Akhir Perjalanan Mencari Tuhan Jennifer A. Bell

0
Kebingungan Jennifer A. Bell tentang ajaran Kristen membuatnya selalu bertanya-tanya tentang siapa Tuhan sebenarnya. Akalnya tidak pernah bisa menerima konsep trinitas. Bell juga mempertanyakan sosok Yesus dalam keyakinan Kristen, apakah Yesus itu Tuhan atau bagian dari Tuhan.

Pertanyaan-pertanyaan itu sudah mengusiknya sejak ia berusia 8 tahun, dan di usia yang masih sangat muda itu Bell mulai "mencari Tuhan". Ia berpindah-pindah dari satu gereja ke gereja lainnya untuk mendapatkan jawaban atas "pencarian"nya itu. Tapi ia tidak pernah menemukannya. Ia hanya bisa merasakan dan meyakini bahwa Tuhan itu ada.

Hingga beranjak remaja. Bell masih belum menemukan jawabannya, sementara gaya hidup Amerika telah menjerumuskannya ke dalam kehidupan yang buruk. Beberapa kali Bell hampir mati karena gaya hidupnya yang tidak sehat secara fisik, emosi dan spiritual. Alkohol, narkoba, sex bebas adalah kehidupan sehari-hari Bell remaja. Hidupnya ketika itu benar-benar bermasalah. Bell melupakan pencariannya terhadap Tuhan.

Beruntung, Bell bisa sampai ke bangku kuliah. Ia bertemu dengan seorang laki-laki yang baik, yang kemudian hari menjadi suaminya. Lelaki itulah yang menolong Bell keluar dari kehidupannya yang kelam dan Bell berhasil kembali menjadi orang yang "bersih". Pada saat inilah Bell kembali merasakan dorongan untuk melanjutkan pencariannya terhadap Tuhan.

Bell kembali mendatangi beragam gereka dengan beragam aliran Kristen. Tapi pencariannya masih buntu. Ia lalu pergi ke perpustakaan dan mulai membaca dan mempelajari buku-buku tentang agama Hindu, Budha, Yudaisme, Shinto dan agama-agama lainnya. Tapi ia merasa tidak cocok dengan semua agama yang dipelajarinya itu. Sayangnya, ketika itu Bell sama sekali belum mendengar tentang agama Islam.

Bell kemudian menikah dengan lelaki yang dikenalnya di bangku kuliah dan memiliki karir yang lumayan bagus. Tapi ia sempat kesulitan untuk punya anak. Dokternya mengatakan bahwa Bell tidak bisa hamil karena kehidupan masa lalunya yang akrab dengan narkoba dan alkohol. Tapi betapa terkejutnya Bell, ketika ia akhirnya dinyatakan hamil dan melahirkan seorang anak lelaki yang sehat. Namun, kehidupan Bell kembali terguncang karena ia mengalami "baby blues", trauma paska melahirkan yang membuat emosinya labil. Hal itu berpengaruh pada perkawinan Bell.

Untuk melepaskan diri dari kegalauan hatinya, Bell mengalihkannya ke ruang-ruang chatting di internet. Ia chatting beberapa kali dengan seorang lelaki dari luar Amerika yang kemudian ia ketahui beragama Islam. Dari teman chattingnya itu, Bell mulai mengenal agama Islam dan banyak berdiskusi tentang trinitas dan Yesus. Lelaki itu mengirimkan email berisi ayat-ayat Al-Quran yang mendukung argumennya tentang Islam, trinitas dan Yesus. Sesaat Bell merasa argumen-argumen itu benar dan ia tidak membantahnya, tapi Bell belum yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar.

Kehidupan Bell makin memburuk. Perkawinannya terancam hancur, persoalan berat di kantor membuat emosi Bell makin labil. "Saya mengalami depresi. Karena pernah mengalami depresi sebelumnya, saya segera mencari pertolongan ke dokter dan mulai menenggak pil-pil untuk meredam depresi," tutur Bell.

Namun pil-pil itu tidak mampu mengurangi depresi yang dialami Bell. Bell malah makin terpuruk. Tubuhnya jadi lemah dan ia tidak bisa menggerakkan lehernya. Bell bahkan tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun, hingga Bell dinyatakan tidak bisa lagi bekerja. Kehidupan Bell jadi benar-benar kacau.

Bell akhirnya bertemu lagi dengan teman chattingnya di internet dan menceritakan apa yang dialaminya. Temannya itu lalu menyarankan Bell agar mandi dan membersihkan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah Bell diminta untuk duduk tenang, menjernihkan pikiran dan hanya mengkonsentrasikan pikiran pada Tuhan.

"Saran yang menurut saya aneh dan ganjil. Tapi saya pikir, apa salahnya mencoba, tokh tidak ada orang yang melihat," kata Bell tentang saran temannya.

Bell pun mengikuti saran itu, ia mengkonsentrasikan pikirannya pada Tuhan dan tiba-tiba ia menggigil. Di saat yang sama, ada rasa damai yang dirasakan Bell. "Saya merasa Tuhan telah merasuk ke dalam hati saya dan saya menerima apa yang ditawarkanNya," ungkap Bell.

Pengalaman itu membuat Bell percaya pada perkataan sahabatnya di internet tentang Islam. Seminggu kemudian, Bell mengontak seorang imam masjid dan dalam pertemuan pertama itu, ia menyatakan diri masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Saya merasakan ketenangan masuk Islam. Setiap kali perasaan gundah itu datang lagi, saya menunaikan salat dan saya merasakan kedamaian dan ketenangan itu kembali," imbuh Bell. (ln/readislam)


sumber :eramuslim.com

Jerarld F Dirks mantan pendeta, Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam

0


watch From Jesus to Muhammad: A History of Early Christianity

Jerald F Dirks , sebelumnya ialah seorang pendeta yang dinobatkan sebagai Ketua Dewan Gereja Metodis Kini peraih gelar Bachelor of Arts (BA) dan Master of Divinity (M Div) dari Universitas Harvard, serta pemegang gelar Master of Arts (MA) dan Doctor of Psychology (Psy D) dari Universtas Denver, Amerika Serikat, menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

Dibesarkan di tengah lingkungan masyarakat penganut kepercayaan Kristen Metodis, membuat Jerald kecil terbiasa dengan suara dentingan lonceng yang kerap mengalun dari sebuah bangunan tua Gereja Kristen Metodis yang berjarak hanya dua blok dari rumahnya. Bunyi lonceng yang bergema setiap Minggu pagi ini menjadi tanda bagi seluruh anggota keluarganya agar segera menghadiri kebaktian yang diadakan di gereja.

Tidak hanya dalam urusan kebaktian saja, tetapi juga dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Gereja Kristen Metodis, seluruh anggota keluarga ini turut terlibat secara aktif. Karenanya tak mengherankan jika sejak usia kanak-kanak Jerald sudah diikutsertakan dalam kegiatan yang diadakan oleh pihak gereja. Salah satunya adalah mengikuti sekolah khusus selama dua pekan yang diadakan oleh pihak gereja setiap bulan Juni. Selama mengikuti sekolah khusus ini, para peserta mendapat pengajaran mengenai Bibel.

''Secara rutin saya mengikuti sekolah khusus ini hingga memasuki tahun kedelapan, selain kebaktian Minggu pagi dan sekolah Minggu yang diadakan setiap akhir pekan,'' ungkap muallaf kelahiran Kansas tahun 1950 ini. Diantara para peserta sekolah khusus ini, Jerald termasuk yang paling menonjol. Tidak pernah sekalipun ia absen dari kelas. Dan dalam hal menghafal ayat-ayat dalam Bibel, ia kerap mendapatkan penghargaan.

Keikutsertaan Jerald dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas Gereja Metodis terus berlanjut hingga ia memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Diantaranya ia terlibat secara aktif dalam organisasi kepemudaan Kristen Metodis. Dia juga kerap mengisi khotbah dalam acara kebaktian Minggu yang khusus diadakan bagi kalangan anak muda seusianya.

Dalam perjalanannya, khotbah yang ia sampaikan ternyata menarik minat komunitas Kristen Metodis di tempat lain. Ia pun kemudian diminta untuk memberikan khotbah di gereja lain, panti jompo, dan dihadapan organisasi-organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Gereja Metodis. Sejak saat itu Jerald bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta kelak.

Ketika diterima di Universitas Harvard, Jerald tidak mensia-siakan kesempatan demi mewujudkan cita-citanya itu. Ia mendaftar pada kelas perbandingan agama yang diajar oleh Wilfred Cantwell Smith untuk dua semester. Di kelas perbandingan agama ini Jerald mengambil bidang keahlian khusus agama Islam.

Namun, selama mengikuti kelas ini Jerald justru lebih tertarik untuk mempelajari agama Budha dan Hindu. Dibandingkan dengan Islam, menurut dia, kedua ajaran agama ini tidak ada kemiripan sama sekali dengan keyakinan yang ia anut selama ini.

Akan tetapi untuk memenuhi tuntutan standar kelulusan akademik, Jerald diharuskan untuk membuat makalah mengenai konsep wahyu dalam Alquran. Ia mulai membaca berbagai literatur buku mengenai Islam, yang sebagian besar justru ditulis oleh para penulis non-muslim. Ia juga membaca dua Alquran terjemahan bahasa Inggris dalam versi yang berbeda.

Diluar dugaannya buku-buku tersebutlah yang di kemudian hari justru membimbingnya ke kondisi seperti saat ini. Makalah tersebut membuat pihak Harvard memberikan penghargaan Hollis Scholar kepada Jerald. Sebuah penghargaan tertinggi bagi para mahasiswa jurusan Teologi Universitas Harvard yang dinilai berprestasi.

Untuk mewujudkan cita-citanya, bahkan Jerald rela mengisi liburan musim panasnya dengan bekerja sebagai seorang pendeta cilik di sebuah Gereja Metodis terbesar di negeri Paman Sam tersebut. Pada musim panas itu pula ia mendapatkan sertifikat untuk menjadi seorang pengkhotbah dari pihak Gereja Metodis Amerika.

Setelah lulus dari Harvard College di tahun 1971, Jerald langsung mendaftar di Harvard Divinity School atau sejenis sekolah tinggi teologi atas beasiswa dari Gereja Metodis Amerika. Selama menempuh pendidikan di bidang teologi, Jerald juga mengikuti program magang sebagai di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston.

Ia lulus dari sekolah tinggi ini tahun 1974 dan mendapatkan gelar Master di bidang teologi. Selepas meraih gelar master teologi, ia sempat menghabiskan liburan musim panasnya dengan menjadi pendeta pada dua Gereja Metodis Amerika yang berada di pinggiran Kansas.

Aktivitasnya sebagai seorang pendeta tidak hanya terbatas di lingkungan gereja saja. Ia mulai merambah ke cakupan yang lebih luas, mulai dari lingkungan sekolah, perkantoran, hingga pesan-pesan ajaran Kristen Metodis ia juga gencar sampaikan kepada para pasien yang datang ke tempat praktiknya sebagai seorang dokter ahli kejiwaan.

Meninggalkan aktivitas gereja

Namun, berbagai upaya dakwah ini dinilainya tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sekitar ia tinggal. Ia justru menyaksikan terjadinya penurunan moralitas di tengah-tengah kehidupann beragama masyarakat Amerika. Bahkan kondisi serupa juga terjadi di lingkungan gereja.

''Dua dari tiga pasangan di Amerika selalu berakhir dengan perceraian, aksi kekerasan meningkat di lingkungan sekolah dan di jalanan, tidak ada lagi rasa tanggung jawab dan disiplin di kalangan anak muda. Bahkan yang lebih mencengangkan diantara para pemuka Kristen ada yang terlibat dalam skandal seks dan keuangan. Masyarakat Amerika seakan-akan sedang menuju kepada kehancuran moral,'' paparnya.

Melihat kenyataan seperti ini, Jerald mengambil keputusan untuk menyendiri dan tidak lagi menjalani aktivitasnya memberikan pelayanan dan khotbah kepada para jemaat. Sebagai gantinya ia memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan penelitian yang dilakukan oleh sang istri. Penelitian mengenai sejarah kuda Arab ini membuat ia dan istrinya melakukan banyak kontak dengan warga Amerika keturunan Muslim Arab . Salah satunya adalah dengan Jamal.

Babak pergaulan dengan Arab Muslim

Pertemuan Jerald dengan pria Arab-Amerika ini pertama kali terjadi pada musim panas tahun 1991. Dari awalnya sekedar berhubungan melalui sambungan telepon, kemudian berlanjut pada saat Jamal berkunjung ke rumah Jerald. Pada kunjungan kali pertama ini, Jamal menawarkan jasa untuk menterjemahkan berbagai literatur dari bahasa Arab ke Inggris yang disambut baik oleh Jerald dan istrinya.

Ketika waktu shalat ashar tiba, sang tamu kemudian meminta izin agar diperbolehkan menggunakan kamar mandi dan meminjam selembar koran untuk digunakan sebagai alas shalat. Apa yang diminta oleh tamunya itu diambilkan oleh Jerald, kendati dalam hati kecilnya ia berharap bisa meminjamkan sesuatu yang lebih baik dari sekedar lembaran surat kabar sebagai alas shalat. Untuk kali pertama ia melihat gerakan shalat dalam agama Islam.

Aktivitas shalat ashar itu terus ia lihat manakala Jamal dan istrinya berkunjung ke rumah mereka seminggu sekali. Dan, hal itu membuat Jerald terkesima. ''Selama berada di rumah kami, tidak pernah sekalipun ia memberikan komentar mengenai agama yang kami anut. Begitu juga ia tidak pernah menyampaikan ajaran agama yang diyakininya kepada kami. Yang dia lakukan hanya memberikan contoh nyata yang amat sederhana, seperti berbicara dengan suara serendah mungkin jika ada diantara kami yang bertanya mengenai agamanya. Ini yang membuat kami kagum,'' ungkapnya.

Dari perkenalannya dengan Jamal dan keluarganya, justru Jerald mendapat banyak pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sang tamu telah menunjukkan kepadanya sebuah pelajaran disiplin melalui shalat yang dilaksanakannya. Selain pelajaran moral dan etika yang diperlihatkan Jamal dalam urusan bisnis dan sosialnya serta cara Jamal berkomunikasi dengan kedua anaknya. ''Begitu juga yang dilakukan oleh istrinya menjadi contoh bagi istriku.''

Tidak hanya itu, dari kunjungan tersebut Jerald juga mendapatkan pengetahuan seputar dunia Arab dan Islam. Dari Jamal, ia bisa mengetahui tentang sejarah Arab dan peradaban Islam, sosok Nabi Muhammad, serta ayat-ayat Alquran berikut makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya Jerald meminta waktu kurang lebih 30 menit kepada tamunya untuk berbicara mengenai segala aspek seputar Islam. Dari situ, diakui Jerald, dirinya mulai mengenal apa dan bagaimana itu Islam.

Kemudian oleh Jamal, Jerald sekeluarga diperkenalkan kepada keluarga Arab lainnya di masyarakat Muslim setempat. Diantaranya keluarga Wa el dan keluarga Khalid. Dan secara kontinyu, ia melakukan interaksi sehari-hari dengan komunitas keluarga Arab Amerika ini. Dari interaksi tersebut, Jerald mendapatkan sesuatu ajaran dalam Islam yang selama ini tidak ia temui manakalan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Kristen, yakni rasa persaudaraan dan toleransi.

Baru di awal Desember 1992, sebuah pertanyaan mengganjal timbul dalam pikirannya, ''Dirinya adalah seorang pemeluk Kristen Metodis, tapi kenapa dalam keseharian justru bergaul dan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Muslim Arab?.'' Sebuah komunitas masyarakat yang menurutnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, serta mengedepankan sikap saling menghargai baik terhadap pasangan masing-masing, anggota keluarga maupun sesama. Sebuah kondisi yang pada masa sekarang hampir tidak ia temukan dalam masyarakat Amerika.

Serangkaian Kejadian Tak Terduga

Untuk menjawab keraguannya itu, Jerald memutuskan untuk mempelajari lebih dalam ajaran Islam melalui kitab suci Alquran. Dalam perjalanannya mempelajari Aquran, sang pendeta ini justru menemukan nilai-nilai yang sesuai dengan hati kecilnya yang selama ini tidak ia temukan dalam doktrin ajaran Kristen yang dianutnya.

Kendati demikian, hal tersebut tidak lantas membuatnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia merasa belum siap untuk melepaskan identitas yang dikenakan selama hampir 43 tahun lamanya dan berganti identitas baru sebagai seorang muslim.

Begitu pun ketika ia bersama sang istri memutuskan untuk mengunjungi kawasan Timur Tengah di awal tahun 1993. Ketika itu, ia seorang diri makan di sebuah restoran yang hanya menyajikan makanan Arab setempat. Sang pemilik restoran, Mahmoud, kala itu memergoki dirinya tengah membaca sebuah Alquran terjemahan bahasa Inggris. Tanpa berkata sepatah kata pun, Mahmoud melontarkan senyum ke arah Jerald.

Kejadian tak terduga lagi-lagi menghampirinya. Istri Mahmoud, Iman, yang merupakan seorang Muslim Amerika, mendatangi mejanya sambil membawakan menu yang ia pesan. Kepadanya Iman berkomentar bahwa buku yang ia baca adalah sebuah Alquran. Tidak hanya itu, Iman juga bertanya apakah Jerald seorang muslim sama seperti dirinya. Pertanyaan tersebut lantas ia jawab dengan satu kata: Tidak.

Namun ketika Imam menghampiri mejanya untuk menyerahkan bukti tagihan, tanpa disadari Jerald melontarkan kalimat permintaan maaf atas sikapnya, seraya berkata: ''Saya takut untuk menjawab pertanyaan Anda tadi. Namun jika Anda bertanya kepada saya apakah saya percaya bahwa Tuhan itu hanya satu, maka jawaban saya adalah ya. Jika Anda bertanya apakah saya percaya bahwa Muhammad adalah salah satu utusan Tuhan, maka jawaban saya akan sama, iya.'' Mendengar jawaban tersebut, Iman hanya berkata: ''Tidak masalah, mungkin bagi sebagian orang butuh waktu lama dibandingkan yang lain.''

Ikut berpuasa dan shalat

Ketika memasuki minggu kelima masa liburannya di Timur Tengah atau bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Maret tahun 1993, untuk kali pertama Jerald dan istrinya menikmati suasana lain dari ibadah orang Muslim. Demi menghormati masyarakat sekitar, ia dan istri ikut serta berpuasa. Bahkan pada saat itu, Jerald juga mulai ikut-ikutan melaksanakan shalat lima waktu bersama-sama para temannya yang Muslim dan kenalan barunya yang berasal dari Timur Tengah.

Bersamaan dengan akan berakhirnya masa liburannya menjelajah kawasan Timur Tengah, hidayah tersebut akhirnya datang. Peristiwa penting dalam hidup Jerald ini terjadi manakala ia diajak seorang teman untuk mengunjungi Amman, ibukota Yordania.

Pada saat ia melintas di sebuah jalan di pusat ibukota, tiba-tiba seseorag lelaki tua datang menghampirinya seraya mengucapkan, Salam Alaikum dan mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, serta melontarkan pertanyaan apakah iaseorang Muslim?. Sapaan salam dalam ajaran Islam itu membuatnya kaget. Di sisi lain, karena kendala bahasa, ia bingung harus menjelaskan dengan cara apa ke orang tua tersebut bahwa ia bukan seorang Muslim. Terlebih lagi teman yang bersamanya juga tidak mengerti bahasa Arab.

Mengikrarkan Keislaman

Saat itu Jerald merasa dirinya tengah terjebak dalam situasi yang sulit diungkapkan. Pilihan yang ada dihadapannya saat itu hanya dua, yakni berkata N'am yang artinya iya atau berkata La yang berarti tidak. Hanya ia yang bisa menentukan pilihan tersebut, sekarang atau tidak sama sekali.

Setelah berpikir agak lama dan memohon petunjuk dari Allah, Jerald pun menjawabnya dengan perkataan N'am. Sejak peristiwa tersebut, ia resmi menyatakan diri masuk Islam. Beruntung hidayah tersebut juga datang lepada istrinya di saat bersamaan. Sang istri yang kala itu berusia 33 tahun juga menyatakan diri sebagai seorang Muslimah.

Bahkan tidak lama berselang setelah kepulangannya ke Amerika, salah seorang tetangganya yang juga merupakan seorang pendeta mendatangi kediamannya dan menyatakan ketertarikannya tehadap ajaran Islam. Dihadapannya, tetangganya yang telah berhenti menjadi pendeta Metodis ini pun berikrar masuk Islam.

Kini hari-hari Jerald dihabiskan untuk kegiatan menulis dan memberikan ceramah tentang Islam dan hubungan antara Islam dan Kristen. Bahkan ia juga kerap diundang sebagai bintang tamu dalam program Islam di televisi di banyak negara.

Salah satu hasil karyanya yang menjadi best seller adalah "The Cross and the Crescent: An Interfaith Dialogue between Christianity and Islam". Selain itu ia juga menulis lebih dari 60 artikel tentang ilmu perilaku, dan lebih dari 150 artikel tentang kuda Arab dan sejarahnya. (dia/RIOL/berbagai sumber)



From Jesus to Muhammad: A History of Early Christianity

Is Jesus God?
Did Jesus ever claim to be God?
What kind of nature did Jesus have?
Was Jesus Christ really crucified ?
Who is God and Jesus in the Bible?

Dr. Dirks is a former minister (deacon) of the United Methodist Church and revert to Islam.

He holds a Master's degree in Divinity from Harvard University and a Doctorate in Psychology from the University of Denver.

Author of "The Cross and the Crescent: An Interfaith Dialogue between Christianity and Islam" (2001), and "Abraham: The Friend of God" (2002).

He has published over 60 articles in the field of clinical psychology, and over 150 articles on Arabian horses.

The Topic: From Jesus to Muhammad: A History of Early Christianity

A talk by Dr Jerald Dirks

sumber :swaramuslim.net

Jerarld F Dirks mantan pendeta, Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam

0


watch From Jesus to Muhammad: A History of Early Christianity

Jerald F Dirks , sebelumnya ialah seorang pendeta yang dinobatkan sebagai Ketua Dewan Gereja Metodis Kini peraih gelar Bachelor of Arts (BA) dan Master of Divinity (M Div) dari Universitas Harvard, serta pemegang gelar Master of Arts (MA) dan Doctor of Psychology (Psy D) dari Universtas Denver, Amerika Serikat, menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

Dibesarkan di tengah lingkungan masyarakat penganut kepercayaan Kristen Metodis, membuat Jerald kecil terbiasa dengan suara dentingan lonceng yang kerap mengalun dari sebuah bangunan tua Gereja Kristen Metodis yang berjarak hanya dua blok dari rumahnya. Bunyi lonceng yang bergema setiap Minggu pagi ini menjadi tanda bagi seluruh anggota keluarganya agar segera menghadiri kebaktian yang diadakan di gereja.

Tidak hanya dalam urusan kebaktian saja, tetapi juga dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Gereja Kristen Metodis, seluruh anggota keluarga ini turut terlibat secara aktif. Karenanya tak mengherankan jika sejak usia kanak-kanak Jerald sudah diikutsertakan dalam kegiatan yang diadakan oleh pihak gereja. Salah satunya adalah mengikuti sekolah khusus selama dua pekan yang diadakan oleh pihak gereja setiap bulan Juni. Selama mengikuti sekolah khusus ini, para peserta mendapat pengajaran mengenai Bibel.

''Secara rutin saya mengikuti sekolah khusus ini hingga memasuki tahun kedelapan, selain kebaktian Minggu pagi dan sekolah Minggu yang diadakan setiap akhir pekan,'' ungkap muallaf kelahiran Kansas tahun 1950 ini. Diantara para peserta sekolah khusus ini, Jerald termasuk yang paling menonjol. Tidak pernah sekalipun ia absen dari kelas. Dan dalam hal menghafal ayat-ayat dalam Bibel, ia kerap mendapatkan penghargaan.

Keikutsertaan Jerald dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas Gereja Metodis terus berlanjut hingga ia memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Diantaranya ia terlibat secara aktif dalam organisasi kepemudaan Kristen Metodis. Dia juga kerap mengisi khotbah dalam acara kebaktian Minggu yang khusus diadakan bagi kalangan anak muda seusianya.

Dalam perjalanannya, khotbah yang ia sampaikan ternyata menarik minat komunitas Kristen Metodis di tempat lain. Ia pun kemudian diminta untuk memberikan khotbah di gereja lain, panti jompo, dan dihadapan organisasi-organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Gereja Metodis. Sejak saat itu Jerald bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta kelak.

Ketika diterima di Universitas Harvard, Jerald tidak mensia-siakan kesempatan demi mewujudkan cita-citanya itu. Ia mendaftar pada kelas perbandingan agama yang diajar oleh Wilfred Cantwell Smith untuk dua semester. Di kelas perbandingan agama ini Jerald mengambil bidang keahlian khusus agama Islam.

Namun, selama mengikuti kelas ini Jerald justru lebih tertarik untuk mempelajari agama Budha dan Hindu. Dibandingkan dengan Islam, menurut dia, kedua ajaran agama ini tidak ada kemiripan sama sekali dengan keyakinan yang ia anut selama ini.

Akan tetapi untuk memenuhi tuntutan standar kelulusan akademik, Jerald diharuskan untuk membuat makalah mengenai konsep wahyu dalam Alquran. Ia mulai membaca berbagai literatur buku mengenai Islam, yang sebagian besar justru ditulis oleh para penulis non-muslim. Ia juga membaca dua Alquran terjemahan bahasa Inggris dalam versi yang berbeda.

Diluar dugaannya buku-buku tersebutlah yang di kemudian hari justru membimbingnya ke kondisi seperti saat ini. Makalah tersebut membuat pihak Harvard memberikan penghargaan Hollis Scholar kepada Jerald. Sebuah penghargaan tertinggi bagi para mahasiswa jurusan Teologi Universitas Harvard yang dinilai berprestasi.

Untuk mewujudkan cita-citanya, bahkan Jerald rela mengisi liburan musim panasnya dengan bekerja sebagai seorang pendeta cilik di sebuah Gereja Metodis terbesar di negeri Paman Sam tersebut. Pada musim panas itu pula ia mendapatkan sertifikat untuk menjadi seorang pengkhotbah dari pihak Gereja Metodis Amerika.

Setelah lulus dari Harvard College di tahun 1971, Jerald langsung mendaftar di Harvard Divinity School atau sejenis sekolah tinggi teologi atas beasiswa dari Gereja Metodis Amerika. Selama menempuh pendidikan di bidang teologi, Jerald juga mengikuti program magang sebagai di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston.

Ia lulus dari sekolah tinggi ini tahun 1974 dan mendapatkan gelar Master di bidang teologi. Selepas meraih gelar master teologi, ia sempat menghabiskan liburan musim panasnya dengan menjadi pendeta pada dua Gereja Metodis Amerika yang berada di pinggiran Kansas.

Aktivitasnya sebagai seorang pendeta tidak hanya terbatas di lingkungan gereja saja. Ia mulai merambah ke cakupan yang lebih luas, mulai dari lingkungan sekolah, perkantoran, hingga pesan-pesan ajaran Kristen Metodis ia juga gencar sampaikan kepada para pasien yang datang ke tempat praktiknya sebagai seorang dokter ahli kejiwaan.

Meninggalkan aktivitas gereja

Namun, berbagai upaya dakwah ini dinilainya tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sekitar ia tinggal. Ia justru menyaksikan terjadinya penurunan moralitas di tengah-tengah kehidupann beragama masyarakat Amerika. Bahkan kondisi serupa juga terjadi di lingkungan gereja.

''Dua dari tiga pasangan di Amerika selalu berakhir dengan perceraian, aksi kekerasan meningkat di lingkungan sekolah dan di jalanan, tidak ada lagi rasa tanggung jawab dan disiplin di kalangan anak muda. Bahkan yang lebih mencengangkan diantara para pemuka Kristen ada yang terlibat dalam skandal seks dan keuangan. Masyarakat Amerika seakan-akan sedang menuju kepada kehancuran moral,'' paparnya.

Melihat kenyataan seperti ini, Jerald mengambil keputusan untuk menyendiri dan tidak lagi menjalani aktivitasnya memberikan pelayanan dan khotbah kepada para jemaat. Sebagai gantinya ia memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan penelitian yang dilakukan oleh sang istri. Penelitian mengenai sejarah kuda Arab ini membuat ia dan istrinya melakukan banyak kontak dengan warga Amerika keturunan Muslim Arab . Salah satunya adalah dengan Jamal.

Babak pergaulan dengan Arab Muslim

Pertemuan Jerald dengan pria Arab-Amerika ini pertama kali terjadi pada musim panas tahun 1991. Dari awalnya sekedar berhubungan melalui sambungan telepon, kemudian berlanjut pada saat Jamal berkunjung ke rumah Jerald. Pada kunjungan kali pertama ini, Jamal menawarkan jasa untuk menterjemahkan berbagai literatur dari bahasa Arab ke Inggris yang disambut baik oleh Jerald dan istrinya.

Ketika waktu shalat ashar tiba, sang tamu kemudian meminta izin agar diperbolehkan menggunakan kamar mandi dan meminjam selembar koran untuk digunakan sebagai alas shalat. Apa yang diminta oleh tamunya itu diambilkan oleh Jerald, kendati dalam hati kecilnya ia berharap bisa meminjamkan sesuatu yang lebih baik dari sekedar lembaran surat kabar sebagai alas shalat. Untuk kali pertama ia melihat gerakan shalat dalam agama Islam.

Aktivitas shalat ashar itu terus ia lihat manakala Jamal dan istrinya berkunjung ke rumah mereka seminggu sekali. Dan, hal itu membuat Jerald terkesima. ''Selama berada di rumah kami, tidak pernah sekalipun ia memberikan komentar mengenai agama yang kami anut. Begitu juga ia tidak pernah menyampaikan ajaran agama yang diyakininya kepada kami. Yang dia lakukan hanya memberikan contoh nyata yang amat sederhana, seperti berbicara dengan suara serendah mungkin jika ada diantara kami yang bertanya mengenai agamanya. Ini yang membuat kami kagum,'' ungkapnya.

Dari perkenalannya dengan Jamal dan keluarganya, justru Jerald mendapat banyak pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sang tamu telah menunjukkan kepadanya sebuah pelajaran disiplin melalui shalat yang dilaksanakannya. Selain pelajaran moral dan etika yang diperlihatkan Jamal dalam urusan bisnis dan sosialnya serta cara Jamal berkomunikasi dengan kedua anaknya. ''Begitu juga yang dilakukan oleh istrinya menjadi contoh bagi istriku.''

Tidak hanya itu, dari kunjungan tersebut Jerald juga mendapatkan pengetahuan seputar dunia Arab dan Islam. Dari Jamal, ia bisa mengetahui tentang sejarah Arab dan peradaban Islam, sosok Nabi Muhammad, serta ayat-ayat Alquran berikut makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya Jerald meminta waktu kurang lebih 30 menit kepada tamunya untuk berbicara mengenai segala aspek seputar Islam. Dari situ, diakui Jerald, dirinya mulai mengenal apa dan bagaimana itu Islam.

Kemudian oleh Jamal, Jerald sekeluarga diperkenalkan kepada keluarga Arab lainnya di masyarakat Muslim setempat. Diantaranya keluarga Wa el dan keluarga Khalid. Dan secara kontinyu, ia melakukan interaksi sehari-hari dengan komunitas keluarga Arab Amerika ini. Dari interaksi tersebut, Jerald mendapatkan sesuatu ajaran dalam Islam yang selama ini tidak ia temui manakalan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Kristen, yakni rasa persaudaraan dan toleransi.

Baru di awal Desember 1992, sebuah pertanyaan mengganjal timbul dalam pikirannya, ''Dirinya adalah seorang pemeluk Kristen Metodis, tapi kenapa dalam keseharian justru bergaul dan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Muslim Arab?.'' Sebuah komunitas masyarakat yang menurutnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, serta mengedepankan sikap saling menghargai baik terhadap pasangan masing-masing, anggota keluarga maupun sesama. Sebuah kondisi yang pada masa sekarang hampir tidak ia temukan dalam masyarakat Amerika.

Serangkaian Kejadian Tak Terduga

Untuk menjawab keraguannya itu, Jerald memutuskan untuk mempelajari lebih dalam ajaran Islam melalui kitab suci Alquran. Dalam perjalanannya mempelajari Aquran, sang pendeta ini justru menemukan nilai-nilai yang sesuai dengan hati kecilnya yang selama ini tidak ia temukan dalam doktrin ajaran Kristen yang dianutnya.

Kendati demikian, hal tersebut tidak lantas membuatnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia merasa belum siap untuk melepaskan identitas yang dikenakan selama hampir 43 tahun lamanya dan berganti identitas baru sebagai seorang muslim.

Begitu pun ketika ia bersama sang istri memutuskan untuk mengunjungi kawasan Timur Tengah di awal tahun 1993. Ketika itu, ia seorang diri makan di sebuah restoran yang hanya menyajikan makanan Arab setempat. Sang pemilik restoran, Mahmoud, kala itu memergoki dirinya tengah membaca sebuah Alquran terjemahan bahasa Inggris. Tanpa berkata sepatah kata pun, Mahmoud melontarkan senyum ke arah Jerald.

Kejadian tak terduga lagi-lagi menghampirinya. Istri Mahmoud, Iman, yang merupakan seorang Muslim Amerika, mendatangi mejanya sambil membawakan menu yang ia pesan. Kepadanya Iman berkomentar bahwa buku yang ia baca adalah sebuah Alquran. Tidak hanya itu, Iman juga bertanya apakah Jerald seorang muslim sama seperti dirinya. Pertanyaan tersebut lantas ia jawab dengan satu kata: Tidak.

Namun ketika Imam menghampiri mejanya untuk menyerahkan bukti tagihan, tanpa disadari Jerald melontarkan kalimat permintaan maaf atas sikapnya, seraya berkata: ''Saya takut untuk menjawab pertanyaan Anda tadi. Namun jika Anda bertanya kepada saya apakah saya percaya bahwa Tuhan itu hanya satu, maka jawaban saya adalah ya. Jika Anda bertanya apakah saya percaya bahwa Muhammad adalah salah satu utusan Tuhan, maka jawaban saya akan sama, iya.'' Mendengar jawaban tersebut, Iman hanya berkata: ''Tidak masalah, mungkin bagi sebagian orang butuh waktu lama dibandingkan yang lain.''

Ikut berpuasa dan shalat

Ketika memasuki minggu kelima masa liburannya di Timur Tengah atau bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Maret tahun 1993, untuk kali pertama Jerald dan istrinya menikmati suasana lain dari ibadah orang Muslim. Demi menghormati masyarakat sekitar, ia dan istri ikut serta berpuasa. Bahkan pada saat itu, Jerald juga mulai ikut-ikutan melaksanakan shalat lima waktu bersama-sama para temannya yang Muslim dan kenalan barunya yang berasal dari Timur Tengah.

Bersamaan dengan akan berakhirnya masa liburannya menjelajah kawasan Timur Tengah, hidayah tersebut akhirnya datang. Peristiwa penting dalam hidup Jerald ini terjadi manakala ia diajak seorang teman untuk mengunjungi Amman, ibukota Yordania.

Pada saat ia melintas di sebuah jalan di pusat ibukota, tiba-tiba seseorag lelaki tua datang menghampirinya seraya mengucapkan, Salam Alaikum dan mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, serta melontarkan pertanyaan apakah iaseorang Muslim?. Sapaan salam dalam ajaran Islam itu membuatnya kaget. Di sisi lain, karena kendala bahasa, ia bingung harus menjelaskan dengan cara apa ke orang tua tersebut bahwa ia bukan seorang Muslim. Terlebih lagi teman yang bersamanya juga tidak mengerti bahasa Arab.

Mengikrarkan Keislaman

Saat itu Jerald merasa dirinya tengah terjebak dalam situasi yang sulit diungkapkan. Pilihan yang ada dihadapannya saat itu hanya dua, yakni berkata N'am yang artinya iya atau berkata La yang berarti tidak. Hanya ia yang bisa menentukan pilihan tersebut, sekarang atau tidak sama sekali.

Setelah berpikir agak lama dan memohon petunjuk dari Allah, Jerald pun menjawabnya dengan perkataan N'am. Sejak peristiwa tersebut, ia resmi menyatakan diri masuk Islam. Beruntung hidayah tersebut juga datang lepada istrinya di saat bersamaan. Sang istri yang kala itu berusia 33 tahun juga menyatakan diri sebagai seorang Muslimah.

Bahkan tidak lama berselang setelah kepulangannya ke Amerika, salah seorang tetangganya yang juga merupakan seorang pendeta mendatangi kediamannya dan menyatakan ketertarikannya tehadap ajaran Islam. Dihadapannya, tetangganya yang telah berhenti menjadi pendeta Metodis ini pun berikrar masuk Islam.

Kini hari-hari Jerald dihabiskan untuk kegiatan menulis dan memberikan ceramah tentang Islam dan hubungan antara Islam dan Kristen. Bahkan ia juga kerap diundang sebagai bintang tamu dalam program Islam di televisi di banyak negara.

Salah satu hasil karyanya yang menjadi best seller adalah "The Cross and the Crescent: An Interfaith Dialogue between Christianity and Islam". Selain itu ia juga menulis lebih dari 60 artikel tentang ilmu perilaku, dan lebih dari 150 artikel tentang kuda Arab dan sejarahnya. (dia/RIOL/berbagai sumber)



From Jesus to Muhammad: A History of Early Christianity

Is Jesus God?
Did Jesus ever claim to be God?
What kind of nature did Jesus have?
Was Jesus Christ really crucified ?
Who is God and Jesus in the Bible?

Dr. Dirks is a former minister (deacon) of the United Methodist Church and revert to Islam.

He holds a Master's degree in Divinity from Harvard University and a Doctorate in Psychology from the University of Denver.

Author of "The Cross and the Crescent: An Interfaith Dialogue between Christianity and Islam" (2001), and "Abraham: The Friend of God" (2002).

He has published over 60 articles in the field of clinical psychology, and over 150 articles on Arabian horses.

The Topic: From Jesus to Muhammad: A History of Early Christianity

A talk by Dr Jerald Dirks

sumber :swaramuslim.net

Pemuda Kanada;Ku Reguk Nikmatnya Al-Qur’an di Gaza

0
Oleh: Tim dakwatuna.com

kemah hafalan qur'an“Kedatanganku dari Kanada ke Gaza untuk menghafal al-Quran tidak sia-sia … Waktu yang aku gunakan untuk menghafal Kitabullah Ta’ala berpahala sangat besar … Pelaksanaan perkemahan hafalan al-Quran di Jalur Gaza sangat indah dan istimewa… Dalam suasana yang sangat menyenangkan, canda, bermain dan hiburan bernuansa syar’i.”

Dengan kata-kata inilah seorang remaja asal Kanada bernama Muhammad Ziyara, berusia 15 tahun, mengungkapkan perasaan gembiranya saat ikut dalam perkemahan “Tajul Waqar” (mahkota ketegaran) untuk menghafal al-Quran di Jalur Gaza.

Ziyara datang ke Jalur Gaza mengikuti perkemahan ini atas kehendak dirinya sendiri. Dia mengatakan, “Sejak hari pertama kedua kakiku menginjakkan tanah Gaza melalui gerbang perlintasan darat Rafah, ku daftarkan keikutsertaanku dalam perkemahan “Taajul Waqar” untuk menghafal al-Quran, yang disponsori oleh yayasan “Darul Quran dan Sunnah”.

Kepada koresponden Infopalestina, remaja yang menghafal al-Quran dalam halaqah “Taajul Waqar” di masjid al Tauhid was Sunnah di kampung al-Durj di timur kota Gaza, ini mengatakan, “Sejak kecil aku tinggal bersama keluargaku di Kanada. Aku hidup di sana sebagai anak yang normal. Namun ketika kami telah memutuskan untuk kembali ke tanah air kami di Gaza, aku segera punya ide untuk mendaftar di perkemahan hafalan al-Qur’an.”

Ziyara tinggal selama lima hari di Jalur Gaza, setelah itu kembali ke Kanada. Mestinya waktu liburan ini ia gunakan untuk bermain dan bersenang-senang. Namun ia lebih memilih menghabiskannya dalam perkemahan untuk menghafal al-Quran, lebih dekat dengan Dzat yang Menurunkan Wahyu dan lebih dalam pengetahuan tentang Kitab-Nya. Demikian penuturan Ziyara.

Istimewa dan Rekreatif

Mengomentari pelaksanaan perkemahan hafalan al-Quran selama musim panas di Jalur Gaza, remaja asal Kanada ini mengatakan, pelaksanaan perkemahan hafalan al-Quran indah dan istimewa. Terjadi persaingan mulia di antara siswa, dan saling berlomba sebanyak mungkin hafalan di halaqah tahfidz (kelompok hafalan). Dia menambahkan,

“Aku menemukan semua siswa semangat dalam menghafal. Dalam sehari, aku bisa menghafal rata-rata 8 sampai 10 halaman sejak awal saya ikut dalam perkemahan al-Quran ini.”

“Bakda subuh kami mulai menghafal sampai shalat dzuhur. Setelah itu kami beristirahat.”

Al Quran di Eropa

Ziyara bercerita perihal Islam di Eropa, khususnya di Kanada, ia menjelaskan; “Islam adalah agama yang tersebar merata di semua penjuru bumi. Di Eropa ada banyak islamic center dan masjid yang menfasilitasi untuk menghafal al Qur’an, tetapi banyak orang Arab tidak fasih berbicara dalam bahasa Arab, karena lamanya mereka tinggal di Barat. Demikian juga proses hafalan al Qur’an, lambat dibandingkan dengan apa yang kulihat di Jalur Gaza ini.”

Di akhir pembicaraannya, Ziyara menyampaikan pesan terima kasih kepada penyelenggaran perkemahan dan lembaga yang menyeponsorinya. Dia mengatakan, “Aku yakin kedatanganku dari Kanada ke Gaza untuk menghafal al- Quran tidak akan sia-sia.”

Program Berkesinambungan

Sabtu (13/6), Yayasan Darul Quran dan Sunnah di Jalur Gaza membuka perkemahan bertajuk “Taajul Waqar” dengan tujuan mencetak para penghafal al-Quran. Dr. Abdurrahman al Jamal, ketua lembaga ini mengatakan program ini dilaksanakan pada saat liburan sekolah musim panas. Dengan tujuan memanfaatkan masa liburan untuk membentuk generasi Quran yang siap dan mampu bertanggungjawab membebaskan tanah air dan kewajiban berdakwah di jalan Allah Ta’ala. Program Taajul Waqar ini serempak diselenggarakan di seluruh penjuru wilayah Jalur Gaza dan berlangsung selama 60 hari diikuti lebih 10 ribu siswa-siswi yang ingin menghafal al-Qur’an.

Taajul Waqar adalah program lanjutan untuk Tahfidzul Qur’an (menghafal al-Qur’an) yang digalang lembaga Darul Qur’an dan as-Sunnah selama ini. Setelah sebelumnya musim panas tahun 2007 program yang sama dilaksanakan selama 60 hari. Dari program ini di tahun 2007, tercatat ada 400 hafidz dan hafidzoh (penghafal) al-Qur’an penuh (30 juz), sebagian lain hanya hafal sejumlah juz. Musim panas tahun 2008, program hafalan al-Qur’an dengan nama ”Tabashir Nasr” digelar dan berhasil mencetak sekitar 3 ribu siswa-siswi penghafal al-Qur’an baru.

Program ini dilaksanakan untuk mentradisikan menghafal al-Qur’an dan berupaya terus agar setiap rumah Palestina punya penghafal al-Qur’an. Alasan lain yang tidak kalah penting penyelenggaraan program ini adalah terus berlangsungnya penistaan dari musuh terhadap al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Penistaan semacam ini harus dilawan dengan cara membuat program yang mencetak para penghafal al-Qur’an dan pemegang teguh manhaj Allah Ta’ala. Program unik dan langka di dunia Islam dan Arab ini termasuk bentuk reaksi atas perang yang dilancarkan penjajah dan sekutunya dalam merusak moral generasi muda serta penghancuran terhadap masjid dan markas-markas penghafal al-Qur’an.

Program Taajul Waqar ini salah satu dari ratusan program dakwah yang mempunyai andil membentuk pribadi muslim dan menampilkan Gaza sebagai wilayah yang tak pernah gentar melawan musuh-musuhnya. (ip/seto)


sumber :dakwatuna.com

Steven Indra Dari Katedral ke Istiqlal Terpikat Islam Karena Shalat

0
Seorang mualaf ibarat besi yang baru jadi. Saatnya Allah menempa kita dan menjadikannya sebilah pedang. Kalau tidak ditempa, tidak akan tajam.

Bagi Steven Indra Wibowo, agama adalah sebuah pilihan hidup. Seperti filosofi yang dianut oleh para leluhurnya, setiap pilihan inilah yang nantinya menjadi pegangan dalam mengarungi bahtera kehidupan. ‘’Bagi saya, Islam adalah pegangan hidup,’’ ujar pria kelahiran Jakarta, 14 Juli 1981 ini kepada Republika.

Sebelum memutuskan memeluk Islam, Indra adalah seorang penganut Katolik yang taat. Ayahnya adalah salah seorang aktivis di GKI (Gereja Kristen Indonesia) dan Gereja Bethel. Di kalangan para aktivis GKI dan Gereja Bethel, ayahnya bertugas sebagai pencari dana di luar negeri bagi pembangunan gereja-gereja di Indonesia. Karena itu, tak mengherankan jika sang ayah menginginkan Indra kelak mengikuti jejaknya dengan menjadi seorang bruder (penyebar ajaran Katolik—Red).

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, sejak usia dini ia sudah digembleng untuk menjadi seorang bruder. Oleh sang ayah, Indra kecil kemudian dimasukkan ke sekolah khusus para calon bruder Pangudi Luhur di Ambarawa, Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan di sekolah berasrama itu. Pendidikan kebruderan tersebut ia jalani hingga jenjang SMP. ‘’Setamat dari Pangudi Luhur, saya harus melanjutkan ke sebuah sekolah teologi SMA di bawah Yayasan Pangudi Luhur,’’ ujarnya.

Karena untuk menjadi seorang bruder, minimal harus memiliki ijazah diploma tiga (D3), selepas menamatkan pendidikan teologia di SMA tahun 1999, Indra didaftarkan ke Saint Michael’s College di Worcestershire, Inggris, yaitu sebuah sekolah tinggi khusus Katolik. Di negeri Ratu Elizabeth itu, pria yang kini menjabat sebagai sekretaris I Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini mengambil jurusan Islamologi.

Selama menempuh pendidikan di Saint Michael’s College ini, Indra mempelajari mengenai hadis dalam ajaran Islam. ‘’Intinya, kita mempelajari hadis dan riwayatnya itu untuk mencari celah agar orang Muslim percaya, bahwa apa yang diajarkan dalam agama mereka tidak benar. Memang kita disiapkan untuk menjadi seorang penginjil atau misionaris,’’ paparnya. Bahkan, untuk mengemban tugas sebagai seorang penginjil, ia harus melakoni prosesi disumpah tidak boleh menikah dan harus mengabdikan seluruh hidupnya untuk Tuhan.

Namun, seiring dengan aktivitasnya sebagai seorang penginjil, justru mulai timbul keraguan dalam dirinya atas apa yang ia pelajari selama ini. Apa yang dipelajarinya, bertolak belakang dengan buku-buku yang ia temui di toko-toko buku. Hingga akhirnya, suatu hari tatkala mendatangi sebuah toko buku ternama di Jakarta, ia menemukan sebuah buku karangan Imam Ghazali. Buku yang mengulas mengenai hadis dan sejarah periwayatannya itu cukup menarik perhatiannya.

Dari semula hanya sekadar iseng membaca gratis sambil berdiri di toko buku tersebut, Indra akhirnya memutuskan untuk membelinya. ‘’Setelah saya baca dan pelajari buku tersebut, ternyata banyak referensi dan penjelasan mengenai hadis yang diriwa -yatkan oleh Bukhari dan Muslim. Akhirnya, saya juga memutuskan untuk membeli buku kumpulan hadis-hadis Bukhari dan Muslim,’’ kata dia.

Berawal dari sinilah, Indra mulai mengetahui bahwa hadishadis yang selama ini dipelajarinya di Saint Michael’s College, ternyata tidak diakui oleh umat Islam sendiri. ‘’Hadis-hadis yang saya pelajari tersebut ternyata maudhu’ (palsu). Dari sana, kemudian saya mulai mencari-cari hadis yang sahih,’’ tukasnya.''

Dari Katedral ke Istiqlal
Keinginan Indra untuk mempelajari ajaran Islam, tak hanya sampai di situ. Di sela-sela tugasnya sebagai seorang penganut Katolik, diam-diam Indra mulai mempelajari gerakan shalat. Kegiatan belajar shalat itu ia lakukan selepas menjalankan ritual ibadah Minggu di gereja Katedral, Jakarta. Tak ada yang mengetahui kegiatan ‘mengintipnya’ itu, kecuali seorang adik laki-lakinya. Namun, sang adik diam saja atas perilakunya itu.

‘’Ketika waktu shalat zuhur datang dan azan berkumandang dari seberang (Masjid Istiqlal—Red), kalung salib saya masukkan ke dalam baju, sepatu saya lepas dan titipkan. Kemudian, saya pinjam sandal tukang sapu kebun di Katedral. Setelah habis shalat, saya balik lagi mengenakan kalung salib dan kembali ke Katedral,’’ paparnya.

Aktivitasnya yang ‘konyol’ di mata sang adik itu, ia lakoni selama dua bulan. Dan, berkat kerja sama sang adik pula, tindakan yang ia lakukan tersebut tidak sampai ketahuan oleh ayahnya. Dari situ, lanjut Indra, ia baru sebatas mengetahui orang Islam itu shalat empat rakaat dan selama shalat diam semua. Tahap berikutnya, ayah satu orang putri ini mulai belajar shalat maghrib di sebuah masjid di daerah Muara Karang, Jakarta Utara. Ketika itu, ia beserta keluarganya tinggal di wilayah tersebut.

‘’Dari situ, saya mulai mengetahui ternyata ada juga shalat yang bacaannya keras. Kemudian, saya mulai mempelajari shalat-shalat apa saja yang bacaannya dikeraskan dan tidak.’’ Setelah belajar shalat zuhur dan maghrib, ia melanjutkan dengan shalat isya, subuh, dan ashar. Kesemua gerakan dan bacaan shalat lima waktu tersebut ia pelajari secara otodidak, yakni dengan cara mengikuti apa yang dilakukan oleh jamaah shalat. Sampai tata cara berwudhu pun, menurut penuturannya, ia pelajari dan hafal dengan menirukan apa yang dilakukan oleh para jamaah shalat.

‘’Saya lihat orang berwudhu, ingat-ingat gerakannya, baru setelah sepi saya mempraktikkannya. Dan, Alhamdulillah dalam waktu seminggu saya sudah bisa hafal gerakan berwu -dhu. Begitu juga, dengan gerakan shalat dan bacaannya. Saya melihat gerakan imam dan mendengar bacaannya sambil berusaha mengingat dan menghafalnya,’’ terang Direktur Operasional Mustika (Muslim Tionghoa dan Keluarga), sebuah lembaga yang mewadahi silahturahim, informasi, konsultasi, dan pembinaan agama Islam.

Untuk memperdalam pengetahuannya mengenai tata cara ibadah shalat, Indra pun mencoba mencari tahu arti dan makna dari setiap gerakan serta bacaan dalam shalat, melalui buku-buku panduan shalat yang harganya relatif murah. Melalui shalat ini, ungkap Indra, ia menemukan suatu ibadah yang lebih bermakna, lebih dari hanya sekadar duduk, kemudian mendengarkan orang ceramah dan kadang sambil tertidur, akhirnya tidak dapat apa-apa dan hampa.

‘’Ibaratnya sebuah bola bowling, tampak di permukaan luar -nya keras dan kokoh, tetapi di dalamnya kosong. Berbeda de ngan ibadah shalat yang ibaratnya sebuah kelereng kecil, wa lau pun kecil, di dalamnya padat. Saya lebih memilih menjadi se buah kelereng kecil daripada bola bowling tersebut,’’ ujar nya mengumpamakan ibadah yang pernah ia lakoni sebelum menjadi Muslim dan sesudahnya.

Tujuh jahitan
Setelah merasa mantap, Indra pun memutuskan untuk masuk Islam dengan dibantu oleh seorang temannya di Serang, Banten. Peristiwa itu terjadi sebelum datangnya bulan Ramadhan di tahun 2000. Keislamannya ini, kata dia, baru diketahui oleh kedua orang tuanya setelah ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Kabar mengenai keislamannya ini diketahui orang tuanya dari para rekan bisnis sang ayah.

Karena mungkin pada waktu itu, papa saya sedang mengerjakan proyek pembangunan resort di wilayah Muara Karang dan Pluit, makanya papa punya banyak kenalan dan teman. Dan, mungkin orang-orang itu sering melihat saya datang ke masjid dan mengenakan peci, makanya dilaporkan ke papa, kenangnya. Ayahnya pun memutuskan untuk mengirim orang untuk memata-matai setiap aktivitas Indra sehari-hari. Setelah ada bukti nyata, ia kemudian dipanggil dan disidang oleh ayahnya. Saya beri penjelasan kepada beliau bahwa Islam itu bagi saya adalah pegangan hidup.

Di hadapan ayahnya, Indra mengatakan bahwa selama menjalani pendidikan calon bruder, dirinya mendapatkan kenyataan bahwa pastur yang selama ini ia hormati ternyata melakukan perbuatan asusila terhadap para suster. Demikian juga, dengan para frater yang menghamili siswinya dan para bruder yang menjadi homo. Ibaratnya saya pegangan ke sebuah pohon yang rantingranting daunnya pada patah, dan saya rasa pohon itu sudah mau tumbang kalau diterpa angin. Sampai akhirnya, saya ketemu dengan sebatang bambu kecil, yang tidak akan patah meski diterpa angin.

Seakan tidak terima dengan penjelasan sang anak, ayahnya pun menampar Indra hingga kepalanya terbentur ke kaca. Beruntung saat kejadian tersebut sang ibu langsung membawa Indra ke Rumah Sakit Atmajaya. Sebagai akibatnya, ia mendapatkan tujuh jahitan di bagian dahinya. Kendati begitu, ibunya tetap tidak bisa menerima keputusan putra pertamanya tersebut.

Tidak hanya mendapatkan tujuh jahitan, oleh ayahnya kemudian Indra diusir setelah dipaksa harus menandatangani surat pernyataan di hadapan notaris, mengenai pelepasan haknya seba gai salah satu pewaris dalam keluarga. Saya tidak boleh menerima semua fasilitas keluarga yang menjadi hak saya,ujarnya. Meski hidup dengan penuh cobaan, ungkap Indra, masih ada Allah SWT yang menyayanginya dan membukakan pintu rezeki untuknya. Salah satunya, proposal pengajuan beasiswa yang ia sampaikan ke Universitas Bina Nusantara (Binus) disetujui. Di Binus juga, ia mempunyai waktu luang dan kesempatan untuk menyampaikan syiar Islam, baik melalui forumforum pengajian maupun internet.

Karena itu, saya melihat mualaf itu ibaratnya sebuah besi yang baru jadi. Jadi, saatnya Allah menempa kita dan menjadikannya sebilah pedang. Jadi, kalau tidak ditempa, tidak akan tajam, katanya. nidia zuraya (RioL)

Biodata
Nama : Indra Wibowo
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 14 Juli 1981
Masuk Islam : 2000
Status : Menikah dan mempunyai satu orang putri
Pendidikan Akhir : Sarjana (S1) Komunikasi Universitas Padjadjaran
Aktivitas :
- Sekretaris I Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI)
- Direktur Operasional Mustika (Muslim Tionghoa dan Keluarga)

sumber : swaramuslim.net

Moisha Krivitsky, dari Sinagog Pindah ke Masjid

0
Setiap orang menempuh jalannya masing-masing dalam menuju kebenaran. Bagi seorang Moisha Krivitsky, jalan yang ditempuhnya melewati fakultas hukum, sebuah sinagog dan penjara. Ia seorang calon pengacara yang menjadi rabi, lalu memeluk Islam dan pernah dijebloskan ke penjara.

Sekarang Musa -- demikian nama yang yang dipilihnya setelah ia menjadi seorang Muslim, tinggal di sebuah masjid kecil di Al-Burikent, sebuah daerah pegungungan di Makhachkala, dan bekerja sebagai seorang penjaga di Masjid Jami Pusat.

Dalam sebuah kesempatan, kami berbincang-bincang mengenai dirinya, bagaimana ia menjadi seorang Muslim dan tinggal di sebuah masjid.

Musa mengawali ceritanya dengan menyampaikan bahwa ia seperti begitu saja tiba di masjid itu dan kemudian tinggal di sana. Namun sebelumnya ia menempuh perjalan yang cukup sulit.

“Jika Anda mendalami Islam, Anda akan mengerti bahwa Islam adalah agama yang sangat mudah. Namun, perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Islam bisa jadi sangat sulit. Seringkali orang tidak paham mengapa seseorang bisa berpindah agama, memeluk Islam. Islam itu seperti apa yang kita bayangkan dan yang tidak kita bayangkan,” katanya.

Ketika dikatakan kepadanya bahwa seorang rabi pindah agama memeluk Islam adalah sesuatu yang cukup menghebohkan, ia berkata, “Sebenarnya itu sudah tidak lagi menghebohkan -- sudah lebih dari satu tahun saya menjadi Muslim. Awalnya memang aneh juga buat saya. Tapi keputusan yang saya buat itu bukanlah keputusan yang tiba-tiba. Sebelum menjadi Muslim, saya membaca buku-buku tentangnya, dan saya pun tertarik.”

“Saya lulus sekolah agama setingkat sekolah menengah atas. Setelah kelulusan saya pergi ke Makhachkala dan menjadi seorang rabi di sana.”

“Saya berasal dari sebuah daerah yang sangat jauh. Tapi sekarang saya sudah seperti menjadi orang Daghestan sejati. Di sini saya punya banyak teman, Muslim dan juga orang-orang yang sangat jauh dari Islam.”

Musa kemudian menceritakan pengalamannya ketika masih di sinagog.

“Ketika itu situasinya cukup paradoks. Ada sebuah masjid di dekat sinagog tempat saya bekerja. Sebuah masjid kota. Kadang-kadang teman-teman saya yang merupakan jama'ah masjid itu datang ke tempat saya, hanya untuk berbincang-bincang. Kadangkala saya pun mendatangi masjid itu, untuk melihat bagaimana peribadatan di sana dilakukan. Saya sangat tertarik. Jadilah kami hidup layaknya bertetangga yang baik. Dan pada suatu saat di bulan Ramadhan, seorang wanita datang mengunjungi saya -- yang kemudian saya ketahui berasal dari keluarga yang turun-temurun memeluk Islam. Ia meminta pendapat saya mengenai terjemahan Al-Qur'an yang dibuat oleh Krachkovsky. Sebagai balasannya, ia meminta saya untuk memberikan Taurat. Maka kemudian Al-Qur'an itu saya baca, kira-kira sepuluh kali.”

“Awalnya sangat sulit, tapi kemudian setahap demi setahap saya saya mulai mengerti, dan bisa menangkap ajaran dasar Islam.”

Sejenak Musa menghentikan ceritanya. Ia melihat ke arah seorang putra teman saya, Ahmad kecil yang berusia enam tahun tertidur di pelataran masjid. Ia menyarankan agar bocah itu dipindahkan ke dalam masjid.

Kemudian Musa melanjutkan ceritanya.

“Wanita itu mengembalikan Tauratnya. Menurut dia sangat sulit baginya untuk membaca serta memahami isinya. Sebagaimana membaca literatur agama, diperlukan konsentrasi dan perhatian yang sangat tinggi.”

“Saya menemukan jawaban di Qur'an tentang banyak pertanyaan Tapi tentu tidak semuanya, karena yang saya baca bukan asli bahasa Arab, melainkan terjemahannya.” Jawab Musa ketika ditanya apakah ketika itu ia mulai membandingkan antara Al-Qur'an dengan Taurat.

“Meskipun demikian saya mulai memahami banyak hal,” lanjutnya.

Kami bertanya apakah itu artinya ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Taurat?

“Saya tidak tahu, dalam setiap hal ada yang Allah kehendaki di sana,” katanya.

“Sepertinya, orang-orang Yahudi yang masuk Islam pada jaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, tidak menemukan jawaban di Taurat atas beberapa pertanyaan mereka. Namun, mereka menemukannya dalam Islam. Mungkin juga mereka tertarik akan kepribadian Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, akhlaknya, dan caranya berkomunikasi dengan orang. Itu semua adalah hal yang penting.”

Lalu pertanyaan seperti apa yang tidak bisa dijawab oleh Taurat?

“Sebelum saya ada kontak dengan Islam, ada pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tidak saya upayakan untuk mencari jawabannya. Sepertinya sebuah buku berperan penting di sini, yaitu yang ditulis oleh Ahmad Deedat, cendikiawan yang berasal dari Afrika Selatan. Buku yang membandingkan Al-Qur'an dengan Bibel.”

“Ada satu kalimat kunci, yang sangat dikenal oleh mereka yang akrab dengan masalah-masalah keagamaan, yaitu ikutilah Nabi Muhammad, seorang rasul yang akan datang kemudian. Dan ketika saya mempelajari Islam, saya yakin bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, adalah nabi yang benar, yang harus diikuti. Keduanya, Bibel dan Taurat menyuruh kita untuk melakukannya.”

Apakah yang Taurat katakan mengenai nabi yang terakhir itu?

“Kita tidak akan menemukan namanya di dalam Taurat. Tapi, kita bisa mengetahui ciri-cirinya dengan kunci khusus. Sebagai contoh, kita bisa mengetahuinya dengan melihat sejarah orang ini dalam masalah peribadatan. Satu hal yang menggambarkan tentang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam adalah beliau akan menyembah hanya kepada satu Tuhan saja, Pencipta Tunggal dari dunia ini. Dan Nabi Muhammad cocok dengan ciri-ciri yang diberikan.”

“Ketika saya membaca mengenai hal itu, saya menjadi sangat tertarik. Saya tidak tahu apa-apa tentang Islam sebelumnya. Kemudian saya berusaha mengkajinya lebih dalam, dan mencari tahu apakah ada mukjizat dan tanda-tanda berkaitan dengan nabi itu.”

“Dalam Bibel dikatakan bahwa Tuhan memberikan mujizat kepada para nabi untuk menegaskan tugas khusus yang diberikan kepadanya di mata orang banyak

“Saya bertanya kepada para ulama tenang hal ini, mereka mengatakan, 'Ini sekumpulan hadits shahih yang menggambarkan mukjizat-mukjizat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Kemudian saya membacanya dan menemukan bahwa beliau sering berkata, ada para nabi dan rasul yang pernah diutus sebelum dirinya.”

“Kita dapat menemukan nama-namanya dalam Bibel dan juga Taurat. Ketika saya mulai tertarik lebih dalam, hal itu kedegarannya seperti aneh bagi saya.”

“Akhirnya, apa yang saya lakukan membawa saya kepada keadaan sekarang ini. Kadang saya berpikir, mengapa saya lakukan ini semua? Mungkin saya harus bertaubat karena punya pikiran seperti itu.”

Kami bertanya kepadanya, setelah menjadi Muslim, apakah ia merasa punya tanggung jawab yang lebih terhadapnya, atau ada perasaan lain.

Musa menjawab, “Ya, ada rasa tanggung jawab. Tapi juga ada yang lain. Saya katakan dengan tegas, ketika seseorang menjadi Muslim, berarti ia menapakkan kedua kakinya ke tanah dengan kuat. Islam sangat membantu orang-orang. Saya tidak jujur jika mengatakan bahwa di Daghestan ini semua adalah Muslim yang sebenarnya.”

“Kadang kami berdiskusi mengenai hal itu di masjid. Saya katakan tidak banyak orang Islam yang benar-benar Muslim di Daghestan. Hanya para ustadz dan murid-muridnya. Selebihnya, kita ini hanya orang-orang yang 'calon Muslim'. Saya tidak bisa mengatakan bahwa kita ini umumnya telah mengikuti apa yang diajarkan dalam sunnah nabi. Kita hanya berusaha mengikutinya. Dan kita masih banyak tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Sebaliknya, kita malah berusaha berkelit mencari alasan-alasan yang masuk akal.”

Kenyataan bahwa banyak orang Islam yang tidak memegang teguh dan menjalankan agamanya dengan benar, sempat membuat Musa bingung.

“Kita harusnya berusaha keras menjalankan kewajiban kita. Sulit bagi saya menyaksikan hal ini, kadang saya dibuyarkan oleh apa yang terjadi di sekitar. Saya berusaha mengatasinya, dan kelemahan saya terlihat jelas di sini. Bukan berarti saya putus asa. Tapi saya juga tidak berhak mengatakan bahwa saya sudah menjalankan Islam dengan sebenarnya.”

Ada hal yang ia tidak pernah pikirkan sebelum masuk Islam.

“Ketika saya memutuskan bahwa saya harus menjadi seorang Muslim, saya pikir Islam itu tidak 'bercabang-cabang', hanya satu jalan atau seperti sebuah samudera yang tidak terbelah. Tapi kemudian saya menemukan ada beberapa cabang pemikiran dalam Islam. Dan sejak itu mulai muncul beberapa pertanyaan. Cabang-cabang pemikiran itu seperti pusaran air [yang menarik orang masuk ke dalamnya] yang berputar, terus berputar dengan keras. Orang berkata kepada Anda, 'Lihat, kami mengikuti hadits, hanya kami yang mengerti Qur'an dengan benar'. Lalu Anda mengikuti orang itu, karena Anda pikir orang itu berkata hal yang benar. Dan karena Anda ingin membuat Allah ridha.”

“Tapi beberapa bulan kemudian Anda akan tahu, bahwa semua klaim seperti itu adalah keliru. Allah yang menjadikan kita bisa berbuat baik. Tentu Anda akan berpikir, jika mereka mengaku menempuh jalan yang benar, maka mengapa mereka juga melakukan hal yang salah?”

Kemudian Musa bercerita tentang pengalamannya dijebloskan ke penjara.

“Allah berkehendak atas segala sesuatunya. Dan itu termasuk kehendak Allah.”

“Dari apa yang saya alami selama ini, hidup di balik jeruji besi, mengajarkan sesuatu kepada saya.”

“Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah acara di televisi yang menampilkan seorang wakil dari Republik Chechnya di Moskow. Saya lupa namanya, hanya ingat jika namanya itu bagus dan kedengaran seperti nama orang Perancis, seperti Binaud atau semacamnya. Ia mengatakan bahwa penguasa akan melakukan tindakan seperti sebelumnya, yaitu menyatroni rumah-rumah, menyusupkan obat terlarang dan senjata kepada orang-orang [sebagai jebakan]. Kemudian orang akan turun ke jalan melakukan protes. Hal seperti itu sering terjadi di sini.”

“Mereka juga menyusupkannya kepada saya. Kemudian pada malam harinya mereka mendatangi dan membawa saya pergi. Sebelumnya, saya menangkap ada semacam permainan hukum di sini. Saya tidak percaya mereka tega melakukan hal seperti itu. Itu bukanlah cara yang benar. Saya tidak boleh berkata kasar mengomentariya, karena Islam melarang hal itu. Yang pasti Allah Maha Mengetahui, dan orang-orang itu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya di akhirat nanti.”

“Tiga bulan di penjara, justru menebalkan iman saya.”

“Saya melihat bagaimana orang-orang bertahan dalam situasi yang sangat parah, baik itu Muslim maupun non Muslim. Seharusnya mereka yang memegang kekuasaan berpikir dengan baik. Bahwa mereka tidak perlu berusaha membasmi Islam dengan cara yang tidak baik.”

Kami bertanya, mungkin saja ia membuat takut penguasa.

Musa menjawab, “Tidak mungkin, bahkan anak kecil saja tidak takut kepada saya.”

Pembicaraan kami terputus ketika adzan yang sangat indah dikumandangkan.

“Apakah ada seorang muadzin di masjid ini?” kami bertanya karena penasaran.

“Ya, namanya Muamat Tarif. Yang barusan kita dengar adalah suaranya,” kata Musa.

“Apakah hanya Anda dan dia yang bekerja di masjid ini?” tanya kami lebih lanjut.

“Sebenarnya hanya dia yang bekerja di sini. Saya masih agak canggung setelah keluar dari penjara. Ia mengijinkan saya tinggal di sini. Agak sulit untuk menceritakannya. Ada sedikit masalah dengan orang-orang yang tinggal satu flat dengan saya. Sepertinya tidak ada saling memahami antara kami. Dan saya mulai melihat mereka agak berbeda,” cerita Musa.

Ingin rasanya mendengar cerita Musa lebih banyak lagi. Tapi tidak baik mencari-cari tahu tentang kehidupan seseorang lebih jauh.

Orang-orang mulai berdatangan ke masjid. Kami pun bangkit dan bergegas untuk bersama-sama menunaikan shalat. [di/msc dengan narasumber/

sumber : www.hidayatullah.com

Aasiya Inaya: Saya Tidak Bisa Menghindar Dari Kebenaran

0
Aasiya Inaya, dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang menganut agama Hindu yang meyakini bahwa Tuhan itu ada dalam berbagai wujud mulai dari air, sungai, batu sampai pepohonan. Oleh sebab itu, Asiya mengaku bangga sebagai penganut politheis, yang meyakini bahwa semua obyek ciptaan Tuhan layak disembah karena menurutnya, di setiap benda ada bagian Tuhan di dalamnya.

Tapi keyakinan Aasiya mulai berubah ketika ia mengenal Islam, yang mengawali perjalanan panjangnya menjadi seorang Muslimah. Sebelum memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadat, Aasiya mengalami pergumulan jiwa yang hebat. Di satu sisi ia mengakui kebenaran Islam, tapi sisi hatinya yang lain masih membuatnya ragu menjadi seorang Muslim.

"Saya pertama kali mengenal Islam di sekolah menengah atas. Mayoritas teman-teman sekelas saya adalah Muslim dan setiap waktu istirahat kami biasa berdiskusi tentang Islam, utamanya karena propaganda anti-Islam yang dilancarkan organisasi-organisasi Hindu di India pasca serangan 11 September dan kerusuhan di Gujarat," kata Aasiya.

Ia melanjjutkan,"Sepanjang pembicaraan, mereka (teman-teman Muslim Aasiya) berusaha untuk meluruskan berbagai pandangan-pandangan saya yang salah tentang agama monoteis, hak perempuan, status mereka dan berbagai mitos tentang Islam yang klise."

"Tapi, upaya mereka tidak begitu meyakinkan saya. Saya tetap memegang teguh keyakinan saya dan tetap bangga sebagai penganut politheis," tukas Aasiya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa sikap anti-Muslimnya agak berkurang setelah mendengar penjelasan dari teman-temannya yang Muslim. "Saya mulai merasa tersentuh dengan penderitaan mereka, bagian dari masyarakat kami, yang harus termarginalkan hanya karena ingin menjalankan ajaran agama mereka. Pandangan-pandangan saya pun jadi agak sekular ..." sambung Aasiya.

Tapi semua itu belum menggerakkan hati Aasiya untuk memeluk agama Islam. Aasiya mulai beralih ke kelompok Arya Samaj, sebuah kelompok penganut agama Hindu yang keluar dari mainstream Hinduisme. Kelompok ini meyakini bahwa Hinduisme adalah agama monoteis dan tidak mengajarkan umatnya untuk menyembah berhala. Setelah menjadi bagian kelompok ini, Aasiya tidak lagi menyembah banyak benda, ia melakukan ritual Arya Samaj dan jadi rajin ke kuil.

Setelah beberapa waktu menjalani ritual Arya Samaj, Aasiya menemukan bahwa keyakinan ini juga memiliki banyak cacat dan kekurangan. "Saya merasa kembali berada di sarang laba-laba yang sama, dimana ritual dan penyembahan terhadap api menjadi bagian integral keyakinan itu, sama seperti keyakinan yang saya anut dahulu," paparnya.

"Tapi saya menyebut itu semua sebagai langkah panjang, sebelum akhirnya saya sampai pada keputusan untuk memeluk agama Islam," ujar Aasinya.

"Kejelasan tentang Islam mulai saya rasakan begitu kuat ketika saya menjadi mahasiswa fakultas hukum. Ketika itu saya mengikuti kuliah tentang hukum keluarga dalam agama Hindu dan Islam, mulai dari hukum perkawinan, perceraian dan urusan keluarga lainnya."

"Saya menemukan bahwa hukum keluarga dalam agama Hindu banyak memiliki celah kelemahan karena beragamnya aturan terkait masalah teknis, perbedaan pendapat, sehingga hukum keluarga dalam agama Hindu kerap membingungkan dan tidak pasti. Di sisi lain, hukum keluarga yang diatur oleh Islam, sangat jelas, cermat dan pasti," tutur Aasiya.

Sejak perkualiahan itu, pandangan Aasiya terhadap Islam berubah total. Selama ini, Aasiya memandang Islam sebagai agama yang kaku dan keras. "Saya melihat umat Islam sebagai umat yang statis, hidup berdasarkan pada masa lalu sementara dunia terus berkembang. Buat saya, apa yang diyakini umat Islam tidak masuk akal, tidak praktis, kejam dan ketinggalan jaman," kenang Aasiya mengingat pandangan-pandangannya terhadap Islam di masa lalu.

"Tapi, sejak perkuliahan itu, pendapat saya langsung berubah hanya dalam satu malam. Apa yang selama ini saya anggap statis ternyata sebuah kestabilan. Ini membuat rasa ingin tahu saya tentang Islam memuncak dan saya menghabiskan waktu berjam-jam di internet untuk bicara dengan teman-teman saya yang dulu menjelaskan tentang Islam pada saya," papar Aasiya.

Selain bertanya pada teman-temannya yang Muslim, Aasiya juga mencari berbagai informasi tentang Islam di internet dan aktif mengikuti berbagai forum diskusi. Pengetahuan Aasiya yang mulai bertambah tentang Islam mempengaruhi sikap dan pandangan Aasiyah tentang Islam ketika ia berkumpul dan membahasnya dengan sesama temannya yang beragama Hindu. Perubahan sikap dan pandangan Aasiya, tentu saja tidak mendapat tanggapan negatif dari sahabat-sahabatnya yang Hindu.

"Mereka menyebut bahwa saya sudah mengalami 'cuci otak' yang ingin mengubah penganut Hindu menjadi pemeluk Islam," kata Aasiya tentang pendapat teman-teman Hindunya.

Saat itu, Aasiya mengaku khawatir dan takut melihat ketidaksetujuan teman-temannya tentang Islam dan ia merasa telah mengkhianati teman bahkan keluarganya. Tapi keyakinan Aasiya akan kebenaran Islam justeru makin kuat dan ia merasa tidak bisa lari dari kebenaran itu.

"Sampai kapan orang bisa menghindar dari kebenaran? Anda tidak bisa hidup dalam kebohongan dan menerima kebenaran membutuhkan keberanian seperti yang disebutkan dalam ayat Al-Quran dalam surat An-Nisaa; ' Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan'."

"Hari itu, semua rasa kekhawatiran saya lenyap. Saya merasa, jika saya tidak pernah memeluk Islam dan selamanya saya tidak akan pernah memiliki Islam, saya akan tetap dicengkeram oleh kompleksnya kehidupan yang materialistis ini, dimana hawa nafsu membuat kita enggan melakukan hal-hal yang benar," tandas Aasiya.

Aasiya akhirnya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim. "Alhamdulillah, hari ini saya menjadi seorang Muslimah. Saya berusaha belajar dan terus belajar al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad Saw. Insya Allah, saya akan mengikuti sunah-sunahnya dengan lebih baik. Dengan bantuan beberapa teman dan sebuah organisasi Islam, saya belajar salat lima waktu," tuturnya.

Persoalan Aasiya sekarang adalah memberitahukan tentang keislamannya pada teman-teman Hindunya dan orangtuanya. "Cepat atau lambat, saya pasti akan memberitahu mereka. Saya berharap mereka menghormati keputusan saya dan saya berdoa, semoga Allah swt memberikan kekuatan sehingga saya bisa istiqomah dengan keputusan saya menjadi seorang Muslim," tandas Aasiya. (ln/readislam/eramuslim)



sumber :swaramuslim.net