah semakin banyaknya orang atheis dan agnostic. Hal serupa juga terjadi pada Muslim Indian Amerika Latin yang masuk Islam sebagai “protes” atas sejarah kelam mereka yang pada abad ke-16 dipaksa masuk agama Katolik oleh penjajah Spanyol. Mereka bertemu kelompok-kelompok kecil Muslim Spanyol (Murabitun) yang melarikan diri ke Benua Latin itu dari sisa-sisa kekhalifahan Spanyol karena menghindari inquisisi kaum Katholik.
Mirip pula yang dirasakan orang-orang Negro Muslim Afrika yang ratusan tahun didatangkan sebagai budak di Amerika Serikat sampai awal abad ke-20. Beberapa keturunan mereka berupaya mencari akar kemusliman nenek moyang mereka yang telah terkikis, seperti termanifestasi dalam gerakan Nation of Islam. Hal yang juga dirasakan seorang Aborigin juara tinju yang menjadi mualaf bernama Antony Mundane yang mengenal Islam dari tulisan-tulisan Malcom X.
Muslim Aborigin yang terus berkembang jumlahnya adalah sebentuk protes atas penindasan bernuansa rasis di masa lampau, meskipun pemerintah Australia terus melakukan banyak upaya untuk mendorong integrasi, multikulturalisme dan pemberdayaan kepada mereka. Di sisi lain, semakin berkembangnya pula mualaf bangsa Eropa di Australia dimana Islam yang terus tumbuh mungkin akan menjadi healing spirit bagi Australia dimasa depan.*/Abu Alfathtinggal di Canberra/hidayatullah/

Manuel Gomez Warga suku Indian Maya yang Bangga menjadi Muslim

1 komentar

Dibesarkan sebagai seorang Kristen, Manuel Gomez sekarang berganti nama menjadi Mohamed Chechev. Tepatnya, setelah ia bersyahadat beberapa tahun lalu. Bersama beberapa Tzotzil lain, iabersyahadat setelah menrima pencerahan dari seorang Muslim asal Spanyol yang bermukim di Meksiko selatan.

"Saya Muslim, saya tahu kebenaran kini. Saya berdoa lima kali sehari, merayakan Ramadhan dan telah melakukan perjalanan ke Makkah," kata Chechev dalam bahasa Spanyol.

Dia tinggal di sebuah komunitas Protestan di Chiapas disebut yang disebut Nueva Esperanza di pinggiran San Cristobal de las Casas. Dia berbagi sebuah rumah sederhana dengan 19 kerabat dan menjual sayuranyang ditanamnya di sebidang tanah.


Referensi Alkitab berlimpah-limpah di Nueva Esperanza, dengan jalan-jalan bernama Betlehem dan sejenisnya. Tetapi, Nueva Esperanza kini juga menjadi rumah bagi sekitar 300 warga Tzotzil, masyarakat adat asal Maya, yang telah masuk Islam dan hidup selaras dengan sisa populasinya.

Istri Chechev yang bernama Noora (terlahir bernama Juana) dan adik iparnya, Sharifa (sebelum berislam bernama Pascuala) juga menjadi Muslim mengikuti jejaknya. Mereka mengenakan gaun panjang dan kerudung menutupi rambut mereka.

Noora adalah putri dari seorang pemimpin pribumi Protestan yang diusir dari San Juan Chamula, kota terdekat di mana Partai Revolusioner Institusional dan keuskupan tertinggi Katolik memerintah. bersama puluhan keluarga lainnya, mereka terusir tahun 1961 karena mempertahankan agama Protestan.
Beberapa langkah dari rumah Chechev, sebuah bangunan sederhana berdiri. Bangunan yang didirikan oleh Gerakan Murabitun, sebuah komunitas Sufi yang didirikan pada tahun 1968 oleh seorang Skotlandia yang telah masuk Islam, kini difungsikan sebagai mushala dan madrasah. 

Dari beberapa mualaf, Chechev belajar Islam. Selain dari kepala suku yang lebih dulu menjadi Muslim, ia juga belajar dari Aurelanio Perez, seorang Spanyol yang berubah nama menjadi Amir Mustapha setelah berislam. Ia mendirikan komunitas Marabutin di Chiapas dan aktif berdakwah di antara suku Tzotzil, suku Indian Maya.

Chechev yang tidak dapat membaca atau menulis Spanyol tapi bisa berbahasa Spanyol, kini fasih melafalkan beberapa surat Alquran dan beberapa doa.

"Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis. Saya juga. Tapi saya bisa melafalkan suci Alquran. Ini adalah keajaiban untuk dapat masuk Islam," katanya.

Di matanya, Allah sungguh penyayang. "Dia mengajarkan kita segalanya dan memberi kita segala sesuatu yang datang dari dia," tambah Chechev.

Dia kini rajin membaca hadis, mempelajari tuntunan keseharian Rasulullah. Lalu, ia mencoba menerapkan dalam kesehariannya. "Petunjuk Islam sungguh komplet," katanya.

Chechev telah melakukan perjalanan ke jantung Islam, di Arab Saudi, pada tahun 1998 untuk menunaikan ibadah haji, dengan bantuan Amir Mustapha. Beberapa kerabat Chechev, termasuk istrinya, turut serta.

"Aureliano mengatakan kepada saya bahwa jika kita menerima Allah, kami harus mengunjungi rumah Allah. Seperti mimpi, kami semua berpakaian putih.Di sana, mereka yang berkulit putih, hitam, orang cokelat, berbaur, tidak ada masalah. Kami semua sama di mata Allah," katanya.

Noora, istrinya,  wajah berbinar begitu dia mendengar tentang Makkah.

"Ketika saya pergi ke sana, aku merasa bangga sebagai Muslim. Saat itu saya berdoa pada Allah meminta masjid untuk kampung kami. Insya Allah, jika Tuhan menghendaki, kami akan memilikinya dalam waktu dekat," katanya.

Noora berharap bahwa putranya, Ibrahim (Anastacio), akan menjadi seorang imam setelah sekolahnya selesai

"Di Chamula, tak menjadi Katolik atau anggota partai PRI adalah sebuah kejahatan. Mereka juga marah karena Protestan menganjurkan berhenti minum alkohol, salah satu bisnis lokal utama," kata Susana Hernandez, yang tinggal di wilayah itu.

sebelumnya. Seorang pemimpin adat bernama Domingo Lopes, yang juga aktivis gereja Advent, belakangan menemukan pencerahan setelah mengenal Islam. 

Ia menyatakan keislamannya tahun 1993, dan menjadi buah bibir di wilayah itu. Namun pada perkembangannya kemudian, banyak yang mengikuti jejaknya; menjadi Muslim.
Menurut antropolog Gaspar Morquecho, sebanyak 330 ribu warga Tzotzil di Chiapasmemang mempunyai sejarah beberapa kali pindah agama. Dulu, mereka dipaksa dengan kekerasan untuk menganut Katolik saat kollonialisme Spanyol merambah wilayah itu pada abad ke-16. Saat itu, hanya sedikit yang beragama Islam. Umumnya, mereka percaya agama leluhur, dan Protestan.

Asiya Abdul Zahir, Buddhist Women Choosing Islam Way

1 komentar
Once converted to Islam, his name became Asiya Abdul Zahir. Both his parents are Buddhists, but he felt as a Christian school in the school because he was Christian and the Christian environment.
“I always believe in the existence of only one Creator, where all that is heavily dependent on the Creator. Since the age of 13, the sole creator of this, every day I pray and ask directions,” said Asiya told his life before converting to Islam.

Setelah 6 Bulan mempelajari Islam akhirnya Sunaku memilih jadi Muslimah

1 komentar

Meski dibesarkan oleh orang tua tunggal, kehidupan Sunaku bisa dibilang nyaman dan serba kecukupan. Sejak ayahnya meninggal, ibunyalah yang membesarkan dan mendidik Sunaku. Ibunya yang selalu berusaha memberikan rasa aman dan memastikan putri satu-satunya bahagia dan terpenuhi kebutuhannya.
"Tapi sejak kecil, saya sebenarnya tidak pernah betul-betul merasa bahagia. Saya malah sering diserang rasa gelisah yang berlebihan," ujar perempuan asal Jepang itu, "saya berusaha mengatasi rasa itu dengan memusatkan perhatian pada studi saya dan jalan-jalan keliling dunia sebagai turis. Tapi rasa gelisah itu tetap sering muncul saya sampai saya lulus sekolah menengah dan berangkat ke Inggris untuk kuliah jurusan Bahasa Inggris."



Suatu ketika saat liburan, Sunaku bersama teman-temannya yang juga dari Jepang berwisata ke Yordania. Seorang temannya yang sudah pernah ke Yordania, mengatur agar Sunaku bisa tinggal dengan warga lokal, sebuah keluar Muslim Yordania. Keluarga muslim itulah yang menimbulkan rasa kagum Sunaku pada Islam, sekaligus membuyarkan penilaiannya yang selama ini negatif terhadap Islam dan Muslim.
"Saya melihat kehidupan mereka sangat praktis dan teratur. Rumah mereka selalu bersih. Saya terkesan dengan kuatnya hubungan antar anggota keluarga mereka dan rasa tanggung jawab yang mereka tunjukkan pada lingkungan sekitar. Ada ketulusan dan rasa saling mempercayai diantara mereka, yang tidak pernah saya saksikan di manapun," kata Sunaku.
"Suami di keluarga itu bekerja untuk menafkahi keluarganya, sedangkan istrinya mengatur rumah dan terlihat senang dan puas dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Saya merasa inilah kebahagiaan yang saya impikan. Pada saat yang sama, saya menyadari bahwa gambaran saya selama ini tentang Islam ternyata salah besar ..."
"Saya tidak tahu realita Islam yang sebenarnya karena tidak pernah bergaul dengan orang Islam. Gambaran saya tentang muslim semata-mata hanya berdasarkan pada apa yang saya lihat di berita-berita tv, dan saya sudah semena-mena menganggap orang-orang Islam sebagai orang yang menyukai kekerasan," papar Sunaku.
Setelah melakukan perjalanan ke Yordania, ia memutuskan untuk mempelajari Islam dan mencari tahu pesan-pesan apa sebenarnya yang diajarkan Islam. Sunaku lalu mengunjungi Islamic Center di Tokyo dan meminta satu buah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Jepang. Ia juga mendapat sebuah buku tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw. Selanjutnya, secara rutin Sunaku belajar Islam di Islamic Center tersebut dengan bimbingan para ulama asal Jepang, Pakistan dan negara-negara Arab, hingga ia benar-benar menyadari bahwa Islam adalah agama kebenaran.
Sunaku merasa keyakinannya bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara alam semesta, semakin teguh. "Makin banyak saya membaca tentang Islam, keyakinan dan pemahaman saya pada Islam makin kuat. Saya menemukan bahwa Islam-lah yang mengangkat derajat kaum perempuan dan membebaskan kaum perempuan secara intelektual," tukas Sunaku.
Setelah enam bulan belajar Islam, Sunaku memutuskan untuk menjadi seorang muslimah dan mendeklarasikan dua kalimat syahadat. Ia mulai menunaikan salat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadan. Sunaku juga mulai menghapal surat-surat dalam Al-Quran.
"Allah memberikan kemampuan pada saya untuk menghapal surat-surat pendek dalam Al-Quran. Saya tertarik pada bahasa Arab, sejak pertama kali saya mendengar bahasa itu. Makanya saya memutuskan untuk mempelajari bahasa yang indah itu. Saya mengambil kursus di bahasa Arab di Islamic Center di Tokyo, dan nanti saya ingin melanjutkannya ke Mesir dengan mengambil studi Islam ..."
"Saya berdoa semoga Allah Swt. menjadikan saya dan kisah saya ini sebagai petunjuk bagi yang lainnya untuk menemukan cahaya Islam, karunia terbesar bagi orang yang menerimanya," tandas Sunaku. (kw/TTI)

Subhanallah... mesti "Terbuang" Akibat perang Vietnam,Kini jadi Dai di Amerika Serikat

0


Namanya Syekh Abdulbahry Yahya. Umurnya cukup muda. Namun mungkin jarang orang tahu, meski berwajah Chinese ia adalah penggiat dakwah. Seorang pria Vietnam yang tumbuh dari keluarga pecinta agama.
Namun sayang, pada gilirannya sang keluarga mesti “terbuang” dari tanah kelahiran akibat perang Vietnam yang berkepanjangan.
Abdulbahry kecil pun kemudian diboyong keluarga menuju Seattle, Amerika Serikat. Disana ia tumbuh besar dan dewasa. Kecintaan besarnya terhadap ilmu agama, mengantarkan dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Islam Madinah.
Sejak saat itu Madinah menjadi kota peraduannya dalam mengais ilmu demi ilmu. Sebuah langkah yang terlihat jarang dilakukan oleh pria Vietnam pada umumnya.



“Di Seattle saya besar selama 30 tahun, kemudian belajar di Madinah selama 6 tahun. Dua tahun kemudian saya mulai bolak balik ke Madinah” ujarnya saat ditanya Eramuslim.com di tengah-tengah kunjungannya ke Jakarta, Selasa 18/10.
Kita ketahui bersama, Vietnam adalah sebuah Negara dimana Buddha Mahayana, Taoisme dan Konfusianisme memiliki pengaruh kuat terhadap kehidupan berbudaya dan beragama masyarakat. Bahkan, menurut sensus tahun 1999, 80.8% orang Vietnam tidak beragama.
Akan tetapi, sapanyana, meski dikelilingi situasi penuh kekafiran, Syekh Abdulbahry tidak tergoda untuk pindah haluan. Ia istiqomah di jalan dakwah. Mungkin karena hal itu jua yang membuatnya semangat untuk melebarkan sayap dakwah ke seluruh dunia tentang betapa solutifnya ajaran Islam.
Pasca enam tahun mengenyam pendidikan di Madinah, ayah empat orang anak ini kemudian kembali ke Vietnam dan Kamboja. Disana ia menjadi seorang guru dan diamanahi poisisi sebagai Direktur Yayasan Amal Ummul Quro.
Kini Bersama keluarganya, pakar Tafsir dan Hadis ini menjabat sebagai Imam Masjid Jaamiul Muslimin di Seattle, WA. Tidak hanya itu, Syekh Bahri juga memegang posisi Presiden Masyarakat Pengungsi Cham dan Wakil-Presiden Islamic Center Washington State.
Syekh Bahry juga termasuk muslim yang banyak mengkirtik modernisme masyarakat Amerika. Pesatnya laju teknologi dan kesibukan tiada henti menjadi keladi dari krisis spiritualitas negeri Paman Sam itu. Maka itu Syekh Abdulbahry Yahya mencoba bergerak mengatasi kekacauan ini. Metodenya terlihat sederhana, yaitu bagaimana Islam bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita menggunakan metode-metode yang memungkinkan masyarakat tahu Islam bukanlah agama seperti yang digambarkan Barat sekarang ini.” Imbuhnya penuh semangat
Bersama Al Maghrib Institute, Syekh Abdulbahry setahap demi setahap mengajarkan masyarakat tentang indahnya ajaran agama Islam. Objek dakwahnya tidak hanya di Amerika, tapi juga Kanada. Khusus Amerika, mereka memiliki 15 cabang.
“Seluruh siswa kami di Amerika tidak pernah berhenti setelah belajar, karena Islam harus dipraktekan ke masyarakat. Dakwah itu tidak boleh berhenti.”
Al Maghrib Instutute berkembang menjadi lembaga pembelajaran keagamaan bagi masyarakat Amerika. Syekh Bahry banyak membuka kelas dan mengundang animo masyarakat Barat. “Al Maghrib memiliki banyak murid dari berbagai latar belakang yang ada.”
Al Maghrib sendiri, kata Syekh Bahry tidak merujuk hanya pada satu mazhab tertentu, namun jika disuruh untuk memilih maka ia akan merujuk kepada Imam Syafi’i. “Kami mengkombinasi seluruh ilmu pengetahuan dalam Islam,” terangnya.
Kini setelah 10 tahun berdiri, Syekh Bahry dan Al Maghrib Institute berencana membuka cabang di Indonesia dan Malaysia. “Dan kita berharap ini tidak saja menyebar di Amerika dan Kanada tapi di seluruh dunia.” pungkasnya. (Pz/mzs/eramuslim)

Dari perjalan spiritual yang cukup Panjang,Akhirnya ia Jatuh Cinta kepada Al Qur'an

1 komentar
Raphael, seorang warga negara Amerika Serikat menyadari betul setiap hal yang terjadi pada manusia sudah ditentukan oleh Allah. Semua itu sudah tertulis rapi, ketika malaikat meniupkan ruh ke dalam rahim seorang ibu ketika usia kandungannya mencapai 120 hari. Ia bersyukur, terlepas dari agama apa pun yang pernah ia anut di masa lalu, kini ia menjadi seorang muslim. Alhamdulillah.

Ia mengaku jatuh cinta dengan Alquran, apalagi dengan surat An-nasr.  “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3)


Alquran menurut dia adalah buku terbaik yang pernah ada. "Buku itu perlu dibaca untuk keselamatan umat manusia. Membaca Alquran sama saja dengan mencari tahu apa kehendak Tuhan," ujarnya.

Perlu perjalanan spiritul yang cukup panjang baginya sampai bisa menikmati nikmat Islam. Ia mengatakan Islam adalah satu-satunya agama yang tak perlu didebat. "Semuanya diterima dengan rasa keimanan," ujarnya.

Setelah memutuskan untuk memluk Islam, ia mengaku menerima apa yang diberikan Allah. Ia berharap  bisa melakukan yang terbaik dalam menjalani agama Islam.

Berasal dari sebuah keluarga yang taat dengan agama Yehuwa di kota kecil Lubbock, Texas barat, ia lahir di lingkungan yang sangat religius. Banyak gereja di kota itu. Disana dikenal pula sebagai pusat studi alkitab. Ia dibaptis dan dibesarkan menjadi seorang penganut agama Katolik sampai berumur enam tahun.

Ketika ia berumur enam tahun, beberapa tamu berkunjung ke rumahnya untuk mencari kakeknya. Tak lama kemudian, sebuah pusat studi injil berdiri di lingkungan mereka.

Setelah itu, Raphael beserta seluruh keluarganya menjadi saksi dari jemaat Yehuwa. Ia mengaku begitu banyak pengetahuan tentang Injil. Ia heran, semakin ia mengenal injil ia justru semakin merasa banyak yang ‘tercemar’ di kitab suci itu. "Sat itu saya berpikir terlalau banyak yang rancu dalam Injil," ujarnya.

Namun, ia selalu menganggap apa yang berasal dari Tuhan semuanya murni. Seperti halnya Taurat yang diberikan kepada kaum Yahudi, ia pun merasa Injil memang diberikan Tuhan kepada umat Nasrani.

Hidup di lingkungan yang taat, membuat Raphael yang sudah dibaptis berganti menjadi penganut Yehuwa pada usia 13 tahun. Sejak saat itu, ia sudah berambisi untuk mengabdikan dirinya kepad Tuhan.

Ia semakin dalam memperlajari Injil hingga di usia 16 tahun, ia sudah mendapatkan kehormatan untuk meberikan ceramah di hadapan para jemaat. Ia mulai berbicara di depan banyak orang sejak saat itu.

Menjelang usia 20 tahun, ia sudah memiliki jemaat sendiri. Ia harus berperan sebagai pendeta yang mengayomi para jemaatnya.

Ia termasuk salah seorang yang cukup mengakar dan tahu luar dalam ajaraan Yehuwa. Ia menyadari betul jamaat ini berbeda dari jemaat lain. Di negara barat, jemaat ini dipandang sebagai jamaat yang cukup ekstrem dan fundamental.

Dalam agama Yehuwa, diajarkan semuanya buruk kecuali penganut Yehuwa. Saksi-saksi Yehuwa dianggap sebagi satu-satunya yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Di tahun 1979, ia memutuskan untuk meninggalkan agama Yehuwa. Ia tak bisa lagi mempercayai ajaran agama yang ia anut.

Ia memutuskan untuk meninggalkan agama Yehuwa pada tahun 1979 dan tak akan kembali. Keluar dari Yehuwa ia merasa seperti orang tanpa agama. Tapi ia bersyukur, ia bukanlah manusia tanpa Tuhan.

Sejak saat itu ia mulai melakukan pencarian agama lebih intens. Ia bahkan kembali ke Katholik  selama tiga bulan. Namun, Rafael mengaku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa agama itu tidak sesuai dengan kata hatinya.

Lima tahun lalu, ia pernah berkesempatan bertemu dengan seorang Muslim. Ia melihat orang Muslim selalu tenang dan bahagia. Mereka sempat berbincang tentang Islam. Namun, ia mengatakan kepada orang yang baru dijumpainya bahwa tak pernah terpikir untuk menjadi seorang muslim.

Ia justru berniat menjadi seorang Kristen. Ia berpikir ia keluar dari Yehuwa barangkali karena Tuhan menginginkannya sebagai seorang Kristen.

Ia pun mulai mempelajari Alkitab pada malam hari. Selama beberapa hari, ia melahap habis bacaan mengenai perjanjian baru, mengulang perjanjian lama, kitab kejadian dan semuanya.

Saat ia membaca mengenai kisah nabi, ia tiba-tiba mengingat perjumpaannya dengan seorang Muslim yang sempat mengenalkannya pada Islam, Alquran dan Allah.

Ia mulai membuka pikiran. Ia tak ingin lagi berpikir seperti Yehuwa yang menganggap hanya ajarannya yang selalu benar. Ia mencari tahu kebenaran ‘teman barunya’ itu. Ia mulai meraba-raba tentang Islam. “Ada 1,2 milyar orang yang beragama Islam”. Ia kemudian memutuskan untuk meilhat Alquran dan mempelajarinya.

Ia mulai membaca Alquran. Seluruhnya ia baca, ia terkagum-kagum dengan Alquran yang baginya semua yang tertulis di situ masuk akal. Ia mengambil Alquran dan bergumam pada Alkitab, “Aku tahu semua ini saling berhubungan satu sama lain”. Ia justru mengerti Alkitab setelah membaca dari Alquran.

Ia mengambil kesimpulan, barangkali ia memang menjadi penganut Kristen yang baik setelah membaca Alquran. "Tuhan menjadikan saya seorang Kristen yang baik" ia lantas mempelajari Alquran.

Terus menerus mempelajari Alquran, ia merasakan kitab milik umat Islam ini lebih sederhana. “Alquran lebih menarik untuk hati dan akal saya”, ujarnya.

Lambat laun, ia mulai menyadari, seperti halnya Injil, Alkitab pun sudah tak murni lagi, banyak yang tercemar disana. Ia meninggalkan Alkitab dan membaca Alquran.

Tak puas hanya membaca Alquran, ia memutuskan untuk segera menemui orang-orang Islam untuk langsung melihat kedaaan mereka. Ia kemudian mendatangi masjid. Setelah mencari info, ia manuju masjid di Kalifornia Selatan. Ia sempat galau dan ragu untuk memasuki tempat ibadah itu. Sempat berkeliling, ia tak kunjung menemukan tempat parkir bagi kendaraannya. Ia bergumam dalam hati bahwa ia hanya ia akan masuk kalau ada tempat parkir.

Saat tepat berada di depan masjid, sebuah mobil keluar. Kegalauannya semakin memuncak. Ragu-ragu, ia berpikir "anda membuat situasi semakin sulit”. Kini ia tak punya pilihan lain kecuali harus memasuki masjid dan menglihat orang-orang Islam di dalam. “Saya merasa gugup pergi ke masjid untuk pertama kalinya”, ujarnya.

Ia mulai berjalan ke pintu masuk masjid. Ada ada seorang keturunan Arab dengan jenggot lebat sedang berjaga.  Si penjaga masjid mempersilakan Raphael untuk berkeliling.

Ia sampai di sisi lain masjid, ia melihat beberapa pria sedang berdoa. Sadar kehadirannya cukup mendapat perhatian, Raphael berujar “saya hanya melihat saja”. Saat sudah selesai shalat, Raphael lantas berbaur dengan orang-orang itu.

Mereka mengucapkan salam sapaan "Asalamualaikum", sebuah bahasa yang asing. Raphael tak mengerti apa yang mereka ucapkan. 

Melihat raut kebingungan di wajah Rafael, seorang lelaki datang menghampiri. “Anda baru kan?”, kata lelaki yang bernama Umar itu.

"Ya, ini pertama kalinya saya ke masjid", kata Raphael. Umar lantas mengajak rafael berkeliling, menuju tempat wudhu laki-laki. 

"Apa itu voodoo", tanya Raphael. Umar menjelaskan apa yang sedang dilakukannya bernama wudhu bukan voodoo. Ia mengajari rafael melakukan wudhu dan begaimana wudhu bisa menyucikan.

Terkesan dengan wudhu, ia memutuskan untuk berdoa seperti orang Islam. Ketika menjadi Kristen, ia hanya berdoa dengan berlutut saja. Ia menemukan sesuatu yang unik ketika berdoa sambil ruku dan sujud.

“Tuhan menciptakan alam dengan segenap isinya mengapa saya tidak bersujud kepadanya? apakah saya sombong?”, ujarnya.

kini Raphael selalu mengingat dan memuja Alquran, "Kita telah memiliki buku paling indah yang pernah diciptakan Tuhan untuk penyelamatan manusia untuk hidup dalam kedamaian, Alquran," ujarnya. Baginya itu adalah kitab yang perlu dibaca sepanjang masa untuk mencari tahu tujuan hidup di muka bumi.

Subhanallah.... dibalik Perang Irak puluhan Tentara Korea peroleh Hidayah

0

Perang Irak memberi makna lain bagi "Unit Zaitun", nama pasukan Koera Selatan yang ikut dikirim ke Irak pada tahun 2006 sebagai bagian dari pasukan koalisi AS. Sebelum berangkat dan ditempatkan di kota Irbil, kota warga Kurdi di utara Irak, 37 anggota unit ini menyatakan diri masuk Islam dan bersyahadat di Masjid Hannam-dong, Seoul.
"Saya memutuskan menjadi seorang Muslim, karena saya merasa Islam sebagai agama yang lebih humanis dan damai dibandingkan agama-agama lainnya. Kalau kita bisa secara religius berinteraksi dengan warga lokal, saya pikir ini akan banyak membantu kami menjadi misi damai untuk melakukan rekonstruksi di Irak," kata Letnan Son Hyeon-ju dari pasukan khusus Brigade ke-11, salah satu tentara Korea Selatan yang masuk Islam.


Saat itu, pada hari Jumat di bulan Juli 2006, Hyeon-ju beserta 36 tentara Korea Selatan lainnya mengambil wudu, lalu duduk berjajar di dalam Masjid Hannam-dong. Dengan bimbingan imam masjid, mereka melafazkan dua kalimat syahadat dan mulai hari itu, para tentara yang akan diberangkatkan ke Irak itu resmi menjadi muslim.
Militer Korea mungkin tak pernah menyangka kesempatan untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab bagi para tentara, terutama Unit Zaitun, yang akan dikirim ke Irak, akan membuat puluhan tentaranya masuk Islam. Pertimbangannya ketika itu, karena mayoritas penduduk kota Irbil adalah muslim, sedangkan tentara Korea yang akan dikirim adalah nonmuslim, maka para tentara itu dikirim ke Masjid Hannam-dong untuk belajar dan memahami tentang Islam dan komunitas Muslim. Ternyata, sebagian tentara itu malah benar-benar jatuh cinta pada Islam dan memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Salah seorang anggota pasukan Unit Zaitu dari Divisi ke-11 Angkatan Bersenjata Korea Selatan, Kopral Paek Seong-uk yang masih berusia 22 tahun mengatakan, "Di kampus, saya mengambil jurusan bahasa Arab dan setelah membaca isi Al-Quran, saya jadi sangat tertarik pada Islam. Saya pun memutuskan untuk menjadi seorang muslim selama mengikuti program yang diselenggarakan Unit Zaitun, sebuah pengalaman religius buat saya."
Kopral Paek Seong-uk dengan antusias mengungkapkan keinginannya jika sudah sampai di Irak. "Saya ingin ikut serta dalam acara-cara keagamaan dengan warga lokal, sehingga mereka bisa merasakan rasa persaudaraan. Saya juga juga ingin memastikan warga lokal bahwa pasukan Korea Selatan bukan pasukan penjajah, tapi pasukan yang dikerahkan untuk membantu misi kemanusiaan di Irak," ujar Paek Seong-uk.
Tentara-tentara Korea yang memilih menjadi muslim itu, paham betul pentingnya homogenitas agama di tengah komunitas Muslim. "Jika agama Anda sama, Anda tidak akan diperlakukan sebagai orang asing, tapi akan diperlakukan seperti layaknya warga lokal. Lebih dari itu, Islam mengajarkan tata cara perang yang beradab. Muslim tidak boleh menyerang kaum perempuan, bahkan dalam peperangan," kata seorang pejabat militer Korea Selatan, mengomentari puluhan tentaranya yang masuk Islam. (kw/chosun.com/TTI)

Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja

1 komentar


Sebelum pergi ke Inggris, Xenia hanya mengenal satu agama, Kristen Ortodoks. Dia lahir, dibesarkan, dan tinggal di Athena, Yunani, Sebelum akhirnya terbang ke Inggris tahun 1970-an untuk melanjutkan pendidikannya. Di negeri inilah, cakrawalanya terbuka. Ia mengenal ada banyak agama di dunia ini. Islam salah satunya. Namun, ia tak berniat mempelajarinya, karena nyaman dengan agama yang dianutnya sejak kecil.

"Saya dibesarkan dalam keluarga yang hangat walau tak begitu taat beribadah," ujarnya. Usai kuliah, ia tak kembali ke negerinya. Seorang pemuda setempat memikat hatinya, dan mereka menikah. Belakangan, ia baru tahu suaminya sangat berminat pada Islam. "Agama tak begitu berperan dalam kehidupan keluarga saya...maka saya pun tak ambil pusing dengan orientasi keyakinan suami saya," ujarnya.


Di rumah, mereka tak pernah mendiskusikan agama. "Dia menghargai keyakinan saya, demikian pula sebaliknya," katanya. Belakangan ia tahu, suaminya telah menjadi Muslim. Bersuami seorang Muslim, cakrawalanya tentang Islam terbuka. Di sekolah, ia hanya tahu hal negatif tentang agama ini. Begitu juga di media yang dia baca. Namun di rumah, ia menemukan oase yang berbeda, melalui suaminya. Namun, ia masih belum tergerak hatinya belajar Islam. Ia hanya mempelajari Islam sedikit, demi menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak lebih condong memilih Islam, mengikuti agama sang ayah. "Saya mengantar mereka ke masjid, tapi saya tak ikut turun. Saya menunggu di mobil saja," ujarnya. Saat dua anaknya menginjak remaja, suaminya meninggal dunia. Xenia sungguh terpukul. Ia memutuskan untuk pulang ke negeri asalnya, Yunani. Anak-anaknya, memilih tetap tinggal di Inggris. Di bandara, ia menerima SMS anak lelakinya yang termuda, "Mum, kami mencintaimu dan kami tak ingin engkau berbeda dari kami ketika kelak kau berpulang seperti papa. Please, jadilah Muslimah." Ia merenungi SMS sang anak. "Untuk pertama kalinya setelah 30 menikahi pria Muslim, saya membaca isi Alquran," katanya, yang mengaku awalnya ogah-ogahan membacanya. Dia mengaku takjub dengan kitab suci almarhum suaminya itu, kendati hanya membaca terjemahannya saja. Untaian kata-katanya sungguh indah, katanya, begitu untaian ceritanya. "Itu bukan bahasa manusia. Itu bahasa Tuhan semesta alam," katanya. Dari membaca Quran pula ia tahu, Islam bukan agama baru. Islam telah dianut oleh nabi-nabi terdahulu. "Ini lebih mudah dimengerti, bahwa hanya ada satu Tuhan, tanpa partner, dan para nabi adalah utusan-Nya," katanya. Tiba-tiba, ia merasa tak berperantara antara dirinya dan Tuhan. "Hanya saya dan Pencipta saya," kata Xenia yang kini berusia 60 tahun lebih. Dia mengaku mulai rajin "curhat" pada Tuhan. "Aku berbicara pada Alllah dimana saja. Dia mendengar saya, dan memantapkan hati saya," ujarnya. Sampai di satu titik, ia bulat tekad untuk bersyahadat. Bagi Xenia, Islam adalah sistem yang sempurna. Allah tak hanya menurunkan Alquran, tapi juga mengutus Muhammad SAW untuk menjadi "contoh nyata" bagaimana Alquran diaplikasikan. "Jalan menuju surga itu berliku. Allah mengirim panduan menuju ke sana, melalui Alquran dan Muhammad," katanya. Xenia juga menyatakan, beda dengan adama lain yang penuh doktrin, Islam mengajak umatnya untuk berpikir. "Islam tak bilang, 'Inilah dia, kau harus mengikutinya sekarang!' Tapi Allah bilang, 'Lihat, lihatlah sekelilingmu. Lakukan perjalanan, lihatlah tubuhmu, langit, alam, mengapa kau tak melihatnya (sebagai tanda-tanda kebesaran Allah?)," katanya, yang mengaku bersyukur telah menemukan islam, kendati memulianya di usia senja.

The experiences of Greek student after her decision to accept Islam

0

“Shall I write your name?” “Yes write it.” “And your parents?” “Eventually they will get to know the truth. I did not fall into drugs!”

Twenty-three year old today, Elena Pouliasi is young and beautiful girl – you can see that even under her hijab. It has been less than a year since her decision to accept Islam, decision that cost her enough friends and posed the risk of rupture with her family.” This is my truth though,” says to “K”.

For the past three years, Elena is in England for studies. In her neighbourhood and university, Muslim population outclass in number. “Like most Greeks, I had too grown with the mentality that the Muslims are strict and oppressed people. I saw women with headscarves and I thought that they do not have a life. But the people I met there were quite different.” Her two best friends in London were from Saudi Arabia – she describes them as “incredibly intelligent and talented.” They naturally wore the headscarf. Elena could not understand and neither wanted to challenge their religion. Herself from a little girl believed in God. “I began to read about Islam in order to convince them, to prove that in the subject of their religion they are misguided.”

She began to read the Quran in his Greek translation. “I began to realize that I had learned it… differently. I saw, as an example, love and respect for the women and mothers. Almost unconsciously I stopped drinking and eating pork. I did not know what the truth was and until I find it, I decided to remain open at all. This process lasted roughly eight months. “I lived as a Muslim. I was careful where I go out, I was more careful with the clothes I wore; I stopped swearing, and became more generous and polite.”

On May 15th she officially became a Muslim. The subject of hijab worried her. In the beginning, she wore it outside, but used to remove the scarf when she entered her office (alongside her studies in International Business and Management, she also runs a translation office). “I did not want the behaviour of my colleagues to change towards me. But now I wear hijab all the time. Why? Because it makes me feel better. I feel secure”.

Personal cost

Her decision did not come without personal cost. “It was something that affected my family too. Even though I have not announced it, my mother understands that I have changed. I lost also many friends. The only consolation is that they were not real friends, or if they were they would like to be with Elena as she really is, not only with Elena that used to go out on Friday night and get drunk.”

It is not that she does not understand them. “Most people have a tendency to believe that to become a Muslim you must have been brainwashed.

However, nobody put the Quran in my hands, it was my choice.

They say to me, “but you were born Greek!” I say to them, “but I am Greek.” Becoming Muslim does not mean that my life is over and that I should devote myself in reading Quran, bear children and become fanatical. On the contrary, I get angry with the Muslims who are extremists.” Before we close,” she points out, “They will ask you for sure, if I became Muslim because I fell in love. Answer them that I did not. Most women become Muslims before they meet their prince.”

Many are baptized Christian Orthodox

In www.greeksrethink.com, the global online community of Greek Muslims, you find enough testimonies of Greek Orthodox that at some point made the conscious decision of embracing Islam. Most are Greeks of abroad and, in their narrations, describe rather with gloomy colours the way that they were faced by their families. “This is an experiential, hard road to change your religion and which in any case should be treated with respect,” says in the “K” professor of Comparative Philosophy in University of Athens Mr. Marios Begzos. In Greece, however, we are open only in words; instead there is great difficulty in the assimilation of the ‘other’. Especially Muslims, who in our conscience are acknowledged as Turks therefore there are negative records in our subconscious.

The natural routes between the two religions have two directions. Many Muslims every year are baptized Christian Orthodox in a church of our country, although as emphasized in the “K” Chairman of the Board Movement Citizens’ Coexistence and Communication in the Aegean Mr. Stratis Potha, in most cases the reason is marriage.”For Muslims especially, that is something not easy to reveal to their family.


Source: Kathimerini.gr

Myrto – my journey to Islam

0

Questions were racing through my mind. Does this makes me a Muslim? What is a Muslim after all? And is it easy to become one? And what happens after that? What if I regret?

It was minutes after my shahada (my declaration of the Islamic faith), a few weeks ago.

It took me almost 9 years to believe there is actually a God and choose Islam as the way to worship Him. But why was that? Having a very hard life so far, full of personal traumatic experiences of which I could not be responsible for during childhood, puberty and adolescence, a person does not have the right to make his own choices by law, I was led to disappointment.

I almost completely rejected the presence of God or of any Divinity in my life.

Although I was completely dissatisfied by the behaviour of the clergy in Greece and still having the words of the burial service which says “rest your servant ignoring all sins,” I decided to start reading about religion.

Feeling tormented, tired and a bit desperate to find answers to my questions, I choose to read religion initially and then philosophy and history of sciences instead of trying to find my way through fortune tellers or tarot readers, drugs or alcohol.

No matter how hard someone tries to numb himself so he doesn’t feel any pain, the pain will always be there, waiting to be confronted. Being deeply ethical and raised with the traditional values of a middle class Greek family , values of honesty, pride and dignity, I did not want to be part of any religious or philosophical group just to satisfy my needs for warmth and affection. And I definitely, loved and honoured my Greek cultural identity and I did not want to imitate or fake any other identity or nationality.

I started researching Christianity and mainly the Orthodox Dogma, then Judaism and Buddhism and finally Islam. I started gradually believing in God, my faith becoming stronger with time. At some point I started having questions about the Trinity, questions for which I found the answers in Islam.

What I realised is that Islam is the religion that closes the circle of Divine revelations. Islam means peace and Muslim means the person who offers himself to God and God only, with no remorse or personal benefit. Allah is not a new invention, it’s just the Arabic word for God, the half moon is not a symbol of blood bathing and revenge but is a reminder that Muslim people calculate the time based on the moon rather than the sun.

At this point I seriously started to consider myself as a believer rather than an agnostic. In the meantime, I moved to United Kingdom, to further educate myself though postgraduate studies. I do not know if it was a sign but while I was in UK, I kept meeting really nice people, the majority of them being Muslims, and I ended up marrying one of them.

I continued reading more and more and was becoming focused on Islam this time. Though not only reading, watching documentaries, attending Islamic lectures, going to Islamic museums, attending Islamic classes.

And there comes the questioning. Do I want to be part of a religion that has so many different variations of interpretation of its Holy Book? Would I want to be part of a group that would be a religious minority in my country? Would I want to be part of a religious group where most people, of the ones I have met at least, are paying attention just to the rules of worship and not the worship itself? Or would I want to be part of a religion which is used by its own followers to inspire hate and hostility?

I got again disappointed but this time not by the religion itself or the philosophy itself or from the Quran but from the followers. And then I realised that I cannot blame the religion itself since I found the answers to my questions, from its followers. I decided to start living as a Muslim for a period of time, to see what it takes and see if it is really so hard. As it is stated in Quran, men and women were created equally having their own free will.

But what does it mean to live as a Muslim? Wearing an abaya and niqaab? Praying 10 times a day? Fasting strictly during Ramadan? Staying at home and having loads of children? Avoiding any kind of joyful experience just in case you do something forbidden? Certainly not, in my opinion.

Islam is not a strict system of rules or a kind of imprisonment. Doing good deeds every single day, trying to avoid bad actions, praying as much as you can, fasting as much as you can, showing love and compassion and always fighting peacefully to improve yourself, progressing and evolving in knowledge day by day, trying your best every single day, this is what it takes to be a Muslim.

I realised that I could live as a Muslim, I just changed the way and the frequency of my prayers, I stopped completely eating pork or drinking alcohol and I wore a headscarf. That’s all. So after this so long journey, I decided to have my shahada done admitting firstly to myself that ‘There is no god but Allah (God), and Muhammad is the messenger of Allah (God).

Written by:

Myrto Z.

Athens, Greece

I felt ashamed to ask questions but it led me to Islam

0

By Iman Sotiria Kouvalis

I remember seeing Muslim women at my university and feeling sorry for them. I didn’t know them but when we crossed paths at the cafeteria, I smiled at them because I thought they were oppressed. I never talked with them but I just assumed that they were forced to wear the veil.

It’s funny that I thought this way because I knew nothing about Islam. I mean nothing. I actually thought that everyone in the world were Christians! Remember, this was about 10 years ago (before 9/11).

But, my interaction with many Muslims made me reflect on my own disconnect with God and the Church. Although I was raised in a typical Greek Orthodox family and attended church every Sunday for most of my life, as I grew older, church no longer had meaning in my life and there were a lot of questions that couldn’t be answered by the Church.

As I grew older, a dichotomy started to appear where life and religion were drifting to opposite sides. I couldn’t see how I can make religion relevant to my daily life. On the one hand, we were raised to think that in order to be successful, we have to go to school, get a good job and buy a nice house and car and on the other hand, we were taught all we had to do is believe that Jesus died for our sins and we would be saved to be successful. On this side, we were taught to always think critically, to question why, to negotiate and on the other side, we were taught to just believe and never question or it would be like blasphemy. On this side, never do anything unless you know why and on the other side, perform all the rituals and never ask why.

And that’s how I started to drift away from the Church. It had no meaning anymore. I always believed in God and I desperately wanted Him to be part of my life but I had questions. And I was made to feel ashamed that I had questions. As if I was being a disobedient person.

So my only solution was to be away from the Church because I didn’t want to be seen as disobedient and at the end of they day, I was going to heaven anyway according to Christianity as long as I believed that Jesus died for my sins, it didn’t matter anyway. I could do anything and get away with it.

But my interactions with Muslims in university years later and seeing how spiritual they were reignited my passion to become close to God again. I guess you could say deep down I was a little jealous. How were they so devoted and at peace and I wasn’t even though I was going to heaven and they were not?

I started getting into religious debates with them. I was determined to convince them that they need to accept Jesus in order to be saved. But to my surprise, they already believed in Jesus! I started figuring out that they know a great deal about Islam and Christianity where I know next to nothing about Islam and even Christianity even though I attended Sunday school all my life.

Secretly, when no one was looking, I went to the library to read about Islam in order to convince them that they were wrong. I only found some really weird and old books. Remember, this was pre-Google days so there wasn’t that much on the internet either. One day, I was walking down one of the university halls when I saw some pocket pamphlets on the wall about Islam. I guess the Muslim Student Association put them there so after I made sure that the hall was empty, I quickly slipped a few of them in my bag. When I got home, I started reading and was amazed. One pamphlet even talked about Muhammad in the Bible. The Bible? I thought this must be a lie! But I checked the verse in my Bible, and I didn’t know if it was true or not because I was just reading a translation in English.

I made a sincere prayer to God to show me which religion is the truth. I wanted to know! I surprised myself though that I did that because I kept saying, of course, Christianity! I started attending church every week again, and then twice a week. This was very strange because I was practically the only young person there. I started reading the Bible again but this time in order to find answers to my questions.

After months of this, I couldn’t take it anymore and I decided to go to my priest. Now, anyone who is Greek can understand what a big event this is. I’m going to my priest to admit that I have questions in my faith and also to ask about the worst enemy of the Greeks: Islam. My questions were three:

  1. If Jesus died for our sins and we only have to believe this to be saved and go to heaven, then how does that make sense? That means I can commit any sin and be saved?
  2. How can God be 3 in 1?
  3. What do you think about Islam?

For the first two questions, he tried his best to explain but it was clear to me that there was a lot of ambiguity in his answers. When we got to the third question, his eyes bulged out and his skin turned a little red and he told me to just stay away from those people!

I left the meeting disappointed. For the first time, it caused a definite crack in my faith. I needed to find answers! But now I was on my own to find them. And I did.

After more months of intense reading, critical study of both religions and a persistent nagging of my soul to keep searching for God, the truth started coming to me, but I kept fighting it. I kept telling it to go away. I am Greek. I am Orthodox. I love my lifestyle. I don’t want to give up everything I was raised upon. But, in the end, it won. I submitted to my conscience. I submitted to the truth and declared that there is no object worthy of worship except God. Because that’s literally what the word “Islam” means.

Later, I started to realize that I don’t have to give up myself, my family or my culture. I realized that I can be Muslim and also be Greek, just like so many others around the world who are Muslim but also Pakistani, Arab, Somalian, Bosnian, Chinese or many other cultures. And in the Quran, I read:

“They are not [all] the same; among the People of the Scripture [i.e. Jews and Christians] is a community standing [in obedience], reciting the verses of Allah during periods of the night and prostrating [in prayer]. They believe in Allah and the Last Day, and they enjoin what is right and forbid what is wrong and hasten to good deeds. And those are among the righteous. And whatever good they do – never will it be removed from them. And Allah is Knowing of the righteous.” (Quran 3:113-115)

I understood that as Muslims we are to respect people of other faiths for some of them are really sincere and they live God-conscious lives. In the end, it’s not me who will judge people, only God can do that.

I came to Islam through books. Through a critical and intense study just like so many other converts to Islam and just like so many other Greek converts to Islam. And I noticed that my story is not unique. So many other Greeks that I know today have similar questions as me and the same dichotomy in their lives. If you are in this situation, you owe it to yourself to find the answers now because we don’t know when we will die. And to know that God gave us a mind to think critically. It’s ok to ask questions and it’s ok to find answers.

That is why I started a website called Greeks Rethink. It’s a website where you can ask questions and find answers about life and God. You can go to www.greeksrethink.com and read about our stories and our lives or go onto the forums directly and interact with other rethinkers around the world.

Suorce :www.greeksrethink.com

Margaret,Tumbuh dan besar di keluarga Atheis akhirnya memilih jadi Muslim

0

Nama Islaminya adalah Maryam Noor. Sedangkan nama aslinya adalah Margaret Templeton.

Wanita ini lahir di Skotlandia dan tumbuh besar di keluarga atheis sehingga ia pun tak percaya Tuhan. Dalam rumahnya anggota keluarga dilarang berbicara tentang Tuhan. "Bahkan ketika kami belajar di sekolah, kami tak dibolehkan menyoal itu di rumah, bila tidak kami dihukum."

Namun sejauh yang bisa ia ingat, Maryam selalu berupaya mencari Kebenaran mengapa ia hidup di dunia. "Mengapa saya hidup dan apa yang seharusnya saya lakukan."


Ketika ia cukup dewasa, ia mulai mencari beberapa informasi tentang 'sosok yang disebut Tuhan' yang selalu disebut oleh orang-orang dan didengar Maryam selama hidupnya. "Saya mencari Kebeneran, bukan agama tertentu," tutur Maryam.

"Kebenaran yang masuk akal bagi saya, sesuatu yang membuka hati saya dan membuat saya layak untuk hidup," ujarnya. Saat mencari ia memasuki setiap jenis gereja baik di Inggris maupun dekat rumahnya. "Tak pernah sebelumnya terbesit untuk berpikir tentang Islam."

Maryam tertarik dengan Islam, namun saat itu perang tengah berkecamuk di Irak dan ia membaca banyak hal mengerikan tentang Muslim di surat kabar. "Saya merasa berpengalaman dan memiliki pendidikan dalam mempelajari agama lain, sehingga saat itu pun saya berpikir semua itu tak benar," ungkap Maryam.

Ia pun mencari seseorang yang bisa mengajarinya dan memberi tahunya tentang Islam dan cara hidup berdasar agama ini. "Sehingga saya bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang berasal dari tipu daya setan," tutur Maryam.

Satu hal yang selalu ia lakukan selama pencarian, ia sellau berbicara dengan siapa pun dan tersenyum dan menyapa setiap orang. " Saya berkata 'Halo', 'Bagaimana kabarmu?', 'Bagaimana harimu?', karena Yesus selalu menyebarkan kebahagiaan di mana pun dan kapan pun ia berada. Saat itu saya penganut Katholik Roma," ungkap Maryam.

Namun ia merasa tak bahagia dengan agama tersebut dan akhirnya meninggalkan gereja. "Tapi saya tak tahu kemana lagi harus pergi," ujarnya.

Di saat bersamaan ia tengah mencari pula guru Islam. "Saya berdoa setiap saat, setiap hari kepada Tuhan 'Bantu aku, bantu aku, bantu aku'. Ia lakukan itu berulang-ulang, terus menerus selama dua tahun. "Karena saya tak tahu apa yang harus diperbuat dan pergi ke mana," ungkap Maryam.


Hingga suatu hari seorang kawan dari temannya membawa seorang yang alim ulama. Namanya Nur El-Din. Ia adalah seorang Arab yang lahir di negara itu. Ia mengundang Maryam untuk datang ke rumahnya dan memberi tahu buku apa yang harus dibeli dan apa yang harus ia lakukan. Bahkan Nur membuka diri untuk dihubungi kapan saja bila Maryam memiliki pertanyaan. "Itulah hubungan kami, ada tujuh volume buku yang saya baca mengenai tafsir dan terjemahan terhadap Al Qur'an dan buku itu sangat luar biasa."

Maryam pun mulai mengkaji Islam. Ia membuka buku pertamanya dan membaca kata pengantar. Ia tidak memulai dari belakang, melainkan dari depan. Ia langsung menuju surah Al Baqarah.

Sebelum Al Baqarah terdapat Surah Al Fatihah. Rupanya Maryam kembali ke awal lagi dan membaca umul kitab tersebut. "Begitu saya membaca, rasanya seperti tersambar. Air mata saya bercucuran. Hati saya berdebar keras, saya berkeringat dan gemetar," tutur Maryam.

Awalnya ia takut itu adalah godaan setan. "Seperti ia mencoba menghentikan saya karena saya mungkin menemukan jalan, karena buku ini mungkin membukakan saya menuju Kebenaran, sesuatu yang selama ini saya cari," ujarnya.

Maryam pun langsung menelpon Nur El-Din. "Ia berkata datanglah saya ingin bertemu kamu. Saya pun pergi ke tempatnya. Saat itu musim dingin, begitu sampai rasanya tubuh saya seperti balok es," ungkapnya.

Ia menuturkan pengalaman kepada Nur El-Din. "Saya berkata padanya ini pasti ulah setan, apa yang harus saya perbuat?" ujarnya. Maryam menuturkan kala air matanya bercucuran ia bisa melihat jelas ke dalam hatinya, begitu besar, merah--alih-alih terang, dan tidka berbentuk sama sekali. "Saya sangat takut," ujarnya.

Nur El-Din pun berkata padanya, "Margaret, dikau akan menjadi seorang Muslim." Maryam membalas, "Tapi saya tidak membaca buku-buku ini untuk menjadi seorang Muslim. Saya membaca demi membantah semua kebohongan yang telah disebarkan di media mengenai Muslim," ujarnya. "Saya tak ingin menjadi Muslim," kata Maryam lagi.

Namun Nur El-Din tetap pada keyakinannya. "Margeret dikau akan menjadi Muslim karena, baiklah saya harus memberi tahumu bahwa ada campur tangan kekuatan Tertinggi dalam hidupnya. "Saat itu saya berusia 65 tahun. Kini saya 66 tahun dan saya telah menjadi Muslim selama satu tahun."

Ia akhirnya melakukan kajian lebih dalam lagi dengan si ulama mulai November hingga Februari. Akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk bersegera mengucap syahadat. Saat dorongan itu timbul Maryam sempat bertanya apakah itu tak terlalu terburu-buru baginya.

"Anda tahu, ketika bertanya itu, alasannya bukan lagi karena saya tak mau menjadi Muslim. Saya telah meyakini bahwa Allah akan selalu mengampuni hambanya, yang saya pikirkan saya terlalu kecil, terlalu banyak dosa, dan hidayah itu rasanya hadiah terlalu besar bagi saya yang tak seberapa," tutur Maryam.

Nur El Din hanya berkata satu kata "Nur". Saat itu 11 Februari 2003, Maryam duduk sedikit jauh dari Nur El Din yang berpakaian serba putih mulai. "Ulangi persis seperti yang saya ucap," ujar Nur El Din. Ia mengucapkan syahadat yang langsung diulang oleh Maryam.

Usai mengucap syahadat Maryam bertanya, "Apa yang barusan saya ucapkan?". Nur El Din memaparkan artinya dalam Bahasa Inggris. Setelah itu ia pun resmi menjadi Muslim dan mengganti namanya dengan Maryam.

"Saya tak bisa berkata bahwa saya Muslim yang baik, karena itu luar biasa sulit," ungkap Maryam. "Saya kehilangan semua teman Katholik, semua teman mengobrol saya. Bahkan putri saya menganggap saya gila. Satu-satunya yang percaya saya adalah putra saya yang mengatakan mungkin saya menemukan Kebenaran. Ia adalah salah satunya yang mungkin menyusul saya menjadi Muslim," ungkapnya.

Tantangan terberat yang dirasakan Maryam adalah tempat tinggal di mana ia hidup di dunia sekuler, bukan dunia Muslim. "Dengan sepenuh hati, saya ingin tinggal di dunia Muslim dan memiliki komunitas Muslim. Saya satu-satunya Muslim yang tinggal di kawasan ini. Namun Allah selalu baik kepada saya karena ditengah kesulitan, saya tetap bahagia dan terus memiliki kesempatan belajar,"

Maryam mengaku kini membaca Al Qur'an dalam terjemahaan Bahasa Inggris. "Usia saya sungguh membuat saya sulit menghafal jadi saya menggunakan buku terjemahan. Dan saya memohon pada Allah, 'Mohon Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyanyang, saya hanyalah seorang bayi berusia 65 tahun dan saya memiliki kesulitan dan bantulah aku," setiap saya berdoa itu saya selalu menemukan jalan. Ia benar-benar membantu saya."

Perubahan Perilaku Jason Perez Membuat 55 Orang Terdekatnya Ikut Menganut Islam

1 komentar

Tayangan The New Muslim Cool sangat menyentuh publik Amerika Serikat. Di dalamnya berisi tentang pengalaman rohani salah satu rapper negeri itu, Jason Perez - namanya menjadi Hamza Perez setelah masuk Islam dan pandangannya tentang agama.

Ada satu kutipan satir tapi membuat publik terhenyak tentang betapa SARA di AS mulai memprihatinkan adalah, "Anda seorang ayah tunggal, sekarang Anda menikah lagi, jadi Anda seorang pria yang sudah menikah, Anda muslim, Anda orang Amerika, Anda Puerto Rika, kau dari the hood, Anda seorang seniman, Anda rapper ... terdengar seperti mimpi terburuk Amerika!"

Berikut ini wawancara islamicbulletin.com dengan Jason:

Islamicbulletin:
Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang diri Anda?


Jason: Saya lahir di Brooklyn, NY. Saya dibesarkan di sebuah proyek perumahan di seberang jalan masjid. Ibu saya membesarkan saya di sana. Setelah saya besar, kami pindah ke Puerto Rico, dan setelah itu kami pindah bolak-balik antara Massachusetts dan Puerto Rico.

Islamicbulletin:
Dapatkah Anda menceritakan sedikit tentang pendidikan agama Anda?


Jason: Ya, ibu saya Katolik. Tapi, nenek saya di Puerto Rico adalah Pembaptis. Selama sekolah, saya selalu di sekolah Katolik.

Islamicbulletin:
Bagaimana Anda bisa berpindah menjadi Muslim?

Jason: Saya memiliki seorang teman bernama Louie Ekuador. Kami tumbuh bersama, dan kemudian kami terlibat dalam penjualan narkoba bersama-sama. Saya adalah pencari kebahagiaan sebagai orang muda, tetapi saya tidak pernah menemukannya. Saya mencoba kehidupan jalanan dan obat-obatan tapi itu hanya membuat saya lebih tertekan. Meskipun kita menghasilkan uang, tidak memberi kita rasa atau kepuasan kebahagiaan. Suatu hari, ia berjalan dengan masjid, dan dia duduk di tangga. Seorang Muslim mendekatinya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana dan mulai berbicara kepadanya tentang Islam. Dan dia akhirnya menjadi seorang Muslim. Kami tahu masjid ini karena kami dibesarkan di jalan, tapi, kami tak pernah tahu tentang Muslim dan ajarannya. Satu-satunya hal yang kita tahu tentang mereka adalah bahwa mereka membunuh kambing. Jadi, dalam masyarakat, masjid mereka lebih dikenal sebagai tempat dimana kambing dibunuh. Jadi kita akrab dengan gedung tetapi tidak benar-benar tahu tentang apa yang terjadi di dalamnya. Louise berakhir menjadi Muslim dan sempat menghilang selama 40 hari. Dia pergi dengan Jamaah Tabligh (komunitas guru Islam) menyebarkan Islam.

Namanya pun berubah, menjadi Lukman. Suatu hari Lukman datang berpakaian serba putih dengan seorang syekh bernama Iqbal. Kami sedang bermain dadu, minum, dan merokok saat itu. Tiba-tiba aku melihat sisi berbeda darinya. Ia terlihat lebih bercahaya. Saya bisa melihat perubahan dalam dirinya. Saya pikir, sesuatu yang serius telah terjadi dalam hidupnya. Jadi, saya meninggalkan orang lain yang minum dan merokok dan berjalan ke arah mereka. JDi sana, syekh bertanya apakah aku percaya bahwa hanya ada satu Allah. Aku berkata, "Ya." Dan kemudian dia bertanya apakah saya percaya pada Nabi Muhammad. Terus terang, saya tak pernah tahu tentang Muhammad SAW, tapi saya melihat cahaya dalam karakter dan wajah Luqman teman saya, jadi saya percaya. Saat itu juga saya minta dituntun mengucapkan syahadat, di pinggir jalan. Adik saya yang menyaksikan, ikut pula bersyahadat.

Islamicbulletin:
Bagaimana orangtua Anda bereaksi terhadap Anda yang menerima Islam?

Jason: Keluarga saya awalnya kesal. Tetapi setelah mendapatkan kami bebas dari narkoba dan jauh dari kegiatan berbahaya lainnya, mereka menyukainya. Ibu saya sangat mendukungnya. Dia pikir itu sangat positif. Saya pun menjadi lebih peduli padanya; Saya membantu dalam urusan rumah tangga, dan melakukan apapun yang dimintanya. Dulu sebelum menjadi Muslim, saya tak pernah peduli padanya. Perubahan dalam diri saya membuat kakak saya menjadi Muslim juga. Kemudian salah satu teman saya menjadi Muslim. Lebih dari 55 orang yang kita kenal menjadi Muslim. Kami kembali ke tempat yang sama kita gunakan untuk menjual obat-obatan dan memasang tanda yang mengatakan, "Heroin membunuh kamu dan Allah menyelamatkan Anda!" Jadi, Anda tahu, banyak dari mereka dipengaruhi oleh Lukman. Termasuk saya.

Islamicbulletin:
Apakah Anda pernah menemukan masalah dengan penerimaan Islam Anda?

Jason: Pada awalnya, karena saya merek baru Muslim, saya pikir saya harus mendengarkan setiap apa yang dikatakan seorang Muslim. Saya benar-benar tidak ada arah. Beberapa orang mengajarkan saya untuk melihat Muslim lain dan mengkritik umat Islam lain yang berjanggut panjang dan 'pakaian aneh' mereka. Sampai kemudian di satu titik: mengkritik orang menjadi lebih sering sementara mengingat Allah menjadi sedikit. Aku mulai kehilangan rasa manis yang saya alami ketika saya pertama kali menjadi Muslim. Kemudian saya melewati sebuah transformasi besar; hanya melihat kesalahan diri dan bukan kesalahan orang.

Islamicbulletin:
Apakah Anda melihat kesamaan antara Islam dan agama-agama lain?

J: Ya, tentu saja. Ini semua terhubung. Saya tahu siapa Yesus, saya melihat gambar yang dikaitkan dengannya, tapi saya tidak benar-benar tahu tentang Yesus selain Natal, dan ayat-ayat yang kita baca diarahkan kepada kita oleh para imam dan pendeta. Kadang-kadang saya merasa kini saya menjadi pengikut Kristus dengan cara yang lebih baik setelah saya menjadi Muslim. Isa adalah Nabi-nya, bukan Tuhan.

Islamicbulletin:
Apa dampak yang Islam telah pada kehidupan Anda?


J: Islam telah membuka mata saya untuk kesalahan saya sendiri. Sebelumnya, saya punya hal yang disebut nafs. Saya tidak tahu tentang nafs. Islam membuat saya sadar bahwa, di jalanan, Anda selalu mencari musuh. Dan Islam mengajarkan saya bahwa, dalam rangka untuk menemukan musuh saya, saya harus melihat di cermin. Musuh saya adalah diri saya sendiri; nafsu saya.

sumber :republika.co.id