Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?

0

”Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?” Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, ”Tuhan itu yang kita sembah,” ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di kayu salib yang berada di altar gereja.

Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas. Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran hakikat Tuhan sebagai pencipta.

Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. ”Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan semua yang ada di dunia ini,” ujar Desti sapaan akrabnya yang kini berusia 18 tahun saat ditemui akhir pekan lalu di Jakarta.

Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah ”Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib? Kenapa Tuhan harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak memberi manfaat?” Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan dirinya.

Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9 Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) umum.

Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan dengan agama Islam. ”Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu aku dapatkan pada saat di TK dan SD,” paparnya.

Saat duduk di bangku TK, kata dia, oleh gurunya ia sudah dibiasakan untuk mengucapkan kata Bismillah sebelum makan. Begitu juga, dalam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah SWT. Dari sini, mulai muncul kebingungan dalam dirinya mengenai konsep ajaran agama dan ketuhanan yang ia anut selama ini. ”Saat itu, aku bingung kenapa beda sekali antara ajaran agama saya (dulu) dengan yang diajarkan oleh guru di TK,” ungkapnya.

Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik (ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut Tuhan dengan sebutan Allah SWT.

Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.

Berikrar syahadat

Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan satu kata, ”Ya.” Kemudian, oleh sang guru, Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan ajaran Islam.

”Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak secara resmi,” ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya. Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika sudah duduk di bangku kelas 3 SD.

Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja, tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid. Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara menangis.

”Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis,” tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD, kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan mengaji.

Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya, muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.”Misalnya, kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,” sindirnya.

Tak hanya dari orang tuanya, menurut Desti, pertentangan serupa juga kerap ia dapatkan dari pihak keluarganya yang lain, seperti nenek, paman, bibi, dan saudara sepupunya. Kendati demikian, ia tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sanak saudaranya ini. ”Pada saat Natal, aku tetap ikut ngumpul . Tapi, tidak ikut mengucapkan.”

Namun, ia bersyukur karena masih memiliki seorang adik perempuan, Friday Veronica Florencia, yang bersama-sama dengannya memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia kanak-kanak. Di samping juga, teman-teman sepermainannya yang kebanyakan beragama Islam.

Beasiswa gereja

Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama, masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.

Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak. ”Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus mau mengabdi di gereja itu,” ungkapnya.

Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam–Red) yang ada di lingkungan tempat ia bersekolah. ”Alhamdulillah semua rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,” ujar mahasiswi semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.

Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak ‘hilang’ oleh keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini untuk menjalankan semua itu.

Meski mengakui kadang kala masih suka lalai dalam melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, ia berharap ke depannya bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia juga berharap kelak hidayah yang ia dan sang adik peroleh juga akan didapatkan oleh kedua orang tuanya.”Saya ingin sekali mereka bisa melihat mana jalan yang benar dan mana yang salah. Karena menurut saya, saat ini mereka bukan berada di jalan yang benar,” ujarnya. dia (RioL)

Biodata Nama : Aria Desti Kristiana
TTL : Jakarta, 9 Desember 1991
Masuk Islam : Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)
Aktivitas :
- Kuliah pada Jurusan Bahasa & Sastra Arab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester II
- Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan

sumber :republika.co.id

Mengenal Islam Melalui Musik Underground

0

Yakin adanya Allah setelah dipertemukan dengan sosok makhluk gaib”Networks at work, keeping people calm
You know they murdered X
And tried to blame it on Islam
He turned the power to the have-nots
And then came the shot.”

Kalimat di atas merupakan penggalan bait lagu berjudul Wake Up milik Rage Against The Machine (RATM). Lagu-lagu yang dibawakan grup musik asal Los Angeles (Amerika Serikat) ini mengusung ramuan musik punk, hip-hop, dan trash . Penggemar ketiga aliran musik ini, terutama punk dan trash , mayoritas berasal dari komunitas underground komunitas yang selalu diidentikkan mempunyai budaya yang negatif serta sedikit menyimpang dari norma-norma yang telah tertanam di masyarakat.

Terlepas dari semua stigma negatif ini, justru bagi seorang Richard Stephen Gosal, dari komunitas underground inilah dia mulai tertarik untuk mengenal agama Islam lebih jauh. ”Saya suka sekali dengan (lagu-lagu) Rage Against The Machine. Bahkan, sampai sekarang saya menaruh respek meskipun mereka bukan orang Islam,” ungkap mualaf yang kini menggunakan nama Muhammad Thufail al-Ghifari.

Dari salah satu lagu yang dibawakan RATM, pria yang sejak remaja memang menyukai aliran musik underground ini mengenal Malcolm X–tokoh mualaf kulit hitam Amerika Serikat yang memperjuangkan hak asasi kaum kulit hitam di negeri Paman Sam tersebut. Tidak hanya dalam lagu band RATM, nama Malcolm X juga Thufail temukan dalam lagu grup hip-hop asal New York (AS) yang ia sukai, Public Enemy.

Rasa penasaran terhadap tokoh pejuang hak asasi manusia asal Amerika ini mendorong Thufail untuk mencari berbagai informasi mengenai kehidupan sang tokoh. ”Saya belajar banyak tentang dia. Dari Malcolm X ini kemudian saya mengenal Muhammad Ali dan Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Pada saat ia masih memeluk agama Kristen Protestan, kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pendeta kerap mendoktrinnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah gambaran orang yang suka berperang, main perempuan, memiliki jenggot, berasal dari suku kedar (anti- christ ), menyesatkan umat manusia dengan Alquran, dan pengikutnya akan binasa di neraka.

Dari salah satu literatur mengenai Malcolm X yang dibacanya, menurut Thufail, ada satu kalimat yang diucapkan sang tokoh kepada Muhammad Ali petinju legendaris AS yang membuatnya terkesan. Ketika Muhammad Ali mengecam kaum kulit putih yang menindas yahudi dan orang kulit hitam, Malcolm justru berkata, ”Di Makkah, saya lihat orang bermata coklat, biru, hitam serta berkulit putih, hitam, dan coklat semuanya duduk bersama.”

Kalimat yang mengungkapkan kekaguman Malcolm terhadap umat Islam tersebut, membuat ia semakin tertarik dengan Islam. Meski dididik dengan ajaran Kristen Protestan yang cukup ketat, agama Islam bukanlah sesuatu yang baru bagi Thufail. ”Sejak di SMP, saya banyak bergaul dengan teman-teman yang beragama Islam. Bahkan, di antara mereka banyak yang sering menggoda saya dan mengatakan kapan saya masuk Islam,” paparnya.

Dari belajar mengenai Malcolm, hingga suatu ketika Thufail merasa jenuh dengan kehidupan yang dijalaninya sebagai seorang penganut paham ateis. Kejenuhan yang sama pernah ia alami ketika masih memeluk Kristen Protestan. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ketika di bangku SMP itulah ia mulai tertarik dengan buku-buku mengenai sosialisme dan komunisme.

Ajaran sosialisme dan komunisme ini di kemudian hari banyak memengaruhi pola pikir Thufail. Hingga akhirnya, saat duduk di bangku kelas 2 SMA (sekitar tahun 1999-2000–Red), ia memutuskan menjadi seorang ateis. ”Saya tidak mengimani lagi Yesus Kristus dan menganggap agama hanya membuat orang saling membunuh dan berperang.”

Tiga kali syahadat
Kejenuhan terhadap paham ateisme yang dianut Thufail, bermula dari fenomena sweeping terhadap kelompok beraliran kiri di Tanah Air yang terjadi pada kurun waktu tahun 2000-2001 oleh kelompok Pancasilais. Ketika terjadi sweeping itulah, ungkapnya, banyak tokoh PRD (Partai Rakyat Demokratik)–tempat Thufail pernah bergabung menjadi salah seorang anggotanya tidak bertanggung jawab terhadap penahanan simpatisan-simpatisan mereka yang berada di kelompok underground di daerah-daerah.

”Para tokoh PRD ini menghilang, ada yang karena diculik dan ada yang bersembunyi. Di sini awal mula saya kecewa dengan yang dinamakan revolusi diri,” tukas vokalis band rock indie The Roots of Madinah ini. Rasa jenuhnya ini kemudian ia lampiaskan kepada seorang sahabatnya, sesama anak band di komunitas underground . Walaupun memiliki pergaulan di komunitas underground , menurut Thufail, sahabatnya ini tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim untuk menunaikan ibadah shalat kendati saat itu ia sedang manggung.

Kepada sahabatnya ini, Thufail mengutarakan niatnya untuk masuk Islam. Bukan dukungan yang ia peroleh, justru larangan dari sang sahabat. Pelarangan tersebut, ungkapnya, karena sahabatnya itu tidak menginginkan keputusan dirinya untuk masuk Islam lebih karena faktor emosional sesaat. Sahabatnya ini menginginkan jangan sampai begitu ia masuk Islam terus di kemudian hari memutuskan untuk murtad. ”Menurutnya, saya tidak hanya akan kehilangan dia sebagai teman, tapi teman-teman yang lain bakal nggak suka sama saya,” ujarnya mengenang perkataan sahabatnya kala itu.

Thufail tidak lantas menyerah. Kemudian, ia menemui teman-teman lainnya dari kalangan komunitas underground yang beragama Islam. Dengan bertempat di pinggir jalan yang berada di Kompleks Perumahan Taman Kartini, Bekasi, Thufail mengucapkan syahadat di hadapan teman-temannya ini. ”Peristiwa itu terjadi tahun 2002 dan yang menjadi saksi saya ketika itu teman-teman yang memakai baju Sepultura, Kurt Cobain, dan Metallica.”

Keputusannya untuk masuk Islam membuat kedua orang tuanya marah dan mengusirnya dari rumah. Keputusannya ini, ungkap Thufail, juga berdampak terhadap penghidupan orang tuanya. Gereja yang selama ini menjadi tempat mata pencaharian ibunya terancam ditutup begitu mengetahui ia masuk Islam. ”Sampai-sampai mama itu menyembunyikan keislaman saya dari para jemaat.”

Tinggal di jalanan, setelah diusir dari rumah, ia jalani selama tiga bulan. Beruntung Thufail bertemu dengan seorang teman lama yang menawarinya untuk menjaga rumahnya yang sedang direnovasi. Selama menjaga rumah temannya ini, tidak hanya memperoleh tempat tinggal, ia juga mendapatkan jatah makan setiap hari.

Masalah muncul ketika renovasi rumah selesai. Thufail saat itu tidak tahu akan tinggal dimana. Namun, oleh ayah temannya ini dia ditawari pekerjaan di sebuah sekolah tinggi, tempat ayah temannya ini menjabat sebagai rektor. Dengan hanya berbekal selembar CV ( curriculum vitae ), ia lalu melamar dan diterima sebagai petugas cleaning service dengan gaji sebesar Rp 600 ribu per bulan.

Ketika bekerja sebagai petugas cleaning service , ia berkenalan dengan Ustadz Nur Hasan yang merupakan imam Masjid Baiturahim Perumahan Taman Kartini, Bekasi. Oleh sang ustadz, ia ditanya bersyahadat di mana. ”Ketika saya jawab di pinggir jalan, beliau bilang syahadat saya tidak sah. Akhirnya, saya baca syahadat lagi di Masjid Baiturahim,” ujarnya.

Sejak bersyahadat untuk kedua kalinya ini, menurut Thufail, mulai timbul keinginan untuk belajar membaca Alquran dan pengetahuan mengenai ajaran Islam lainnya. Kemudian, ia ketemu dengan seorang ustadz yang pada saat itu juga merupakan pengurus sebuah partai politik berideologi Islam. Pelajaran pertama yang didapatkannya adalah mengenai dua kalimat syahadat. ”Ketika itu semua anggota halakah disuruh syahadat lagi sama beliau. Jadi, syahadat saya tiga kali.”

Kendati sudah membaca syahadat hingga tiga kali, Thufail tidak langsung mempercayai adanya Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta. Dia mulai meyakini keberadaan Allah SWT, justru ketika dirinya diizinkan untuk bertemu dengan sesosok makhluk gaib untuk pertama kalinya. ”Setelah bertemu dengan sosok gaib ini, saya mulai berpikir secara logika bahwa segala sesuatu di bumi ini pasti punya dua sudut pandang, ada benar dan salah, ada hitam dan putih. Begitu juga, ada benda dan yang menciptakan benda tersebut,” paparnya.

Setelah memeluk Islam, ia mendapatkan ketenangan batin yang tidak pernah diperoleh sebelumnya. Di samping itu, ia merasa lebih optimistis dalam menjalani kehidupan dan lebih bisa mensyukuri hidupnya. ”Ketika saya menaruh hukum Allah SWT di atas segala apa pun, saya tidak takut mati, tidak takut miskin, tidak takut lapar.”

Keinginannya saat ini, menurut Thufail, adalah bagaimana ajaran Islam tidak hanya bisa dinikmatin di Masjid, tetapi juga di lingkungan komunitas underground . Diakuinya, hingga kini memang masih belum ada ustadz yang peduli dengan komunitas underground ini. ”Ada banyak teman saya yang tatoan , mabuk, tapi kalau bicara Islam diinjak-injak dia sudah nggak mau dialog. Dia pasti akan ambil parang dan ditebas orang itu,” ungkapnya.

Karena itulah, melalui musik yang disuguhkannya bersama band rock yang dibentuknya, The Roots of Madinah, dia mau merangkul para temannya yang Muslim yang ada di komunitas underground untuk berhijrah. Aliran musik rock yang dikemas dalam lagu-lagu bersyair religi Islami, ia harapkan juga bisa menjadi senjata untuk menghantam balik musik-musik Yahudi.

”Saya bikin musik ini supaya ngebalikin orang Yahudi lagi. Mereka kan ngancurin saya waktu dulu, membuat saya keluar dari Kristen dan menjadi ateis dengan musik,” katanya menandaskan. nidia zuraya

Biodata:

Nama Lahir : Richard Stephen Gosal
Nama Muslim : Muhammad Thufail Al Ghifari
Masuk Islam : 2002
TTL : Makassar, 11 Mei 1982
Aktivitas : Vokalis band rock The Roots of Madinah, Muslim Rapper , anggota Komunitas Islam Underground Kolektif Berandalan Tuhan, dan ketua Divisi Pembinaan Lembaga Muhtadin Masjid Agung Al Azhar Blok M-Jakarta.

sumber :republika.co.id

Idris De Vries : Kun Faya Kun, Kalau Tuhan ada sudah sepatutnya memiliki sifat seperti itu!

0

Aku berkata pada diriku sendiri “Demi Tuhan! kalau Tuhan itu memangada, maka sudah sepatutnya ia memiliki sifat seperti itu!”.Aku besar di wilayah utara Belanda. Di sana jarang sekali ditemukan warga keturunan asing. Satu-satunya agama yang kuketahui sejak kecil adalah Kristen. Aku pun menganut agama tersebut meski tidak begitu meyakininya. Aku sudah ragu tentang konsep Trinitas sejak kecil.

Bagaimana mungkin Tuhan bisa berperan sebagai “Anak Tuhan’ di saat yang bersamaan? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan Anak-Nya sendiri mati disalib oleh para pembangkang? Bagaimana mungkin Anak Tuhan bisa dibangkitkan kembali oleh Tuhan ke surga, padahal Anak Tuhan tersebut adalah Tuhan itu sendiri? Maka meski sejak kecil aku percaya bahwa Tuhan itu memang ada, tapi aku tidak meyakini kebenaran Kristen, satu-satunya agama yang kukenali saat itu.

Di saat usiaku 13 atau 14 tahun, ketika bersepeda ke sekolah, aku sempat merenung bahwa Tuhan memang ada tetapi tidak yang sebagaimana diajarkan dalam agama Kristen. Hingga berusia 19 tahun, aku percaya bahwa tidak ada agama yang turun langsung dari Tuhan, dan tiap manusia harus mencari-cari keberadaan dan hubungan dengan Tuhan secara sendiri-sendiri.

Namun itu semua berubah ketika kuputuskan untuk membaca terjemahan Alquran. Itu bukan untuk mencari-cari agama yang diturunkan Tuhan tetapi untuk mencari tahu apa-apa yang diyakini oleh jutaaan penganut agama Islam di dunia.

Aku mulai membaca Alquran dari awal surat, hingga kemudian suatu malam sampai pada surat Maryam, yang mana Allah berfirman tentang perkataan-perkataan yang diucapkan kaum Nasrani tentang-Nya dan Nabi Isa as. Allah menyatakan, “Kami Jadikan’ dan terjadilah ia (kun faya kun).” Setelah membaca ayat tersebut, aku berkata kepada diri sendiri, “Demi Tuhan! kalau Tuhan itu memang ada, maka sudah sepatutnya ia memiliki sifat seperti itu!” Ia tidak memiliki anak, dan cukup bagi-Nya untuk menyatakan ‘Terjadilah’ maka terjadilah!’

Sejak itu aku yakin bahwa inilah agama yang benar. Aku mulai mengubah kebiasaanku sebelumnya seperti minum alkohol atau makan daging babi. Aku juga berusaha berpuasa pada Ramadhan. Semua kulakukan sendirian.

Pada usia 24 tahun, setahun setelah aku lulus kuliah, aku ke Belanda bagian selatan. Di sana banyak para pendatang Muslim baik dari Turki dan negara-negara lainnya. Di sinilah aku mencari tahu tentang Islam. Alhamdulillah aku bertemu dengan seorang imam masjid. Sayangnya ia kurang mahir berbahasa Belanda. Aku kemudian diperkenalkan dengan anaknya seorang aktivis dakwah. Dari anak imam masjid inilah aku mengenal Islam melalui jalan yang benar, dari thariqul iman (jalan menuju iman) hingga bagaimana Islam kaffah itu. Saat itulah aku masuk Islam.

Jelas langkahku ini membuat orangtuaku tidak suka. Namun mereka tidak sampai mengusirku karena mereka tetap menganggap aku sebagai anak yang harus tetap dicintai. Tapi aku sendiri agak sulit mencintai mereka karena kekafirannya.

Ketidakadilan Barat


Aku selalu hidup di dunia Barat. Aku juga tidak terlahir sebagai Muslim.

Aku melakukan semua hal yang biasa dilakukan oleh para remaja seusiaku yang kupikir akan membuatku senang. Tapi tetap saja tidak pernah merasa senang. Kini setelah menemukan jalan kebenaran, aku menyadari bahwa semua perilaku di masa lalu untuk mencari ketentraman itu adalah sebab kenapa aku tidak pernah merasa bahagia.

Di samping itu aku juga selalu merasakan betapa dunia ini dicengkeram oleh ketidakdilan. Aku ingat ketika berumur 8 atau 9 tahun menyaksikan berita tentang kebrutalan tentara zionis Israel terhadap dua anak Palestina. Aku sempat menangis melihatnya, kenapa ada manusia yang bisa melakukan hal tersebut kepada manusia lainnya.

Kemudian, ketika beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa ekonomi, aku mulai membenci sistem ekonomi yang kupelajari, karena sistem tersebut tidak mengenal adanya belas kasihan. Aku selalu bepikir mengapa manusia harus selalu berjuang untuk bisa bertahan hidup? Kenapa manusia tidak bisa saling mengasihi dan menolong satu sama lainnya. Aku sempat melihat adanya sifat saling membantu dalam sistem sosialisme. Namun sejak keambrukannya, aku tidak yakin untuk bisa mendukung sistem sosialisme secara sepenuhnya. Maka aku tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti sistem kapitalisme.

Namun sejak aku mendapatkan hidayah untuk menemukan Islam, aku kini tahu bahwa alternatif dari kapitalisme itu ada. Aku melihat ada masalah yang sama selama ini di dunia seperti penindasan, kemiskinan, dan monopoli kekayaan. Dulu aku pesimis apakah permasalahan tersebut akan bisa diselesaikan sehingga tidak terlalu banyak memusingkan. Tapi kini aku bisa berpikir lebih jernih. Ternyata banyak sekali yang bisa dilakukan dan yang harus dilakukan. Jadi, aku yakin bahwa Islam mampu menyelesaikan semua masalah di dunia sekarang. Dan aku pikir juga tidak sendirian.

Krisis kredit macet memang telah menghancurkan harapan umat Islam terhadap sistem Kapitalisme. Apabila kita bertanya kepada umat Islam hari ini, kita akan dapatkan tanggapan bahwa pada akhirnya hanya Islam yang menjadi harapan sebagai solusi. Artinya, kembalinya sistem Islam dalam bentuk negara sudah mulai tampak di horison. Pertanyaannya bukan lagi apakah negara Islam akan kembali hadir, namun kapan ia akan kembali terbentuk.

Sebagai seseorang yang mempelajari sistem ekonomi Islam dan ekonomi Kapitalisme, aku sangat berharap semakin cepat Islam kembali adalah semakin baik. Ketika itu terjadi maka akan terhenti semua macam penindasan terhadap manusia yang selama ini menguntungkan segelintir kelompok manusia yang lain. Lebih jauh lagi, pemiskinan masyarakat yang memperkaya kelompok yang lain juga akan berakhir. Hari itu adalah hari berakhirnya kegelapan dan terbitnya cahaya kehidupan di bawah tuntunan yang benar. Karena itu tantangan bagi umat Islam sekarang adalah bagaimana menjelaskan Islam itu dalam perspektif yang benar.

Sumber : pendi, olahan wawancara/mediaumat

Kegelisahan Hati Sang Pencari Tuhan

0

anaSetelah masuk Islam, semuanya menjadi plong dan tenang.

Berbagai macam ajaran agama yang berkembang di Indonesia pernah dipelajarinya, dari Kristen Protestan hingga Hindu dan Buddha. Namun, itu semua belum membawa ketenangan dalam diri Tatiana SP Basuki.”Dari kecil, saya dididik sebagai seorang Katolik. Tapi, ketika beranjak dewasa dan memasuki dunia kerja, saya mengalami kegelisahan. Kayaknya, saya tidak menemukan sesuatu dalam keyakinan yang saya anut,” ujarnya.

Kondisi tersebut berdampak pada kehidupan spiritual perempuan yang biasa disapa Ana ini. Jika sedang beribadah, pikirannya tidak terfokus. Begitu juga ketika datang ke gereja, ia lebih banyak melamun. Sampai suatu ketika, salah seorang teman menawarkan kitab suci umat Islam, Alquran, kepada perempuan kelahiran Klaten, 20 Maret, ini. Ana menerima Tawaran temannya itu meski dalam hatinya timbul keraguan bahwa Alquran bisa mengusir kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Terlebih lagi, ia tidak paham sama sekali bahasa Arab. Kalaupun membaca dari terjemahan Alquran, tetap saja ia kesulitan untuk bisa mencerna makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran.”Alquran itu bahasanya puitis sekali sehingga buat saya susah untuk mencerna,” tukasnya.

Kegelisahan yang ia rasakan makin membuatnya tidak nyaman. Hingga mencapai puncaknya di pertengahan malam, 5 Juni 1995 silam. Saat itu, menurut Ana, jam di kamarnya menunjukkan pukul 21.00 dan dirinya hendak beranjak tidur. Meski lampu penerangan di kamarnya sudah dipadamkan, hingga pukul 23.30 dirinya tidak juga bisa memejamkan mata.

Rasa gelisah terus menderanya malam itu. Lalu, antara sadar dan tidak sadar, ungkap Ana, ia merasakan ruangan dalam kamarnya yang seharusnya gelap tiba-tiba menjadi terang benderang. ”Padahal, saya tahu bahwa saya mematikan lampu. Tapi, suasana kamar saat itu justru terang sekali,” tambahnya.

Tidak hanya itu, malam itu ia juga merasakan keanehan yang lain dengan datangnya suara seorang perempuan dalam kamarnya. Mengenai suara tanpa sosok nyata ini, Ana mendengar suara yang sangat lembut. Suara tersebut, menurutnya, mengucapkan serangkaian kalimat. Namun, ada satu perkataan yang disampaikan suara tersebut yang hingga kini masih ia ingat, ”Ya sudah, kalau kamu sudah memutuskan, mengapa harus menunggu.”

”Saat itu, saya berpikir memutuskan apa, ya? Saya pikir, ini mungkin pencarian religi saya. Akhirnya, saya bilang saya harus masuk Islam. Nggak tahu mengapa, pokoknya saat itu saya yakin harus masuk Islam,” paparnya.Sejurus kemudian, Ana menghubungi salah seorang rekan kantornya. Karena teleponnya tak diangkat, ia pun meninggalkan pesan di mesin penjawab yang isinya meminta bantuan sang teman untuk mengislamkan dirinya.

Keesokan harinya, ketika Ana tiba di kantor, temannya meminta ia naik ke lantai eksekutif. Di ruangan tersebut, ungkapnya, sudah menunggu seorang ibu yang dianggap oleh temannya sebagai seorang ustazah dan siap mengislamkan dirinya. Ibu tersebut banyak memberikan masukan dan ceramah ke Ana sebelum dirinya mengucapkan syahadat di hadapan ustazah tersebut.

Meski sudah mengucapkan syahadat, ia berkata kepada ibu tersebut bahwa dirinya tetap harus bersyahadat di sebuah masjid untuk mendapatkan sertifikat bahwa dirinya sudah masuk Islam. ”Sertifikat ini diperlukan karena saya pastinya harus ganti KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga).”

Tanpa ia ketahui, ternyata salah seorang teman kantornya sudah menghubungi Masjid Sunda Kelapa yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kejutan lain dari para koleganya di kantor juga terjadi manakala ia tiba di Masjid Sunda Kelapa. ”Ternyata, banyak teman saya, bahkan bos-bos saya di kantor juga ada di masjid itu,” ujarnya.

Alhasil, ia pun mengucapkan kembali dua kalimat syahadat yang disaksikan teman dan bosnya di Masjid Sunda Kelapa. Akhirnya, ia resmi masuk Islam pada 6 Juni 1995 setelah proses pencarian selama setahun. Entah bagaimana, ketika sudah resmi memeluk Islam, menurut Ana, semua perasaan gelisah yang selama ini menghantuinya hilang begitu saja. ”Tadinya, ada perasaan yang berat dan gelisah. Tetapi, begitu saya berikrar masuk Islam, semuanya jadi plong begitu saja,” paparnya.

Didatangi penginjil
Begitu tersiar kabar bahwa dirinya masuk Islam, keesokan harinya Ana mendapatkan banyak kecaman dan teror. Teman-temannya yang non-Muslim protes atas keputusannya memeluk Islam.

”Banyak yang menelepon saya. Kok , bisa-bisanya saya ganti agama dan nggak bilang-bilang dulu kalau mau pindah (agama),” tuturnya. Namun, semua itu ia tanggapi dengan tenang dan lapang dada.

Kecaman dan teror tersebut tidak hanya datang dari teman-teman non-Muslim, tetapi juga dari pihak lain. Menurutnya, setelah ia memutuskan masuk Islam, secara tiba-tiba ada seorang penginjil yang rajin mendatangi kantornya setiap hari. Setiap pagi dan sore, kata Ana, sang penginjil mendatanginya untuk memberikan ceramah tentang agama selama 10 menit. Begitu juga kalau mereka berpapasan di dalam lift. ”Tapi, tekad saya sudah bulat untuk memeluk Islam. Ya, semua itu tidak saya gubris. Akhirnya, lama-lama penginjil tersebut berhenti juga,” ujarnya.

Meski sudah resmi memeluk Islam, Ana tidak lantas memberitahukan perihal tersebut kepada kedua orang tuanya yang pada saat itu tinggal di luar negeri. Ayahnya merupakan seorang pemeluk Islam, sedangkan ibunya seorang penganut Katolik. Namun, tidak adanya bimbingan agama yang jelas dari kedua orang tuanya membuat Ana harus memutuskan sendiri agamanya. Waktu itu, ia pun mengikuti agama ibunya hingga beranjak dewasa.

Perihal kepindahannya ke Islam, lanjutnya, baru diketahui sang bunda dari salah seorang temannya. ”Saya bilang ke beliau, ini pilihan saya dan ternyata ibu oke-oke saja. Meski orang tua berbeda (keyakinan), mereka mendukung setiap pilihan anaknya. Mereka paham ini sangat pribadi,” tuturnya.

Dicurigai keluarga
Guna memperdalam pengetahuannya mengenai Islam, selain banyak membaca, ia juga mencari guru yang bisa membimbing dan mengajarinya. Untuk mendapatkan guru yang cocok, ungkapnya, butuh waktu yang cukup lama. Setelah bergonta-ganti guru, baru pada tahun 2001 ia menemukan seseorang yang dianggapnya cocok menjadi guru spiritualnya. ”Pada dasarnya, saya ini orang yang penasaran dan tidak pernah puas dengan satu jawaban.”

Sang guru banyak membimbingnya dan mengajarkannya bahwa kehidupan spiritual Islam laiknya sebuah samudra. ”Ketika menyelami samudra itu, kamu akan melihat betapa banyak yang akan dipelajari. Dan, kamu tidak akan bisa mempelajari semua itu walaupun sepanjang hidup kamu. Jadi, pelan-pelan saja, nikmati dan syukuri apa yang kamu ketahui,” begitulah petuah sang guru. Falsafah itulah yang hingga kini dijadikan pegangan oleh Ana ketika mendalami Islam.

Kedekatannya dengan sang guru spiritual ini, diakui Ana, sempat membuat hubungannya dengan keluarga menjadi renggang. Hal ini bermula ketika ia kerap mengikuti pengajian sang guru hingga dini hari dan tak jarang pula ia mengikuti pengajian tersebut hingga ke luar kota. Ditambah lagi, pada saat itu sedang merebak isu kelompok NII (Negara Islam Indonesia).

”Karena pengajiannya di daerah tertentu, saya pulang pagi. Kalau pengajiannya di luar kota, pasti diadakan di daerah Puncak, Bogor. Maka itu, kemudian keluarga saya, terutama ibu, mencurigai saya ikut NII,” ujarnya. Namun, kecurigaan keluarganya tersebut lambat laun sirna.

Kendati sang guru pernah dicurigai keluarga besarnya, ia mensyukuri karena oleh Allah SWT dipertemukan oleh beliau. Pasalnya, dari sang guru inilah ia banyak belajar mengenai arti syukur dan menghargai semua yang telah Allah berikan kepadanya. ”Saya itu dulu tipe orang yang selalu mengeluh dengan apa yang ada di sekeliling saya,” tukasnya.

Dengan memeluk agama Islam, tambah Ana, ia juga belajar untuk lebih bisa berserah diri dan tawakal. Dengan begitu, menurutnya, ia menjadi jauh lebih tenang dalam menjalani kehidupannya. ”Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya perusahaan yang baru mau saya rintis kok belum mendapat klien. Kalau kita tidak yakin dan tawakal, gelisahnya pasti luar biasa, itu yang saya dapat dari Islam.”

Hingga kini, ia masih terus berusaha untuk bisa memanifestasikan sebagian dari Asmaul Husna (Nama-nama Allh yang baik) dalam dirinya. Selain itu, ia juga masih mempelajari apa tujuan seorang manusia diciptakan di muka bumi ini. ”Kalau dibilang, manusia adalah khalifah di bumi dan mereka punya misi tertentu. Itu yang saya tanyakan apa misi saya dilahirkan di bumi ini.” nidia zurya


Biodata

Nama : Tatiana SP Basuki
TTL : Klaten, Jawa Tengah, 20 Maret
Masuk Islam : 6 Juni 1995
Pekerjaan
- Direktur dan Psikolog Utama pada Firma Konsultasi Psikologis PT Nuage Personalis Konsultan
- Aktif sebagai psikolog pada Komite Nasional Lansia (Komnas Lansia) sejak November 2008 sampai sekarang
- Aktif sebagai psikolog pada Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia (YDGI) sejak November 2008 sampai sekarang
- Sebagai Ko-Terapis untuk Dr Adriana Ginanjar sejak Oktober 2008 sampai sekarang

Felix Yanwar Siauw Dengan Islam Hidup Jadi Terarah

0

Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupan seorang Felix Yanwar Siauw. Pada masa remaja itulah dalam diri Felix timbul keraguan atas agama yang telah dianutnya sejak ia kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. ”Di agama saya yang lama memang banyak hal yang tidak terjawab pada waktu itu,” ujarnya.

Sebagai contoh, ketika ia menanyakan soal trinitas dan keberadaan Yesus sebagai Tuhan kepada pastor, jawaban dari semua pertanyaaannya tersebut berakhir pada kata dogma, yakni ajaran yang sudah ada sejak dahulu dan tidak boleh dipertanyakan oleh orang-orang yang beriman kepada Yesus.

Ketika mendengar jawaban seperti itu dari sang pastor, akhirnya Felix lebih memilih untuk mundur dari agama Katolik. Keputusan untuk keluar dari agama Katolik, menurut ayah satu orang putri ini, juga dilandasi oleh kenyataan mengenai praktik-praktik keagamaan yang dilihatnya hanya sebagai sebuah ritual kosong.

”Saya melihat selama ini teman-teman saya datang ke gereja hanya untuk sebuah proklamasi kalau dia sudah punya pacar, kemudian dibawa ke gereja atau sekadar hanya untuk pamer pakaian bagus,” ungkapnya.

Ketika ia memutuskan meninggalkan agama Katolik, sejak saat itu pulalah ia tidak percaya adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Masa-masa seperti itu ia alami hingga menjelang akhir duduk di SMP.

Begitu memasuki kelas tiga SMP, berbagai pertanyaan yang pernah ada dahulu, muncul kembali dalam benaknya. Kemudian, dia mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut ke mana-mana. Hingga kemudian, dirinya sampai pada satu kesimpulan bahwa Tuhan itu memang benar ada.

Keyakinannya bahwa Tuhan itu ada muncul setelah ia mempelajari ilmu biologi bahwa penciptaan manusia dari sperma yang tidak mempunyai akal. Dari sini ia memahami bahwa manusia itu diciptakan dari sesuatu yang amat istimewa. ”Kemudian saya kembali yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi, namanya siapa ini yang belum jelas,” tambah Felix.

Percaya tapi tak beragama
Meskipun meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun hal itu tidak lantas membuat Felix memutuskan untuk memilih salah satu ajaran agama sebagai jalan hidupnya. ”Ketika saya mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu ke Kristen Protestan, tidak dapat. Begitu juga di agama Buddha, karena tuhannya juga bersifat manusia, tidak layak untuk dijadikan Tuhan,” paparnya.

Percaya Tuhan, tapi tidak beragama, begitulah kira-kira gambaran kehidupan spiritual yang sempat dijalaninya selama kurun waktu lima tahun. Selama itu pula, ia hidup dengan bayang-bayang tiga pertanyaan besar. Yakni, setelah mati manusia mau ke mana, untuk apa manusia diciptakan di dunia, dan dari mana asal mulanya alam semesta tercipta.

Ia terus mencari jawaban dari ketiga pertanyaan besar ini. Proses pencarian itu berakhir di pertengahan tahun 2002, begitu dirinya menginjak bangku kuliah semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ketika itu, dirinya memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, ia tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam.

Suatu ketika salah seorang teman kosnya yang Muslim menyarankannya untuk menemui seorang ustadz untuk mendiskusikan tiga pertanyaan besar itu. ”Saya bilang, selama ini saya diskusi dengan ustadz sama saja. Mereka enggak ada bedanya dengan pastor, cuma mereka pintar menyembunyikan kejahatannya,” ujar Felix menanggapi saran temannya kala itu.

Temannya tidak putus asa untuk membujuk Felix agar mau bertemu dengan guru ngaji itu. Ketika ia bertemu langsung dengan sang ustadz, dirinya menemukan pandangan mengenai Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipahaminya sebelumnya.

”Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana dia (Islam–Red) menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya,” ujarnya.

Dari sini kemudian dirinya tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2 yang menyatakan, ”Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.”

Kendati demikian, pada saat itu ia masih mengira bahwa yang menciptakan kitab suci ummat Islam ini adalah seorang manusia biasa, seperti halnya kitab suci agama yang lain. Namun, ketika sampai padanya penjelasan bahwa Alquran itu bukan buatan manusia, ia menganggap hal itu sebagai lelucon. Dia pun meminta bukti bahwa penjelasan itu benar adanya.

Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan, ”Dan bila kalian tetap dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan ini, datangkanlah kepada Kami satu surat yang semacam dengannya.”

Bagi dirinya surat Albaqarah ayat 23 ini merupakan sebuah segel dan tantangan terbuka buat manusia, tapi manusia tidak ada yang bisa membuat seperti itu. Dari diskusi panjang tersebut Felix merasa yakin bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan dari Tuhan pencipta semesta alam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memilih Islam–di saat usianya baru menginjak 18 tahun–sebagai jalan hidupnya hingga kini.

Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orang tua Felix syok dan marah. Namun, kemarahan keduanya hanya ditunjukkan dalam bentuk rasa kekecewaan. ”Kalau sampai pada pengusiran memang tidak terjadi seperti yang dialami mualaf lainnya.”

Rasa kecewa tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya dengan kata-kata pedas. ”Kamu ini kemasukan setan atau jin. Kamu itu seperti mutiara yang menceburkan diri ke dalam lumpur.” Lalu saya katakan, ”Lumpurnya yamg mana dan mutiaranya yang mana.”

Namun, dengan berbagai upaya yang Felix lakukan selama tiga tahun, kini kedua orang tuanya sudah bisa menerima pilihan hidupnya itu. Meski dalam beberapa hal, baik ayah maupun ibunya, masih belum bisa menerima perbedaan tersebut. Seperti ketika putrinya yang masih berusia satu tahun mengenakan kerudung.

”Kalau anak saya dibawa ke tempat orang tua pakai kerudung, ibu saya tidak akan mau menggendongnya. Tapi, bapak saya masih mau menggendongnya,” ungkapnya.

Sementara sang ayah merasa keberatan jika cucu perempuannya itu diminta untuk memanggil Felix dengan sebutan abi. Pasalnya, menurut sang ayah, panggilan abi tersebut tidak ada kewajibannya di dalam Alquran.

Kendati begitu, ia merasakan sebuah kepuasan diri yang tidak pernah dirasakan sebelum menemukan Islam. Selain itu, dengan meyakini Islam, hidupnya menjadi lebih bermakna dan terarah.

”Merasa puas karena setiap fenomena yang saya lihat dalam hidup ini bisa dijelaskan dengan Islam. Saya juga lebih punya tujuan hidup karena saya sudah tahu dari mana asal saya, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, dan saya mau ke mana setelah mati,” ujarnya. nidia zuraya[Answering.wordpress.com]

Saya Mengenal Islam Melalui Internet

0

ia lahir dan besar dalam lingkungan Kristen. Tapi kemudian berganti-ganti agama. Pelariannya berakhir pada pekukan Islam

Benar kata orang, Islam benar-benar indah dan agama yang sangat mulia.

Walaupun selama ini cap buruk telah diberikan kepada Islam dan umat Islam pada umumnya, namun buktinya ia berhasil mendapatkan pengikutnya dan berkembang selama hampir 15 abad. Islam, dalam beberapa kata singkat, adalah hidupku. Dan Allah adalah sebuah kekuatan dalam hidupku. Tanpa Allah, saya bukanlah apa-apa.

Ketika saya duduk untuk menulis pengantar ini, saya tidak bermaksud untuk mengirim seluruh kisah kembalinya saya dalam pelukan Islam. Semakin saya berpikir tentang hal ini, semakin saya menyadari bahwa ini adalah tempat yang tepat untuk cerita.

Aku dibaptis saat lahir saat masih kecil, saat pra-sekolah di Detroit, Michigan. Semenjak itu, gereja selalu menjadi bagian dari anak usia dini di Detroit, walaupun keluarga saya tidak pergi setiap minggu. Tapi ketika orangtuaku pindah ke North Carolina, mereka sudah mulai rajin ke gereja.

Saya harus selalu pergi ke sekolah Katolik. Karenanya, dari kelas saya mengenal pertama kali kehidupan Yesus, Bunda Maria, para Rasul, Alkitab, dan Sakramen. Saya pertama kali mendapat “first holy communion” pada usia 7 tahun.


Pada September 1995, lokal sekelompok orang Katolik Ortodoks dari Libanon (Melkite Byzantine Catholic) mengadakan liturgi di gereja kami. Saya pergi dengan ibu saya, dan saya jatuh cinta. Hal paling indah saya pernah melihat, saya dengar, dan saya rasakan. Liturgi tradisional, yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris, Arab, dan Yunani. Dengan lilin, ikon, dan banyak kemenyan.

Ketika teman-teman saya baru belajar tentang gereja, mereka tidak pernah mencela saya, namun mereka tidak memahami mengapa saya menyukai Katolik Melkite Byzantine. Beberapa orang menyatakan bahwa saya melakukan untuk mencari perhatian. Tapi bagi saya, saya telah melakukan sesuatu yang sedikit lebih mengejutkan dan luar biasa!

Konflik Serius

Saya terus pergi ke gereja Melkite setiap hari minggu sampai pertengahan Maret tahun 1996. Namun suatu hari, tepatnya 40 hari sebelum Paskah, saya mempunyai pertengkaran serius pertama saya dengan agama Keristen. Sesungguhnya saya kurang yakin apa yang sedangb terjadi. Tetapi tiba-tiba, saya berhenti percaya pada agama Kristen.

Untuk beberapa alasan, sesaat saya merasa Judaisme adalah satu-satunya agama monotheistic yang paling baik yang saya tahu. Dan akhirnya Aku pergi pada hari Sabat di sinagog Yahudi dengan teman orangtua saya. Saya selalu tertarik budaya Yahudi, tapi saya tidak tahu banyak tentang agama Yahudi.

Saya mulai menghadiri layanan Sabat pada hari Minggu pagi. Walaupun saya telah cukup baik diterima oleh orang-orang Yahudi di kota, saya juga banyak mendapat kritikan dari teman saya. Sekali lagi, saya dituduh mencoba untuk mendapatkan perhatian, yang berusaha untuk menjadi berbeda.

Apapun perkataan orang, saya perlahan mulai mengadopsi Judaisme dan Yahudi mengikuti praktek-praktek budaya dan agama mereka. Saya juga mulai belajar untuk bahasa Ibrani tiap Sabat di hari Sabtu.

Pada saat saya mulai sekolah menengah pada tahun 1996, orang-orang memanggil saya “The kid who thinks he’s Yahudi.“[anak yang berpikir dia Yahudi]. Saya bahkan berencana pindah ke Israel. Tapi sedikit yang saya tahu, bahwa “kemesrahan” ku dengan Yahudi supanya akan segera berakhir.

Suatu hari, saat Thanksgiving, saya sedang duduk di rumah menghadap Internet, untuk mencari satu dua situs yang menarik. Mulailah saya mencari majalah melalui Internet. Terkejutlah saya ketika menangkap sebuah situs Ibrahim Shafi’s Islam Page. Saya berhadapan dengan sebuah situs Islam.

Apa yang saya pahami tentang Islam? Tak banyak. Namun saya mempunyai teman di sekolah seorang Muslim, ibu saya bekerja dengan orang Muslim. Namun, pengetahuan tentang Islam itu sangatlah terbatas. Sebagian besar apa yang saya tahu berasal dari buku. Yang membuat saya mengkerut ketika menyebut Islam perlakuan perempuan dengan sangat mulia.

Rupanya, saya mulai mempelajari Islam melalui web. Saya segera “ngerumpi” di room chat di sebuah channel IRC (Internet Relay Chat) guna mencari teman Muslim sebanyak-banyaknya. Dari sanalah, saya mulai syahadat dan menyatakan diri memeluik Islam.

Kehidupan saya merasa baik, tetapi saya tetap tidak merasa bahwa saya adalah bagian dari umat Islam. Persoalannya, karena saya tidak menyatakan syahadat di depan saksi.

Nah, kesempatan untuk menjadi seorang Muslim di hadapan umat Islam lainnya datang selama perjalanan ke Chicago. Saudara perempuan saya pergi ke Universitas Chicago dan saya menyadari bahwa ada MSA (Muslim Student Association) di sana. Akhirnya, melalui MSA aku resmi menyatakan besaksi kepada Allah dan Rasul Allah memeluk Islam.

Sekarang, nama baruku berganti menjadi Tariq Ali. Namun, kadang, sehari-hari tetap dipanggil Tommy.

Meski telah memekuk Islam, masih banyak orang masih meledekku akibat agama masa laluku. “Apa agama Anda minggu ini, Tommy?”. Dan biasanya, saya jelaskan, “Saya telah Muslim.” Dan jika mereka tertarik dan bekepentingan, saya jelaskan lebih jauh agama saya yang sangat hebat ini. [cerita Tommy dimuat situs www.daily.pk/www.hidayatullah.com]

Ilustrasi: Pasarkreasi

sumber : hidayatullah.com

Yahudi AS, Amalia Rehman: “Telah Saya Temukan Kebenaran Itu”

0

Meski sudah 20 tahun berselang, Amalia Rehman, tidak bisa melupakan peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalan hidupnya. Peristiwa ketika ia memutuskan mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim.

Amalia lahir dari keluarga Yahudi, ibunya seorang Yahudi Amerika dan ayahnya seorang Yahudi Israel. Ayah Amalia, Abraham Zadok bekerja sebagai tentara pada masa-masa pembentukan negara Israel tahun 1948. Kedua orang tuanya termasuk Yahudi yang taat, tapi menerapkan sistem pendidikan yang lebih moderat pada Amalia dan kedua saudara lelakinya. Amalia dan keluarganya pergi ke sinagog hanya jika ada perayaan besar agama Yahudi.

Sejak kecil Amalia dikenal sebagai anak yang cerdas dan ambisius. Pada usia 13 tahun, Amalia mulai merasa ingin menjadi orang yang lebih relijius. Karena ia menganut agama Yahudi, maka Amalia berniat memperdalam ajaran agama Yahudi. Tapi, setelah mempelajari Yudaisme, Amalia merasa belum menemukan apa yang dicarinya. Ia lalu ikut kursus bahasa Ibrani, itupun tak membantunya untuk menemukan hubungan relijiusitas agama yang dianutnya.

Kemudian, sambil kuliah di bidang psikologi di Universitas Chicago, Amalia mengambil kursus Talmud. Amalia menyebut masa itu sebagai masa yang paling membahagiakannya, karena ia melihat titik terang dari apa yang dicarinya selama ini soal agama Yahudi yang dianut nenek moyangnya. Meski akhirnya, ia menyadari bahwa agama Yahudi ternyata tidak memakai kitab Taurat. Para pemeluk agama Yahudi, kata Amalia, tidak mengikuti perintah Tuhan tapi hanya mengikuti apa kata para rabbinya.

“Semua berdasarkan pada siapa yang menurut Anda benar, sangat ambigu. Agama Yahudi bukan agama sejati, bukan agama kebenaran,” ujar Amalia.

Amalia mulai mengenal agama Islam ketika ia pindah ke California untuk berkumpul bersama keluarganya. Di kota itu, Amalia berkenalan dan berteman dengan orang-orang Arab yang sering berbelanja di toko orangtuanya yang berjualan kacang dan buah-buahan yang dikeringkan di pasar petani San Jose.

“Saya tumbuh sebagai orang Yahudi dan didikan Yahudi membuat saya memandang rendah orang-orang Arab,” kata Amalia.

Meski Amalia memiliki prasangka buruk terhadap orang-orang Arab, Amalia mengakui kebaikan orang-orang Arab yang ia jumpai di toko ayahnya. Ia bahkan berteman akrab dengan mereka. “Satu hal yang menjadi perhatian saya tentang orang-orang ini, mereka selalu bersikap baik satu sama lain dan saya merasakan betapa inginnya saya merasakan seperti mereka, sebagian hati saya ingin memiliki perasaan yang indah itu,” imbuhnya.

Suatu sore, saat Amalia dan teman-teman Arabnya menonton berita di televisi yang membuatnya bertanya-tanya tentang hari kiamat yang tidak pernah ia kenal dalam agama Yahudi. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya tentang Islam ketika itu, bagi Amalia adalah cara Tuhan untuk mendekatkan diri pada Islam.

“Allah mendekati manusia dengan cara pendekatan yang manusia butuhkan. Allah mendekati saya dengan cara yang saya butuhkan, dengan menimbulkan rasa keingintahuan saya, rasa lapar terhadap ilmu, rahasia kehidupan, kematian dan makna kehidupan,” ujar Amalia.

Hingga suatu hari, Amalia mengatakan pada teman-teman Arabnya bahwa ia sedang mempertimbangkan ingin menjadi seorang Muslim. Pernyataan Amalia tentu saja mendapat dukungan dari teman-teman Arabnya, tapi tidak dari kedua orangtuanya.

Sampai Amalia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian menikah dengan salah seorang pria Arab dan memiliki seorang puteri bernama Ilana, teman-teman Yahudi dan orangtua Amalia masih belum menerima keislaman Amalia. Kedua orang tua Amalia bahkan memanggil suaminya dengan sebutan rasis “Si Arab”. Ibu Amalia sampai akhir hayatnya bahkan tidak mau berkomunikasi lagi dengan puterinya.

“Saya tidak suka Muslim, mereka komunitas kelas bawah. Mereka melempari orang-orang Israel dengan batu, membunuh orang-orang Yahudi, saya tidak percaya pada mereka. Ibu Amalia memandang suami Amalia yang Arab adalah musuh. Ibu Amalia sangat zionistis dan sangat membenci Islam,” tukas Abraham, ayah Amalia.

Itulah masa-masa terberat Amalia setelah menjadi seorang mualaf, tapi ia tidak pernah menceritakan kesulitannya pada suaminya. Seorang teman dekat Amalia, Emma Baron mengatakan bahwa sahabatnya itu pandai menyembunyikan perasaannya dan kesedihannya, termasuk ketika Amalia berpisah dengan suaminya.

Harapan kembali tumbuh di hati Amalia saat ia bertemu dengan seorang Muslim asal Pakistan bernama Habib. Pernikahannya dengan Habib hanya membawa sedikit perubahan bagi hubungan Amalia dengan keluarganya. Hubungan mereka mulai membaik tapi ayah dan kedua saudara lelaki Amalia tetap memandang Muslim bukanglah orang yang beragama, pengkhianat, anti-Yahudi dan anti-Israel.

“Saya sudah berusaha bersikap baik pada mereka, tapi saya gagal. Mereka mungkin lebih senang melihat saya jadi biarawati ketimbang menjadi seorang Muslim,” keluh Amalia.

Tapi hati Amalia sedikit terhibur, karena ibu tirinya Annete bisa menerimanya. Annete sendiri awalnya seorang Kristiani yang kemudian pindah ke agama Yahudi saat menikah dengan ayahnya, sepeninggal ibu kandungnya. Annete memuji Amalia sebagai orang bersikap dewasa dan teguh pada keyakinannya meski kerap mendengar komentar-komentar pedas dari ayahnya.

Amalia yang kini berusia 43 tahun mengakui mengalami pasang surut dalam kehidupannya sebagai seorang mualaf. Tapi ia mengakui menemui ketenangan jiwa dalam Islam. “Saya sudah menemukan kebenaran itu,” tandas Amalia yang sekarang hidup bahagia dengan suaminya Habib dan empat anak-anaknya. (ln/jfa.com)

sumber :eramuslim.com

Bersyahadat Setelah 8 Tahun Baca Al-Quran

0

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang–contohnya, sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orang tua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya

Pastinya saya lebih relijius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun, bibi saya memberi hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka. Lain waktu saya minta dibelikan buku doa kepada orang tua, dan saya membacanya setiap hari selama beberapa tahun.

Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.

Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu ia tidak berdosa.

Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan, misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan dalam Bibel.

Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya–saya ingin dikenal sebagai “gadis baik”.

Alhamdulillah, akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya. Bocah itu banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi dari Universitas Michigan, menyuruh untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.

Hal yang paling penting adalah tentang trinitas. Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi, sehingga menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci seperti pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda (astagfirullah!).

Ketika SMA diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius. Halangan atas ambisi ini hanya satu: saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di sebuah kota di wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.

Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Ia menceritakan saya sedikit tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang paling up-to-date. Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidak bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.

Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir acara ia bertanya, “Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara beribadah?”

Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribadatan itu harus dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?

Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam, saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.

Ada kejadian yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.

Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa pengampunan harus lewat sebuah acara peribadatan suci yang dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.

Saya mengunjungi gereja, duduk, dan memperhatikan pendeta yang ada di depan. Mereka tidak lebih baik dari umat yang datang–sebagian di antaranya bahkan lebih buruk. Jadi bagaimana bisa seorang manusia biasa, diperlukan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?

Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur’an di sebuah toko buku. Saya lalu membeli dan membacanya, dan terus membaca, walau kadang terputus, selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.

Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya, dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat mengharapkan ampunan.

Membaca Al-Quran

Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh? [Al-Maidah: 82-84]

Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka punya cara tertentu untuk berdo’a. Saya menemukan sebuah buku–yang ditulis oleh non-Muslim–yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu selama beberapa tahun.

Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran dulu, saya membaca: “Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [Al- Maidah: 3]

Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne Collins di Cheektowaga, New York, AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.

Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.

Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab di seberang sana, saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya? Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga? Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam Islam?

Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya menulis sebuah surat, isinya meminta informasi. Seorang ikhwan dari masjid itu menelepon saya dan kemudian mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, “Tunggu hingga kamu yakin.”

Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar. Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak akan pernah lagi sama.

Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.

Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur, sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih takut-takut, saya mengirim surat lagi ke masjid itu. Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.

Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan syahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir.

Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah. [di/iol/]

sumber : www.hidayatullah.com]

“Bukankah Muhammad Tuhanmu?”

0

Juan Galvan* seorang Muslim Texas menceritakan pengalamannya sebelum dan sesudah mengenal Islam. Inilah kisahnya.

Ketika terbang kembali ke Austin Texas, saya terkenang hari-hari sebelum masuk Islam. Saya teringat Armando, seorang Muslim Latin yang membantu saya mengenal Islam. Sambil menunjuk ke arah timur dan barat ia berkata, “Perhatikanlah apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ia yang menciptakan segala sesuatu. Allah Maha Kuasa.” Kala itu ia baru menunaikan shalat maghrib. Indahnya matahari terbenam masih tersimpan dalam ingatan.

“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram,” begitu Allah nyatakan dalam Al-Quran 13:28. Melihat keluar jendela, saya tersenyum lebar sambil memandang ke sekeliling. Saya telah menemukan tujuan hidup. Tujuan itu bukanlah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat, melainkan kita harus menerima “Tuhan” sebagai Tuhan. Kita orang Islam mengetahui sifat dari Sang Pencipta. Dengan demikian kita dapat memahami tujuan kita diciptakan, yaitu sebagai hamba dari Sang Pencipta. Saya dalam perjalanan pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah memeluk agama Islam. Orang-orang yang tidak paham Islam ada di sekeliling saya. Cathy, saudara perempuan saya yang berusia 14 tahun bertanya, “Bukankah Muhammad Tuhanmu?” “Oh, bukan,” jawab saya.

Kedua orangtua, saudara laki-laki dan 5 saudara perempuan saya semuanya tinggal di Pampa Texas. Ayah dan saya saling bercanda terhadap agama masing-masing. “Mengapa kamu berdoa kepada karpet itu,” tanya ayah. “Mengapa ayah memasang patung orang yang telah mati di dinding?” balas saya seraya menunjuk salib Yesus yang ada di ruang keluarga.
(watch Finding Allah in Texas

Hari pertama di rumah, saya shalat di kamar Cathy setelah melihat salib dan gambar-gambar sejenis di dinding rumah. Tidak ada salib atau gambar Yesus di kamarnya, namun ada poster besar bergambar Backstreet Boy’s. Saya pikir itu tidak seburuk kedua berhala itu. Orangtua saya memajang patung atau gambar-gambar Yesus dan Maria di hampir setiap dinding rumah.

Hubungan saya dengan keluarga sangat baik. Keluarga Amerika keturunan Meksiko dikenal kecintaannya kepada keluarga dan agamanya.

Selama kunjungan saya ke Pampa, saya banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi tentang Islam. Orang-orang yang bertanya “mengapa kamu memilih agama itu” berarti ingin didakwahi. Dan saya senang menjawab pertanyaan mereka. Ayah berkata, “Ibuku seorang Katolik, dan aku akan mati sebagi seorang Katolik.”

Orang Amerika keturunan Meksiko selalu beranggapan moyang mereka adalah orang Katolik Roma. Sebenarnya moyang kami di Spanyol adalah Muslim dan moyang kami di Meksiko penyembah berhala. Berpegang teguh pada sebuah agama semata karena tradisi keturunan adalah tidak masuk akal. Saya menolak untuk menjadi pengikut buta. Saya menjadi Muslim karena saya yakin Islam adalah agama yang benar.

Ketika mengunjungi keluarga, saya sering bicara tentang Islam. Jika Anda mencintai sesuatu maka Anda akan selalu membicarakannya setiap ada kesempatan. Saya berharap hal itu tidak menganggu keluarga. Saya memberi saudara laik-laki saya sebuah terjemahan al Qur’an dan buku kecil pengenalan tentang Islam. Saya mem-bookmark situs www.LatinoDakwah.org dan www.HispanicMuslims.com di komputer keluarga. Saya mengkopikan beberapa file yang berhubungan dengan Islam ke komputer mereka, berharap mereka akan membacanya.

Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh agama Tuhan yang benar. Apakah tuhan itu ada tiga? Apakah Yesus itu Tuhan? Apakah dosa asal itu? Kita menemukan jawaban atas pertanyaan seperti itu dengan mempelajari dasar-dasar keesaan Allah, kenabian dan hari pembalasan.

Saya menghabiskan banyak wantu untuk membersihkan miskonsepsi tentang Islam. Mengapa orang Amerika tidak diberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam? Orang Amerika memiliki banyak perntanyaan tentang Islam. Dalam banyak kesempatan, akan sangat baik untuk mengangkat pertanyaan-pertanyaan itu ke permukaan.

Saya ingin agar saudara perempuan saya mengerti bahwa Islam tidak menindas wanita. Saya ingin menjelaskan mengapa Muslimah harus berhijab. Akhirnya saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu tahu mengapa Muslimah berkerudung?” Dengan singkat ia menjawab, “Tidak.” Awalnya saya kira ia akan menjawab, “Apa? Menurutmu aku berpakaian seperti seorang wanita jalang atau sejenisnya?”

Saya jelaskan padanya bahwa Muslim yakin wanita tidak boleh diperlakukan sebagai obyek seksual. Saya juga menjelaskan bahwa Islam seperti manajemen resiko. Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menundukkan pandangan.

Dalam perjalanan ke Pampa, pengamanan di bandara sangat ketat. Seorang petugas keamanan memeriksa tas saya. Ia melihat Al-Quran, buku-buku Islam, kaset-kaset Islami dan sajadah. Saya berharap itu semua tidak membuatnya ketakutan. Saya berpikir untuk melakukan shalat di bandara Austin sebelum masuk ke pesawat. Tapi saya tidak ingin membuat penumpang terkena serangan jantung.

Setelah menceritakan hal itu, saudara saya menyarakan agar saya pulang dengan membawa petunjuk instruktur penerbangan. Tak lama setelah peristiwa 11 September, ayah bertanya kepada ibu, “Ia menjerumuskan dirinya ke dalam apa?” Ibu saya menangis ketika memberikan pelukan perpisahan. Saya berusaha untuk tidak menangis. Saya berharap ibu menangis karena akan rindu bukan karena takut saya akan bergabung dengan Taliban.

Ketika saya melihat keluar jendela. Saya melihat Penhandle Texas. Saya melihat ngarai, kemudian tanah pertanian dan jalan-jalan berpasir, kemudian ngarai lagi. Saya jadi teringat pastur Dale ketika masih dalam “kesesatan”. Saat kebaktian Minggu ia berkata, “ketika saya menjadi pendeta di Hawaii, saya melihat pantai yang indah dan pohon-pohon palem sepanjang jalan menuju tempat kerja. Sekarang saya melihat bermil-mil kapas.” Pastur Dale telah meninggalkan kerahiban dan kemudian menikah. Mungkin selanjutnya ia akan memeluk Islam, siapa tahu?.

Memandang keluar jendela, saya terus bersyukur kepada Allah atas ngarai, kapas dan lainnya yang telah diberikan Allah kepada kita.

*Setelah memeluk Islam, Juan Galvan, kini adalah Direktur LADO (Latino American Dawah Organization) dan mempromosikan Islam ke benua Eropa. [di/istd/hidayatullah]

sumber :hidayatullah.com

Sara Bokker :Islam Menjadikannya Penuh Cinta dan Spesial

0
Sara Bokker ,dahulu ia adalah seorang wanita yang tinggal Amerika ,ia juga seorang Artis,Model dan Aktifis adalah Direktur Komunikasi di “The March for Justice”, salah seorang pendiri ‘Global Sisters Network” dan Produser “Shock and Awe Gallery. adalah salah satu orang yang merasakan kelezatan Iman.merasakan kenikmatan sebagai salah satu hamba yang mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa ta'ala, hingga akhirnya menetapkan hatinya memilih Islam sebagai Agamanya dan dengan Keislamanannya tersebut ia tidak ragu untuk menghijabi tubuhnya dengan busana yang menutup Aurat.

untuk lebih jelasnya bisa kita simak penuturan perjalanan rohaninya yang pernah tulis ini :

Inilah Kisah Sara Bokker menemukan Islam


Sebagai perempuan Amerika yang lahir di ‘Jantung’-nya Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya dan terbiasa dengan kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah ke Florida, di Pantai Selatan Miami, di sebuah tempat populer bagi pencari kehidupan glamour. Tentu saja, saat itu aku juga melakukan apa yang dilakukan oleh umumnya gadis-gadis Barat. Aku hanya memperhatikan penampilan fisik dan daya tarikku, mengukur nilai reputasiku dari banyaknya perhatian orang lain padaku. Aku berolahraga teratur hingga menjadi pelatih pribadi di sebuah perumahan mewah pinggir laut dan menjadi pengunjung setia pantai yang ‘suka pamer tubuh’ serta sukses mencapai taraf kehidupan yang ‘penuh gaya dan berkelas’.
Tahun-tahun berlalu, kupahami bahwa ukuran nilai kepuasan diri dan kebahagiaanku bergeser pada semakin tingginya aku menggunakan daya tarik kewanitaanku. Saat itu, aku sungguh menjadi budak mode. Aku sungguh menjadi sandera dari penampilanku sendiri.

seorang pastor gereja Katholik Roma ,akhirnya memilih menjadi Muslim

0

idris tawfiq‘Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (QS Yunus: 25)

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli siapa pun. Baik dia budak, majikan, pejabat, bahkan tokoh agama non-Islam sekalipun.

Ayat tersebut, layak disematkan pada Idris Tawfiq, seorang pastor di Inggris yang akhirnya menerima Islam. Ia menjadi mualaf setelah mempelajari Islam dan melihat sikap kelemahlembutan serta kesederhanaan pemeluknya.

Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya.

Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka.

Ia melihat, sikap umat Islam ternyata sangat jauh bertolak belakang dengan pandangan yang ia dapatkan selama ini di negerinya. Menurutnya, Islam justru sangat lembut, toleran, sederhanan, ramah, dan memiliki sifat keteladanan yang bisa dijadikan contoh bagi agama lainnya.

Di Mesir inilah, Tawfiq merasa mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Awalnya hanya sebagai pengisi liburan, menyaksikan Pirmadia, unta, pasir, dan pohon palem. Namun, hal itu malah membawanya pada Islam dan membuat perubahan besar dalam hidupnya.

”Awalnya mau berlibur. Saya mengambil penerbangan carter ke Hurghada. Dari Eropa saya mengunjungi beberapa pantai. Lalu, saya naik bis pertama ke Kairo, dan saya menghabiskan waktu yang paling indah dalam hidup saya.”

”Ini adalah kali pertama saya pengenalan ke umat Islam dan Islam. Saya melihat bagaimana Mesir yang lemah lembut seperti itu, orang-orang manis, tapi juga sangat kuat,” terangnya.

”Saya menyaksikan mereka tenang, lembut, dan tertib dalam beribadah. Begitu ada suara panggilan shalat (azan–Red), mereka yang sebagian pedagang, segera berkemas dan menuju Masjid. Indah sekali saya melihatnya,” terangnya.

Dari sinilah, pandangan Tawfiq berubah tentang Islam. ”Waktu itu, seperti warga Inggris lainnya, pengetahuan saya tentang Islam tak lebih seperti yang saya lihat di TV, memberikan teror dan melakukan pengeboman. Ternyata, itu bukanlah ajaran Islam. Hanya oknumnya yang salah dalam memahami Islam,” tegasnya.

Ia pun mempelajari Alquran. Pelajaran yang didapatkannya adalah keterangan dalam Alquran yang menyatakan: ‘ Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang Yahudi dan Musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang beriman adalah orang yang berkata, ”Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena seungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Maidah ayat 82).

Ayat ini membuatnya berpikir keras. Baginya, Islam sangat baik, toleran. Justru, pihak lain yang memusuhinya. Inilah yang menjadi awal keislaman mantan pastor Inggris dan akhirnya menerima Islam.

Sepulang dari Mesir, Tawfiq masih menjadi penganut agama Katholik. Bahkan, ketika dia aktif mengajarkan pelajaran agama kepada para siswa di sebuah sekolah umum di Inggris, ia diminta mengajarkan pendidikan Studi agama.

”Saya mengajar tentang agama Kristen, Islam, Yudaisme, Buddha dan lain-lain. Jadi, setiap hari saya harus membaca tentang agama Islam untuk bisa saya ajarkan pada para siswa. Dan, di sana banyak terdapat siswa Muslim keturunan Arab. Mereka memberikan contoh pesahabatan yang baik, bersikap santun dengan teman lainnya. Dari sini, saya makin intens berhubungan dengan siswa Muslim,” ujarnya.

Dan selama bulan Ramadhan, kata dia, dia menyaksikan umat Islam, termasuk para siswanya, berpuasa serta melaksanakan shalat tarawih bersama-sama. ”Hal itu saya saksikan hampir sebulan penuh. Dan, lama kelamaan saya belajar dengan mereka, kendati waktu itu saya belum menjadi Muslim,” papar Tawfiq.

Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun.

”Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).” (Al-Maidah ayat 83).

Secara tiba-tiba, kata Tawfiq, ia pun merasakan apa yang disampaikan Alquran. Ia menangis. Namun, hal itu ia sembunyikan dari pandangan para siswanya. Ia merasa ada sesuatu di balik ayat tersebut.

Dari sini, Tawfiq makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.

”Awalnya saya sempat takut juga. Saya khawatir peristiwa serupa terulang di Inggris. Apalagi, orang barat telah mencap pelakunya adalah orang Islam. Mereka pun mengecamnya dengan sebutan teroris,” kata Tawfiq.

Namun, Tawfiq yakin, Islam tidak seperti yang dituduhkan. Apalagi, pengalamannya sewaktu di Mesir, Islam sangat baik, dan penuh dengan toleransi. Ia pun bertanya-tanya. ”Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama teroris. Bagaimana bila kejadian itu dilakukan oleh orang Kristen? Apakah kemudian Kristen akan dicap sebagai pihak teroris pula?” Karena itu, ia menilai hal tersebut hanyalah dilakukan oknum tertentu, bukan ajaran Islam.

Masuk Islam
Dari situ, ia pun mencari jawabannya. Ia berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. ”Apa yang akan kamu lakukan bila menjadi Muslim?”

Yusuf Islam menjawab. ”Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,” ujar Yusuf.

Tawfiq berkata, ”Semua itu sudah pernah saya lakukan.”
Yusuf berkata, ”Lalu apa yang Anda tunggu?”
Saya katakan, ”Saya masih seorang pemeluk Kristiani.”

Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Para jamaah bersiap-siap melaksanakan shalat. Dan, saat shalat mulai dilaksanakan, saya mundur ke belakang, dan menunggu hingga selesai shalat.

Namun, di situlah ia mendengar sebuah suara yang mempertanyakan sikapnya. ”Saya lalu berteriak, kendati dalam hati. ”Siapa yang mencoba bermain-main dengan saya.”

Namun, suara itu tak saya temukan. Namun, suara itu mengajak saya untuk berislam. Akhirnya, setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan cara mengucap dua kalimat syahadat.

Ayshadu an Laa Ilaha Illallah. Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.” Saya bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.

Jamaah pun menyambut dengan gembira. Ia kembali meneteskan air mata, bukan sedih, tapi bahagia.

Ia mantap memilih agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Dan, ia tidak menyesali telah menjadi pengikutnya. Berbagai gelar dan penghargaan yang diterimanya dari gereja, ia tanggalkan.

Seperti diketahui, Idris Tawfiq memperoleh gelar kesarjanaan dari University of Manchester dalam bidang sastra, dan gelar uskup dari University of Saint Thomas Aquinas di Roma. Dengan gelar tersebut, ia mengajarkan pandangan Katholik pada jemaatnya. Namun, akhirnya ia beralih mengajarkan Islam kepada masyarakatnya. Selama bertahun-tahun, Tawfiq mengepalai pusat Studi keagamaan di berbagai sekolah di Inggris dan Wales, sebelum dia masuk agama Islam.

”Dulu saya senang menjadi imam (pastor–Red) untuk membantu masyarakat selama beberapa tahun lalu. Namun, saya merasa ada sesuatu yang tidak nyaman dan kurang tepat. Saya beruntung, Allah SWT memberikan hidayah pada saya, sehingga saya semakin mantap dalam memilih Islam. Saya tidak menyesal meninggalkan tugas saya di gereja. Saya percaya, kejadian (Islamnya–Red) ini, lebih baik dibandingkan masa lalu saya,” terangnya. sya/osa/berbagai sumber

Berdakwah Lewat Lisan dan Tulisan

Ketika ditanyakan pada Idris Tawfiq tentang perbedaan besar antara Kristen Katholik dan Islam, ia berkata: ”Dasar dari agama Islam adalah Allah. Semua perkara disaksikan Allah, tak ada yang luput dari perhatian-Nya. Ini berbeda dengan yang saya dapatkan dari agama sebelumnya. Islam merupakan agama yang komprehensif.”

Ia menambahkan, Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah setiap saat. Tak terbatas hanya pada hari Minggu. Selain itu, kata dia, Islam mengajarkan umatnya cara menyapa orang lain dengan lembut, bersikap ramah, mengajarkan adab makan dan minum, memasuki kamar orang lain, cara bersilaturahim yang baik. ”Tak hanya itu, semua persoalan dibahas dan diajarkan oleh Islam,” terangnya.

Penceramah dan penulis
Caranya bertutur kata, sikapnya yang sopan dan santun banyak disukai masyarakat. Gaya berbicaranya yang baik sangat sederhana dan lemah lembut, menyentuh hati, serta menyebabkan orang untuk berpikir. Ia pun kini giat berceramah dan menulis buku tentang keislaman.

Ia memberikan ceramah ke berbagai tempat dengan satu tujuan, menyebarkan dakwah Islam. Idris Tawfiq mengatakan, dia bukan sarjana. Namun, ia memiliki cara menjelaskan tentang Islam dalam hal-hal yang sangat sederhana. Dia memiliki banyak pengalaman dalam berceramah dan mengenali karakter masyarakat.

Ia juga banyak memberikan bimbingan dan pelatihan menulis serta berpidato bagi siswa maupun orang dewasa. Kesempatan ini digunakannya untuk mengajarkan pada orang lain. Termasuk, menjelaskan Islam pada dunia Barat yang banyak menganut agama non-Muslim.

Idris juga dikenal sebagai penulis. Tulisannya tersebar di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, dan website di Inggris Raya. Ia juga menjadi kontributor regional dan Konsultan untuk website www.islamonline.net dan ww.readingislam.com.

Dia menulis artikel mingguan di Mesir Mail, koran tertua Mesir berbahasa Inggris, dan Sawt Al-Azhar, surat kabar Al-Azhar University. Dia adalah pengarang sejumlah buku. Antara lain, Dari surga yang penuh kenikmatan: sederhana, pengenalan Islam; Berbicara ke Pemuda Muslim; Berbicara ke Mualaf. Selain itu, ia juga menjadi juru bicara umat Islam di Barat. Ia juga banyak berceramah melalui radio dan televisi. osa/sya/

sumber :republika online

Mahasiswa Teolog jadi Mualaf gara-gara ketemu muslim pemikir

0

dan inilah kisahnya,aku Andreas Ibrahim terlahir di keluarga Protestan pada 1965 di Jakarta. Aku selalu pindah rumah dan sekolah mengikuti tempat ayahku dinas sebagai polisi. SMA-ku di Medan.Tahun 1991 pindah ke Jogja. Sekarang tinggal di Ciputat.

Pada 1997 aku kuliah teologi di Jogja. Setahun kemudian, aku sering berdebat dengan para ustadz. Satu-persatu mereka mundur karena kalah beradu argumen denganku. Aku selalu mudah mengalahkan mereka, karena mereka kurang mendalami agamanya apalagi agamaku. Sedangkan aku setiap hari dituntut untuk belajar Alquran dan Bible sebagai bekal mengkristenkan orang Islam. Dalam mempelajari keduanya, banyak kutemukan perubahan dalam Bible tetapi tidak dengan Alquran.

Di negara manapun Alquran dicetak selalu menggunakan bahasa Arab yang sama persis meskipun tahun cetaknya berbeda. Sedangkan Bible, beda tahun terbit beda pula redaksi ayatnya. Misalnya, pada cetakan tahun 1941 dan 1991 disebutkan haram makan babi (Imamat 11:7-8) sedangkan dalam cetakan 1996 dan 2007 di ayat yang sama yang haram itu makan babi hutan. Artinya, kalau yang diternak tidak haram dong!

Aneh, kapan Tuhan meralatnya? Dan banyak kontradiksi lainnya yang mengguncang imanku. Tapi aku belum melirik Islam. Karena aku masih menilai Islam dari apa yang diperbuat oleh umatnya.
Aku menemukan banyak ayat Bible yang bertentangan. Namun selama lima tahun tidak satu pun ustadz yang kutemui dapat meyakinkanku untuk masuk Islam, sampai akhirnya bertemu seorang Muslim pemikir
Mandi Kembang

Tahun 2000 aku ditugaskan ke Madura. Di sana aku bertemu Kyai Imran di Batu Ampar. Ia bicara apa pun aku tak peduli. Karena yang ada dibenakku bagaimana membuat orang lain masuk Kristen. Dia mempersilakan membaca sepuasku di perpustakaan pribadinya.

Mulailah aku tertarik pada Islam, apalagi ketika membaca sejarah Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajarannya di Mekah dan penerapan Islam di Madinah. Sampai berkembang pesat memimpin peradaban dunia.

Kucatat informasi penting dari tiap buku yang kubaca. Salah satu bukunya berjudul Islam dari A sampai Z. Buku itu sangat luar biasa bagiku. Membahas masalah ekonomi, sosial, budaya dan lainnya dari sudut pandang Islam dibandingkan dengan sistem di Inggris.

Sepulang dari sana, pada 2001, aku malah kuliah Teologi lagi di Grogol Jakarta. Tahun 2002 kuutarakan keinginanku untuk masuk Islam pada teman Muslimku. Ia mempertemukanku dengan seorang kyai di Pandeglang. Hari Kamis, kami menginap di rumahnya. Aku disuruh mandi kembang pada malam hari sebelum mengucapkan syahadat menjelang Shalat Jum’at.

Kiai itu menyalakan menyan, memotong ayam. Aku disuruh mandi kembang. Dalam hatiku berkata, selama aku belajar Islam tidak ada yang seperti ini. Yang kutahu Rasulullah SAW hanya membimbing syahadat saja. Aku merasa tidak enak untuk menanyakan mengapa ritual ini dilakukan. Maka, ketika ada kesempatan, aku langsung kabur!

Muslim Pemikir

Pada 2 Agustus 2003, aku berkenalan dengan Budiman Sitompul. Ketika kutahu dia orang Islam, kuutarakan masalahku. Ia berjanji akan mempertemukanku dengan seorang ustadz yang tanpa ritual aneh seperti itu. Tiga hari kemudian, kami dipertemukannya.

”Saya Wayuman Wongso seorang Muslim Pemikir,” ujar ustadz yang lebih senang disebut Abu Hisan itu. ”Puji Tuhan, aku dipertemukan dengan Muslim pemikir dan saya Andreas Abraham, seorang Kristen pemikir juga,” kataku. Kami pun berdiskusi. Dia menerangkan Islam mirip sekali dengan buku-buku yang kubaca di Madura itu.

Kemudian dia pun berkata, ”Tapi maaf, bila Anda melihat kondisi umat Islam saat ini, Anda jangan langsung menganggap konsep Islam salah. Sebab sejak keruntuhan kepemimpinan Islam di Turki umat Islam menjadi tercerai berai seperti ini”. Ia pun menjelaskan panjang lebar tentang akidah Islam dan kontinyuitas kepemimpinan sejak Rasul hijrah ke Madinah sampai runtuhnya Khilafah di Turki.

Aku langsung teringat perkataan dosen lintas agama Edwyin Luiskul ketika mengisi kuliah di Grogol. Ia bilang, jangan takut kepada orang Islam meskipun mereka mayoritas dalam jumlah tetapi minoritas dalam peranan. Karena mereka tidak memiliki ikatan kemimpinan. Islam akan kembali menjadi raksasa yang kuat bila satu ikatan kepemimpinan.

Aku dan Abu Hisan pun berdiskusi setiap hari. Namun pada hari Kamisnya aku diundang gereja untuk memberikan siraman rohani di salah satu hotel di Jakarta. Tentu saja dalam hatiku terjadi konflik batin. Tidak mungkin aku menolaknya karena itu salah satu tugasku sebagai pendeta.

Untuk itu aku digaji setiap bulan. Ditambah perlengkapan dan keperluan rumah tangga, pendidikan anak-anakku, semua biaya berobat aku dan anak istriku ditanggung gereja. Bila aku sampaikan tekadku untuk masuk Islam, jelas aku akan kehilangan itu semua.

Pulang dari hotel, aku sangat gelisah. Maka aku langsung menemui Muslim pemikir itu. Kuceritakan semua. Dia malah curhat padaku, tetapi justru itulah yang membuatku bertekad bulat untuk memeluk dan mendalami Islam. Dia berkata bahwa dia itu tadinya seorang pengacara, mendapatkan uang banyak, tapi hidupnya menderita. Karena dia, mau tidak mau, harus membela klainnya yang bersalah.

Ia pun meninggalkan pekerjaannya setelah bertobat berbalik pada kebenaran konsep Islam yang ia dapatkan dari aktivis Islam yang mengontaknya. “Alhamdulillah saya sekarang bisa bersyukur apa adanya, senang dakwah mengajak umat Islam menerapkan syariat Islam,” ujarnya.

Aku semakin yakin orang inilah yang kucari, aku teringat ucapan dosen lintas budaya Rambadeta di Grogol. Ia mengatakan Islam itu syariat, syariat itu Islam. Jadi jangan sampai umat Islam menerapkan syariat. Karena hal itu akan menjadikan umat Islam kembali menjadi raksasa dan kita semut!

Sejak itu aku bertekad bulat untuk memilih Islam apapun risikonya dan turut berjuang agar umat Islam kembali menjadi raksasa. Maka esoknya, sebelum shalat Jum’at, dengan disaksikan tokoh masyarakat Serua Ciputat, aku dibimbing Muslim pemikir itu untuk bersyahadat. Alhamdulillah.[joko prasetyo/mediaumat]

Fenomena para remaja putri Yahudi yang pindah memeluk agama Islam,Mencemaskan para Rabi

0

rabbi-yahudiSitus Al-Hayat Jumat, (21/8) menulis, para rabi Yahudi semakin mengkhawatirkan fenomena para remaja putri Yahudi yang pindah memeluk agama Islam. Sebagaimana dilansir IRNA, Al-Hayat menambahkan, seorang rabi Yahudi berusaha menyembunyikan kecemasannya dan mengklaim, para remaja putri Yahudi yang telah memeluk agama lain tetap menjadi orang Yahudi.

Berdasarkan data yang diberikan, antara tahun 2005 hingga 2007, Departemen Kehakiman Zionis Israel mencatat ada 249 kasus permintaan mengubah agama dan 83 kasus terkait dengan Islam.

Namun tahun lalu jumlah permintaan untuk mengganti agamanya dengan Islam bertambah menjadi 112 kasus, yang menunjukkan kenaikan 35 persen. Kecenderungan untuk memeluk Islam tersebut terdapat di kalangan remaja putri Yahudi.

Berdasarkan laporan ini, munculnya fenomena tersebut karena semakin bertambahnya kasus pembunuhan, aksi kekerasan, dan perampokan di kalangan orang-orang Zionis. Hal ini membuat mereka berpaling dari agama Yahudi. [irb]

sumber : hidayatullah.com

Abdullah Abdul Malik : Melihat Secercah Cahaya Memancar dari Al-Quran

0

Sejak menjadi seorang Muslim lima tahun yang lalu, pria asal Philadelphia, AS ini mengubah namanya menjadi Abdullah Abdul Malik. Malik yang kini berusia 28 tahun, melewati perjalanan hidup yang pahit sebagai remaja AS sebelum mengenal Islam. Ia terlibat perdagangan narkotika dan pernah mendekam di penjara.

Malik tidak pernah menyangka akan melewati kehidupan yang suram itu. Ketika masih kanak-kanak, ia mengalami masa-masa yang menyenangkan seperti layaknya anak-anak Amerika pada umumnya, bermain bola, mendengarkan musik rap dan menikmati film-film action.

“Saya berpikir, apa yang saya lakukan sungguh keren, dan begitulah hidup harus dijalani, menghadapi bahaya dan tantangan. Oleh sebab itu saya mencontoh para penyanyi rap itu dan film-film action yang saya lihat. Saya mulai memiliki pola pikir bahwa hidup harus melakukan pemberontakan terhadap masyarakat,” ujar Malik mengenang masa kecilnya.

Musik rap dan tv ternyata sedemikian buruknya mempengaruhi perkembangan kejiwaan Malik. Dan itu terbawa hingga ia beranjak remaja. Sejak duduk di bangku sekolah menengah hingga usia 23 tahun, ia sudah berjualan mariyuana. Kehidupannya pun kacau, dikhianati teman, menjadi paranoid, tidak tahu siapa orang yang bisa ia percaya.

“Jiwa saya terasa kosong. Saya depresi dan terisolasi. Satu-satunya cara untuk melepaskan tekanan hidup itu adalah mencipatkan musik saya sendiri,” ungkap Malik.

Malik betul-betul seorang diri ketika keluarganya tersandung masalah keuangan dan memutuskan pindah ke Florida. Malik tetap memilih tinggal di Philadelphia, Pennsylvania. “Tempat ini rumah saya dan saya belum siap meninggalkannya,” kata Malik.

Sejak ditinggal keluarganya, Malik pindah ke sebuah apartemen dan berjuang menghidupi dirinya sendiri. Ia mengaku merasa sendiri dan sulit menjalani kehidupannya. Sampai suatu ketika, seorang polisi yang menyamar menangkap Malik yang sedang berjualan mariyuana. Malik harus menjalani pemeriksaan dan pada saat itulah ia merasakan tekanan batin yang menyiksa dan rasa takut akan masuk penjara.


Saya baru tahu bahwa Muslim meyakini Yesus, tapi sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan.

Di tengah rasa takut yang menyiksanya, Malik memutuskan untuk berhenti berjualan narkotika. Ia berusaha mencari pekerjaan lain yang halal. Beruntung, Malik mendapatkan pekerjaan dan di tempat kerjanya ia bertemu seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun yang mengenalkannya pada Islam.

Hal pertama yang ditanyakan Malik ketika itu adalah, apakah Muslim percaya pada Yesus. Dari lelaki itu Malik tahu bahwa Muslim meyakini Yesus, tapi sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan. Lelaki itu juga menjelaskan bahwa umat Islam meyakini semua nabi mulai dari Adam sampai Muhammad dan bahwa Allah itu Esa.

Malik bisa menerima penjelasan lelaki itu dan menganggap bahwa keyakinan itu sebagai hal yang logis. Ia merasa menemukan saat yang tepat untuk mengubah hidupnya yang selama ini tak tentu arah. Malik mengaku percaya adanya Tuhan, tapi ia bingung dengan banyak hal dalam ajaran Kristen yang diketahuinya sehingga ia tidak pernah bisa menerima agama Kristen sebagai sebuah kebenaran.

Suatu malam saat mengantarkan lelaki rekan kerjanya itu pulang kerja, Malik diberi kitab suci Al-Quran. Ia berterimakasih dan membaca Al-Quran pemberian itu malam itu juga. “Kitab itu seperti bicara pada saya dan saya mendapatkan banyak kejelasan sehingga saya yakin bahwa inilah kebenaran dan hanya Tuhan yang bisa menyatukannya dalam buku semacam ini,” ungkap Malik.

“Al-Quran itu masuk akal buat saya dan membuat saya merasa damai saat membacanya, kedamaian yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan,” sambungnya.

Ketika itu, Malik masih dalam pengawasan polisi. Namun Malik berpikir, polisi sedang menunggunya untuk melakukan kesalahan yang lebih besar untuk menangkapnya dan jika ia tidak melakukan kesalahan, ia akan bebas. Tapi pikiran itu meleset, setelah melewati investigasi, aparat kepolisian menangkap Malik dengan tuduhan menjual mariyuana.

Malik kehilangan pekerjaannya karena ia ditahan polisi. Keluarganya di Florida membayar jaminan dan sempat syok mendengar kasus puteranya..

Cahaya dari Al-Quran

Selama menjalani masa bebas bersyarat, Malik terus membaca terjemahan Al-Quran dan memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Lalu keajaiban itupun ia alami. Suatu malam ketika ia sedang membaca Al-Quran dalam cahaya reman-remang, ia melihat secercah sinar seperti memancar dari Al-Quran.

“Saya yakin itu adalah tanda dari Tuhan tentang kebenaran kitab ini dan hidup saya akan berubah selamanya. Cahaya itu muncul selama hampir 45 menit. Saya bermaksud memberitahukan teman sekamar saya yang sedang tidur, tapi saya berpikir bahwa tanda itu dikirim Tuhan untuk saya dan saya tidak mau menodainya,” tutur Malik.

Di penjara, Malik bertemu dengan beberapa Muslim dan mempelajari karakter mereka. “Menurut saya, Muslim memiliki karakter yang baik, teguh memegang kebenaran, rendah hati, penuh perhatian dan tahu bagaimana membawa diri mereka sebagai orang yang bertakwa pada Tuhannya. Di penjara saya belajar puasa, salat dan ikut salat Jumat,” ujar Malik.

Penjara ternyata membantu Malik untuk memperbaiki kehidupannya. Di sanalah ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Untuk pertama kalinya Malik merasa memiliki tujuan hidup . Di penjara ia jadi merenungi banyak hal, tentang keluarga, tentang teman dan tentang agamanya.

Setelah setahun menjalani masa tahanan, Malik bebas dan pindah ke Florida. Ia mengambil sekolah perawat dan bercita-cita ingin keliling dunia, berbagi pada orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dan menyebarkan kebenaran Islam.

“Saya pernah menjalani kehidupan yang ‘gila’ dan sekarang saya merasa mendapatkan rahmat yang besar, rahmat Islam, jalan kebenaran. Saya pernah terdampar di jalanan, di penjara dan sekarang ke Islam. Ketika Anda menemukan agama ini, tidak ada alasan untuk kembali ke masa lalu,” tukas Malik. (ln/readislam/eramuslim)

sumber :swaramuslim.net