Saya Mengenal Islam Melalui Internet

0
a lahir dan besar dalam lingkungan Kristen. Tapi kemudian berganti-ganti agama. Pelariannya berakhir pada pekukan Islam


Benar kata orang, Islam benar-benar indah dan agama yang sangat mulia.

Walaupun selama ini cap buruk telah diberikan kepada Islam dan umat Islam pada umumnya, namun buktinya ia berhasil mendapatkan pengikutnya dan berkembang selama hampir 15 abad. Islam, dalam beberapa kata singkat, adalah hidupku. Dan Allah adalah sebuah kekuatan dalam hidupku. Tanpa Allah, saya bukanlah apa-apa.

Ketika saya duduk untuk menulis pengantar ini, saya tidak bermaksud untuk mengirim seluruh kisah kembalinya saya dalam pelukan Islam. Semakin saya berpikir tentang hal ini, semakin saya menyadari bahwa ini adalah tempat yang tepat untuk cerita.

Aku dibaptis saat lahir saat masih kecil, saat pra-sekolah di Detroit, Michigan. Semenjak itu, gereja selalu menjadi bagian dari anak usia dini di Detroit, walaupun keluarga saya tidak pergi setiap minggu. Tapi ketika orangtuaku pindah ke North Carolina, mereka sudah mulai rajin ke gereja.

Saya harus selalu pergi ke sekolah Katolik. Karenanya, dari kelas saya mengenal pertama kali kehidupan Yesus, Bunda Maria, para Rasul, Alkitab, dan Sakramen. Saya pertama kali mendapat "first holy communion" pada usia 7 tahun.

Pada September 1995, lokal sekelompok orang Katolik Ortodoks dari Libanon (Melkite Byzantine Catholic) mengadakan liturgi di gereja kami. Saya pergi dengan ibu saya, dan saya jatuh cinta. Hal paling indah saya pernah melihat, saya dengar, dan saya rasakan. Liturgi tradisional, yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris, Arab, dan Yunani. Dengan lilin, ikon, dan banyak kemenyan.

Ketika teman-teman saya baru belajar tentang gereja, mereka tidak pernah mencela saya, namun mereka tidak memahami mengapa saya menyukai Katolik Melkite Byzantine. Beberapa orang menyatakan bahwa saya melakukan untuk mencari perhatian. Tapi bagi saya, saya telah melakukan sesuatu yang sedikit lebih mengejutkan dan luar biasa!

Konflik Serius

Saya terus pergi ke gereja Melkite setiap hari minggu sampai pertengahan Maret tahun 1996. Namun suatu hari, tepatnya 40 hari sebelum Paskah, saya mempunyai pertengkaran serius pertama saya dengan agama Keristen. Sesungguhnya saya kurang yakin apa yang sedangb terjadi. Tetapi tiba-tiba, saya berhenti percaya pada agama Kristen.

Untuk beberapa alasan, sesaat saya merasa Judaisme adalah satu-satunya agama monotheistic yang paling baik yang saya tahu. Dan akhirnya Aku pergi pada hari Sabat di sinagog Yahudi dengan teman orangtua saya. Saya selalu tertarik budaya Yahudi, tapi saya tidak tahu banyak tentang agama Yahudi.

Saya mulai menghadiri layanan Sabat pada hari Minggu pagi. Walaupun saya telah cukup baik diterima oleh orang-orang Yahudi di kota, saya juga banyak mendapat kritikan dari teman saya. Sekali lagi, saya dituduh mencoba untuk mendapatkan perhatian, yang berusaha untuk menjadi berbeda.

Apapun perkataan orang, saya perlahan mulai mengadopsi Judaisme dan Yahudi mengikuti praktek-praktek budaya dan agama mereka. Saya juga mulai belajar untuk bahasa Ibrani tiap Sabat di hari Sabtu.

Pada saat saya mulai sekolah menengah pada tahun 1996, orang-orang memanggil saya "The kid who thinks he's Yahudi."[anak yang berpikir dia Yahudi]. Saya bahkan berencana pindah ke Israel. Tapi sedikit yang saya tahu, bahwa “kemesrahan” ku dengan Yahudi supanya akan segera berakhir.

Suatu hari, saat Thanksgiving, saya sedang duduk di rumah menghadap Internet, untuk mencari satu dua situs yang menarik. Mulailah saya mencari majalah melalui Internet. Terkejutlah saya ketika menangkap sebuah situs Ibrahim Shafi's Islam Page. Saya berhadapan dengan sebuah situs Islam.

Apa yang saya pahami tentang Islam? Tak banyak. Namun saya mempunyai teman di sekolah seorang Muslim, ibu saya bekerja dengan orang Muslim. Namun, pengetahuan tentang Islam itu sangatlah terbatas. Sebagian besar apa yang saya tahu berasal dari buku. Yang membuat saya mengkerut ketika menyebut Islam perlakuan perempuan dengan sangat mulia.

Rupanya, saya mulai mempelajari Islam melalui web. Saya segera “ngerumpi” di room chat di sebuah channel IRC (Internet Relay Chat) guna mencari teman Muslim sebanyak-banyaknya. Dari sanalah, saya mulai syahadat dan menyatakan diri memeluik Islam.

Kehidupan saya merasa baik, tetapi saya tetap tidak merasa bahwa saya adalah bagian dari umat Islam. Persoalannya, karena saya tidak menyatakan syahadat di depan saksi.

Nah, kesempatan untuk menjadi seorang Muslim di hadapan umat Islam lainnya datang selama perjalanan ke Chicago. Saudara perempuan saya pergi ke Universitas Chicago dan saya menyadari bahwa ada MSA (Muslim Student Association) di sana. Akhirnya, melalui MSA aku resmi menyatakan besaksi kepada Allah dan Rasul Allah memeluk Islam.

Sekarang, nama baruku berganti menjadi Tariq Ali. Namun, kadang, sehari-hari tetap dipanggil Tommy.

Meski telah memekuk Islam, masih banyak orang masih meledekku akibat agama masa laluku. "Apa agama Anda minggu ini, Tommy?". Dan biasanya, saya jelaskan, “Saya telah Muslim.” Dan jika mereka tertarik dan bekepentingan, saya jelaskan lebih jauh agama saya yang sangat hebat ini. [cerita Tommy dimuat situs www.daily.pk/www.hidayatullah.com]

Ilustrasi: Pasarkreasi



sumber : hidayatullah.com

Gereja Dijual Dijadikan Masjid

0

Sebuah kelompok Muslim telah membeli sebuah bekas gereja katolik 'Queen of Peace' berikut biara dan sekolahnya, di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan berencana untuk menggunakan kompleks bekas gereja tersebut menjadi pusat komunitas Muslim dan masjid.

Gereja tersebut akan dirubah menjadi masjid dan dinamakan masjid Jami', yang artinya tempat untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang menjadi pimpinan kelompok orang tua Islam, serta yang mendanai pembelian masjid tersebut.

Yang menjadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh wilayah barat kota New York, sebelumnya umat Islam disana telah memiliki sembilan masjid dan masjid kesepuluh akan dibangun di jalan transit daerah Amherst.

Masjid Jami' nantinya akan difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman serta menawarkan berbagai program kegiatan untuk pemuda.

"Kami ingin membangun masjid yang besar, tapi kami semua menginginkan masjid yang kami bangun akan banyak bermanfaat bagi masyarakat," kata Dr Hatim Hamad yang juga seorang asisten profesor klinik pada universitas Buffalo fakultas kedokteran gigi.

"Di kawasan Buffalo, benar-benar belum ada pusat komunitas untuk anak muda,"tambah Hamad."Dan bangunan ini sangat besar serta lokasinya tepat ditengah kawasan Buffalo."

Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.

Pihak keuskupan sampai saat ini masih mencoba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.

Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut sangat besar.

Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja serta altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan dari bangunan gereja tersebut, walau pun beberapa lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.

Kelompok Muslim berencana untuk mengganti semua karpet dan lukisan-lukisan yang terdapat di dalam gereja.(fq/buffalonews)


sumber :eramuslim.com


Felix Yanwar Siauw Dengan Islam Hidup Jadi Terarah

0

Masa SMP merupakan momentum titik balik bagi kehidupan seorang Felix Yanwar Siauw. Pada masa remaja itulah dalam diri Felix timbul keraguan atas agama yang telah dianutnya sejak ia kecil. Berbagai pertanyaan mengenai konsep Tuhan, pengampunan dosa, dan hakikat penciptaan manusia dalam agama Katolik muncul dalam benaknya. ''Di agama saya yang lama memang banyak hal yang tidak terjawab pada waktu itu,'' ujarnya.

Sebagai contoh, ketika ia menanyakan soal trinitas dan keberadaan Yesus sebagai Tuhan kepada pastor, jawaban dari semua pertanyaaannya tersebut berakhir pada kata dogma, yakni ajaran yang sudah ada sejak dahulu dan tidak boleh dipertanyakan oleh orang-orang yang beriman kepada Yesus.

Ketika mendengar jawaban seperti itu dari sang pastor, akhirnya Felix lebih memilih untuk mundur dari agama Katolik. Keputusan untuk keluar dari agama Katolik, menurut ayah satu orang putri ini, juga dilandasi oleh kenyataan mengenai praktik-praktik keagamaan yang dilihatnya hanya sebagai sebuah ritual kosong.

''Saya melihat selama ini teman-teman saya datang ke gereja hanya untuk sebuah proklamasi kalau dia sudah punya pacar, kemudian dibawa ke gereja atau sekadar hanya untuk pamer pakaian bagus,'' ungkapnya.

Ketika ia memutuskan meninggalkan agama Katolik, sejak saat itu pulalah ia tidak percaya adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Masa-masa seperti itu ia alami hingga menjelang akhir duduk di SMP.

Begitu memasuki kelas tiga SMP, berbagai pertanyaan yang pernah ada dahulu, muncul kembali dalam benaknya. Kemudian, dia mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut ke mana-mana. Hingga kemudian, dirinya sampai pada satu kesimpulan bahwa Tuhan itu memang benar ada.

Keyakinannya bahwa Tuhan itu ada muncul setelah ia mempelajari ilmu biologi bahwa penciptaan manusia dari sperma yang tidak mempunyai akal. Dari sini ia memahami bahwa manusia itu diciptakan dari sesuatu yang amat istimewa. ''Kemudian saya kembali yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi, namanya siapa ini yang belum jelas,'' tambah Felix.

Percaya tapi tak beragama
Meskipun meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun hal itu tidak lantas membuat Felix memutuskan untuk memilih salah satu ajaran agama sebagai jalan hidupnya. ''Ketika saya mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu ke Kristen Protestan, tidak dapat. Begitu juga di agama Buddha, karena tuhannya juga bersifat manusia, tidak layak untuk dijadikan Tuhan,'' paparnya.

Percaya Tuhan, tapi tidak beragama, begitulah kira-kira gambaran kehidupan spiritual yang sempat dijalaninya selama kurun waktu lima tahun. Selama itu pula, ia hidup dengan bayang-bayang tiga pertanyaan besar. Yakni, setelah mati manusia mau ke mana, untuk apa manusia diciptakan di dunia, dan dari mana asal mulanya alam semesta tercipta.

Ia terus mencari jawaban dari ketiga pertanyaan besar ini. Proses pencarian itu berakhir di pertengahan tahun 2002, begitu dirinya menginjak bangku kuliah semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ketika itu, dirinya memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, ia tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam.

Suatu ketika salah seorang teman kosnya yang Muslim menyarankannya untuk menemui seorang ustadz untuk mendiskusikan tiga pertanyaan besar itu. ''Saya bilang, selama ini saya diskusi dengan ustadz sama saja. Mereka enggak ada bedanya dengan pastor, cuma mereka pintar menyembunyikan kejahatannya,'' ujar Felix menanggapi saran temannya kala itu.

Temannya tidak putus asa untuk membujuk Felix agar mau bertemu dengan guru ngaji itu. Ketika ia bertemu langsung dengan sang ustadz, dirinya menemukan pandangan mengenai Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipahaminya sebelumnya.

''Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana dia (Islam--Red) menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya,'' ujarnya.

Dari sini kemudian dirinya tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2 yang menyatakan, ''Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.''

Kendati demikian, pada saat itu ia masih mengira bahwa yang menciptakan kitab suci ummat Islam ini adalah seorang manusia biasa, seperti halnya kitab suci agama yang lain. Namun, ketika sampai padanya penjelasan bahwa Alquran itu bukan buatan manusia, ia menganggap hal itu sebagai lelucon. Dia pun meminta bukti bahwa penjelasan itu benar adanya.

Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan, ''Dan bila kalian tetap dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan ini, datangkanlah kepada Kami satu surat yang semacam dengannya.''

Bagi dirinya surat Albaqarah ayat 23 ini merupakan sebuah segel dan tantangan terbuka buat manusia, tapi manusia tidak ada yang bisa membuat seperti itu. Dari diskusi panjang tersebut Felix merasa yakin bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan dari Tuhan pencipta semesta alam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memilih Islam--di saat usianya baru menginjak 18 tahun--sebagai jalan hidupnya hingga kini.

Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orang tua Felix syok dan marah. Namun, kemarahan keduanya hanya ditunjukkan dalam bentuk rasa kekecewaan. ''Kalau sampai pada pengusiran memang tidak terjadi seperti yang dialami mualaf lainnya.''

Rasa kecewa tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya dengan kata-kata pedas. ''Kamu ini kemasukan setan atau jin. Kamu itu seperti mutiara yang menceburkan diri ke dalam lumpur.'' Lalu saya katakan, ''Lumpurnya yamg mana dan mutiaranya yang mana.''

Namun, dengan berbagai upaya yang Felix lakukan selama tiga tahun, kini kedua orang tuanya sudah bisa menerima pilihan hidupnya itu. Meski dalam beberapa hal, baik ayah maupun ibunya, masih belum bisa menerima perbedaan tersebut. Seperti ketika putrinya yang masih berusia satu tahun mengenakan kerudung.

''Kalau anak saya dibawa ke tempat orang tua pakai kerudung, ibu saya tidak akan mau menggendongnya. Tapi, bapak saya masih mau menggendongnya,'' ungkapnya.

Sementara sang ayah merasa keberatan jika cucu perempuannya itu diminta untuk memanggil Felix dengan sebutan abi. Pasalnya, menurut sang ayah, panggilan abi tersebut tidak ada kewajibannya di dalam Alquran.

Kendati begitu, ia merasakan sebuah kepuasan diri yang tidak pernah dirasakan sebelum menemukan Islam. Selain itu, dengan meyakini Islam, hidupnya menjadi lebih bermakna dan terarah.

''Merasa puas karena setiap fenomena yang saya lihat dalam hidup ini bisa dijelaskan dengan Islam. Saya juga lebih punya tujuan hidup karena saya sudah tahu dari mana asal saya, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, dan saya mau ke mana setelah mati,'' ujarnya. nidia zuraya


sumber :republika online

Mengenang Jasa Sang Muslim Perintis

0

Komunitas Muslim di Amerika Serikat (AS) kehilangan seorang tokoh dan pemimpin umat yang berjasa mengembangkan ajaran Islam di Negeri Paman Sam. Dia adalah Dr Ahmed El-Kadi. Tokoh yang mengabdikan dirinya untuk melayani umat Muslim AS itu telah berpulang ke Rahmatullah, akhir pekan lalu.

"Dia merupakan contoh bagi Muslim Amerika,'' ungkap Syeikh Shaker El-Sayed, imam Islamic Center Dar-Al-Hijra di Virginia. Menurut Sayed, bagi masyarakat Muslim di negara adidaya, Kadi merupakan sosok berpengaruh yang telah mengubah wajah komunitas Islam.

Sayed menuturkan, kepemimpinan Kadi dan dorongannya untuk memajukan komunitas Islam di Amerika tak bisa terlupakan. ''Jasanya bagi kemajuan Islam di Amerika tak bisa terlupakan,'' imbuh Sayed yang juga ketua Muslim American Society (MAS). Kadi yang dikenal sebagai dokter bedah termasyhur dan tokoh Muslim itu wafat pada usia 69 tahun di Panama City, Florida.

Tokoh Muslim AS kelahiran Mesir itu, selama 44 tahun terakhir, mendedikasikan dirinya untuk membesarkan Islam dan memberdayakan komunitas Muslim Amerika. ''Ia adalah sahabat saya di Muslim American Society dan kami selalu bekerja bersamanya,'' tutur Sayed mengenang.

Saat hidupnya, Kadi pun telah memainkan peranan penting dalam mendirikan sejumlah organisasi Muslim, baik di AS maupun Amerika Utara. Sang tokoh pun sempat memipin sejumlah organisasi Muslim, seperti Islamic Circle of North America (ICNA), Muslim Youth of North America (MYNA), dan Islamic Medical Association (IMA).

"Jasa dan dedikasi Dr El-Kadi dalam mengembangkan pendidikan dan penelitian kedokteran Islam akan tetap dikenang,'' ujar Muslim American Society dalam pernyataannya. Tujuh juta Muslim AS, papar MAS, sangat kehilangan sosok Kadi yang telah mendorong komunitas Islam mencapai kemajuan.

Sang dokter juga dinilai sebagai perintis dan penggerak semangat juang umat Muslim di Amerika. ''Dialah perintis dan pendiri Muslim Youth of North America," papar Syeikh Sayed seperti dikutip Islamonline.net. Ayah empat anak itu hijrah ke Amerika pada tahun 1965 setelah merampungkan studi kedokterannya di Austria.

Dalam waktu singkat, pamornya sebagai dokter bedah jantung begitu mengkilap. Sebagai seorang dokter Muslim, Kadi pun dikenal berhasil merumuskan definisi kedokteran Islam yang sangat komprehensif. ''Dia adalah dokter bedah jantung terkemuka sepanjang masa,'' ucap Syeikh Sayed.

Kadi pun dikenang sebagai sosok yang memiliki jaringan begitu luas. Ia berkeliling dunia untuk membangun silaturahim dengan Muslim di berbagai negara. Berbekal jaringan itu pula, sang dokter kemudian mendirikan organisasi amal, sosial, dan pendidikan bagi umat Muslim di AS dan seluruh benua.

Salah satu pencapaiannya yang tak akan pernah terlupakan adalah Islamic Circle of North America (ICNA). Organisasi Muslim yang bermarkas di New York itu telah memiliki 22 cabang di seluruh Amerika. Di Panama City, Kadi telah mendirikan sekolah Muslim dan lembaga penelitian yang giat mengembangkan dan melacak warisan pengobatan dari Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya pencapaiannya yang akan dikenang. Menurut Sayed, umat Muslim AS tak akan pernah lupa dengan kepribadian Kadi yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. "Dr Ahmed El-Kadi adalah seorang figur yang berhati lembut, santun bahasanya, bersih tangannya, dan baik hati,'' tutur Sayed.

"Dia sangat termasyhur karena selalu menjaga ucapannya. Dia juga selalu melakukan yang terbaik bagi dirinya dan komunitasnya. Kami sungguh merasa kehilangan. Semoga kami bisa melanjutkan warisan kepemimpinannya,'' ucap Sayed.

Berkat perjuangan Kadi, umat Muslim AS kini lebih berdaya. Salah satu contohnya adalah masjid-masjid di AS yang kini lebih dari sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim. Mereka cenderung menjadi pusat rumah spiritual komunitas, tempat budaya, titik peleburan sosial, dan pusat kesadaran politik menjadi satu.

Masjid dan seluruh Islamic Center di penjuru Paman Sam pun memainkan peranan penting terhadap komunitas Muslim Amerika. Tidak ada catatan akurat mengenai jumlah masjid di Amerika. Namun, diperkirakan terdapat 2.000 masjid di penjuru negara tersebut. Di bidang politik pun, kesadaran komunitas Muslim terus meningkat. heri ruslan/taq


sumber : http://www.republika.co.id/berita/44645/Mengenang_Jasa_Sang_Muslim_Perintis

Penjaga Penjara Guantanamo Masuk Islam

0
Penjaga Penjara Guantanamo Masuk IslamPenjaga Penjara Guantanamo Masuk Islam


JAKARTA -- Penjaga penjara Guantanamo di Cuba dikabarkan masuk Islam pada bulan Desember tahun 2003. Pengawal yang tertulis bernama Terry Holdbrokes ini menurut harian Asyarqul Awsath edisi Selasa kemarin (14/4), kini aktif di masjid Arozona, AS.

Terry masuk Islam setelah berdiskusi panjang lebar dengan 590 tahanan yang didakwa teroris oleh mantan Presiden AS Geroge W. Bush. Terry berbeda dengan tentara lainnya yang menghabiskan waktu dengan bermain atau menyiksa tahanan, Terry lebih suka mempelajari Islam.

Terry masuk Islam melalui `sang Jendral` Ahmad Rasyid yang berasal dari Maroko. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Terry mengubah namanya menjadi Musthafa Abdullah. Nama Musthafa adalah pemberian Rasyid, dan nama Abdullah adalah pilihanya sendiri.

Harian Asyarqul Awsath mencoba menghubungi Pentagon terkait kasus Terry. Menurut Jeffrey Gordon, juru bicara Pentagon, pemerintah AS menghormati kebebasan beragama dan tak mempermasalahkan perpindahan agama.

"Bahkan banyak tentara AS yang muslim kini mengemban tugas di Irak dan Afghanistan," katanya. Menurut Gordon, pemerintah AS menghormati setiap keyakinan warga negaranya dan tak menganaktirikan satu agama dengan agama lainnya.

Memang, kasus Terry, bukan kasus satu-satunya di AS. Bahkan sejak peristiwa 11 September 2001, kemuncak amarah dan kebencian warga AS terhadap Islam mengakibatkan banyak warga non-Islam yang ingin mengenal Islam dan bahkan banyak pula yang kemudian beralih masuk agama Islam.mch/aawsat/ta


sumber :republika.co.id

Penulis Blog Anti Islam Digelandang Kepenjara

0

Seorang pembuat blog asal Dunstable telah ditangkap namun setelah itu dibebaskan dengan jaminan, karena dengan sengaja memicu kebencian antar ras.

Paul Ray, yang menggunakan nama samaran Lionheart, dalam sebuah catatan harian provokatif di dunia maya, ditahan pada dua minggu yang lalu sekembalinya dari South Carolina, Amerika Serikat, dimana dia mencari suaka politik.

Dia sebelumnya sudah mendapatkan peringatan dari kepolisian Bedfordshire melalui email, pada tanggal 3 Januari lalu, bahwa dia akan ditangkap jika kembali ke Inggris.

Bulan lalu dia datang ke kantor polisi Greyfiars di Bedford, sempat ditahan, kemudian dibebaskan dengan jaminan dan diminta untuk kembali pada bulan Mei untuk ditetapkan bebas atau justru dikenakan tuntutan hukum.

Dia menulis dalam blognya mengenai pendapatnya tentang perdagangan heroin, fundamentalis Islam, dan dugaan korupsi polisi.

Ray, yang dulunya tinggal di sebuah apartemen di Great Northern Road dan sebuah toko komputer di Albion Street, mengklaim bahwa dirinya menerima ancaman pembunuhan.

Dia mengatakan kepada Luton/Dunstable pada hari Minggu: “Saya merasa bahwa saya akan baik-baik saja jika saya pulang. Maka, saya menyerahkan diri ke kantor polisi Bedford.

“Saya ditahan atas dugaan menyulut kebencian rasial. Para polisi menginterogasi saya mengenai bagian-bagian dalam blog saya. Dibandingkan dengan apa yang sudah terjadi di luar sana, saya belum melakukan banyak hal.”

“Saya seorang Kristen - itulah pembelaan saya.”

“Menurut keyakinan saya, hak dan kewajiban saya untuk mengatakan hal-hal yang mungkin membuat orang lain merasa tidak senang, yang mungkin melukai perasaan.”

“Blog saya adalah sebuah jawaban dari apa yang tengah terjadi. Saya bukannya menyulut api permusuhan.”

“Ada beberapa orang Muslim yang meminta pengikutnya untuk mengambilalih kekuasaan, membuka perekrutan jihad dan menggalang dana.”

“Saya telah menulis beberapa kata dalam sebuah blog.” Juru bicara wanita Kepolisian Bedfordshire mengatakan: “Saya bisa menegaskan bahwa seseorang yang dulu pernah ditahan atas dugaan memantik kebencian rasial dan sudah dibebaskan kembali dengan membayar jaminan, telah kembali kemari pada bulan Mei.”

“Dia belum dikenakan tuduhan, namun dia dengan sukarela menyerahkan dirinya.” (dn/lde)

sumber: suaramedia.com

Idris De Vries : Kun Faya Kun, Kalau Tuhan ada sudah sepatutnya memiliki sifat seperti itu!

0
Aku berkata pada diriku sendiri “Demi Tuhan! kalau Tuhan itu memang ada, maka sudah sepatutnya ia memiliki sifat seperti itu!”.Aku besar di wilayah utara Belanda. Di sana jarang sekali ditemukan warga keturunan asing. Satu-satunya agama yang kuketahui sejak kecil adalah Kristen. Aku pun menganut agama tersebut meski tidak begitu meyakininya. Aku sudah ragu tentang konsep Trinitas sejak kecil.

Bagaimana mungkin Tuhan bisa berperan sebagai "Anak Tuhan' di saat yang bersamaan? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan Anak-Nya sendiri mati disalib oleh para pembangkang? Bagaimana mungkin Anak Tuhan bisa dibangkitkan kembali oleh Tuhan ke surga, padahal Anak Tuhan tersebut adalah Tuhan itu sendiri? Maka meski sejak kecil aku percaya bahwa Tuhan itu memang ada, tapi aku tidak meyakini kebenaran Kristen, satu-satunya agama yang kukenali saat itu.

Di saat usiaku 13 atau 14 tahun, ketika bersepeda ke sekolah, aku sempat merenung bahwa Tuhan memang ada tetapi tidak yang sebagaimana diajarkan dalam agama Kristen. Hingga berusia 19 tahun, aku percaya bahwa tidak ada agama yang turun langsung dari Tuhan, dan tiap manusia harus mencari-cari keberadaan dan hubungan dengan Tuhan secara sendiri-sendiri.

Namun itu semua berubah ketika kuputuskan untuk membaca terjemahan Alquran. Itu bukan untuk mencari-cari agama yang diturunkan Tuhan tetapi untuk mencari tahu apa-apa yang diyakini oleh jutaaan penganut agama Islam di dunia.

Aku mulai membaca Alquran dari awal surat, hingga kemudian suatu malam sampai pada surat Maryam, yang mana Allah berfirman tentang perkataan-perkataan yang diucapkan kaum Nasrani tentang-Nya dan Nabi Isa as. Allah menyatakan, “Kami Jadikan' dan terjadilah ia (kun faya kun).” Setelah membaca ayat tersebut, aku berkata kepada diri sendiri, “Demi Tuhan! kalau Tuhan itu memang ada, maka sudah sepatutnya ia memiliki sifat seperti itu!” Ia tidak memiliki anak, dan cukup bagi-Nya untuk menyatakan 'Terjadilah' maka terjadilah!'

Sejak itu aku yakin bahwa inilah agama yang benar. Aku mulai mengubah kebiasaanku sebelumnya seperti minum alkohol atau makan daging babi. Aku juga berusaha berpuasa pada Ramadhan. Semua kulakukan sendirian.

Pada usia 24 tahun, setahun setelah aku lulus kuliah, aku ke Belanda bagian selatan. Di sana banyak para pendatang Muslim baik dari Turki dan negara-negara lainnya. Di sinilah aku mencari tahu tentang Islam. Alhamdulillah aku bertemu dengan seorang imam masjid. Sayangnya ia kurang mahir berbahasa Belanda. Aku kemudian diperkenalkan dengan anaknya seorang aktivis dakwah. Dari anak imam masjid inilah aku mengenal Islam melalui jalan yang benar, dari thariqul iman (jalan menuju iman) hingga bagaimana Islam kaffah itu. Saat itulah aku masuk Islam.

Jelas langkahku ini membuat orangtuaku tidak suka. Namun mereka tidak sampai mengusirku karena mereka tetap menganggap aku sebagai anak yang harus tetap dicintai. Tapi aku sendiri agak sulit mencintai mereka karena kekafirannya.

Ketidakadilan Barat


Aku selalu hidup di dunia Barat. Aku juga tidak terlahir sebagai Muslim.

Aku melakukan semua hal yang biasa dilakukan oleh para remaja seusiaku yang kupikir akan membuatku senang. Tapi tetap saja tidak pernah merasa senang. Kini setelah menemukan jalan kebenaran, aku menyadari bahwa semua perilaku di masa lalu untuk mencari ketentraman itu adalah sebab kenapa aku tidak pernah merasa bahagia.

Di samping itu aku juga selalu merasakan betapa dunia ini dicengkeram oleh ketidakdilan. Aku ingat ketika berumur 8 atau 9 tahun menyaksikan berita tentang kebrutalan tentara zionis Israel terhadap dua anak Palestina. Aku sempat menangis melihatnya, kenapa ada manusia yang bisa melakukan hal tersebut kepada manusia lainnya.

Kemudian, ketika beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa ekonomi, aku mulai membenci sistem ekonomi yang kupelajari, karena sistem tersebut tidak mengenal adanya belas kasihan. Aku selalu bepikir mengapa manusia harus selalu berjuang untuk bisa bertahan hidup? Kenapa manusia tidak bisa saling mengasihi dan menolong satu sama lainnya. Aku sempat melihat adanya sifat saling membantu dalam sistem sosialisme. Namun sejak keambrukannya, aku tidak yakin untuk bisa mendukung sistem sosialisme secara sepenuhnya. Maka aku tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti sistem kapitalisme.

Namun sejak aku mendapatkan hidayah untuk menemukan Islam, aku kini tahu bahwa alternatif dari kapitalisme itu ada. Aku melihat ada masalah yang sama selama ini di dunia seperti penindasan, kemiskinan, dan monopoli kekayaan. Dulu aku pesimis apakah permasalahan tersebut akan bisa diselesaikan sehingga tidak terlalu banyak memusingkan. Tapi kini aku bisa berpikir lebih jernih. Ternyata banyak sekali yang bisa dilakukan dan yang harus dilakukan. Jadi, aku yakin bahwa Islam mampu menyelesaikan semua masalah di dunia sekarang. Dan aku pikir juga tidak sendirian.

Krisis kredit macet memang telah menghancurkan harapan umat Islam terhadap sistem Kapitalisme. Apabila kita bertanya kepada umat Islam hari ini, kita akan dapatkan tanggapan bahwa pada akhirnya hanya Islam yang menjadi harapan sebagai solusi. Artinya, kembalinya sistem Islam dalam bentuk negara sudah mulai tampak di horison. Pertanyaannya bukan lagi apakah negara Islam akan kembali hadir, namun kapan ia akan kembali terbentuk.

Sebagai seseorang yang mempelajari sistem ekonomi Islam dan ekonomi Kapitalisme, aku sangat berharap semakin cepat Islam kembali adalah semakin baik. Ketika itu terjadi maka akan terhenti semua macam penindasan terhadap manusia yang selama ini menguntungkan segelintir kelompok manusia yang lain. Lebih jauh lagi, pemiskinan masyarakat yang memperkaya kelompok yang lain juga akan berakhir. Hari itu adalah hari berakhirnya kegelapan dan terbitnya cahaya kehidupan di bawah tuntunan yang benar. Karena itu tantangan bagi umat Islam sekarang adalah bagaimana menjelaskan Islam itu dalam perspektif yang benar.[] pendi, olahan wawancara/mediaumat

sumber : swaramuslim.net

Pengaruh Masjid Dalam Politik Amerika

0
Di Amerika, Masjid digunakan bukan hanya sekedar tempat di mana umat Muslim berdo’a.

Masjid lebih dianggap sebagai rumah spiritual bagi komunitas muslim, hubungan budaya, sosial dan pusat kesadaran politik yang menjadi satu.

“Fungsi dasar dari pusat Islam pada khususnya di Amerika adalah untuk menampung kebutuhan keagamaan, spiritual, sosial dan kebutuhan warga negara dari anggotanya.,” Imam Mahdi Bray, Direktur eksekutif dari Yayasan Kebebasan MAS (MAS Freedom Foundation),

“Singkatnya, dakwah, pendidikan, dan pelayanan komunitas.”

Abdus Sattar Ghazali, seorang sarjana dan penulis yang berbasis di California, menetapkan bahwa Masjid-Masjid dan Pusat Islam memainkan sebuah peranan yang sangat penting bagi komunitas Muslim Amerika.

“Banyak pusat Islam mempunyai balai yang sangat luas dimana anggota komunitas dapat mengadakan acara sosial mereka di sana,” ia mengatakan.

“Beberapa pusat Islam memiliki sekolah-sekolah Islam di mana anak-anak belajar dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai SMA.”

Dawud Walid, Direktur Eksekutif dari Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) cabang Michigan, menetapkan bahwa masjid-masjid di Amerika Serikat memiliki lebih banyak tanggung jawab dari pada masjid-masjid yang berada di negara-negara Islam.

“Peranan dasar dari pusat Islam di Amerika tidak hanya untuk melayani kebutuhan spiritual tetapi juga melayani sebagai penghubung untuk sosialisasi”.

Ia percaya bahwa Masjid-Masjid memainkan peranan dalam menyembuhkan sosio-etnik yang dalam menurut sejarah membagi di dalam komunitas Muslim.

“Komunitas dapat menjadi lebih dipersatukan selama pusat-pusat Islam berkomunikasi satu sama lain dan menghindari isolasi berdasarkan variasi etnik.”

Masjid-masjid dan pusat-pusat Islam juga memainkan sebuah peran kunci dalam meningkatkan kesadaran politik di antara komunitas Muslim.

“Sebagai aktivis Muslim, saya tidak dapat lebih menekankan pentingya dampak yang pusat-pusat Islam, imam, dan khotbah mainkan dalam meningkatkan kesadaran diantara Muslim,” Bray mengatakan.

“Pada faktanya, pusat-pusat Islam adalah komponen yang paling penting di dalam komunitas Islam dalam melengkapi fungsinya.”

Menjadi seorang Imam, Sheikh Shaker Elsayed dari masjid Al-Hijra dan pusat Islam di Falls Church, Virginia, menegaskan bahwa kesadran politik merupakan bagian yang penting dari aktivitas-aktivitas masjid.

“Kami telah sangat terlibat dalam proses politik,” ia mengatakan kepada IOL.

“Kami bekerja dengan Gubernur, Senator dan anggota Kongres jadi menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan menanyakan isu-isu untuk kepentingan komunitas kami.”

Selama pemilihan presiden baru-baru ini, Masjid memainkan sebuah peranan penting dalam mobilisasi Muslim untuk mendaftarkan dan memilih.

89 persen dari pemimpin Masjid percaya bahwa Muslim harus lebih terlibat dalam proses politik, menurut sebuah studi pemahaman yang diadakan CAIR.

Walid, pemimpin CAIR Michigan, percaya peranan kesadaran politik dari Masjid-Masjid dapat menjadi senjata untuk memerangi Islamophobia, yang telah semakin buruk di Amerika Serikat semenjak serangan 9/11.

Pusat-pusat Islam memiliki sebuah peranan kunci dalam menciptakan kesadaran dalam semua masalah yang mempengaruhi kehidupan dari pentingnya pendidikan untuk kebutuhan Muslim menjadi secara kewarganegaraan terikat dengan masyarakat yang lebih luas, yang merupakan cara terbaik untuk memerangi Islamophobia.”

sumber :suramedia.com


Aisha Robertson, Kehangatan Umat Islam Menuntunnya Menjadi Seorang Muslimah

0

Interaksi dengan teman-teman Muslim selama emapat tahun masa kuliahnya telah memberi pengaruh yang besar dalam kehidupan seorang Aisha Robertson. Interaksi itu membawa Aisha yang semula menganut agama Kristen pada jalan Islam, agama yang ia peluk sejak tahun 1991.

"Selama empat tahun, saya bergaul dengan teman-teman Muslim dan Muslimah. Mereka semua sangat baik dan banyak membantu saya menuju jalan kebenaran dengan sabar dan telaten," kata Aisha, nama Islam yang digunakan setelah mengucapkan dua kalimah syahadat.

Ketika itu, Aisha sedang menyelesaikan gelar masternya di bidang sejarah. Aisha yang kini berprofesi sebagai guru dan penulis lepas di Wisconsin, AS sebelumnya sudah menyelesaikan gelar kesarjanaan di bidang pendidikan dari Universitas Wisconsin.

Aisha mulai mempelajari Islam secara formal dua tahun sebelum ia memutuskan pindah agama ke Islam. Suatu malam di bulan Agustus tahun 1991, Aisha mencoba mencari berbagai referensi tentang kekristenan di dalam al-Quran. Saat itu, masih ada hal yang mengganjal hatinya dan mencegahnya memutuskan untuk memeluk Islam. Namun ia meyakini adanya jalan "kebenaran" dan jalan langsung untuk berdialog dengan Tuhan.

"Selama ini saya tidak pernah secara penuh menerima konsep-konsep dalam agama Kristen, yang mengatakan bahwa Kristen adalah jalan satu-satunya menuju Tuhan. Saya pernah menanyakan konsep Trinitas pada seorang pendeta, tapi ia tidak bisa menjawabnya yang membuat saya makin ragu dengan ajaran Kristen. Pendeta itu hanya menasehati saya untuk menerima saja konsep Trinitas itu sebagai sebuah keimanan," tutur Aisha.

Ia melanjutkan,"Dengan kata lain, ajaran Kristen tidak perlu masuk akal. Saya diminta mengimani saja konsep itu apa adanya, jika tidak berarti saya bukan seorang penganut Kristen yang baik. Hal ini sangat mengganggu saya. Saya berpikir, untuk apa Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran jika kita tidak menggunakannya ketika kita menyangkut masalah penyembahan padaNya."

Itulah awal Aisha tergerak untuk mempelajari agama lain. Ketika berkunjung ke Jepang, Aisha sempat belajar agama Budha. Tapi ia merasa tidak nyaman karena harus menundukkan diri pada patung Budha. Ia pun kembali berusaha untuk menerapkan ajaran Kristen yang ia anut. Ketika itu, Aisha belum tahu sama sekali tentang Islam. Yang ia pahami, Islam hanyalah budaya dan tradisi orang-orang Arab. "Sebuah pemikiran yang sulit dipercaya. Sebagai seorang mahasiswi yang mempelajari sejarah, bagaimana bisa saya memiliki pandangan yang salah tentang Islam. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa buku-buku teks sejarah yang ditulis Barat sudah dengan tidak adil bersikap bias terhadap Islam." papar Aisha.

Akhirnya, malam itu, pencarian dan semua tanya Aisha terjawab. "Alhamdulillah. Saya membaca surat Al-Maidah ayat 82 sampai 85 dan malam itu saya makin yakin bahwa jauh di dalam lubuk hati saya, saya benar-benar ingin menjadi seorang Muslim," ujar Aisha.

Ia mengungkapkan, salah satu aspek yang sangat mempengaruhi keinganannya masuk Islam adalah karena ia melihat bukan hanya Muslim yang begitu semangat dan dengan bangga menjalankan ajaran Islam, tapi juga Muslim yang begitu toleran dengannya yang ketika itu masih seorang non-Muslim.

"Saya menemui banyak sekali Muslim yang seperti itu di Universitas. Saya melihat seorang Muslimah asal Malaysia, dengan anggun mengenakan jilbab dan baju Muslimnya yang panjang dan tanpa canggung berjalan ke kursinya di kelas. Saya bertemu dengan seorang Muslim yang sering datang ke toko buku tempat saya bekerja. Penampilannya selalu terlihat rapi dan bersih," ungkap Aisha.

Setelah memeluk Islam, barulah ia mengerti mengapa Muslim yang dijumpainya selalu terlihat segar dan bersih. Karena seorang Muslim berwudhu lima kali dalam sehari.

Suatu kali dalam perjalanan dengan pesawat terbang, pesawat yang ditumpangi Aisha mengalami turbulensi. Laki-laki yang duduk di sebelah Aisha, yang ternyata seorang pilot, dengan ramah dan sopan mencoba menenangkan Aisha yang gelisah dan ketakutan bahwa semuanya akan baik-baik saja sambil menjelaskan pada Aisha bagaimana pesawat bekerja dalam menghadapi kondisi semacam itu. Belakangan Aisha tahu, bahwa pilot yang dijumpainya itu adalah seorang Muslim.

"Akhirnya saya tahu bahwa mereka adalah Muslim dari berbagai penjuru dunia. Saya kagum dengan cara mereka membawa diri dan menyaksikan betapa mereka bangga menjadi seorang Muslim. Mereka juga sangat toleran dan baik pada saya yang non-Muslim," ujar Aisha.

Setahun sebelum Aisha bertekad masuk Islam, Aisha melihat pengumuman dialog Kristen dan Islam di majalah dinding gereja yang sering ia kunjungi. Di buletin itu Aisha membaca sedikit informasi tentang Islam. Yang membuat ia kagum, dalam buletin itu disebutkan bahwa saat itu ada sekitar satu milyar Muslim di seluruh dunia.

"Jumlah orang Arab saja tidak sampai satu milyar. Itu artinya Islam adalah agama untuk semua orang. Jika begitu banyak orang yang menganut Islam, pastilah ada kebenaran dalam agama itu," pikir Aisha.

Aisha tidak menghadiri dialog tersebut, tapi ia pergi ke perpustakaan untuk mencari arti al-Quran dalam bahasa Inggris. Tiga hari Aisha membaca terjemahan al-Quran dan ia mengakui bahwa Islam ada cara hidup dan berdasarkan pada keseimbangan antara keadilan dan pengampunan. Sejak itu Aisha bertekad untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam.

Beruntung, di universitasnya ada cabang organisasi Muslim Student Association. Dari sanalah Aisha banyak mendapatkan buklet-buklet berisi informasi tentang Islam dan berkenalan dengan para mahasiswa dan mahasiswi Muslim. "Saya banyak bertanya pada mereka tentang Islam, tapi tak satupun dari mereka yang mendorong-dorong saya untuk pindah agama. Saya mengagumi kesabaran mereka menjawab semua rasa keingintahuan saya tentang Islam," ungkap Aisha.

Setelah menjadi seorang Muslim, Aisha mengaku sangat bersyukur atas hidayah yang telah diberikan Allah swt padanya. "Saat itu saya seperti melangkah di atas angin. Saya ingin sekali belajar salat dan mengenakan jilbab, meski saya tahu orang akan menatap aneh pada saya dan memberikan komentar yang tidak mengenakkan," tutur Aisha.

Seperti mualaf pada umumnya, Aisha melalui masa-masa sulit untuk menjelaskan pada keluarga bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim. Hampir semua teman non-Muslim Aisha menolaknya, tapi Allah swt memberi ganti teman-teman yang lebih baik buat Aisha.

"Saya pikir, cara terbaik untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya pada Allah swt atas hadiah keimanan yang sangat berharga ini adalah dengan mengatakan bahwa hari-hari terburuk dan tersulit saya sebagai seorang Muslim jauh lebih indah dibandingkan hari-hari terbaik saya saat masih menjadi non-Muslim," tandas Aisha. (ln/readislam/iol)



sumber :eramuslim.com

Budi Setyagraha, Gara-gara Takut Rezeki Dicabut

0

Pada umumnya, bagi warga keturunan Cina, berdagang merupakan satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga (keluarga). Karena itu, hampir tidak pernah (jarang) dijumpai ada warga keturunan yang tidak mempunyai usaha dalam perdagangan. Entah usaha bangunan, butik, makanan, obat, maupun lainnya.

Itu pula yang dilakukan Budi Setyagraha pada 1978. Dengan berbekal pengalaman, warga keturunan Cina yang terbiasa berdagang, Budi pun memulai usahanya dalam bidang bangunan, tepatnya di Jalan Kyai Mojo, Yogyakarta, 21 tahun silam. Beruntung, karena ketekunan dan ketelitiannya, dalam waktu singkat usahanya pun mulai menuai hasil. Dan, ia merasa keberhasilannya itu patut disyukuri.

Disinilah rupanya mulai muncul kebimbangan. Dirinya bingung harus bersyukur dengan cara apa dan pada tuhan yang mana. Budi mengaku, tidak yakin dengan agama Buddha yang telah dianut sebelumnya.

''Setelah lima tahun menimbang-nimbang, akhirnya pada 1983 saya memutuskan untuk masuk Islam,'' jelas Budi kepadaRepublika, di Yogyakarta, Selasa (31/3) lalu.

Takut Rezeki Dicabut
Kalau kemudian pilihannya jatuh pada agama Islam sebagai jalan hidupnya, ternyata hal itu agar rezekinya tidak dicabut oleh Tuhan dan terus bertambah. Memang, kata dia, awalnya terasa lucu juga hanya karena rezekinya takut dicabut lantas dirinya memilih Islam. Sebab, ungkap Budi, bagi warga keturunan Tionghoa, usaha dagang merupakan satu-satunya pilihan untuk mengais rezeki. ''Lha, saya waktu itu merasa ngeri bagaimana kalau nanti rezeki dicabut sama Tuhan, hidup saya akan susah,'' paparnya.

Itu awalnya. Namun, menurut pria yang kini ditunjuk menjadi Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini, ia juga memilih Islam karena bila dibandingkan dengan agama lain, Islam justru terasa pas dan sejalan dengan pemikiran manusia.

''Saya memilih Islam karena konsep ketuhanan agama lain kurang pas, bagi saya. Bukan berarti ngelek-elek agama lain. Konsep ketuhanan bagi saya ada pada ketauhidan di dalam agama Islam, yaitu Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasululllah. Kalimat tauhid tersebut yang membuka hati saya,'' jelasnya.

Ia mengaku tertarik masuk Islam karena dorongan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sebelum masuk Islam, Budi senang mendengarkan khutbah Buya Hamka melalui Televisi. Ia juga membaca buku-buku dan karya Buya Hamka, termasuk buku yang berjudul Dibawah Lindungan Ka'bah.

Buku tersebut sering ia gunakan sebagai referensi apabila ada tugas-tugas atau karya tulis ketika masih sekolah. Dan, dari buku ini pula yang akhirnya menuntunnya untuk memeluk Islam.

''Setelah masuk Islam saya baru tahu manfaatnya membaca buku tersebut. Selain itu, ketika saya masih sekolah juga senang berfoto di depan Masjid Syuhada Kotabaru Yogyakarta,'' katanya.

Naik Haji
Setahun setelah masuk Islam (1984), Budi pun menunaikan rukun Islam yang kelima, naik haji. Padahal, awalnya ia masih ragu-ragu untuk berhaji. Sebab, ia belum sanggup menghafal doa-doa beribadah haji. Namun, berkat dorongan almarhum AR Fakhruddin (mantan ketua umum PP Muhammadiyah--Red), Budi akhirnya mantap untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah. Budi diminta untuk membaca Doa 'Sapu Jagad' (Rabbana aatinaa fiddun ya hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqina 'adzaaban naar).

''Beliau (AR Fakhruddin--Red) mengatakan kepada saya, ''Mumpung badannya masih sehat, imannya kuat, dan finansial (biaya) ada, bersegeralah melaksanakan haji,'' kata Budi menirukan ucapan AR Fakhruddin.

Selepas itu, Budi pun kemudian terus berupaya memantapkan pemahamannya tentang agama Islam. Ia belajar pada Ustadz Drs Ma'ruf Siregar, guru agama Islam di SMA 2 Yogyakarta. Dan, Ustadz Ma'ruf, senantiasa datang ke rumah Budi untuk mengajar dan mengkaji Islam.

Keislaman Budi Setyagraha akhirnya diketahui oleh saudara-saudaranya. Mereka pun bertanya-tanya. Apa yang menjadi alasan Budi memeluk Islam. Bahkan, istrinya pun enggan mengikuti jejaknya.

Budi mengatakan, bagi kebanyakan warga keturunan Tionghoa, Islam itu dipandang sebagai agama untuk orang-orang yang ingin menikah, atau cari istri lagi (poligami--Red). ''Banyak pertanyaan lain yang kerap mereka lontarkan pada saya. Intinya, mereka sangat sinis dan begitu negatif memandang Islam,'' terangnya.

Mendapat sindiran seperti itu, Budi tetap teguh dan kukuh pada pendiriannya, menganut agama Islam. Bahkan, ia ingin membuktikan pada keluarganya bahwa Islam itu bukan agama yang mengajarkan hanya kawin cerai. Islam justru sangat membenci perceraian dan menghendaki terbentuknya sebuah keluarga yang harmonis. Sedangkan perceraian adalah jalan keluar (solusi), apabila dalam rumah tangga muncul keretakan yang sulit untuk disatukan kembali.

Karena itu pula, Budi ingin menunjukkan pada saudaranya bahwa dirinya tetap menyayangi istrinya. Dan Budi juga menunjukkan, bahwa para ustadz yang membimbingnya hanya memiliki istri satu. Bukti-bukti itu akhirnya membuat saudara dan rekan-rekannya sesama warga keturunan menjadi percaya pada keputusan Budi memeluk Islam.

''Ternyata saya tidak seperti yang dibayangkan orang sebelumnya. Saya dinilai baik, sehingga banyak orang yang mengikuti pengajian-pengajian saya dan banyak yang ikut masuk Islam,'' ujar mantan ketua umum PITI Yogyakarta ini.

Setelah masuk Islam, Budi merasakan kehidupannya harus mematuhi aturan yang sudah baku dalam Islam, yaitu syariah Islam. Syariah Islam ini diterapkan dalam mengelola usahanya sehingga Budi merasa hasil dari usahanya benar-benar halal.

Baginya, hal yang paling penting dalam beragama adalah mengamalkannya. Ia berpandangan, kalau agama tidak diamalkan, akan menjadi seorang yang ekstrem. Ibarat aki kalau di-charge terus, lama-lama akan meledak. Karena itu, perlu ada penyaluran untuk mengamalkannya.

Artinya, kata dia, setiap ada pengajian diikuti, dan ilmu yang didapatkan diamalkan. Dengan demikian, dirinya akan senang dan masyarakat pun juga suka karena senantiasa bisa bersilaturahim. ''Makanya, silaturahim antarsesama itu sangat dianjurkan. Orang yang senang silaturahim akan dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya,'' katanya.

Ini kalau kita lakukan dan merasa yakin hikmahnya bisa menumbuhkan husnuzhzhan (prasangka baik). Sebaliknya, jika tidak dilakukan akan menumbuhkan su'uzhan (berprasangka buruk) terhadap orang lain.

Lebih lanjut Budi menyatakan, dalam kehidupan bermasyarakat sering muncul perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Karena itu, jika tidak ada silaturahim, akan muncul persepsi (pandangan) yang salah antarsesama warga masyarakat.

Keberhasilan Budi Setyagraha dalam mengelola usahanya telah berhasil mengantarkan kedua anaknya menyelesaikan pendidikan tinggi (pascasarjana, S2) di Amerika Serikat. Mia (29) lulusan S2 jurusan Finansial dan Yudistira (27) menyelesaikan S2 jurusan Ekonomi Makro. Kini, mereka sudah kembali ke Indonesia ikut membantu menjalankan usaha Budi.

Sejak 1984 hingga 2004, Budi Setyagraha dinobatkan sebagai ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika pertama kali menjabat ketua PITI DIY, jumlah anggotanya baru tiga orang. Namun, kini jumlah orang Tionghoa di Yogyakarta yang masuk Islam sudah mencapai 200 orang.

Menurut Budi, peran PITI ini sangat penting bagi perkembangan Islam di Yogyakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Bahkan, Budi menilai, PITI merupakan jembatan bagi warga Tionghoa untuk masuk Islam.

Sebab, wadah ini merupakan tempat untuk ''berlindung'' bagi warga Tionghoa yang masuk Islam. Mereka yang masuk Islam tentu akan menghadapi berbagai tantangan. Dan, bila ada persoalan, PITI akan berusaha turut serta menyelesaikan permasalahan yang ada. Karena itu, PITI memberikan ''perlindungan'' agar warganya tetap dalam iman dan Islam.

Untuk meningkatkan keimanan warga Tionghoa yang masuk Islam, rumahnya kini menjadi 'madrasah' (tempat menuntut ilmu--Red), seperti majelis taklim (pengajian). Bahkan, Budi menyediakan sebuah mobil untuk antar jemput bagi anggota PITI yang ingin mengikuti pengajian di rumahnya.

Budi menjelaskan, sebagian besar anggota PITI berasal dari warga keturunan yang melakukan perkawinan campur (Cina-Jawa, Cina-Sunda, dan lainnya). Dan, sangat sedikit pasangan suami istri yang semuanya keturunan Tionghoa yang masuk Islam.

Selepas dari DPD PITI DIY, Budi Setyagraha dipercaya untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PITI. Jabatan ini diembannya sejak 2005 lalu.

Masuk Islam bagi Budi merupakan berkah dan petunjuk Allah SWT. Tidak ada maksud lain. Ia kini tidak lagi khawatir akan dicabut rezekinya. Bahkan, usaha toko bahan bangunan yang dirintisnya mempunyai cabang di Semarang dan Solo, Jawa Tengah.

Selain itu, Budi juga mempunyai dua Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yaitu Lumbung Harta dan Artha Berkah Cemerlang. Selain itu, ia juga mempunyai satu BPR Syariah Margi Rejeki.

Banyaknya usaha yang dijalani, ia ingin menepis anggapan bahwa orang Islam itu selalu miskin. ''Tetapi, orang Islam juga bisa kaya,'' tandas Budi.heri purwata/taq



sumber :republika.co.id

Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?

0
''Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa bedanya Tuhan dengan Allah?'' Pertanyaan kritis itu meluncur begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya dijawab dengan satu kalimat, ''Tuhan itu yang kita sembah,'' ujar sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di kayu salib yang berada di altar gereja.

Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas. Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran hakikat Tuhan sebagai pencipta.

Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. ''Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan semua yang ada di dunia ini,'' ujar Desti sapaan akrabnya yang kini berusia 18 tahun saat ditemui akhir pekan lalu di Jakarta.

Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah ''Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib? Kenapa Tuhan harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak memberi manfaat?'' Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan dirinya.

Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9 Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) umum.

Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan dengan agama Islam. ''Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu aku dapatkan pada saat di TK dan SD,'' paparnya.

Saat duduk di bangku TK, kata dia, oleh gurunya ia sudah dibiasakan untuk mengucapkan kata Bismillah sebelum makan. Begitu juga, dalam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah SWT. Dari sini, mulai muncul kebingungan dalam dirinya mengenai konsep ajaran agama dan ketuhanan yang ia anut selama ini. ''Saat itu, aku bingung kenapa beda sekali antara ajaran agama saya (dulu) dengan yang diajarkan oleh guru di TK,'' ungkapnya.

Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik (ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut Tuhan dengan sebutan Allah SWT.

Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.

Berikrar syahadat

Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut dijawabnya dengan satu kata, ''Ya.'' Kemudian, oleh sang guru, Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan ajaran Islam.

''Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak secara resmi,'' ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya. Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika sudah duduk di bangku kelas 3 SD.

Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja, tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid. Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara menangis.

''Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis,'' tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD, kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan shalat dan mengaji.

Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya, muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.''Misalnya, kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,'' sindirnya.

Tak hanya dari orang tuanya, menurut Desti, pertentangan serupa juga kerap ia dapatkan dari pihak keluarganya yang lain, seperti nenek, paman, bibi, dan saudara sepupunya. Kendati demikian, ia tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sanak saudaranya ini. ''Pada saat Natal, aku tetap ikut ngumpul . Tapi, tidak ikut mengucapkan.''

Namun, ia bersyukur karena masih memiliki seorang adik perempuan, Friday Veronica Florencia, yang bersama-sama dengannya memutuskan untuk memeluk agama Islam di usia kanak-kanak. Di samping juga, teman-teman sepermainannya yang kebanyakan beragama Islam.


Beasiswa gereja

Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama, masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.

Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak. ''Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus mau mengabdi di gereja itu,'' ungkapnya.

Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam--Red) yang ada di lingkungan tempat ia bersekolah. ''Alhamdulillah semua rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,'' ujar mahasiswi semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.

Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak 'hilang' oleh keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini untuk menjalankan semua itu.

Meski mengakui kadang kala masih suka lalai dalam melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, ia berharap ke depannya bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia juga berharap kelak hidayah yang ia dan sang adik peroleh juga akan didapatkan oleh kedua orang tuanya.''Saya ingin sekali mereka bisa melihat mana jalan yang benar dan mana yang salah. Karena menurut saya, saat ini mereka bukan berada di jalan yang benar,'' ujarnya. dia (RioL)




Biodata

Nama : Aria Desti Kristiana
TTL : Jakarta, 9 Desember 1991
Masuk Islam : Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)
Aktivitas :
- Kuliah pada Jurusan Bahasa & Sastra Arab di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) semester II
- Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan

Di AS : Seorang Pendeta Menyatakan Masuk Islam "Dipecat"

0


"Saya kedua duanya Muslim & Kristen"

Uskup Rhode Island, AS Geralyn Wolf mengeluarkan surat pemecatan terhadap Pendeta Ann Holmes Redding. Wolf menyatakan Redding dipecat karena sebagai pendeta Redding juga menyatakan diri sebagai seorang Muslim dalam menjalankan peribadahan seperti layaknya Muslim.

"Seorang pendeta gereja tidak boleh menjadi seorang Kristiani dan pada saat yang sama juga menjadi seorang Muslim. Komite gereja memutuskan bahwa Dr. Reeding telah mengabaikan komuni keuskupan gereja," demikian pernyataan uskup Rhode Island.

Redding ditahbiskan sebagai anggota komuni keuskupan Rhode Island sejak 25 tahun yang lalu dan masih berada dibawah pengawasan keuskupan wilayah Rhode Island, meski Redding sekarang berdomisili di Seattle.

Menurut Wolf, pada tahun 2007 keuskupan Rhode Island sudah meminta Redding untuk memilih antara Islam atau menjadi pendeta. Keuskupan memberi waktu lebih dari satu tahun pada Redding untuk mengambil keputusan.

Pada akhirnya Redding menolak untuk membatalkan keyakinannya untuk memeluk agama Islam atau melepas agama Kristen yang dianutnya. Redding beralasan kedua agama tersebut serasi satu sama lain dan ia merasa harus mempraktekkan kedua agama tersebut.

"Ini bukan masalah intelektual. Yang satu tahu, hati saya terpanggil untuk memeluk Islam lebih karena soal identitas saya dan akan menjadi apa saya. Saya tidak bisa untuk tidak menjadi seorang Muslim, " kata Redding pada tahun 2007 lalu. (ln/isc/erm)

"I am both Muslim and Christian"
Image
The Rev. Ann Holmes Redding attends the Sunday morning service at St. Clement's of Rome Episcopal Church in Seattle. Redding has been an Episcopal priest for 20 years and a Muslim for 15 months.

Image
Redding, at right, prays with other members of the Al-Islam Center recently at the Yesler Community Center.

Image
The Rev. Ann Holmes Redding, right, gets a hug from Ayesha Anderson at the end of a service recently with members of the Al-Islam Center in Seattle. Redding is a Christian who is also a practicing Muslim, and she
worships with members of both faiths.

Image
Redding talks with 4-year-old Celia Connor before the start of the service at St. Clement's of Rome Episcopal Church in Seattle. On Sundays, Redding often prays at St. Clement's. On Fridays, she prays with the Al-Islam Center.

Image
The Rev. Ann Holmes Redding takes a walk along Lake Washington near Seward Park. The Episcopal priest expects to be defrocked since she won't give up her Muslim faith nor will she resign the priesthood.

source : http://seattletimes.nwsource.com/html/localnews/2003751274_redding17m.html

sumber :www.swaramuslim.net

Pelaksanaan Ajaran Islam Semakin Meningkat, Jadi Keprihatinan di Amerika

0
Populasi umat Islam di Amerika tumbuh dengan pesat, begitu juga dalam pelaksanaan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan pribadi umat Islam sehari-hari yang berdasarkan hukum Islam atau syariah Islam juga meningkat.

"Hukum Syariah adalah totalitas kewajiban seorang Muslim untuk dilaksanakan," kata Abdullahi An-Na'im, seorang profesor hukum di Emory Universitas Atlanta. Menurut An-Na'im, pelaksanaan hukum syariah merupakan penuntun bagi perilaku moral seorang Muslim, sama saja dengan seorang yahudi mengikuti hukum-hukum di Talmud atau seorang Katolik melaksanakan hukum-hukum agama mereka dari Injil. "Sebagai seorang warga negara AS," kata An-Na'im."Saya harus setia dengan UU dari negara Amerika. Dan hal itu merupakan tindakan tidak konsisten dengan nilai-nilai agama yang saya anut untuk mengatur perilaku pribadi saya sendiri."

Banyak masyarakat Amerika memandang hal ini merupakan sebuah tanda bagi Amerika yang merupakan multi bangsa, mereka melihat perkembangan umat Islam yang signifikan serta pelaksanaan hukum Islam dalam kehidupan pribadi umat Islam Amerika sebagai sebuah ancaman.

Syariah Islam dikritik karena sebuah kasus di bandara Minneapolis, di mana beberapa sopir taxi Muslim yang konsisten dengan aturan Islam menolak untuk mengambil penumpang mereka yang diduga membawa minuman keras. Para pengemudi taxi itu beralasan dengan ayat-ayat Quran yang melarang judi dan minuman keras sebagai perbuatan setan.

Tahun lalu,sebuah pabrik makananan Tyson di Shelbyville,Tenn, mengganti hari libur buruh dengan penggantian waktu libur pada saat idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan ramadhan. Hal itu dilakukan setelah serikat buruh atas nama para buruh Muslim yang mayoritas imigran dari Somalia, meminta perubahan waktu libur tersebut. (islam in USA )

Tetapi protes publik atas keputusan untuk menolak Hari Buruh, dengan cepat mendesak perusahaan dan serikat pekerja untuk mengatasi hal tersebut dengan sebuah kontrak kerja baru yang membuat akomodasi untuk liburan.

Frank Gaffney yang merupakan pendiri dan presiden dari Pusat Kebijakan Keamanan - sebuah lembaga think tank di Washington meramalkan AS akan mengalami masalah yang mirip dengan beberapa negara di Eropa Barat, di mana nilai-nilai agama dari pendatang Muslim kadang-kadang berbenturan dengan nilai kebudayaan tuan rumah mereka yang sangat sekuler.

Tetapi Profesor An-Na-im percaya hal tersebut akan berbeda di Amerika."Amerika negara sekuler - yang mana masyarakat secara umum bebas menampilkan keyakinan agama mereka di depan publik dan faktanya hal ini lebih kondusif bagi umat Islam untuk menjadi warga negara AS dan bisa dengan nyaman menjalankan nilai-nilai agamanya dibandingkan di negara-negara Eropa,' kata An-Na'im. (fq/foxnews/eramuslim)


Sebuah Billboard yg sangat jelas "Hukum Shariah Mengancam Amerika"



United Nations' Sharia Law vs America's Free Speech


ISLAM THE FASTEST GROWING RELIGION IN USA AFTER 9/11

http://www.youtube.com/view_play_list?p=8755562A72C31638


Watch others
- http://www.youtube.com/view_play_list?p=B8461040249E633E
- http://www.youtube.com/view_play_list?p=087F155DA52EC9E4
- http://www.youtube.com/view_play_list?p=4D79DEC5660EC8DB
- http://www.youtube.com/view_play_list?p=6A1C6AD838A32DDC
- http://www.youtube.com/view_play_list?p=3C43399FFA95CE5C


sumber :www.swaramuslim.net