S.S Lai masuk Islam setelah bermimpi mendengar suara Adzan

0

Terlahir dari keluarga berlatarbelakang etnis Cina, S.S Lai tumbuh di tengah budaya yang melakukan penyembahan berhala dan memuja nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Sejak kecul ia sudah dididik untuk mempercayai banyak dewa-dewi dalam keyakinan agama Cina.

Setiap tahun, Lai selalu berharap dan antusias jika ayahnya mengajaknya ke kuil untuk melaksanakan peribadahan persembahan untuk para dewa-dewi. Sebagai anak-anak, kegembiraannya ketika itu bukan karena ia akan beribadah tapi karena setiap acara tahunan di kuil ia akan menikmati makanan yang banyak dan bervariasi.

Itulah sepenggal kenangan S.S Lai, seorang perempuan yang berasal dari etnis Cina yang tinggal di negeri muslim, Brunei Darussalam. Ia merasa bersyukur karena menghabiskan sebagian besar masa sekolahnya di sekolah yang mayoritas siswanya beragama Islam.

"Saya ingat, seorang teman pernah membawa buku komik bergambar tentang mereka yang dihukum di api neraka. Saya tidak begitu paham tentang apa itu neraka pada saat itu. Saya hanya tahu bahwa jangan pernah membuang sedikit pun permen atau keripik (makanan) atau kita akan dihukum di akhirat kelak," ujar Lai.

Ia paham, seorang muslim berpuasa pada bulan Ramadan dan dilarang makan daging babi. Ketika itu, Lai belum tertarik dengan Islam, meski banyak sahabatnya yang muslim. Tapi Lai mengakui, saat berusia 7 tahun, ia merasakan hal yang aneh bahwa suatu saat ia akan menjadi seorang muslim, seperti salah seorang pamannya.

"Namun saya tidak pernah bertanya pada siapa pun tentang Islam. Taku mereka ingin tahu, dan ini yang membuat saya takut dan malu," tutur Lai.

Perjalanan Lai menuju cahaya Islam bermula dari kebingungannya saat ia belajar geografi. Dirinya bertanya-tanya mengapa manusia bisa berdiri dan berjalan bumi dan tidak terlempar ke luar angkasa yang gelap. Pulang ke rumah, Lai menanyakan hal ini pada pamannya, namun sang paman malah menasehatinya agar jangan terlalu banyak bertanya "mengapa" pada semua hal. Sejak itu, Lai selalu menahan diri untuk tidak selalu menanyakan "mengapa" pada hal-hal yang menarik perhatiannya.

Tahun 1988, Lai mendapatkan beasiswa belajar ke Inggris. Sesuatu yang menjadi impiannya dan ia bekerja keras untuk bisa belajar ke luar negeri. "Saya menjadi orang yang berguna dan kaya, dan membuat kedua orang tua saya bangga. Satu-satunya yang saya tahu untuk mencapai ambisi saya itu adalah menjadi seorang dokter," ujar Lai.

Saat kuliah di Inggris, suatu malam Lai bermimpi mendengar suara azan dan ia berjalan menuju ke arah suara itu, lalu ia berdiri di sebuah pintu gerbang yang besar. Di pintu gerbang itu terlihat tulisan dalam bahasa Arab. Dalam mimpi itu, Lai merasakan kedamaian dan rasa aman. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang bercahaya dan di sana ia melihat sosok yang sedang salat.

"Saya sulit menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Keesokan harinya saya memaksakan diri untuk menanyakan tentang mimpi saya itu pada teman saya, seorang mahasiswi dari Malaysia. Dia bilang, itu adalah 'hadassah' dari Allah," Lai mengisahkan perihal mimpinya itu.

Pembicaraan tentang mimpi itu mendorong Lai untuk lebih banyak bertanya tentang agama Islam. Selama ini, banyak orang mengatakan pada Lai bahwa kaum Muslimin adalah orang-orang yang jahat dan selalu menindas penganut agama lain.

Saat berkesempatan pulang kampun ke Brunei, Lai mengatakan pada keluarganya bahwa ia ingin menenangkan diri selama setahun ini dan melepaskan diri dari segala ambisinya. Ia merasa ada sesuatu yang lebih penting dari semua yang telah ia kejar selama bertahun-tahun. Sudah bisa dipastikan, keluarganya menolak permintaan Lai, yang membuat Lai hanya bisa menangis siang dan malam.

"Saya menangis karena yang terdengar di telinga saya adalah gema suara azan, sampai seorang teman saya menganggap saya sudah gila, dan saya pun mulai berpikir demikian," ungkap Lai.

Ia lalu ingat sahabat masa sekolahnya dulu, seorang muslim yang taat. Darinyalah, Lai mulai belajar tentang bagaimana menjadi seorang muslim. Akhirnya, hari bersejarah itu pun tiba. Tanggal 5 Oktober 1991, Lai mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.

"Saya percaya bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci dan hanya orang tua merekalah yang menentukan kemana anak akan melangkah. Semoga Allah menuntun hati-hati mereka menuju Islam," doa Lai menutup ceritanya menjadi seorang muslim. (ln/isc/eramuslim)

Isa Kocher Memilih Islam karena ada Kedamaian Dalam Islam

0

Ia berkewarganegaraan Swiss namun hatinya ada di New York. Isa Kocher namanya, cendikiawan, veteran perang AS yang kerap menyebut dirinya eksentrik. Kini Isa tinggal di Istanbul, tepatnya di pinggiran kota, dalam kawasan industri Ikitelli.

Isa resmi memeluk Islam sejak usia 12 tahun. Ia mengaku telah mendalami semua agama sebelum akhirnya melabuhkan diri pada Islam. Alasan Isa, folosofi yang berlandaskan kedamaian telah menyentuhnya.

"Saya memilih meyakini Islam karena dunia ada untuk perdamaian. Ini bukan kedamaian yang diperoleh dari menghisap ganja--perdamaian adalah perjuangan," katanya. "Saya selalu terbiasa marah, hampir setiap hari, jadi saya memang tak punya pembawaan damai, tapi ini pilihan," lanjut Isa.

Ia mengaku itu tak mudah. "Namun itu satu-satunya pilihan. Anda tak bisa memenangkan pertarungan karena selalu akan ada orang yang lebih baik, lebih besar dan di atas anda," ujarnya.

Isa Kocher berkenalan dengan Islam lewat buku-buku karya Washington Irving. Ia mengucapkan syahadat untuk pertama kali saat masih bocah, 12 tahun. Kemudian, ia menjadi jamaah di sebuah masjid di Tribeca, New York, di mana ia menyeduh teh dan memasak nasi setiap malam.

Dalam keyakinan Isa, Islam memiliki landasan bahwa semua manusia memiliki keunikan dan hubungan pribadi dengan sang kuasa. "Saya tak punya hak untuk berada di antara seseorang dengan yang kuasa. Tuhan adalah Tuhan--apa pun atribut yang anda kenakan pada-Nya," kata Isa.

Sebagai seorang Muslim, Isa juga mengakui masa seusai serangan WTC pada 11 September, 2011 di New york adalah hari-hari tersulit dalam hidupnya. Ia menekankan gedung WTC memiliki arti besar bagi dirinya sebagai seniman. Tak hanya itu ia menggambarkan tragedi itu sebagai penanda keruntuhan demokrasi

"Saat itu sepertinya akhir dari dunia dan semua yang saya yakini. Saya masih memeluk Islam dan mengimani ajarannya, namun keyakinan saya kini tak lagi berdasar sistem manusia siapa pun,"tegasnya.

Seniman dan Simpatisan Demokrat

Isa telah tinggal dan bepergian di berbagai negara di dunia. Ia juga memiliki banyak anak angkat, tersebar di tempat-tempat yang pernah ia singgahi dan juga segudang aktivitas.

Hanya di Turki, daftar aktivitas di CV-nya lumayan panjang, merentang mulai bekerja sebagai humas internet untuk kelompok simpatisan Partai Demokrat di luar negeri, hingga menjadi guru di berbagai universitas swasta di Turki dengan bermacam posisi.

Isa juga telah menggelar pameran karya fotografinya tiga kali di Istanbul, tepatnya Galeri Akbank Sanat. Di negara ini ia terus melakoni profesinya dengan menggarap proyek fotografi dan menerbitkan puisi.

Dari perjalanannya keliling dunia, Isa mengaku menjelajah Turki lebih mendalam. Ia mencintai keramah-tamahan penduduk Turki yang ia jumpai dan menuturkan tak pernah sehari pun menginap di hotel selama bepergian di negara itu.

"Setiap kali saya mengunjungi masjid untuk shalat, saya akan menjumpai diri saya bersama seluruh tas ransel berpindah ke rumah seseorang," tuturnya. Ia juga mengungkapkan kecintaan mendalam dengan budaya Turki dan salah satu hobi utamanya ialah mengunjungi makam orang suci dan bangunan yang didirikan oleh ahli bangunan masa Ottoman, Mimar Sinan.

Meski ia juga mengatakan sulit hidup di Istanbul bila tidak kaya. Ia menuturkan bagaimana penduduk lokal bingung bersikap padanya ketika ia mulai tinggal di pinggiran Instanbul.

"Mereka merasa lebih yakin ketika mereka tahu saya seorang guru besar, sudah pernah berhaji dan berbicara dengan banyak bahasa. Kadang saat festival Muharram saya membuat beberapa makanan khas As Syura untuk siapa saja yang tinggal di lingkungan. Kira-kira sekitar 25 kilometer luasnya, jadi cukup untuk latiha berjalan kaki," ujarnya tergelak.[republika]

Sarah Joseph, Islam saat ini telah diputarbalikkan

0

Islam saat ini, kata Sarah Joseph, seorang editor, telah diputarbalikkan. Banyak informasi tentang Islam yang jauh panggang dari api. "Kalau saya membaca selebaran tentang Islam, mungkin saya tak ingin masuk Islam. Saya tertarik pada Islam setelah membaca Alquran dan hadis," katanya salah satu pendiri majalah Emel ini.

Sarah adalah seorang Muslimah Inggris yang memeluk Agama Allah bukan dari jalur keturunan dan keluarga. Wanita yang kini berusia 33 tahun itu mulai mempelajari islam dan bersyahadat di usianya yang sangat belia, 16 tahun. Rasa penasarannyah yang menuntunnya membaca banyak literatur keislaman.

Sebelum memutuskan berislam, ia menghabiskan satu tahun untuk menyelami Alquran dan hadis. Berbeda dengan beberapa teman mualafnya, di awal belajar Islam, dia justru menghindari untuk bertemu dengan sesama Muslim atau mereka yang telah bertukar agama menjadi Muslim sebelumnya. Ia ingin kesadaran berislam tumbuh dari dalam dirinya, bukan karena pengaruh orang lain.

"Saya terkesan oleh karakter luar biasa, kesabaran, kejujuran dan integritas dari yang mulia Nabi Muhammad (SAW). Ketika Beliau memutuskan menjadi 'pencari kebenaran' yang tulus dalam arti sebenarnya dari kata tersebut, maka Allah, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, membimbingnya ke jalan yang lurus," ujarnya sambil menyebut kutipan Alquran surat Asy-syuara (42) ayat 52.

Satu lagi, dia terkesan bagaimana Islam membangun kesetaraan antara pria dan wanita. "Tokoh seperti Khadijah, Aisyah, Sumayy,a dan Nusayba - semoga Allah senang dengan mereka semua - berjuang bersama saudara-saudara mereka dalam Islam untuk menciptakan masyarakat yang adil dan yang takut akan Allah," katanya. Para pria dan wanita dalam masyarakat Madinah, katanya, berjuang bersama-sama untuk Allah.

Sarah Joseph kini dikenal sebagai penulis, penyiar, dan dosen mata kuliah tentang Islam baik di Inggris dan di dunia internasional. Ia dibesarkan dalam keluarga katholik taat dan terpelajar.

Ibunya, Valerie Askew, sukses menjalankan Askew's Modelling Agency, sebuah agensi modeling. Ayahnya seorang akuntan Inggris ternama.

Tentang masa lalunya, ia enggan bercerita banyak. Ia hanya menyatakan, "Saya tumbuh di dunia dimana semua orang ramping dan indah."

Sarah dididik di St George’s School, Hanover Square, Mayfair and St Thomas More School, Sloane Square, Chelsea. Gelar sarjana muda diraihnya dari Department of Theology and Religious Studies, King’s College London.

Ia menyatakan tidak menyukai dikotomi Barat-Timur atau negara Muslim-Kafir. "Orang dapat mengatakan bahwa saya datang dari rumah Firaun, tetapi bukankah di rumah Firaun ada istri Firaun, seorang wanita saleh, yang melihat kebenaran dan mereka mengikutinya, walaupun Firaun mengancam mereka dengan penyiksaan dan kematian. Dan tentu saja, ada Musa, yang juga ditempatkan di rumah Firaun oleh Allah, untuk kemudian dipanggil untuk menyebarkan pesan-Nya," ujarnya.

Ia menyebut 'rumah'-nya, Inggris, memiliki orang-orang saleh dan baik di dalamnya. Juga orang-orang yang, jika terkena kebenaran, akan mengikutinya. "Kebenaran mungkin sekarang terselubungi dan tersembunyi dari mereka. Dan bukan hanya oleh media, tapi juga oleh umat islam sendiri yang menyembunyikan pesan Allah dalam budaya dan tradisi mereka yang tak islami, dan dalam kemarahan mereka," tambahnya.

Kini, melalui majalah gaya hidup Muslimah, Emel, ia menyebarkan pesan-pesan damai Islam. Di sisi lain, ia juga "mendandani" Muslimah untuk bisa menjadi humas bagi agamanya. "Islam itu indah. Tugas kita menyingkap keindahan Islam dan menjadi rahmat bagi semua," ujarnya.[republika]

Dokter Gigi Angkatan Laut AS yang Memilih Agama Islam

0

Heather Ramaha baru tiga bulan ditugaskan di basis militer AS Pearl Harbour, Hawai ketika serangan 11 September 2001 terjadi. Ia bersuamikan anggota pasukan Marinir AS, seorang muslim Palestina asal San Francisco. Meski suaminya muslim, Ramaha belum masuk Islam dan masih memeluk agama Kristen.

Peristiwa serangan 11 September 2001 membuat Islam dan Muslim menjadi pemberitaan dan pembicaraan masyarakat dunia, meski sebagian bersar pemberitaan itu bias dan mengandung kebencian terhadap kaum Muslimin dan Islam.Di sisi lain, peristiwa ini justru mendorong sebagian non-muslim untuk beralih memeluk agama Islam dan Ramaha adalah satu diantara mereka.

Kurang dari tiga minggu setelah serangan 11 September 2001 terjadi Kota New York dan Washington. Ramaha yang bertugas di bagian medis--sebagai dokter gigi--Angkatan Laut AS, datang ke masjid Manoa, Hawai. Disaksikan oleh beberapa muslimah yang juga hadir di masjid itu, Ramaha mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat sah untuk menjadi seorang muslim. Sejak itu, Ramaha resmi menjadi seorang muslimah.

Ia mengungkapkan, ia masuk Islam atas kemauannya sendiri dan bukan karena suaminya, Mike, yang seorang muslim. "Mike tidak pernah sekalipun berusaha meminta saya untuk pindah agama. Dia bilang, jika saya ingin masuk Islam, saya harus mencari tahu tentang Islam sendiri," tutur Ramaha.

Setelah menjadi seorang muslimah, sang suami membantu Ramaha belajar salat terutama bacaan salat yang semuanya dalam bahasa Arab. Ramaha juga selalu mengenakan kerudung jika ke masjid, tapi belum bisa mengenakan jilbab di kantor karena ia terikat peraturan sebagai bagian dari Angkatan Laut AS.

Persoalan lain yang ia hadapi setelah bersyahadat adalah memberitahu keluarganya yang tinggal di California. "Saya tidak menemukan cara yang pas untuk memberitahu mereka agar mereka tidak syok. Pada ayah, saya cerita bahwa saya pergi ke masjid tapi tidak bilang bahwa saya sudah masuk Islam," kata Ramaha.

Ramaha mengungkapkan, dulu, keluarganya juga tidak menganut agama tertentu. Rahama adalah orang pertama di keluarganya yang pergi ke gereja. Pada usia 5 tahun, ia berteman dengan anak perempuan seorang Pastor. Ia kemudian menyatakan menganut agama Kristen. Setelah itu, kelurganya mengikutinya menjadi Kristiani. Sampai sekarang, ibunya Ramaha menjadi seorang aktivis gereja.

Ramaha mengakui, walau sudah menjadi seorang Kristiani, ketika itu ia masih meragukan soal konsep Trinitas dalam agamanya. Sampai suatu hari di bulan Maret, ia memutuskan untuk kuliah online Univeristas California yang mempelajari agama-agama di dunia. Selanjutnya, setelah peristiwa 11 September 2001, Ramaha mengambil kelas pengantar tentang agama Islam di Hawai. Ia pun mulai membaca isi Al-Quran dan merasakan ada hal yang "menyentak" hatinya. Ramaha merasa mendapat jawaban atas keraguannya selama ini terhadap ajaran Kristen yang pernah didapatnya, terutama konsep Trinitas yang membuatnya bingung.

"Saya sudah menjadi seorang Kristiani selama 18 tahun. Banyak sekali celah dalam ajaran agama itu yang membuat saya ragu. Tapi setelah mengenal Islam, agama ini membuka wawasan berpikir saya ... dalam hati saya merasa bahwa inilah agama yang tepat untuk saya," ujar Ramaha.

Ia juga mendapat banyak pertanyaan soal mengapa perempuan berpendidikan sepertinya dirinya memilih masuk agama Islam. Dua orang yang menanyakan hal itu padanya mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menindas kaum perempuan. Ramaha merespon pertanyaan itu dengan jawaban bahwa banyak orang yang mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan tradisi.

Sekedar informasi, menurut Presiden Asosiasi Muslim Hawai, Hakim Ouansafi, pascaserangan 11 September jumlah orang yang masuk Islam di Hawai meningkat tajam. "Rata-rata ada tiga orang yang masuk Islam setiap bulannya, dan kebanyakan mualaf adalah kaum perempuan,"
kata Ouansafi.

"Secara nasional, rasio orang yang masuk Islam adalah 4 banding 1. Empat mualaf perempuan, satu mualaf laki-laki," sambungnya. (ln/IFT/eramuslim)

Dileep Kumar ,'Mozart of Madras' Sekeluarga masuk Islam setelah adiknya sembuh

0

Di dunia musik, sebelum film Slumdog Millionaire dirilis, nama AR Rahman mungkin tidak pernah ada yang mengenalnya. Padahal laki-laki kelahiran Chennai, Tamil Nadu, India tanggal 6 Januari 1966 ini telah menjual lebih dari 100 juta rekaman. Rahman yang dijuluki "Mozart of Madras" oleh majalah Time itu setidaknya telah menjadi pengarah musik lebih dari 50 film produksi Bollywood.

Dan, ketika sutradara Slumdog Millionaire, Danny Boyle menyodori posisi penata musik, ia tidak berpikir dua kali. Dia mulai merencanakan musik itu beberapa bulan dan akhirnya film itu benar-benar meledak.

Seperti mayoritas penduduk India yang menganut agama Hindu, Rahman sejak lahir sudah memeluk Hindu. Nama pemberian orang tuanya adalah AS Dileep Kumar. Ia tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga pemusik kaya raya. Ayahnya, RK Shekhar, dikenal luas sebagai komposer dan konduktor musik untuk film-film India berbahasa Malayalam.

Ketika usianya menginjak 9 tahun, sang ayah meninggal dunia dan peran sebagai kepala keluarga dipegang oleh ibunya Kareema (Kashturi). Sejak saat itu, kebutuhan hidup Rahman dan saudara-saudaranya ditutupi dari hasil menyewakan alat-alat musik peninggalan sang ayah. Kerasnya kehidupan yang harus ia lalui sepeninggal sang ayah telah membuatnya menjadi seorang atheis.

Berkat kecermelangannya dalam bermusik, ia pun mendapat tawaran beasiswa dari sebuah sekolah musik di Greewich, Inggris, Trinity College of Music. Rahman berhasil menyelesaikan pendidikan musiknya di sana dan lulus dengan gelar dalam bidang musik klasik Barat.

Persentuhan awal Rahman dengan agama Islam terbilang unik. Ketika itu sang adik tiba-tiba jatuh sakit. Berbagai upaya telah ditempuh dan dilakukan oleh keluarganya demi kesembuhan sang adik. Namun kesembuhan yang diharapkan tak kunjung tiba.

Di tengah keputusasaan yang melanda keluarga Rahman, salah seorang teman keluarganya, memberi saran agar mereka memanjatkan doa di sebuah masjid dan bersumpah untuk masuk Islam jika sang adik diberi kesembuhan kelak. Jadilah keluarga Rahman menjalankan saran tersebut.

Tak lama berselang sang adik pun diberi kesembuhan. Dan sesuai dengan sumpah yang telah mereka ucapkan, Rahman beserta seluruh anggota keluarganya menyatakan masuk Islam. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1989, saat usia Rahman baru menginjak 23 tahun. Sejak saat itu, dia pun mengubah namanya dari AS Dileep Kumar menjadi Allah Rakha (AR) Rahman.

Kepada majalah Time, suami dari Saira Banu ini mengungkapkan dirinya tertarik untuk memeluk Islam setelah mempelajari sufisme Islam. Mengenai identitas keislamannya ini ia tidak malu untuk menunjukkannya di hadapan publik.

Hal ini terlihat jelas manakala ia memberikan sambutan pada malam penganugerahan Academy Awards ke-81. Di hadapan para pelaku industri film dunia ia mengawali kata sambutannya dengan sebuah kalimat Tamil "Ella pughazhum iraivanukke", yang secara harfiah berarti "Semua pujian didedikasikan untuk Allah".

Kendati telah memeluk Islam, hal tersebut tidak membuat Rahman berhenti dari dunia seni musik. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Majalah The Rolling Stone edisi 16 November 2008, Rahman mengungkapkan, pada tahun-tahun pertamanya menjadi seorang Muslim, bersama lima orang teman masa kecilnya ia membentuk sebuah band yang mereka beri nama Roots. Dalam band tersebut, ia ditempatkan sebagai pemain keyboard dan penggubah lagu.

Setelah band tersebut bubar, Rahman kemudian mendirikan sebuah grup musik beraliran rock. Band barunya ini ia beri nama Nemesis Avenue. Di Nemesis Avenue, ia memainkan beberapa alat musik, mulai dari keyboard, piano, synthesizer, harmonika hingga gitar. Namun dari kesemua perangkat alat musik ini, menurut Rahman, ia lebih tertarik dengan synthesizer. ''Alat ini merupakan kombinasi yang ideal antara musik dan teknologi,'' ungkap ayah dari Khadijah, Rahima dan Aameen ini kepada TFM Page Magazine edisi Januari 2006.

Karir profesionalnya di industri film baru mulai dirintis di tahun 1992, ketika ia mendirikan studio rekaman sendiri di rumahnya di Chennai. Studio musiknya yang diberinya nama Panchathan Record Inn tersebut saat ini bisa dibilang sebagai salah satu studio musik yang paling canggih dan memiliki teknologi tinggi di Asia.

Sepanjang karirnya sebagai musisi, Rahman telah memenangkan berbagai penghargaan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Antara lain empat belas piala Filmfare Awards, sebelas piala Filmfare Awards South, empat piala National Film Awards, dua piala Academy Awards, dua Grammy Awards, satu piala BAFTA Award dan satu piala Golden Globe. Atas pencapaian ini, pada tahun 2005 lalu oleh majalah TIME ia pernah dinobatkan sebagai penulis soundtrack film yang paling menonjol di India. Di tahun 2009 lalu, majalah TIME kembali memberi penghargaan kepada Rahman dengan menempatkannya dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia.[republika]

Inilah Perjalanan Rohani Kiper Indonesia,Markus Horison

0

MARKUS Horison dilahirkan di sebuah daerah bernama Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, 14 Maret 1981. Ia terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara pasangan Julius Rihihina dan Yenny Rosmawati. Seperti seluruh anggota keluarganya, sejak dilahirkan Markus merupakan pemeluk agama Kristen.

Pada tahun 2004, ketika berkostum PSMS Medan, Markus mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Ketika itu, penjaga gawang yang mengawali kiprahnya di sepak bola dengan bergabung bersama SSB Brandan Putra ini memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Haris Maulana.

"Saya masuk Islam tanpa ada paksaan dari siapa pun. Masuk Islam merupakan keinginan saya sendiri," katanya seperti dirilis Republika Online.

Kendati baru masuk Islam ketika usianya menginjak 23 tahun, Markus sebenarnya sudah mengenal Islam sejak bocah. Sebab ibunya yang orang Aceh, terlahir dari keluarga muslim. "Ibu saya awalnya Islam. Sejak menikah, ibu berganti kepercayaan mengikuti kepercayaan ayah," tuturnya.

Diceritakan Markus, sejak kecil ia memang memiliki kedekatan dengan keluarga dari pihak ibu. Tak heran, setiap kali liburan sekolah, Markus sering menghabiskan waktunya di rumah kerabat ibunya di Aceh. Makanya, Markus kecil sudah mengenal peribadatan umat Islam, seperti salat, puasa, dan mengaji. "Waktu kecil, saya suka ikut saudara-saudara ke masjid, ikut salat, dan mengaji. Dari situlah saya mendapatkan gambaran tentang Islam," katanya.

Dalam kesehariannya sebagai pemain sepak bola, Markus juga banyak bergaul dengan para pemain yang kebanyakan beragama Islam. Tak terkecuali rekan-rekannya di PSMS. Menurut Markus, pergaulan dengan para pemain yang kebanyakan beragama Islam itu semakin mengenalkannya terhadap kehidupan seorang muslim.


Sempat Ditentang Keluarga

KENDATI sudah memiliki nama muslim, yaitu Muhammad Haris Maulana, nama Markus Horison tetap digunakan dalam kesehariannya. Pasalnya nama ini kadung populer di pentas sepak bola nasional, jauh sebelum Markus memutuskan masuk Islam pada tahun 2004.

Karena menyangkut agama dan keyakinan, keputusan Markus menjadi mualaf mendapatkan rintangan. Orang pertama yang menentang keputusan kiper berkepala plontos ini tentu saja ayah dan ketiga kakaknya. "Awalnya tentu saja mereka merasa keberatan," ujarnya kepada Republika.

Tapi tentangan dari orang-orang terdekat yang sangat dicintainya ini tidak membuat Markus surut. Dengan segala keyakinannya, penjaga gawang yang namanya berkibar bersama PSMS Medan ini tetap pada keputusannya menjadi "manusia baru", seorang pemeluk agama Islam.

Karena keteguhan hatinya pula ayah dan ketiga kakaknya akhirnya mengerti keputusan hidup yang diambil Markus. "Pada akhirnya, mereka menyadari saya sudah cukup dewasa dan bisa menentukan jalan hidup yang saya rasa terbaik untuk saya," lanjutnya.

Markus tentu saja sangat sadar dengan berbagai risiko yang harus dihadapi atas keputusannya tersebut. Tak terkecuali menjalani berbagai ritual keagamaan sendirian, berbeda dengan seluruh anggota keluarganya. Meski awalnya diakui sangat berat, Markus akhirnya terbiasa beribadah sendiri.

Salah satu contoh terberat yang harus dilakoni Markus sendirian adalah ketika bulan suci Ramadhan tiba. Di bulan penuh hikmah itu, Markus harus bangun untuk sahur, berbuka, dan menjalankan tarawih sendirian. Begitu juga ketika merayakan hari raya Idulfitri dan Iduladha

Belajar beribadah

Markus memutuskan untuk masuk Islam pada tahun 2004. Itu adalah tahun keduanya bersama PSMS Medan yang baru saja promosi kembali ke Divisi Utama Liga Indonesia (LI). Dalam skuad PSMS tahun 2004 yang ketika itu ditangani pelatih Sutan Harhara, sebagian besar rekannya merupakan pemeluk agama Islam.

Menurut Markus, rekan-rekannya sesama pemain PSMS berperan sangat besar dalam memberikan dukungan moral di awal-awal ia menjadi seorang mualaf. Dari sesama pemain PSMS itulah Markus belajar tata cara sejumlah peribadatan dalam Islam, seperti salat dan berpuasa. "Saya sering salat, belajar, dan bertanya hal-hal seputar Islam kepada mereka," cerita Markus kepada Republika Online.

Bersama para pemain PSMS pula, Markus menjalankan ibadah puasa wajib pertamanya di bulan Ramadan. Meski tidak ada pertandingan, kompetisi LI X/2004 belum usai. Karena itu, pada bulan Ramadan pertamanya sebagai seorang mualaf, Markus dan rekan-rekannya masih menjalani latihan cukup berat.

Bukan lantaran masih bersemangat sebagai muslim baru, Markus tidak menganggap rasa lapar dan haus sebagai halangan untuk menjalani latihan keras. Tapi, Markus sadar benar kalau puasa merupakan sebuah kewajiban yang harus tetap dilakoninya dalam kondisi seberat apa pun.

Atas kesadaran itulah, bulan puasa pertamanya menyisakan kesan tersendiri buat Markus. Sebab, meski latihan berat harus tetap dijalaninya, Markus berhasil menjalankan ibadah puasanya sebulan penuh. Tidak sekalipun ia membatalkan puasanya.

Markus sempat tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sepanjang bulan Puasa pertamanya. Sebab, Markus mengaku, dalam kesehariannya, ia paling tidak tahan menahan lapar. "Ternyata saya bisa. Bahagianya saya," tutur Markus, mengenang bulan Puasa pertamanya.

Nama Muslimnya digunakan di Kancah Sepak bola


SEPERTI diceritakan di awal tulisan, setelah menjadi mualaf, Markus punya nama muslim Muhammad Haris Maulana. Meski demikian, Markus tetap menggunakan nama lamanya karena kadung dikenal banyak orang.

Tapi pada tahun 2009 atau lima tahun setelah menjadi mualaf, Markus mulai menggunakan nama muslimnya di kancah sepak bola, baik secara nasional maupun internasional. Klub pertama yang mendaftarkan Markus dengan nama M. Haris Maulana adalah Arema Indonesia dalam daftar skuadnya menuju Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 pada bulan September 2009.

Di pentas internasional, nama M. Haris Maulana pertama kali muncul dalam daftar susunan pemain, ketika tim nasional Indonesia menghadapi Singapura dalam sebuah pertandingan persahabatan di Stadion Nasional Kallang, Singapura, 4 November 2009. Dalam pertandingan yang berakhir 3-1 untuk kekalahan "Merah-Putih" itu, Markus bermain selama 71 menit sebelum digantikan kiper Sriwijaya FC, Ferry Rotinsulu.

Untuk pertandingan internasional Indonesia selanjutnya, seperti dalam empat laga tersisa di babak kualifikasi Piala Asia 2011 melawan Kuwait, Oman, dan Australia, nama M. Haris Maulana terus dipakai Markus. Ketika dinobatkan sebagai salah satu nomine penjaga gawang terbaik Asia (AFC) pada bulan Oktober 2009, nama yang muncul juga M. Haris Maulana.

Meskipun demikian, penjaga gawang yang akhirnya hijarh ke Persib Bandung pada putaran kedua LSI 2009/2010 ini mengatakan, dalam kesehariannya ia tetap dipanggil Markus. "Panggilan saya tetap Markus," katanya, sesaat setelah menandatangani kontrak dengan manajemen Persib.

Memimpikan Bisa Menginjakkan Kaki di Tanah Suci

SEBAGAI seorang mualaf, Markus terus berusaha memperbanyak jumlah amalan ibadahnya. Bukan hanya ibadah-ibadah wajib seperti salat dan berpuasa, beberapa amalam yang hukumnya sunat pun mulai dilakoninya. Markus juga terus berupaya meningkatkan dan menyempurnakan kualitas ibadahnya.

Selain bertanya langsung, baik kepada ahlinya maupun teman-temannya, cara lain yang dilakukan Markus untuk meningkatkan pengetahuannya tentang Islam adalah membaca buku-buku Islam. Untuk itu, Markus tidak segan-segan membeli buku bacaan, seperti buku panduan salat dan kumpulan doa.

Meskipun masih memiliki keterbatasan dalam hal membaca huruf Arab, keinginan Markus untuk belajar tak pernah surut. "Saya biasanya membaca tulisan latinnya saja, karena memang bacaan arab saya masih kurang lancar," akunya kepada Republika Online.

Selain ibadah wajib, Markus pun mulai belajar menjalankan ibadah sunat seperti puasa Senin-Kamis. Markus juga mengaku terus belajar mengaji bacaan-bacaan Alquran.

Satu hal lagi, seperti halnya umat muslim lainnya, Markus pun ternyata memimpikan bisa menginjakkan kakinya di Tanah Suci Mekah. Markus berharap, suatu saat kelak ia bisa menjalankan ibadah umrah, dan bahkan haji ke tanah suci umat Islam itu.

"Pastilah, sebagai muslim saya ingin sekali bisa menjalankan ibadah umrah ataupun haji," ujarnya

Umrah Bersama Keluarga Wakil Manajer Persib

KIPRAH Markus bersama Arema Indonesia --klub pertama yang mendaftarkan nama muslimnya-- tidak tuntas. Karena ada konflik dengan pelatih Robert Rene Alberts (Belanda), Markus terdepak dari skuad Arema. Meskipun demikian, Markus bisa terus mengibarkan namanya bersama Persib Bandung yang menampungnya di putaran kedua Liga Super Indonesia (LSI) 2009/ 2010.

Adalah hubungan baiknya dengan Manajer Persib, H. Umuh Muchtar yang membawa Markus ke Bandung. Di klub kebanggaan bobotoh ini pula kemudian Markus diperkenalkan dengan seorang pengusaha tinta bernama H. Deddy Firmansyah yang menjabat sebagai Wakil Manajer Persib.

Selain bisa terus mempertahankan eksistensinya di pentas sepak bola nasional, di Persib, Markus pun semakin banyak memiliki kesempatan belajar agama Islam. Keinginannya yang kuat untuk belajar ditunjukkan Markus dengan rajinnya ia mengikuti pengajian dan doa bersama yang selalu dilaksanakan seluruh pemain dan ofisial tim Persib setiap menjelang pertandingan. Markus bisa memperdalam pengetahuannya tentang Islam, karena dalam setiap acara pengajian dan doa bersama itu, Persib selalu menghadirkan para ustaz untuk memberikan tausiah.

Bahkan, sekitar bulan Juli 2010, Markus akhirnya bisa mewujudkan impiannya menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekah. Ketika itu, tepatnya menjelang babak 8 Besar Piala Indonesia 2010, Markus berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah bersama keluarga Wakil Manajer Persib.

"Meski sempat tertunda beberapa hari akibat kendala visa, waktu itu kami berlima, termasuk Markus, alhamdulillah bisa berangkat menunaikan ibadah umrah," kata Deddy.

"Selain berdoa untuk diri sendiri, di sana (Mekah, red), saya juga mendoakan kesuksesan Persib," ujar Markus sekembalinya dari Tanah Suci.

Sambil menunggu kesempatan berikutnya untuk menunaikan ibadah haji yang masih tetap diimpikannya, Markus berharap, kualitas ibadahnya semakin meningkat sekembalinya dari Tanah Suci. Amin.

Mengakhiri Masa lajangnya dengan Menikahi Kiki Amalia

Kiper Tim Nasional Indonesia Markus Haris Maulana alias Markus Horison resmi mengakhiri masa lajangnya, Sabtu (27/11). Kiper yang memperkut klub Persib Bandung itu mempersunting selebriti Kiki Amalia.

Respesi pernikahan Markus dan Kiki Amalia berlangsung di Gedung Kriya Asri, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Selain dihadiri rekan-rekan pemain timnas dan Persib Bandung, pernikahan Markus juga dihadiri kalangan selebritis.

Andi Darussalam Tabussala, Presiden Direktur PT Liga Indonesia bertindak sebagai wali kedua mempelai.

Tadinya, Markus yang pernah menjadi nominator pemain terbaik Asia 2009 ini berencana menikahi Kiki Amalia setelah tampil di pertandingan Piala AFF, Desember mendatang. Namun karena ada pertimbangan lain, pernikahan keduanya dilangsungkan lebih cepat

Nama lengkap : Markus Horison Ririhina
Nama Muslim : Muhammad Haris
Tempat, Tanggal lahir : Pangkalan Brandan, Medan, 14 Maret 1981
Orang Tua : Ayah = Julius Ririhina
Ibu = Yenny Rosmawati (Almh)
Anak ke : 4 (bungsu) dari empat bersaudara
Tinggi Badan : 186 cm
Berat Badan : 75 Kg
Posisi : Penjaga Gawang
Klub Sekarang : PSMS Medan
Klub remaja : Diklat PPLP Sumatra Selatan (1998-2000)

Klub profesional :
- (2000-2001) : PSL Langkat
- (2001-2002) : Persiraja Banda Aceh
- (2002-2003) : PSKB Binjai
- (2003-2008) : PSMS Medan
- (2008) : Persik Kediri
- (2008-Sekarang) : PSMS Medan

Karier di Timnas: (2007-Sekarang)
Debut Timnas : Indonesia vs Korea Selatan di Piala Asia di Jakarta (0-1)

Prestasi :
- 2004 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2005 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2006 : Juara Turnamen Piala Emas Bang Yos Bersama PSMS Medan
- 2006 : Pemain Terbaik Piala Emas Bang Yos
- 2007-2008 : Penjaga Gawang Terbaik versi Liga Indonesia
- 2007-2008 : Runner Up Liga Indonesia (PSMS Medan)
- 2008 : Juara Piala Kemerdekaan 2008 melawan Libya (3-1, Libya WO)
- 2008 : Runner Up Grand Royal Challenge 2008 di Myanmar (3-1).
sumber ;persibonline dan berbagai sumber

Inilah Perjalanan Rohani Generasi Muda Muslim Rusia Rustam Sarachev

0
Sarachev adalah keturunan Tatar. Nenek moyangnya beralih memeluk Islam pada abad ke-9, ketika Tatarstan masih menjadi negara kuat yang memiliki hak-haknya sendiri. Di masa silam, selama 450 tahun kaum Tatar di bawah dominasi Rusia, bangga dengan warisan leluhur. Mereka menganggap diri mereka pemimpin alami Muslim Rusia berjumlah 30 juta orang.

Namun nenek moyang Sarachev tidak mempraktekan Islam dalam cara yang ia pahami saat ini. Selama satu milenium, Tatar mengembangkan teologi yang kaya namun juga rumit. Konsep itu nyaman sejalan dengan pemikiran yang dibutuhkan untuk hidup berdampingan bersama Kristen Rusia. Di Kazan, ibu kota Tatarzan, budaya koeksistensi hasil pemikiran masa lalu itu masih bisa dijumpai hingga kini.

Hanya saja, sikap Soviet yang memusuhi dan membenci agama membuat sebagian Tatar saat ini cenderung acuh tak acuh dengan warisan Islam sendiri, bahkan sebagian cenderung tak beragama Ketika tumbuh besar, Sarachev mengingat, agama berarti para kakek dan nenek serta libur hari raya. Ia sendiri tak pernah menjalankan ibadah Islam.

Ketika Soviet jatuh, pendakwah Arab masuk ke Tatarstan. Mereka berkotbah tentang Islam, sebagai agama yang lebih dingin, kaku, sederhana dan lebih puritan. Ajaran itu malah berakar di kawasan itu dan terlihat menguasai kaum muda. Keruntuhan Soviet pula yang membuat rakyat Tatar yang sebelumnya Islam beralih ke Kristen, kembali lagi ke memeluk Islam.

Penerimaan yang Lambat

Almetyevsk, sebuah kota berpenghuni 150 ribu orang yang didirikan pada 1955. Bukan kemiskinan materi yang mendorong pemuda Tatar kepada Islam. Pasalnya keberadaan minyak dan gas membawa kesejahteraan mencolok. Adalah kemiskinan spiritual negara itu, di mana setiap insitusi mulai sekolah, rumah sakit hingga polisi dijerat dengan sinisme dan korupsi yang membuat penduduknya tertarik dengan agama.

Orang tua Sarachev bercerai ketika ia masih sangat muda. Ibunya bekerja di pabrik pipa. Sarachev kini juga bekerja di sana, sebagai operator pompa hidrolik. Ia masih tinggal di apartemen ibunya.

Batal Pesta MinumanRusam Sarachev pilih datangi Masjid

Pada saat menginjakkan kaki pertama kali di masjid agung di kota itu, Rustam Sarachev seharusnya bersenang-senang. Ia ingin menghadiri hingar-bingar pesta di sebuah klub malam, namun alih-alih ia malah mengirimkan dirinya ke jalan menuju Islam.

Awalnya seorang teman mengolok-olok karena ia berpikir tentang mengunjungi masjid. Marah, Rustam pun meninggalkan teman-temannya dan mereka berangkat minum-minum tanpa dirinya.

Begitu menyesali pikirannya yang 'jernih', dengan 500 rubel--yang seharusnya digunakan untuk membeli vodka--masih utuh di dompet, ia melangkah menuju sebuah masjid berwarna jingga salmon. Warna itu mendominasi satu sudut timur di sebuah kota minyak kecil, Volga. Saat itu akhir September 2006, awal bulan Ramadan.

Dibangun pada 1990-an dengan dukungan dana Arab Saudi, masjid itu menghadirkan pernyataan kuat di lingkungan setempat. Di dalam Sarachev menjumpai interior dengan aksen pahatan kayu memesona, paduan karpet warna merah dan hijau terlihat kontras saat disandingkan dengan ubin biru bermotif mosaik.

Pada hari libur para jamaah tetap membuka layanan. Selama ibadah sore, ashar menjelang maghrib, dengan arah bangunan menuju barat daya, Mekah, sebuah jendela di sisi kanan memasukan sekilas pemandangan langit megah berwarna merah muda, seperti dunia lain. Bahkan terlihat sorotan sinar menerpa lima kubah emas gereja Ortodok di seberang jalan.

"Saya sungguh terkejut," kenang Sarachev. "Saya tidak bisa memahami di mana saya berada. Saat itu didalam hanya ada orang-orang muda. Mereka memperlakukan saya begitu baik. Saya tidak pernah sebelumnya disambut seperti itu," tutur Sarachev.

Dalam aula masjid ia melihat wajah yang akrab. Seorang teman, Almas Tikhonov, yang selama ini dikenal tukang pesta berkepribadian kasar. Ia di sana, sedang berdoa. Ia terkesan dengan cara Almas melihat, ada ketenangan menarik dalam dirinya.

Hari-hari berikut, gambaran-gambaran itu terus berkutat dan tak bisa lepas di pikiran Sarachev. Ia pun memutuskan kembali ke masjid, lagi, lagi dan lagi. Ia harus menanggung cibiran teman-teman lamanya--dan ia akui itu berat--namun sekaligus, yang membuat tekadnya kian kuat.

Lama-kelamaan ia mulai melihat kawan-kawannya dengan cara pandang baru dan cahaya baru. Itu membuat ia mudah meninggalkan minum-minuman, pesta dan nongkrong di sudut-sudut jalan, atau mengendap-endap di sebuah desa di mana mereka dapat berpesta semalaman penuh, jauh dari pantauan orang tua.

Ketika ia menoleh kembali ke belakang, ia sendiri tak yakin apa yang membuat ia mendatangi masjid dan apa yang ia harapkan dari kunjungan itu. Berusia 17 tahun, kala itu ia merasa kehilangan diri. Sarachev melabeli dirinya holigan, pembuat onar dengn kepribadian yang dikeraskan oleh kehidupan. Namun, ia juga mengingat sangat rapuh dengan hinaan dan merasa sakit ketika menemui dirinya sebagai pemuda tanpa masa depan.

Mata Sarachev terbuka. Ia akhirnya menyadari bahwa dunia penuh dengan kejahatan. Tugas seorang Muslim yang baik adalah mengatasi dan mengalahkan semua kejahatan itu. Dan sesuatu di sana, ia tahu, meski ia mengaku masih memproses dalam pikirannya, terletak pengertian Jihad. "Itu adalah perjuangan terhadap mereka yang tidak meyakini," ujarnya "Itu bukan sekedar ujian. Jihad adalah perang."

Tantangan datang justru dari Kedua orang tua

Ketika ia mulai bersungguh-sungguh memeluk Islam, ia belajar bahwa setiap orang lahir dengan iman dari dalam dan orangtualah yang menjauhkan anak-anak mereka dari agama. "Tidak berarti orangtua kita langsung," imbuhnya. "Itu bisa juga metafora dari masyarakat."

Namun sedikit mengherankan ketika ibu dan ayahnya ternyata tidak suka dengan kesadarannya barunya dalam beragama--bila tak bisa dibilang keyakinan baru. Mereka juga tak suka dengan penolakan Sarachev terhadap budaya yang mereka jalani selama ini.

"Mereka tidak paham," tuturnya. "Mereka bertengkar dan berdebat. Mereka, tentu selalu sangat marah ketika saya pulang ke rumah larut dan mabuk, tapi ini mengherankan" kata Sarachev.

Begitu mereka melihat putranya menghentikan kebiasaan buruk, mereka mulai memperhatikan dan bertanya-tanya. Kini, ketika ibunya melihat Sarchev shalat di rumah, ia akan menutup pintu kamarnya dengan sikap tak peduli. Sang ibu juga menolak tegas diwawancarai dalam cerita ini.

Namun, tahun ini pada 2010, adalah pertama kali mereka memberi Sarachev uang untuk membeli domba bagi hari raya kurban, Idul Adha. Domba-domba, lebih dari 600 ekor, diikat di tiang-tiang kayu sekitar masjid. Setiap hewan yang disembelih dikuliti dan dagingnya dibagi menjadi tiga bagian yang sama, satu untuk pihak yang berkurban, satu untuk kerabat dan satu bagian lagi disumbangkan bagi kaum papa.

Mereka yang memotong dan mencabik Muslim menjadi tiga bagian jauh lebih buruk dari mereka yang memotong domba menjadi tiga bagian," demikian ujar Imam masjid, Nail Bin Ahmad Sakhibzyanov, dalam kotbah yang sempat didengar Sarachev. Ia pun pulang dengan gembira dan bangga dengan keyakinannya. Itu adalah pemotongan hewan kurban terbesar yang pernah ada di Almetyvsk[republika]

Gara gara Menjadi Muslim ,ia pernah diteriaki "Bajingan Kulit Putih"

0

"Sebagai seorang remaja saya pikir semua agama adalah menyedihkan. Pandangan saya saat itu adalah: apa gunanya menempatkan pembatasan pada diri sendiri? Anda hanya hidup sekali di dunia ini," kata Lindsay Wheeler, peraih BSc bidang psikologi pada De Montfort University mengisahkan masa mudanya.

Bagi wanita yang kini berusia 26 tahun, hidup sekali harus diisi dengan "kebahagiaan". Yang dilakukannya untuk bahagia saat itu adalah: mabuk-mabukkan, berpenampilan mengikuti tren terkini, dan melakukan apa saja yang ingin dilakukan.

Namun ketika pola pikirnya makin tertata saat memasuki bangku universitas, ia mulai mencari makna hidup. "Minum-minum, clubbing, dan kebiasaan lama lainnya makin menjadi aktivitas yang membosankan. Apa gunanya semua itu?" ia menyatakan pikirannya saat itu.

Saat dalam kondisi penuh tanda tanya, wanita yang kini tinggal di Leichester, Inggris ini bertemu Hussein. "Saya tahu dia seorang Muslim, dan kami saling jatuh cinta. Saya mencoba memasukkan seluruh masalah agama 'di bawah karpet', tapi tak bisa," ujarnya.

Ia pun makin rajin melahap buku-buku keislaman. "Saya ingat, saat itu tangis saya meledak ketika saya berpikir, 'Ini bisa jadi arti seluruh kehidupan'. Menjadi Muslim artinya menjalani hidup secara terarah," ujarnya.

Ia mencoba masuk dalam komunitas Muslim. Berada di tengah mahasiswi berjilbab, ia merasa tenteram. "Mereka benar-benar mengubah pandangan saya. Mereka berpendidikan, cerdas, dan sukses. Saya menemukan jilbab yang membebaskan," ujarnya. Tak perlu pikir panjang, tiga pekan kemudian ia bersyahadat dan resmi masuk Islam.

"Ketika saya bilang pada ibu saya beberapa minggu kemudian, dia menerima. tapi dia membuat beberapa komentar seperti, "Mengapa kau mengenakan kerudung itu? Kau punya rambut indah," ujarnya.

"Teman saya yang terbaik di universitas sepenuhnya dihidupkan saya: dia tidak bisa mengerti bagaimana satu minggu saya keluar clubbing, dan berikutnya aku diberi segalanya dan masuk Islam. Dia terlalu dekat dengan kehidupan lama saya, sehingga saya tidak menyesal kehilangan dia sebagai teman.

Begitu menjadi Muslimah, ia memilih nama Aqeela untuk dipasang di depan nama lamanya. "Aqeela berarti 'masuk akal dan cerdas' - dan itulah yang saya cita-citakan ketika masuk Islam enam tahun lalu. Saya menjadi seseorang yang baru: semuanya harus dilakukan Lindsay di masa lalu, sudah terhapus dari ingatan saya," ujarnya.

Apa yang tersulit setelah menjadi Muslim? Ia menggeleng. Semuanya bisa disesuaikan, kecuali mengubah cara berpakaian. "Saya selalu sadar mode. Pertama kali saya mencoba jilbab, saya ingat duduk di depan cermin, berpikir, "Apa yang aku harus meletakkan sepotong kain di atas kepalaku?" Tapi sekarang saya akan merasa telanjang tanpa itu."

Memakai jilbab, katanya, mengingatkan dirinya bahwa semua yang perlu dilakukannya setiap saat adalah melayani Tuhan dan rendah hati. Jilbab juga mengingatkan bahwa ia adalah duta Islam dimanapun dia berada.

Cobaan paling berat dialami setelah bom meledak di London. Saat itu, Muslim berada di titik terendah dalam hubungan sosial di Inggris. "Saat berjalan di luar rumah, selalu saja ada teriakan, atau bahkan ada yang menyebut saya "bajingan kulit putih". Saya pernah merasa takut keluar rumah karenanya," ujarnya.

Kini, ia menjadi Nyonya Hussein dengan satu putra berusia 1 tahun, Zakir. Ia masih menyimpan cita-cita sebagai psikolog, "Tapi saya menunggu Zakir siap ditinggal di rumah sementara saya bekerja," ujarnya.

Dulu Aku Diajari untuk Membenci Islam,tapi Kini....

0

Saya lahir di Athena, Yunani, dari orang tua penganut Kristen Ortodok Yunani. Keluarga ayah saya tinggal di Istanbul, Turki, hampir di seluruh hidup mereka. Ayah pun lahir dan besar di sana. Mereka keluarga sejahtera, berpendidikan baik dan seperti sebagian besar Kristen Ortodok yang tinggal di negara Islam, mereka sangat berpegang teguh dengan ajaran agama.

Tiba masa ketika pemerintah Turki memutuskan menendang mayoritas keturunan Yunani keluar dari negara itu dan menyita kekayaan, rumah serta bisnis mereka. Kondisi itu memaksa keluarga ayah saya kembali ke Yunani dengan tangan kosong. Ini yang dilakukan Muslim Turki dan itu yang mengesahkan, menurut mereka, untuk membenci Islam.

Keluarga Ibu saya tinggal di sebuah pulau Yunani di perbatasan antara Yunani dan Turki. Selama serangan Turki berlangsung, Turki menguasai pulau tersebut, membakar rumah-rumah. Demi keselamatan, penduduk pulau pun melarikan diri di daratan utama Yunani. Lebih banyak alasan lagi untuk membenci Muslim Turki.

Yunani, lebih dari 400 tahun dikuasai Turki. Akhirnya kami, kaum muda Yunani diajarkan untuk meyakini bahwa setiap kejahatan yang dilakukan terhadap Yunani, adalah tanggung jawab Islam. Jadi, selama beratus tahun kami diajari, dalam buku-buku sejarah dan agama, untuk membenci dan mengolok-olok agama Islam.

Dalam buku kami, Islam bukanlah sebuah agama dan Rasul Muhammad saw. bukanlah nabi. Ia hanyalah seorang pemimpin dan politisi sangat cerdas yang mengumpulkan aturan dan hukum dari kitab Yahudi dan Kristen. Lalu ia menambahi dengan ide-idenya sendiri dan menguasai dunia.

Di sekolah, kami bahkan diajari untuk mengolok-olok dia, istrinya serta sahabat-sahabatnya. Semua 'karikatur' dan lelucon kasar terhadapnya--yang dipublikasikan di banyak media saat ini--adalah bagian dari pelajaran kelas dan ujian kami!.

Alhamdulillah, Allah melindungi hati saya dan kebencian terhadap Islam tak pernah memasuki kalbu. Bantuan terbesar bagi saya mungkin dari dua orang tua yang bukanlah sosok relegius. Mereka jarang mempraktekkan ritual keagamaan dan hanya datang ke gereja saat ada pernikahan dan pemakaman.

Alasan yang membuat ayah saya menarik diri dari agamanya ialah korupsi yang ia saksikan dilakukan para pendeta setiap hari. Bagaimana mungkin orang-orang ini berkotbah tentang Tuhan dan kebaikan tapi pada saat bersamaan mencuri dari dana gereja, membeli vila dan memiliki mobil Mercedes serta menyebarkan gagasan homoseksual di kalangan mereka sendiri?


Apakah ini perwakilan yang benar dari agama yang akan memandu kami, mengoreksi kami dan mendekatkan kami kepada Tuhan. Ayah saya muak dengan mereka dan itulah yang membuat ia menjadi atheis. Gereja-gereja pun mulai kehilangan jemaat, paling tidak di negara saya, karena aksi para pendeta.

Tak Puas dengan Keyakinan Awal

Sebagai remaja, saya mencintai buku dan membaca banyak. Saya sendiri tidak pernah benar-benar puas dengan Kristen yang saya peluk. Saya mempercayai Tuhan, rasa takut dan cinta kepadanya, namun yang lain sungguh membingungkan saya.

Saya mulau mencari namun saya tak pernah mencari dan memelajari Islam. Mungkin karena latar belakang pendidikan saya bertentangan dengan ajaran ini.

Namun alhamdulillah, Ia mengasihi jiwa saya dan memandu saya kepada cahaya. Ia mengirimkan ke hidup saya seorang suami, lelaki Muslim yang menumbuhkan cinta ke dalam hati saya. Kami saat itu menikah tanpa memedulikan perbedaan agama.

Suami saya selalu bersedia menjawab pertanyaan apa pun yang terkait agamanya, tanpa merendahkan keyakinan saya--bagaimanapun salahnya mereka. Ia tak pernah menekan atau bahkan meminta saya untuk berpindah agama.

Setelah tiga tahun menikah, memiliki kesempatan mengenal Islam lebih jauh dan membaca Al Qur'an langsung, dan juga buku-buku agama lain, saya pun meyakini tak ada sesuatu yang bersifat trinitas. Muslim meyakini hanya Satu Tuhan yang tak bisa disandingkan dengan apa pun. Tidak memiliki anak, pasangan dan tidak ada sesuatu di muka bumi yang berhak disembah selain Dia. Tidak ada satupun yang berbagi keesaannya dengan-Nya dan juga sifat-sifat-Nya.

Menjadi Muslim

Saya pun memeluk Islam. Namun saya menyembunyikan agama baru dari orang tua, teman-teman selama bertahun-tahun. Kami tinggal bersama di Yunani tanpa pernah meninggalkan ajaran Islam dan sungguh luar biasa sulit, hampir mustahil.

Di kampung halaman saya tidak ada masjid, tidak ada akses ke studi Islam, tidak ada orang berdoa atau berpuasa, atau seseorang mengenakan jilbab.

Ada beberapa imigran Muslim yang datang ke Yunani untuk masa depan keuangan lebih cerah. Mereka membiarkan kehidupan Barat menarik dan mengorupsi mereka. Hasilnya, mereka tak mengikuti ajaran agama dan mereka sepenuhnya tersesat.

Suami dan saya harus shalat dan berpuasa mengikut kalender. Tidak ada Adzhan dan tidak ada komunitas Islam untuk mendukung kami. Kami merasa setiah hari mengalami kemunduran. Keyakinan kami melemah dan gelombang menyeret kami.

Ketika putri kami lahir, kami memutuskan--demi menyelamatkan jiwa kami dan putri kami--bermigrasi ke negara Islam. Kami tidak ingin membesarkan dia dalam lingkungan Barat yang bebas di mana ia harus berjuang keras menjaga identitas dan mungkin berakhir tersesat.

Terimakasih Tuhan, ia telah memandu kami dan membawa kami kesempatan untuk bermigrasi ke negara Islam, di mana kami mendengar kalimat-kalimat merdu Adhzan. Kami pun dapat meningkatkan pengetahuan dan cinta kami pada-Nya serta pada Rasul Muhammad. saw.[Republika]

"Mimpi buruk" itu Mendorongnya untuk mengenal Islam

0

Sejak kecil Angelene McLaren sudah membangun hubungan yang mendalam dengan "tuhan". Tentu saja "tuhan" yang diyakini dalam agama McLaren yang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga penganut Katolik. Ia tidak pernah berpikir untuk pindah agama meski ajaran Katolik diakuinya membingungkan, kontradiktif dan ambigu. Bahkan ketika duduk di sekolah menengah atas. McLaren memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada Katolik. Ia menghadiri misa dua kali sehari, melakukan pengakuan dosa sedikitnya seminggu sekali dan melaksanakan semua ritual yang diajarkan para pendeta, dengan satu keinginan agar ia lebih dekat pada "tuhan"nya.

Tapi semakin ia mengenal lebih dalam ajaran Katolik yang dianutnya, McLaren menemukan makin banyak pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan ini yang tidak bisa dijawab oleh ajaran agamanya. Pertanyaan-pertanyaan yang makin hari menekan jiwanya seperti "Siapa dirinya", "Siapa dan apakah tuhan itu sebenarnya?", "Siapa yang menjadi sosok teladan baginya?", "Mengapa tuhan memiliki anak?" dan pertanyaan lain yang tidak mampu dijawab bahkan oleh pendetanya sendiri.

"Pendeta saya hanya mengatakan bahwa saya harus memiliki agama, dan agama itu tidak harus masuk akal, yang penting keyakinan saya terhadap agama itu cukup kuat," kata McLaren menirukan ucapan pendetanya.

"Pernyataan itu tidak memuaskan saya, dan ketika lulus sekolah menengah atas, gereja saya tinggalkan dan mulai menjacari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu," sambungnya.

Sejak meninggalkan gereja, McLaren merasakan kekosongan dalam jiwanya. Untuk melepaskan diri dari kekosongan itu, ia mulai mempelajari aneka agama mulai dari Hindu, Budha, Taoisme dan mempratekannya. Ia bahkan mempelajari ilmu yang berbau sihir meski bukan untuk digunakan untuk tujuan jahat.

"Banyak orang yang menyebut saya gila. Mereka tidak memahami bahwa saya sedang melakukan pencarian, pencarian yang sejati. Tapi itu semua mengecewakan saya karena saya merasa tidak ada yang cocok dengan apa yang saya cari," tutur McLaren.

Hingga suatu hari, adik perempuannya berkunjung dan McLaren terkejut melihat penampilan sang adik yang mengenakan busana longgar dan panjang lengkap dengan jilbab panjang yang menutup bagian dada dan menjulur hingga pergelangan tangannya. McLaren heran melihat pakaian yang dikenakan adik perempuannya itu, apalagi saat itu musim panas dan udara siang itu sangat panas. Setelah mendapat penjelasan, McLaren baru tahu bahwa adiknya sudah menjadi seorang muslimah.

Ia seperti tersentak mendengar kata Islam. Selama ini ia mempelajari banyak agama tapi tidak pernah terlintas dalam pikirannya soal agama Islam. Pengetahuannya tentang Islam sangat minim, begitupula informasi tentang Islam yang ia peroleh penuh dengan stigma negatif tentang Islam.

McLaren lalu memutuskan pindah ke California, masih tanpa agama atau keinginan untuk mempelajari Islam, karena stigma negatif tentang Islam masih begitu melekat di kepalanya. Ia terus melakukan pencarian dan sampailah ia pada titik kulminasi dimana ia merasa putus asa dan menyerah. McLaren pun mencoba untuk tidak memusingkan soal agama dan ia memutuskan untuk menjalani hidup ini apa adanya.

Dua tahun berlalu. Ia bertunangan dengan salah seorang reman kuliahnya. Hidup McLaren belum berubah. Tanpa agama, tanpa keyakinan akan Tuhan. Jauh di dasar hatinya mengatakan bahwa hidupnya berantakan, tapi McLaren berusaha menepisnya hingga ia mengalami malam yang aneh.

Ketika itu, menjelang kepulangannya ke rumah orang tuanya di Michigan untuk mengurus pernikahannya. McLaren bermimpi buruk, mimpi terburuk yang pernah dialaminya selama hidup. "Dalam mimpi itu saya melihat dua laki-laki, ukuran tubuhnya sangat tinggi dan berpakaian serba putih berdri di ujung tempat tidur. Saya pikir mereka alien atau malaikat, saya tidak tahu pasti. Tapi saya sangat ketakutan dan mencoba menghindar dari kedua lelaki itu. Tapi makin saya menghindar, saya merasa semakin dekat dengan mereka," ungkap McLaren.

Ia melanjutkan, "Akhirnya, dalam mimpi itu, kami sampai di sebuah puncak gunung yang sangat tinggi, dibawahnya terbentang samudera luas, berwarna merah seperti darah dan panas seperti lava. Kedua lelaki itu menyuruh saya melihat ke arah samudera itu dan apa yang saya lihat masih jelas saya ingat sampai saya mati. Samudera itu penuh dengan orang yang telanjang dan dibolak-balik berkali-kali, seperti daging yang dipanggang di atas api."

"Orang-orang itu berteriak 'tolong kami, tolong kami!'. Saya merasa bahwa apa yang saya lihat ada neraka. Saya sangat ketakutan. Tapi ketika saya menceritakan mimpi itu pada tunangan saya, ia hanya tertawa dan mengatakan bahwa imajinasi saya terlalu berlebihan. Tapi saya sulit melupakan mimpi itu," papar McLaren.

Ketika pulang kampung ke Michigan itulah, ia bertemu dengan saudara perempuannya yang lain dan seorang sepupunya yang ternyata juga sudah memeluk agama Islam. Rasa ingin tahunya tentang Islam pun mulai muncul, lalu ia meminta pada saudara perempuannya itu untuk memberikan buku-buku tentang Islam yang bisa dibacanya. Dan buku pertama yang dibaca McLaren berjudul "Description of the Hell Fire".

"Apa yang saya lihat dalam mimpi saya ada di buku itu. Rasa ingin tahu saya makin besar dan saya mulai banyak membaca dan membaca, datang ke ceramah-ceramah, mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Semakin saya belajar tentang Islam, otak dan hati saya makin kuat mengatakan bahwa inilah yang selama ini saya cari," ujar McLaren.

Ia akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam. Persoalan pun menghadangnya, karena tunangannya tidak mau ikut masuk Islam. McLaren harus memilih antara tunangannya atau Islam dan ia tahu keputusan yang paling tepat adalah bersyahadat dan menjadi seorang muslimah.

"Allah Swt mengatakan jika Anda benar-benar beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, maka Ia akan mengujimu. Itulah ujian buat saya. Meski merasakan kepedihan yang sangat karena kehilangan seorang tunangan, saya tetap memilih masuk Islam," tandas McLaren.

Sekarang, sudah enam tahun McLaren memeluk Islam. Ia memilih nama Sumayyah sebagai nama Islamnya. Sumayyah bekerja sebagai wartawan dan humas. Ia hidup bahagia dengan seorang suami yang baik dan dikaruniai seorang putra.

"Buat mereka yang benar-benar menginginkan petunjuk, Allah Swt berfirman bahwa Dia akan memberikan petunjuk bagi mereka dari kegelapan menuju cahaya dan itulah yang Allah berikan untuk saya," ujar Summayah menutup kisahnya menjadi seorang muslimah. (ln/IFT/eramuslim)

Sebelumnya menolak jadi Muslim tetapi Akhirnya jatuh hati kepada Islam

0

Jika kau bertanya padaku pada usia 16 apakah aku ingin menjadi seorang Muslim, aku akan berkata," Tidak, terima kasih. Agamaku adalah minum-minum, berpesta dan aku nyaman dengan teman-temanku," ujar Catherine Heseltine, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tumbuh di London Utara, Catherine tidak pernah mempraktikkan agama apapun di rumahnya. Besar dalam lingkungan kelas menengah terpelajar, agama bagi keluarga ini dianggap "sedikit kuno dan tidak relevan".

Hingga suatu hari, guru sekolah tumbuh kembang ini bertemu seorang pemuda bernama Syed. Pemuda ini, diakuinya, beda dengan laki-laki yang pernah dikenalnya. "Ia menantang semua prasangkaku tentang agama. Dia masih muda, Muslim, sangat percaya pada Tuhan - dan sialnya, ia sangat "normal", sama seperti pria seusianya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa, tidak seperti kebanyakan pemuda Inggris, dia tidak pernah minum minuman keras."

Bagi Catherine, diskusi-diskusi dengan Syed membuatnya seperti ditampar. Menurutnya, seorang penganut agnotism akan menyadari bahwa menjadi pribadi tanpa agama adalah juga sebuah keyakinan; yakin Tuhan tak ada. "Kalau bagiku, bahkan Tuhan ada tidak pun, aku tak pernah peduli."

Setahun kemudian, ia jungkir balik dengan pemikirannya. Sampai akhirnya diam-diam ia menyadari, mulai jatuh hati pada Syed dan Islam. Entah ia jatuh hati lebih dulu pada Islam kemudian baru Syed, atau sebaliknya. Yang jelas, ia yang makin penasaran kian rajin membaca buku-buku keislaman.

Apa yang paling menarik perhatiannya dari semua literatur yang dibacanya? "Alquran. Kitab ini sangat menarik dari sisi intelektual, sisi emosional, dan spiritual. Aku menyukai penjelasannya tentang alam semesta dan menemukan bahwa 1.500 tahun yang lalu, Islam telah memberikan hak-hak perempuan yang tak dimiliki di sini, di dunia Barat ini. Aku makin yakin Alquran betul-betul sebuah wahyu."

Namun, menyatakan keislaman, dia belum sanggup. Baginya, berislam bukan sekadar bersyahadat, atau demi mendapatkan apa yang kita inginkan -- dalam konteks Catherine adalah mendapatkan Syed sebagai suaminya. "Agama ini benar-benar cool. Tapi selama tiga tahun aku menyimpan minat dalam Islam untuk diriku sendiri," ujarnya.

Sampai kemudian, timbul keberanian untuk bersyahadat saat kuliah di tahun pertama. Di tahun yang sama, karena alasan tak ingin berlama-lama pacaran, ia memutuskan menikah. "Reaksi awal Ibuku adalah, "tidak dapatkah kau hidup bersama saja dengannya tanpa menikah?" Bagi ibuku ia agak keberatan," tambahnya.

Bagi ibunya, rumah tangga Muslim adalah rumah tangga yang menindas istri. Namun ia sudah bulat tekadnya. "Kini aku sudah lima tahun lebih menjadi Nyonya Syed dan ibuku tak menemukanku dirantai di dapur," ujarnya terbahak-bahak.

Beda dengan Joanne atau Sukina (kisahnya ditulis di Republika Online dalam serial ini) yang berjilbab begitu bersyahadat, Catherine pada awal keislamannya belum sepenuhnya berjilbab. Di acara-acara keagamaan, ia mengenakan jilbab. Namun dalam kesehariannya, dia mengenakan bandana atau topi untuk menutupi rambutnya.

Ia beralasan, sengaja tampil demikian untuk menarik perhatian ketika tengah berada di rumah makan, tempat belanja, atau dimanapun ia berada di luar rumah. Ketika orang bertanya, maka akan mudah baginya untuk bercerita tentang Islam.

"Sepertiku, aku ingin orang bertahap mengadopsi ajaran Islam. Aku juga ingin orang menilaiku pertama kali dari kecerdasan dan karakterku, bukan agamaku. Ini aku sebut sebagai syiar."[republika]

Kaligrafi Masjid Alhambra Mengantarnya Menjadi Seorang Muslimah

0

"Saya duduk di dalam Masjid Alhambra, Spanyol sambil menatap tulisan yang terukira indah di dinding-dindingnya. Tulisan yang paling indah yang pernah saya lihat. Saya lalu bertanya pada orang-orang di sekitar 'bahasa apa itu?' mereka menjawab bahwa itu bahasa Arab," kenang Karima Burns ketika pertama kali ia mengenal tulisan dalam bahasa Arab.

Tulisan Arab yang pertama kali dilihat Burns ternyata sangat berkesan di hatinya. Hingga keesokan harinya, ketika pemandu tur menanyakan soal pilihan bahasa buku panduan wisata yang ia inginkan, dengan mantap Burns menjawab ia menginginkan buku panduan wisata yang ditulis dalam bahasa Arab.

"Bahasa Arab? Apa Anda bisa berbahasa Arab," tanya si pemandu ingin tahu

"Tidak. Bisakah Anda juga memberikan saya buku versi bahasa Inggrisnya?" kata Burns.

Di akhir perjalanan wisatanya, Burns membawa "oleh-oleh" satu tas penuh buku panduan wisata tempat-tempat yang dikunjunginya di Spanyol. semuanya berbahasa Arab. Saking banyaknya, Burns sampai memberikan pakaiannya pada orang lain agar buku-buku itu bisa masuk semua ke dalam tasnya. Baginya, buku-buku panduan wisata berbahasa Arab itu ibarat emas yang lebih berharga dibandingkan baju-bajunya. Ia membuka buku-buku itu setiap malam dan mengagumi tulisan-tulisan Arab di halaman demi halaman.

"Saya berkhayal bisa menulis tulisan yang indah itu dan saya mulai berpikir pasti ada sesuatu yang berharga dari sebuah budaya yang memiliki bahasa yang sangat artistik. Saya bertekad untuk mempelajari bahas ini begitu saya mulai kuliah pada musim gugur," tutur Burns.

Dua bulan menjelang kuliahnya dimulai, Buns meninggalkan keluarganya di Iowa dan berangkat ke Eropa, sendirian. Usianya ketika itu baru 16 tahun. "Saya ingin melihat dunia dulu sebelum masuk kuliah di Universitas Northewestern. Itulah yang saya katakan pada teman-teman dan keluarga. Padahal sebenarnya saya sedang mencari jawaban. Saya sudah meninggalkan gereja beberapa bulan sebelumnya, dan tak tahu kemana harus berpaling. Saya tak tahu alternatif apa yang akan saya pilih," ungkap Burns.

Ia berharap bisa menemukan ide apa yang akan ia lakukan setelah "keluar" dari gereja. Di gereja, kata Burns, umat Kristiani tidak diizinkan berdoa langsung pada Tuhan. Mereka hanya bisa berdoa pada Yesus dan berharap Yesus akan meneruskan doa itu pada Tuhan. Burns merasa ada yang salah dengan ajaran seperti itu dan diam-diam ia selalu berdoa langsung pada Tuhan. Burns percaya bahwa hanya ada satu entitas dengan siapa ia harus berdoa. Tapi di dalam hatinya, Burns merasa bersalah karena tidak menaati apa yang telah diajarkan agamanya. Situasi itu membuatnya bingung dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Burns bertanya-tanya mengapa umat Kristiani diwajibkan ke gereja hanya pada hari Minggu. Ia bingung melihat tingkah orang-orang yang berbeda 180 derajat ketika ada di gereja dan ketika berada di luar gereja. Apakah bersikap baik hanya pada hari Minggu saja, saat mereka semua harus ke geraja? Burns tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Ia membaca tentang 10 larangan Tuhan, seperti tidak boleh membunuh, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan hal-hal buruk lainnya yang sudah jelas. Di luar itu, Burns tak menemukan tuntutan bagaimana ia harus bertindak ketika berada di luar gereja.

"Yang saya tahu, mungkin tidak pantas mengenakan rok mini ke gereja atau kami ke gereja pada hari Minggu supaya bisa melihat cowok-cowok keren di gereja," ungkap Burns.

Suatu hari, ia berkunjung ke rumah seorang gurunya dan di sana ia melihat jejeran alkitab di rak buku. Menurut gurunya, alkitab itu berbeda-beda versi. Ia melihat gurunya tidak terlalu peduli melihat alkitab denga banyak versi berbeda. Tapi Burns merasa tak nyaman mengetahui hal itu. Ia menemukan bagian yang sangat berbeda antara versi yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada bab-bab yang tidak ia temukan seperti di dalam alkitab yang sering dibacanya. Burns makin bingung.

Di Eropa ia tidak menemukan jawaban atas kebingungannya. Burns pun pulang dengan perasaan kecewa. Tapi keinginannya untuk mempelajari bahasa Arab tetap membara. Saat menatap tuisan di dinding Masjid Alhambra, Burns tidak menyadari bahwa tulisan itulah jawaban atas semua keresahan jiwanya. Burns baru menyadarinya dua tahun kemudian.

Belajar Bahasa Arab

Di hari pertama ke kampus, Burns langsung mendaftarkan diri ke kelas bahasa Arab. Hanya ada empat orang, termasuk dirinya yang mendaftar ke kelas yang paling tidak populer di kampus itu. Semangat dan minat Burns yang tinggi pada bahasa Arab membuat guru bahasa Arabnya terheran-heran. Ia mengerjakan PR dengan menggunakan pena untuk kaligrafi. Ia juga mengunjungi komunitas Arab di Chicago hanya untuk mencari tahu kebenaran soal bahasa Arab dalam tulisan botol Coca Cola. Setengah memelas, Burns memohon agar guru bahasa Arabnya meminjamkan buku-buku dalam tulisan Arab agar ia bisa melihat dan mengagumi bentuk tulisan Arab itu.

Di tahun kedua kuliahnya, Burns memutuskan untuk mengambil jurusan studi Timur Tengah. Ia lalu mengambil beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan studi tersebut. Salah satunya mata kuliah tentang Al-Quran.

"Suatu malam saya membuka Al-Quran untuk mengerjakan PR kuliah dan saya tidak bisa berhenti membacanya. Seolah-olah saya menemukan sebuah novel menarik yang membuat saya terus membacanya. Membaca Al-Quran, hati saya berteriak 'Wow, ini hebat sekali. Inilah yang selalu saya yakini.' Al-Quran memberikan jawaban atas semua pertanyaan saya soal bagaimana kita harus berperilaku setiap hari dan dalam Al-Quran juga dengan jelas ditegaskan bahwa Tuhan itu satu," papar Burns.

Ia mengaku terkagum-kagum ada sebuah "buku" yang menuliskan semua yang ia yakini dan apa yang selama ini ia cari, dan apa yang tertulis di dalamnya, semuanya masuk akal. Keesokan harinya ia di kelas Al-Quran ia menanyakan tentang pengarang "buku" itu, karena di "buku" itu tertulis satu nama orang.

Profesor di kelasnya memberitahunya bahwa nama yang tertulis di dalam "buku" itu bukan nama pengarangnya tapi nama penerjemahnya. Burns juga mendapat penjelasan bahwa Qur'an berisi firman-firman Allah dan sejak diturunkan tidak penrah mengalami perubahan, terus dibaca dan kemudian dikumpulkan dalam bentuk "buku".

"Saya betul-betul terpesona dan makin bergairah untuk mempelajari bahasa Arab, bahkan lebih dari itu, saya jadi ingin mempelajari Islam dan berniat jalan-jalan ke Timur Tengah," tukas Burns.

Di tahun terakhir kuliahnya, ia berangkat ke Mesir melanjutkan studi Timur Tengahnya. Kota Kairo menjadi tempat "Islami" favoritnya karena berada di masjid-masjid di kota itu membuatnya merasa tenang dan tentram. "Saya bisa merasakan, berada di dalam masjid, seseorang bisa merasakan keindahan, kekuatan dan kehadiran Allah Swt. Dan saya begitu menikmati tulisan-tulisan kaligrafi yang elegan di dinding-dinding masjid," ujar Burns.

Suatu hari, seorang teman Burns bertanya mengapa ia tidak masuk Islam saja jika ia sangat mengagumi Islam. Dengan enteng Burns menjawab, "Tapi saya sudah menjadi muslim", sebuah jawaban yang ia sendiri kaget mendengarnya. Saat itu Burns beranggapan bahwa menjadi muslim adalah persoalan logika dan persoalan sederhana. Burns mengakui Islam adalah agama yang bisa diterima akalnya, memberinya inspirasi dan ia mengakui kebenaran ajaran Islam. Ia berpikir, jika sudah mengakuinya, kenapa ia juga harus pindah agama? Sahabat Burns tadi lalu menjelaskan bahwa ada yang wajib dilakukan Burns jika ia secara resmi ingin menjadi seorang muslim.

Burns akhirnya mengikuti saran sahabatnya itu. Ia lalu datang ke sebuah masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan dua orang saksi. Ia pun resmi menjadi seorang muslim dan diberikan sebuah sertifikat sebagai tanda bahwa ia sudah menjadi seorang muslim.

"Tapi saya menyimpan sertifikat itu bersama tumpukan surat-surat pribadinya. Buat saya, tidak perlu menggantung sertifikat itu agar orang tahu saya seorang muslim. Saya sudah dan akan selalu menjadi seorang muslim. Begitu saya membuka Al-Quran, saya merasa menemukan keluarga saya yang sudah lama hilang. Saya lebih senang memajang gambar masjid Alhambra di dinding kamar saya, daripada sertifikat keislaman saya," tandas Karima Burns. (ln/oi/eramuslim)

Ketika Sukina Douglas Pilih Tukar Rambut Gimbal dengan Jilbab

0

"Islam merendahkan perempuan? Anda baca lagi literaturnya dengan benar," ujar Sukina Douglas. Mendengar penyair muda Inggris ini bertutur tentang Islam, orang tak akan menyangka dia belum lima tahun menjadi Muslim.

Sebelumnya, ia selalu menggeleng ditanya agama. "Sebelum saya menemukan Islam, pandangan saya tegas tetap pada Afrika. Agama saya Afrika. Saya dibesarkan sebagai seorang Rastafarian dan memiliki rambut gimbal panjang: satu setengah pirang dan setengah lainnya hitam," ujarnya.

Kemudian, pada tahun 2005, mantan pacarnya kembali dari perjalanan ke Afrika dan mengumumkan bahwa ia akan masuk Islam. Saat itu dia sangat marah dan mengatakan bahwa dia telah 'kehilangan akar Afrika'-nya. "Mengapa ia mencoba untuk menjadi orang Arab? Setiap kali saya melihat seorang wanita Muslim di jalan saya berpikir, mengapa mereka harus ditutp-tutup seperti itu? Bukankah mereka panas?" ujarnya mengisahkan.

Namun diam-diam, ia melahap buku-buku keislaman. "Ketika saya mulai membaca otobiografi Malcolm X di universitas, sesuatu terbuka dalam diri saya. Suatu hari saya berkata kepada seorang sahabat, Muneera, 'Aku jatuh cinta dengan Islam. "Dia tertawa dan berkata," Jadilah tenang, tak usah terburu-buru!"

Selain kisah Malcolm X, ada satu yang menarik perhatiannya. "Saya selalu bersemangat tentang hak-hak perempuan; tidak ada cerita saya memasuki agama yang berusaha untuk merendahkan perempuan. Jadi, ketika saya membaca sebuah bukuyang ditulis seorang feminis Maroko, terurailah semua pendapat negatif saya tentang Islam, bahwa agama ini tidak menindas perempuan."

Ia belum memutuskan untuk menjadi Muslim, ketika ia coba-coba berpenampilan seperti Muslimah. Ia mencoba mengenakan rok model Gypsy, dan bertudung kepala juga ala Gypsy. "Tapi aku tidak merasa lusuh, aku merasa cantik. Aku sadar, aku bukan komoditas seksual bagi pria untuk nafsu birahi mereka, tiba-tiba saya betul-betul jatuh hati pada agama ini."

Ia pun bersyahadat. Tak mudah bagi Sukina setelah itu, karena tiga minggu setelah menjadi Muslim, bom meledak di London. "Saya tidak pernah mengalami rasisme di London sebelumnya, tetapi dalam minggu-minggu setelah bom, orang-orang akan melemparkan telur pada saya dan berkata, 'Kembalilah kepada negara Anda sendiri'. Mana negara saya? Negara saya ya Inggris," ujarnya.

Setelah menjadi Muslim, ia menemukan "masa depan"-nya. Saat sang pacar memutuskan menjadi Muslim, mereka berpisah. Ketika ia menjadi Muslim, Sukina mencoba membuka hati lagi bagi sang mantan. "Kini dia menjadi suami saya," ujarnya tersenyum.

"Sebelum saya menemukan Islam, saya adalah seorang pemberontak tanpa alasan, tapi sekarang saya punya tujuan hidup: saya bisa mengidentifikasi kekurangan saya dan bekerja untuk menjadi orang yang lebih baik. Bagi saya, menjadi seorang Muslim berarti memberikan kontribusi pada masyarakat, tidak peduli di mana Anda berada dan dari mana Anda berasal."[republika]

Young. British. Female. Muslim.

1 komentar
Thousands of young British women living in the UK decide to convert to Islam - here are some of their stories

by :Sarah Harris


It’s a controversial time for British women to be wearing the hijab, the basic Muslim headscarf. Last month, Belgium became the first European country to pass legislation to ban the burka (the most concealing of Islamic veils), calling it a “threat” to female dignity, while France looks poised to follow suit. In Italy earlier this month, a Muslim woman was fined €500 (£430) for wearing the Islamic veil outside a post office.
And yet, while less than 2 per cent of the population now attends a Church of England service every week, the number of female converts to Islam is on the rise. At the London Central Mosque in Regent’s Park, women account for roughly two thirds of the “New Muslims” who make their official declarations of faith there – and most of them are under the age of 30.
Conversion statistics are frustratingly patchy, but at the time of the 2001 Census, there were at least 30,000 British Muslim converts in the UK. According to Kevin Brice, of the Centre for Migration Policy Research, Swansea University, this number may now be closer to 50,000 – and the majority are women. “Basic analysis shows that increasing numbers of young, university-educated women in their twenties and thirties are converting to Islam,” confirms Brice.
“Our liberal, pluralistic 21st-century society means we can choose our careers, our politics – and we can pick and choose who we want to be spiritually,” explains Dr Mohammad S. Seddon, lecturer in Islamic Studies at the University of Chester. We’re in an era of the “religious supermarket”, he says.

Joanne BaileySolicitor, 30, Bradford

“The first time I wore my hijab into the office, I was so nervous, I stood outside on the phone to my friend for ages going, ‘What on earth is everyone going to say?’ When I walked in, a couple of people asked, ‘Why are you wearing that scarf? I didn’t know you were a Muslim.’
“I’m the last person you’d expect to convert to Islam: I had a very sheltered, working-class upbringing in South Yorkshire. I’d hardly even seen a Muslim before I went to university.
“In my first job at a solicitor’s firm in Barnsley, I remember desperately trying to play the role of the young, single, career woman: obsessively dieting, shopping and going to bars – but I never felt truly comfortable.
“Then one afternoon in 2004 everything changed: I was chatting to a Muslim friend over coffee, when he noticed the little gold crucifix around my neck. He said, ‘Do you believe in God, then?’ I wore it more for fashion than religion and said, ‘No, I don’t think so,’ and he started talking about his faith.
“I brushed him off at first, but his words stuck in my mind. A few days later, I found myself ordering a copy of the Koran on the internet.
“It took me a while to work up the courage to go to a women’s social event run by the Leeds New Muslims group. I remember hovering outside the door thinking, ‘What the hell am I doing here?’ I imagined they would be dressed head-to-toe in black robes: what could I, a 25-year-old, blonde English girl, possibly have in common with them?
“But when I walked in, none of them fitted the stereotype of the oppressed Muslim housewife; they were all doctors, teachers and psychiatrists. I was struck by how content and secure they seemed. It was meeting these women, more than any of the books I read, that convinced me that I wanted to become a Muslim.
“After four years, in March 2008, I made the declaration of faith at a friend’s house. At first, I was anxious that I hadn’t done the right thing, but I soon relaxed into it – a bit like starting a new job.
“A few months later, I sat my parents down and said, ‘I’ve got something to tell you.’ There was a silence and my mum said, ‘You’re going to become Muslim, aren’t you?’ She burst into tears and kept asking things like, ‘What happens when you get married? Do you have to cover up? What about your job?’ I tried to reassure her that I’d still be me, but she was concerned for my welfare.
“Contrary to what most people think, Islam doesn’t oppress me; it lets me be the person that I was all along. Now I’m so much more content and grateful for the things I’ve got. A few months ago, I got engaged to a Muslim solicitor I met on a training course. He has absolutely no problem with my career, but I do agree with the Islamic perspective on the traditional roles for men and women. I want to look after my husband and children, but I also want my independence. I’m proud to be British and I’m proud to be Muslim – and I don’t see them as conflicting in any way.”
Aqeela Lindsay WheelerHousewife and mother, 26, Leicester

“As a teenager I thought all religion was pathetic. I used to spend every weekend getting drunk outside the leisure centre, in high-heeled sandals and miniskirts. My view was: what’s the point in putting restrictions on yourself? You only live once.
“At university, I lived the typical student existence, drinking and going clubbing, but I’d always wake up the next morning with a hangover and think, what’s the point?
“It wasn’t until my second year that I met Hussein. I knew he was a Muslim, but we were falling in love, so I brushed the whole issue of religion under the carpet. But six months into our relationship, he told me that being with me was ‘against his faith’.
“I was so confused. That night I sat up all night reading two books on Islam that Hussein had given me. I remember bursting into tears because I was so overwhelmed. I thought, ‘This could be the whole meaning of life.’ But I had a lot of questions: why should I cover my head? Why can’t I eat what I like?
“I started talking to Muslim women at university and they completely changed my view. They were educated, successful – and actually found the headscarf liberating. I was convinced, and three weeks later officially converted to Islam.
“When I told my mum a few weeks later, I don’t think she took it seriously. She made a few comments like, ‘Why would you wear that scarf? You’ve got lovely hair,’ but she didn’t seem to understand what it meant.
“My best friend at university completely turned on me: she couldn’t understand how one week I was out clubbing, and the next I’d given everything up and converted to Islam. She was too close to my old life, so I don’t regret losing her as a friend.
“I chose the name Aqeela because it means ‘sensible and intelligent’ – and that’s what I was aspiring to become when I converted to Islam six years ago. I became a whole new person: everything to do with Lindsay, I’ve erased from my memory.
“The most difficult thing was changing the way I dressed, because I was always so fashion-conscious. The first time I tried on the hijab, I remember sitting in front of the mirror, thinking, ‘What am I doing putting a piece of cloth over my head? I look crazy!’ Now I’d feel naked without it and only occasionally daydream about feeling the wind blow through my hair. Once or twice, I’ve come home and burst into tears because of how frumpy I feel – but that’s just vanity.
“It’s a relief not to feel that pressure any more. Wearing the hijab reminds me that all I need to do is serve God and be humble. I’ve even gone through phases of wearing the niqab [face veil] because I felt it was more appropriate – but it can cause problems, too.
“When people see a white girl wearing a niqab they assume I’ve stuck my fingers up at my own culture to ‘follow a bunch of Asians’. I’ve even had teenage boys shout at me in the street, ‘Get that s*** off your head, you white bastard.’ After the London bombings, I was scared to walk about in the streets for fear of retaliation.
“For the most part, I have a very happy life. I married Hussein and now we have a one-year-old son, Zakir. We try to follow the traditional Muslim roles: I’m foremost a housewife and mother, while he goes out to work. I used to dream of having a successful career as a psychologist, but now it’s not something I desire.
“Becoming a Muslim certainly wasn’t an easy way out. This life can sometimes feel like a prison, with so many rules and restrictions, but we believe that we will be rewarded in the afterlife.”

Catherine HeseltineNursery school teacher, 31, North London

“If you’d asked me at the age of 16 if I’d like to become a Muslim, I would have said, ‘No thanks.’ I was quite happy drinking, partying and fitting in with my friends.
“Growing up in North London, we never practised religion at home; I always thought it was slightly old-fashioned and irrelevant. But when I met my future husband, Syed, in the sixth form, he challenged all my preconceptions. He was young, Muslim, believed in God – and yet he was normal. The only difference was that, unlike most teenage boys, he never drank.
“A year later, we were head over heels in love, but we quickly realised: how could we be together if he was a Muslim and I wasn’t?
“Before meeting Syed, I’d never actually questioned what I believed in; I’d just picked up my casual agnosticism through osmosis. So I started reading a few books on Islam out of curiosity.
“In the beginning, the Koran appealed to me on an intellectual level; the emotional and spiritual side didn’t come until later. I loved its explanations of the natural world and discovered that 1,500 years ago, Islam gave women rights that they didn’t have here in the West until relatively recently. It was a revelation.
“Religion wasn’t exactly a ‘cool’ thing to talk about, so for three years I kept my interest in Islam to myself. But in my first year at university, Syed and I decided to get married – and I knew it was time to tell my parents. My mum’s initial reaction was, ‘Couldn’t you just live together first?’ She had concerns about me rushing into marriage and the role of women in Muslim households – but no one realised how seriously I was taking my religious conversion. I remember going out for dinner with my dad and him saying, ‘Go on, have a glass of wine. I won’t tell Syed!’ A lot of people assumed I was only converting to Islam to keep his family happy, not because I believed in it.
“Later that year, we had an enormous Bengali wedding, and moved into a flat together – but I certainly wasn’t chained to the kitchen sink. I didn’t even wear the hijab at all to start with, and wore a bandana or a hat instead.
“I was used to getting a certain amount of attention from guys when I went out to clubs and bars, but I had to let that go. I gradually adopted the Islamic way of thinking: I wanted people to judge me for my intelligence and my character – not for the way I looked. It was empowering.
“I’d never been part of a religious minority before, so that was a big adjustment, but my friends were very accepting. Some of them were a bit shocked: ‘What, no drink, no drugs, no men? I couldn’t do that!’ And it took a while for my male friends at university to remember things like not kissing me hello on the cheek any more. I’d have to say, ‘Sorry, it’s a Muslim thing.’
“Over time, I actually became more religious than my husband. We started growing apart in other ways, too. In the end, I think the responsibility of marriage was too much for him; he became distant and disengaged. After seven years together, I decided to get a divorce.
“When I moved back in with my parents, people were surprised I was still wandering around in a headscarf. But if anything, being on my own strengthened my faith: I began to gain a sense of myself as a Muslim, independent of him.
“Islam has given me a sense of direction and purpose. I’m involved with the Muslim Public Affairs Committee, and lead campaigns against Islamophobia, discrimination against women in mosques, poverty and the situation in Palestine. When people call us ‘extremists’ or ‘the dark underbelly of British politics’, I just think it’s ridiculous. There are a lot of problems in the Muslim community, but when people feel under siege it makes progress even more difficult.
“I still feel very much part of white British society, but I am also a Muslim. It has taken a while to fit those two identities together, but now I feel very confident being who I am. I’m part of both worlds and no one can take that away from me.”

Sukina DouglasSpoken-word poet, 28, London

“Before I found Islam, my gaze was firmly fixed on Africa. I was raised a Rastafarian and used to have crazy-long dreadlocks: one half blonde and the other half black.
“Then, in 2005, my ex-boyfriend came back from a trip to Africa and announced that he’d converted to Islam. I was furious and told him he was ‘losing his African roots’. Why was he trying to be an Arab? It was so foreign to how I lived my life. Every time I saw a Muslim woman in the street I thought, ‘Why do they have to cover up like that? Aren’t they hot?’ It looked oppressive to me.
“Islam was already in my consciousness, but when I started reading the autobiography of Malcolm X at university, something opened up inside me. One day I said to my best friend, Muneera, ‘I’m falling in love with Islam.’ She laughed and said, ‘Be quiet, Sukina!’ She only started exploring Islam to prove me wrong, but soon enough she started believing it, too.
“I was always passionate about women’s rights; there was no way I would have entered a religion that sought to degrade me. So when I came across a book by a Moroccan feminist, it unravelled all my negative opinions: Islam didn’t oppress women; people did.
“Before I converted, I conducted an experiment. I covered up in a long gypsy skirt and headscarf and went out. But I didn’t feel frumpy; I felt beautiful. I realised, I’m not a sexual commodity for men to lust after; I want to be judged for what I contribute mentally.
“Muneera and I took our shahada [declaration of faith] together a few months later, and I cut my dreadlocks off to represent renewal: it was the beginning of a new life.
“Just three weeks after our conversion, the 7/7 bombings happened; suddenly we were public enemy No 1. I’d never experienced racism in London before, but in the weeks after the bombs, people would throw eggs at me and say, ‘Go back to your own country,’ even though this was my country.
“I’m not trying to shy away from any aspect of who I am. Some people dress in Arabian or Pakistani styles, but I’m British and Caribbean, so my national dress is Primark and Topshop, layered with colourful charity-shop scarves.
“Six months after I converted, I got back together with my ex-boyfriend, and now we’re married. Our roles in the home are different, because we are different people, but he would never try to order me around; that’s not how I was raised.
“Before I found Islam, I was a rebel without a cause, but now I have a purpose in life: I can identify my flaws and work towards becoming a better person. To me, being a Muslim means contributing to your society, no matter where you come from.”

Catherine HuntleyRetail assistant, 21, Bournemouth

“My parents always thought I was abnormal, even before I became a Muslim. In my early teens, they’d find me watching TV on a Friday night and say, ‘What are you doing at home? Haven’t you got any friends to go out with?’
“The truth was: I didn’t like alcohol, I’ve never tried smoking and I wasn’t interested in boys. You’d think they’d have been pleased.
“I’ve always been quite a spiritual person, so when I started studying Islam in my first year of GCSEs, something just clicked. I would spend every lunchtime reading about Islam on the computer. I had peace in my heart and nothing else mattered any more. It was a weird experience – I’d found myself, but the person I found wasn’t like anyone else I knew.
“I’d hardly ever seen a Muslim before, so I didn’t have any preconceptions, but my parents weren’t so open-minded. I hid all my Muslim books and headscarves in a drawer, because I was so scared they’d find out.
“When I told my parents, they were horrified and said, ‘We’ll talk about it when you’re 18.’ But my passion for Islam just grew stronger. I started dressing more modestly and would secretly fast during Ramadan. I got very good at leading a double life until one day, when I was 17, I couldn’t wait any longer.
“I sneaked out of the house, put my hijab in a carrier bag and got on the train to Bournemouth. I must have looked completely crazy putting it on in the train carriage, using a wastebin lid as a mirror. When a couple of old people gave me dirty looks, I didn’t care. For the first time in my life, I felt like myself.
“A week after my conversion, my mum came marching into my room and said, ‘Have you got something to tell me?’ She pulled my certificate of conversion out of her pocket. I think they’d rather have found anything else at that point – drugs, cigarettes, condoms – because at least they could have put it down to teenage rebellion.
“I could see the fear in her eyes. She couldn’t comprehend why I’d want to give up my freedom for the sake of a foreign religion. Why would I want to join all those terrorists and suicide bombers?
“It was hard being a Muslim in my parents’ house. I’ll never forget one evening, there were two women in burkas on the front page of the newspaper, and they started joking, ‘That’ll be Catherine soon.’
“They didn’t like me praying five times a day either; they thought it was ‘obsessive’. I’d pray right in front of my bedroom door so my mum couldn’t walk in, but she would always call upstairs, ‘Catherine, do you want a cup of tea?’ just so I’d have to stop.
“Four years on, my grandad still says things like, ‘Muslim women have to walk three steps behind their husbands.’ It gets me really angry, because that’s the culture, not the religion. My fiancé, whom I met eight months ago, is from Afghanistan and he believes that a Muslim woman is a pearl and her husband is the shell that protects her. I value that old-fashioned way of life: I’m glad that when we get married he’ll take care of paying the bills. I always wanted to be a housewife anyway.
“Marrying an Afghan man was the cherry on the cake for my parents. They think I’m completely crazy now. He’s an accountant and actually speaks better English than I do, but they don’t care. The wedding will be in a mosque, so I don’t think they’ll come. It hurts to think I’ll never have that fairytale wedding, surrounded by my family. But I hope my new life with my husband will be a lot happier. I’ll create the home I’ve always wanted, without having to feel the pain of people judging me.”

source :Times online

Sebuah Fenomena ,Ribuan Wanita Inggris yang akhinya menjadi Muslimah

0

Muda. berkulit putih kelahiran Inggris. Perempuan. Dan....memutuskan menjadi Muslim. Inilah fenomena yang kini tengah menggejala di Inggris. Para mualaf itu umumnya adalah kaum muda terpelajar.

Jumlah mualaf wanita di Inggris memang terus meningkat. Di Masjid London Tengah di Regent's Park, perempuan meliputi dua pertiga dari keseluruhan mualaf dan kebanyakan dari mereka berada di bawah usia 30.

Tak ada catatan jumlah mualaf di Inggris. Data terakhir adalah berdasar sensus tahun 2001 yang menyebut 30 ribu warga Inggris berpindah agama menjadi Muslim.

Menurut Kevin Brice, dari Pusat Penelitian Kebijakan Migrasi di Swansea University, jumlah ini mungkin sekarang mendekati 50 ribu - dan mayoritas adalah perempuan. "Dasar analisis menunjukkan bahwa peningkatan jumlah perempuan muda berpendidikan cukup signifikan," kata Brice.

dan berikut ini salah satu wanita Inggris yang akhirnya memilih menjadi Muslimah,dia adalah :
Joanne Bailey, seorang pengacara.

Pertama kali saya mengenakan jilbab ke kantor, saya begitu gugup, saya berdiri di luar dan bertanya pada teman saya melalui telepon, 'Apa kata dunia melihat saya berjilbab sekarang," kata Joanne Bailey, seorang pengacara.

Menjadi Muslim adalah keputusan terbaiknya, begitu dia mengaku. Namun, karena alasan pekerjaan, ia memilih menyimpan keyakinan barunya. Sampai akhirnya timbul keberanian untuk memproklamirkan keimanannya dengan mengenakan jilbab.

"Di luar dugaan, teman-teman menyalami. Beberapa berkata, 'Aku sungguh tak tahu kalau kau seorang Muslim," Bailey mengisahkan kembali.

Bailey bukan latah menukar kepercayaan. Sebagai perempuan berpendidikan dan tumbuh di lingkungan kelas menengah, dia merasa nyaman ada di antara warga South Yorkshire. "Aku bahkan hampir tidak melihat seorang Muslim sebelum aku pergi ke universitas," ujarnya.

begitu mulai bekerja, ia merasakan kekosongan jiwa. "Dalam pekerjaan pertama saya di firma hukum di Barnsley, saya ingat saya sangat putus asa memainkan peran sebagai wanita muda yang masih lajang dan berkarir: melakukan diet obsesif belanja dan pergi ke bar - tetapi saya tidak pernah merasa benar-benar nyaman," ujarnya.

Lalu suatu sore pada tahun 2004 segalanya berubah.Obrolan dengan seorang teman Muslim, berubah menjadi diskusi keyakinan. "Apakah kau percaya pada Tuhan?" dia bertanya. ia mengaku, walau saat itu ia mengenakan kalung salib emas, ia mengaku itu hanya bagian fashion saja, tak lebih.

Sang teman mengangguk, dan mulai berkisah tentang agamanya. Ia menyimak. "Beberapa hari kemudian, saya menemukan diri saya memesan salinan Quran di internet," akunya.

Kemudian, ia memberanikan diri datang ke acara-acara diskusi keislaman. "Butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian datang ke acara Leeds New Muslims. Aku ingat berdiri di luar pintu berpikir, "Apa yang saya lakukan di sini?" ujarnya.

Ia membayangkan, di ruangan itu penuh dengan perempuan berjubah hitam, menunduk -- karena mereka wanita lemah yang tersubordinasi dalam keluarga dan karenanya tidak pe-de -- serta dari mulutnya keluar doa-doa. "Apa kata mereka melihat gadis 25 tahun berambut pirang ada di antara mereka?" tambahnya.

Ketika dia akhirnya masuk, semua sungguh di luar dugaan. Mereka yang berada dalam ruangan itu adalah Muslimah, tapi jauh dari apa yang dia gambarkan. "Mereka dokter, guru, psikiater. Dan diskusinya sungguh sangat brilian," ujarnya.

Setelah empat tahun, tepatnya pada Maret 2008, dia bulat tekad menjadi Muslim. Ia bersyahadat di rumah seorang teman. "Memulai menjadi Muslim, tak seberat yang saya bayangkan. Sama seperti pindah pekerjaan dan memulainya," tambahnya.

Beberapa bulan dia menyembunyikan identitas keyakinan barunya. Namun kemudian ia mempunyai keberanian untuk mendeklarasikan. "Orang pertama yang saya beri tahu adalah keluarga. Ibu saya menangis, bahkan sebelum saya bilang saya telah menjadi Muslim," ujarnya.

Dalam bayangan ibunya, menjadi Muslimah hidupnya terkungkung dan di bawah "kekuasaan" suaminya. Juga, akan diam di rumah karena Islam tak memperbolehkan wanita bekerja. "Saya membuktikan pada orang tua, apa yang mereka bayangkan tentang menjadi Muslimah tidak benar."

Menurutnya, Islam sungguh memuliakan perempuan. "Bertentangan dengan apa yang dipikirkan kebanyakan orang, Islam tidak menekan saya, Saya tetaplah saya yang dulu, bedanya batin saya lebih tenang, saya lebih paham makna bersyukur, dan ...beberapa bulan yang lalu, saya bertunangan dengan seorang pengacara Muslim yang saya temui di suatu kursus pelatihan," ujarnya tersenyum.

Dia mengaku, calon suaminya adalah Muslim yang mengayomi dan seide dengannya. "Dia sama sekali tidak ada masalah dengan karir saya, tapi saya setuju dengan perspektif Islam pada peran untuk pria dan wanita. Saya ingin menjaga suami saya dan anak-anak, tapi saya juga menginginkan kemerdekaan saya. Saya bangga menjadi warga Inggris dan saya bangga menjadi Muslim - dan saya tidak melihat Inggris-Islam sebagai dua hal yang bertentangan dengan cara apapun," katanya.[republika]