Satu Lagi Perahu Rohingya Berlabuh di Aceh

0
BANDA ACEH — Muhammad Zubair merasa terlahir kembali ketika perahu yang membawanya beserta 200 kawan pengungsi Rohingya lain akhirnya berlabuh di pantai Indonesia setelah berminggu-minggu mengapung tak jelas di laut.

"Militer Thailand menyuruh kami masuk perahu dan menghalau ke laut tanpa makanan cukup," ujar Zubair, salah satu pengungsi Rohingya di Rumah Sakit Umum Idi, bagian timur propinsi Aceh, Indonesia.

Ia bersama 198 pengungsi Rohingnya--beberapa dalam kondisi kritis--berlayar ke bagian terbarat garis pantai Indonesia, Pulau Sabang di Propinsi Ache pada 3 Februari lalu."Kami berangkat dari tanah kelahiran pada 18 Desember dengan 6 perahu," kenang Zubair. "Saya kini tak tahu apa yang terjadi dengan tiga perahu lain," imbuhnya.

Perahu Rohingya pertama dengan 193 pengungsi mencapai pantai Aceh pada 7 Januari lalu. Dua perahu tersebut diyakini anggot grup perahu lain yang mengangkut sekitar 1.200 Rohingya, mengungsi dari kampung halaman dan berlabuh di Thailand akhir tahun lalu.

Banyak Muslim Rohingya yang tiba selamat di Indonesia membawa luka-luka akibat tindak kekerasan militer Thailand, seperti tulang patah, kulit terluka. "Mereka memukuli saya dengan tongkat," tutur Hussein Ahmad, salah satu pengungsi selamat, saat duduk di tempat tidur Rumah Sakit Aceh.

Sementara petugas militer Indonesia mengatakan pengungsi Rohingnya dalam kondisi mengenaskan. "Ketika mereka melihat patroli kami, tiba-tiba mereka terjun ke laut seperti ikan kelaparan dan berenang ke arah perahu kami," ujar Letnan Teddy Junaedi, Pimpinan Patroli dari Angkatan Laut Indonesia

Para nelayan dan penduduk lokal pun bergabung dengan AL untuk membantu kelompok tersebut. "Penduduk lokal mebawa sebagian pengungsi ke rumahnya," ujar Letnan Teddy.

"Beberapa dari mereka jatuh dan menangis begitu menapakkan kaki ke tanah untuk pertama kali setelah berminggu-minggu. Banyak dari mereka yang perlu segera dilarikan ker rumah sakit.

Tindakan penuh perawatan kepada Muslim Rohingya yang ditemukan di Indonesia ialah satu hal yang mereka tak pernah dapatkan di rumah mereka, demikian yang dikatakan Zafar Ahmead, presiden Organisasi Hak Asasi Etnis Rohingya di Malaysia.

"Mereka mengalami kekerasan sistematik dari junta," ujar Zafar seraya mengatakan saat ini populasi Rohingya sekitar 3,5 juta dan 2 juta masih berada didalam Myanmar sementara lainnya telah mengungsi.

Zafar mengatakan kekerasan dan diskrimansi parah berkelanjutan telah mendorong Muslim Rohingnya meninggalkan Myanmar. "Mereka diperlakukan sangat buruk dan tidak manusiawai, sehingga kami harus lari," ujarnya./iol/itz

sumber : republika online

Muslim di Amerika: Sebuah Perjalanan dalam Pencarian

0

Diperkirakan ada 7 juta populasi kaum Muslim di Amerika Serikat (AS). Jumlah ini, diperkirakan akan terus bertambah

Hailey Woldt mengenakan abaya hitam, mengharapkan sesuatu yang terburuk. Terakhir kali ia mengenakan busana Muslimah AmericaMuslim dengan kerudung – yang menutup seluruh badannya kecuali wajah, tangan dan kaki – adalah ketika ia berada di bandara internasional Miami. Ketika itu banyak orang yang menatapnya dan petugas keamanan memeriksa dirinya dengan seksama.

Kemudian, ia berada di sebuah kota kecil bernama Arab, Alabama.

"Saya berharap orang akan berkata, 'sedang apa teroris ini di sini? Kami tidak ingin orang sepertimu berada di sini,'" kata Woldt, gadis katolik bermata biru berusia 22 tahun, mengingat sikap antisipasinya sebelum masuk ke sebuah kedai barbacue lokal. "Saya pikir, saya bahkan tidak akan dilayani."

Eksperimen Woldt dalam bidang antropologi sosial itu membuka matanya. Disamping mendapatkan "tatapan awal" yang biasa diterima orang asing ketika memasuki pintu sebuah restoran di kota kecil, ia juga mendapat pengalaman yang menyenangkan.

Ketika ia menuju ke kamar kecil, cerita Woldt, "Seorang wanita terkejut [melihat dirinya], tapi ia kemudian tersenyum pada saya. Senyuman kecil itu sangat membahagiakan hati."

Pengalaman tak terduganya itu merupakan salah satu kejadian yang ia alami dalam perjalanannya sekarang ini. Woldt adalah salah satu anggota tim yang terdiri dari pemuda Amerika berusia 20-an tahun. Tim itu dipimpin oleh seorang ilmuwan Muslim yang disegani. Mereka menjelajahi negara Amerika dalam sebuah misi antropologi. Tujuannnya: mendiskusikan identitas Amerika, identitas Muslim, dan mencari tahu seberapa baik negeri itu mengusung nilai-nilai idealnya pasca peristiwa 11 September.

Misi 6 bulan yang dimulai pada musim gugur itu dipimpin oleh Akbar Ahmed, Ketua Studi Keislaman di American University Washington. Motivasinya tidak sekedar bersifat akademis.

"Sebagai seorang ilmuwan sosial, sebagai seorang Muslim, adalah kewajiban moral untuk terlibat dalam menjelaskan, membicarakan, berdebat dan berdikusi tentang Islam," papar Ahmed, 65. Ia mengambil cuti khusus selama 1 tahun untuk mengadakan perjalanan tersebut. "Setelah peristiwa 9/11, Islam menjadi agama yang paling sering dibicarakan, kontroversial, dibenci, dan salah dipahami di Amerika. Dan saya tidak bisa tinggal diam melihat hal tersebut," tambahnya.

Untuk itu Ahmed merancang sebuah proyek yang ditiru dari program Journey into America. Program "voyage of discovery", begitu ia menyebutnya, adalah bagian dari program yang telah dilakukannya pada tahun 2006. Di mana ia bersama beberapa orang (di antaranya Woldt) mengadakan perjalanan ke negara-negara Islam. Di awal perjalanan mereka mengunjungi masjid, madrasah dan rumah-rumah orang Islam. Dari Syiria hingga Indonesia. Perjalanan tersebut menjadi dasar penyusunan buku Ahmed yang berjudul Journey into Islam: The Crisis of Globalization.

Dalam perjalanannya baru-baru ini di Atlanta, Georgia, Ahmed mengatakan bahwa meskipun perjalannnya ke luar negeri bisa membantu menjawab banyak pertanyaan seputar bagaimana orang Amerika dipandang di manca negara, namun hal itu belum mampu memberikan gambaran yang utuh.

"Pertanyaan-pertanyaan orang Amerika tentang Islam tidak bisa dijawab tanpa mereka bercermin melihat dirinya sendiri dan melihat Muslim dalam konteks sebagai bagian dari kebudayaan dan masyarakat mereka," terang Profesor Ahmed. Kelompok yang ia pimpin perlu berdialog dengan Muslim dan mencari tahu apa yang mereka ketahui tentang kebudayaan Amerika dan masyarakatnya. Dan bagaimana sebenarnya mereka menyesuaikan diri, berasimilasi atau berintegrasi – atau tidak – dengan lingkungan masyarakat Amerika yang lebih luas.

Untuk tujuan itulah, tim Ahmed berbaur dengan rapper Muslim kulit hitam di Buffalo, New York. Bertemu dengan orang-orang Latin yang beragama Islam di Miami, Florida. Dan mereka juga bertukar cerita dengan para pengungsi serta menjelajahi negeri-negeri yang berbeda seperti Bosnia, Afganistan dan Somalia.

Mereka juga telah menjelajahi Ellis Island di New York, pesisir Plymouth Rock di Massachusette. Menyusuri jalan-jalan yang gemerlap di Las Vegas, Nevada. Serta menyusuri jalan di negara-negara bagian di wilayah selatan.

Selama dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para akademisi, pemuka-pemuka agama, petugas penegak hukum dan para aktivis. Cerita tentang pertemuan dan kunjungannya ditulis di blog mereka.

Sejak beberapa tahun lalu perjalanan ini dirasa penting bagi seorang Frankie Martin. Ia seorang kristen Episcopalian berusia 25 tahun. Ayahnya seorang pegawai negeri. Ia dulu tinggal di Kenya ketika kedutaan-kedutaan Amerika di wilayah Afrika Timur dibom pada bulan Agustus 1998. Peristiwa itu menewaskan ratusan orang dan memunculkan isu tentang ancaman dari Al Qaidah dan Usamah Bin Ladin.

"Saya ingat, ketika kembali ke AS dan mencoba membicarakan tentang isu ini [yang berkaitan dengan Islam dan Barat], banyak orang tidak tahu apa-apa mengenai hal itu," kata Martin. Kemudian terjadi peristiwa 11 September yang mengguncang AS. Saat itu ia mulai kuliah di American University. "Saya ingin tahu mengapa hal seperti itu bisa terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan terkait hal tersebut.... Saya ingin belajar lebih banyak tentang dunia Muslim, memahami agama Islam dan membangun sebuah hubungan baik."

Sebagian proses itu mengharuskan mereka untuk terjun langsung, berada di tempat yang belum pernah mereka masuki sebelumnya.

Pada parade Hari Muslim bulan Oktober di New York, Craig Considine, 23, ikut bergabung di tengah kelompok pemrotes/penentang, untuk melihat secara langsung dan merekam hujatan-hujatan yang dilontarkan. Di antara mereka ada yang menghina Rasulullah Muhammad sehingga membuat suasana semakin panas. Mereka saling menghujat satu sama lain.

Pemuda pembuat film itu tidak merasakan apa-apa hingga akhirnya ia minggir dan mematikan kameranya, kemudian berpikir.

"Kelompok yang menentang/memprotes dan kelompok yang menanggapi, keduanya adalah orang-orang Amerika. Dan mereka sama-sama gagal, tidak bisa saling memahami. Saya sangat kecewa. Seumur hidup belum pernah saya melihat kebencian seperti itu ." kata Considine.

Jonathan Hayden, 30, yang telah bekerja untuk Ahmed selama hampir lima tahun mengatakan bahwa peristiwa yang sederhana pun dapat memberikan pencerahan.

Ia menceritakan tentang sebuah pertanyaan mengharukan yang diajukan oleh seorang wanita dari wilayah Midwestern yang mengakui bahwa ia belum pernah berjumpa dengan seorang Muslim.

"Apakah mereka [orang Muslim] mencintai anak-anak mereka?" Heyden mengingat pertanyaan wanita itu. "Kami bisa menjawab pertanyaannya, ya mereka mencintai anak-anak mereka.... Namun, fakta bahwa wanita itu mengutarakan pertanyaan tersebut, memberikan gambaran yang banyak kepada kita."

Tujuan utama kelompok itu adalah memberikan pencerahan akan perlunya memahami Islam. Sesuatu yang mereka harap bisa dipenuhi dalam buku yang akan ditulis oleh Ahmed dan sebuah film dokumenter yang akan mereka buat.

"Populasi Muslim di seluruh dunia adalah 1,4 milyar. Pada pertengahan abad ini, akan ada satu Muslim di antara empat orang. Sekarang ini ada 57 negera Muslim. "Pikirkanlah tentang jumlah dan angka tersebut," kata Ahmed. "Amerika – sebagai negara superpower, sebagai pemimpin dunia – perlu untuk bisa berinteraksi positif dengan seperempat bagian masyarakat dunia itu."

Ia memperkirakan ada 7 juta Muslim di AS sekarang ini, dan jumlahnya terus bertambah. Mimpi dan harapan mereka, Ahmed, dan yang lainnya adalah sudah pasti, tidak berbeda dengan mimpi dan harapan tetangga mereka yang lain.

Syeikh Salahadin Wazir, yang mengadakan jamuan makan malam bersama mereka dan mengundang kelompok itu untuk shalat Jum'at bersama, menghargai proyek tersebut.

"Sangat penting untuk mengetahui secara lengkap tentang Muslim dari perspektif orang Islam. Kami semua adalah warga negara yang terikat hukum. Kami profesional," kata Wazir di pelataran Masjid Al Mukminin di Clarkson, Georgia. "Banyak anak-anak kami yang bersekolah, menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dan masa depannya cerah."

Bagi Madeeha Hameed, 21, menjadi bagian dalam proyek ini merupakan sesuatu yang bersifat personal. Mahasiswa pada College of William & Mary di Virginia ini mengambil cuti satu semester untuk melakukan perjalanan sebanyak mungkin, dan sekarang ia sudah kembali kuliah. Ia pindah dari Pakistan ke Virginia bagian Utara sebelum masuk sekolah menegah atas, yaitu sesaat sebelum peristiwa 11 September terjadi.

"Saat itu sangat sulit keadaannya buat saya... Anda tahu bagaimana suasana di sekolah menengah atas," katanya. "Saya tidak ingin dikenali sebagai seorang Muslim atau orang Pakistan, karena saya ingin bisa bergaul. Saat itu saya sangat kecewa dengan identitas saya." Setelah membaca buku tulisan Profesor Ahmed, dan berkesempatan untuk turut serta dalam perjalanan kelompoknya, "Sangat membantu untuk bisa menerima identitas saya," katanya. Dan ia pun bisa semakin menghargai apa yang ada di sekitarnya. Ia melanjutkan, " Ada banyak hal mengenai negeri ini dan mengenai Islam, yang tidak saya tahu dan pahami sebelumnya."

sumber :[cnn/Dija/www.hidayatullah.com]

Stephen Schwartz, Jurnalis Amerika yang Bersyahadat di Bosnia

0
Pria yang lahir di Columbus, Ohio ini dikenal sebagai wartawan dan kerap mengkritik Bush. Kini ia menjalani Islam dan rajin shalat

Stephen Schwartz lahir di Columbus, Ohio tahun 1948. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan dengan berkarir sebagaiStephen Schwartz wartawan dan penulis. Stephen kenal Islam dan bersyahadah ketika bertugas sebagai reporter di Bosnia. Setelah memeluk Islam, mantan wartawan senior San Francisco Chronicle ini kerap mengkritik pemerintahan Bush yang sering mengidentikkan teroris dengan Islam. Artikel-artikel kontroversialnya muncul di sejumlah koran ternama seperti The New York Times, The Wall Street Journal, The Los Angeles Times, dan The Toronto Globe and Mail. Stephen juga kontributor tetap untuk The Weekly Standard, The New York Post dan Reforma di Mexico City. Berikut kisah pria yang mengaku tertarik dengan kehidupan sufi dalam Islam dan ketika di Bosnia aktif mengikuti kegiatan tarekat Naqshabandiah. Inilah beritanya.

000

Stephen Schwartz memeluk Islam di Bosnia pada 1997 atau di usianya yang ke-49. Sebelumnya, lebih dari 30 tahun lamanya, dia melakukan studi dan menimba berbagai pengalaman hidup serta mempelajari sejarah beberapa agama samawi. Bagaimana ceritanya hingga dia terkesan dengan agama Islam?

"Aku tertarik dengan Islam sejak tahun 1990 saat berkunjung ke Bosnia untuk melakukan studi tentang sejarah Yahudi di Balkan. Aku butuh data itu untuk mengisi kolom rutin di jurnal Jewish Forward. Nah dalam penelitian itu, aku sempat menjalin kontak dengan tokoh-tokoh Islam Balkan," kisah Stephen.

Jika menilik sejarah hidupnya, dia mengaku berasal dari keluarga "agamis". "Aku dibesarkan dalam lingkungan yang benar-benar ekstrem bagi kebanyakan orang Amerika. Ayahku seorang Yahudi yang taat. Sementara ibuku adalah anak dari seorang tokoh kelompok Protestan fundamentalis. Dia sangat paham dengan Bibel, juga Kitab Perjanjian Lama dan Baru," kata pria yang menambah Suleiman Ahmad di depan namanya selepas memeluk Islam.

Stephen sendiri mengaku, pertama kali bersentuhan dengan agama adalah tatkala ikut kegiatan gereja Katolik. Walau saat itu belum memutuskan ikut ajaran itu, dia sempat tertarik dengan sejumlah literatur tentang kebatinan dalam ajaran Katolik. Keingintahuannya membuat dia melakukan sejumlah studi dan riset mendalam hingga ke negeri matador Spanyol.

Riset di Spanyol

Di awal penelitiannya, Stephen mengamati bahwa di balik kejayaan Katolik Spanyol ternyata terdapat pengaruh kuat sejarah Islam kala berkuasa di Spanyol. Dia mengaku takjub dan terinspirasi dengan agama Islam yang masih bertahan dalam sejumlah tradisi di sana.

"Sebagai seorang penulis, aku meneliti fenomena ini selama bertahun-tahun. Mula-mula kupelajari sejarah itu melalui aneka karya sastra masa lampau yang menunjukkan pengaruh Islam di kawasan Iberia itu," ungkap dia.

Awal 1979, dia mulai mempelajari Kabbalah, sebuah tradisi mistik bangsa Yahudi. "Nah, menariknya di dalam Kabbalah itu juga kudapati adanya pengaruh Islam," ujar Stephen yang meneliti tentang Kabbalah selama hampir 20 tahun lamanya.

Kenal Islam di Bosnia

Selama meneliti Kabbalah, dia sempat melakukan perjalanan ke Bosnia dalam kapasitasnya sebagai seorang reporter. "Tahun 1990 untuk pertama kalinya aku bersentuhan secara langsung dengan Islam di Bosnia dan untuk pertama kalinya pula aku mengunjungi sebuah mesjid di ibukota Sarajevo," kata dia.

"Perlahan, aku melihat Islamlah yang mampu menawarkan jalan "terdekat" untuk mendapatkan kasih sayang Allah," ujar pria yang juga aktif mengikuti tarekat Naqshabandiah kala di Bosnia. Dia bertemu dengan Syekh Hisham, seorang guru tarekat Naqshabandi di sana. Hatinya benar-benar terkesan hingga dalam hitungan minggu diapun bersyahadah di negeri Balkan itu. "Aku bangga jadi orang Islam," aku dia.

Di Sarajevo, Stephen menemukan banyak hal yang mengesankan hatinya. "Kutemukan sebuah pos terdepan Islam di Eropa, saat mana aku tidak merasa sebagai seorang asing di sana. Saat mana aku secara gampang bisa berjumpa dan bergaul langsung dengan orang-orang Islam yang begitu ramah, demikian pula kalangan terdidiknya. Aku menemukan puisi dan gubahan musik yang begitu indah, yang mengekspresikan nilai-nilai keagungan dan kedamaian dalam Islam," ungkap dia dipenuhi rasa kagum.

"Aku telah temukan sebuah "taman tua" yang indah," ujar Stephen mengutip salah satu bait lagu Bosnia yang sangat terkenal yang berkisah tentang masa jaya Kekhalifahan Usmani di Balkan dan kontribusinya terhadap budaya Islam.

Stephen juga membaca beberapa bagian dari Alquran dan mengunjungi monumen-monumen Islam selama kunjungannya di Balkan.

"Aku layaknya kembali ke taman itu dan akhirnya masuk ke dalamnya," ujar dia memberi ibarat. Ya, akhirnya dia memang memutuskan masuk Islam kala di Bosnia.

Takut timbul konflik

Sejak menerima Islam, Stephen sangat berhati-hati sekali dalam mengirim informasi keislamannya, baik itu kepada keluarga, teman-temannya hingga para tetangga dekatnya.

"Aku tidak mau sembarangan memberikan info ini, takut nanti timbul konflik dan kontroversi.. Aku juga tidak mau pengalaman ini dilihat atau dicap sebagai sesuatu yang bodoh atau picik. Ini bukan menyangkut diriku pribadi, tapi ini berkaitan dengan Allah. Aku ingin proses keislaman ini berada di jalan yang wajar. Hal ini semata-mata untuk kebaikan umat Islam dan juga bagi terbentuknya hubungan persaudaraan Islam di dalam ikatan kalimat la ilaha illallah," tukas dia.

"Aku amati, adakalanya kalangan nonmuslim melihatku sebagai seorang muallaf baru yang terpengaruh oleh kehidupan di Balkan. Tapi aku segera meluruskan pendapat ini seraya menyebutkan bahwa aku suka Islam bukan karena terlibat politik atau alasan kemanusiaan, tapi murni semata-mata karena pesan indah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah," kata dia lagi.

Damai dalam Islam

"Seperti telah kusebutkan di awal, aku menemukan bahwa hal-hal positif dalam agama samawi Yahudi dan Nasrani. Nilai-nilai positif itu terefleksikan dalam ajaran Islam. Jadi, Islam datang menyempurnakan agama terdahulu," kata Stephen.

"Aku sangat yakin, tanpa adanya toleransi orang-orang Arab Spanyol dulu, terutama di saat Kekhalifahan Usmani masih berjaya, maka bangsa Yahudi telah lama hilang dari permukaan bumi ini. Halnya agama Yahudi hari ini, sangatlah jauh berbeda dengan ajaran mereka saat masih hidup berdampingan dengan orang-orang Islam dahulu," tegas Stephen.

"Setelah memeluk Islam, hal yang sangat berkesan bagiku adalah adanya kedamaian hati disertai kehadiran Allah di dalam setiap hal. Muncul perasaan lembut, sopan santun, sederhana dan rasa ikhlas. Hidupku jadi mudah. Bahkan di saat aku ada masalah atau ujian dalam hidup ini," tutur Stephen yang sangat yakin jika nilai-nilai Islam itu akan mampu menyelesaikan aneka permasalahan di Amerika, terutama perkara krisis moral.

Kritik Bush

Begitulah. Saat ini Stephen Schwartz dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Center for Islamic Pluralism yang didirikan pada 25 Maret 2005 dan berpusat di Washington DC. Dia juga penulis buku best seller The Two Faces of Islam: Saudi Fundamentalism and Its Role In Terrorism.

Buku itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Dalam buku tersebut dia mengungkapkan rasa tak setujunya dengan cap Islam teroris dan mengkritik secara terbuka pemerintahan Bush yang selalu mengidentikkan teroris dengan Arab. Akibat kritik tajamnya itu Stephen pun lantas dipecat dari posisinya sebagai penulis berita di media bergengsi Voice of America.

Begitupun, dalam beberapa hal, Stephen mengaku sangat sedih kala melihat konflik di Timur Tengah. "Aku sering memimpikan adanya kedamaian dan persahabatan antara Israel dan Arab. Persis sepertimana di saat orang Yahudi bisa hidup damai di masa kepemimpinan orang Islam," kata pria yang dikala mudanya pernah terlibat dalam kelompok radikal sayap kiri itu.


sumber :[Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]


Muslimah Rusia Bangun Masjid dari Kocek Sendiri

1 komentar
ImageSetelah selamat dari kecelakaan mobil yang membuatnya nyaris melayang, seorang muslimah Rusia bernazar membangun masjid dari uang pribadinya.

Mounira Bigldina adalah muslimah Rusia Republik Bashkiria. Ia selamat dari kecelakaan mobil yang membuat nyawanya nyaris melayang.

Belum pulih total, Mounira kembali ke lokasi kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya itu. Pada saat itu ia berdoa kepada Allah dan bernazar, setelah pulih dari penyakitnya ia akan membangun masjid dengan uang dari kocek pribadinya. Maka berdirilah masjid di kota Ufa, Republik Bashkiria, Rusia.

"Setelah saya selamat kecelakaan dan saya bisa kembali normal untuk praktek, saya membeli lahan petak untuk pembangunan masjid," ujar Mounira Bigldina.

Mounira tidak hanya melakukan pembangunan masjid. Tetapi ia juga menyiapkan program-program untuk mengajar Bahasa Arab dan membuat Pusat Studi Quran di masjid tersebut.

Menurut mufti Republik Bashkiria Mohammed Noor, pembangunan mesjid tidak memiliki anggaran khusus. Jumlah mesjid di Republik Bashkiria hanya 16 mesjid. “Republik Bashkiria mendukung karya ini dan meminta Allah untuk memberkahi mereka dan niat mereka untuk membangun mesjid," ujarnya.

Mounira mendapatkan kebahagiaan. Pada masjid yang dibangunnya, didirikan empat tembok yang menunjukkan ucapan terima kasih kepada Allah atas kesembuhan penyakitnya.(IOL/mnx)



sumber : sabili.co.id

Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Perantaraan Mahasiswanya

0
Profesor matematika yang pernah memilih tak beragama alias atheis ini akhirnya lebih memilih Islam sebagai pihan terakhirnya

Hidayatullah.com—Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya Prof Jeffrey Langkeunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia sempat dihadiahi sebuah mushaf Alquran yang diakuinya sebagai kitab suci yang sangat mengagumkan. Satu hari, secara tak terduga dia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja dekat kampus. Rupanya ruangan itu dipakai oleh para mahasiswanya yang Islam untuk shalat lima waktu. Nah, di ruangan kecil itu pula akhirnya dia bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.

ooo

Prof. Dr. Jeffrey Lang, nama lengkapnya. Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang Matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University tahun 1981. Prof. Jeffrey dilahirkan dalam sebuah keluarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut pada 30 Januari 1954.

Pendidikan dasar hingga menengah dijalani di sekolah berlatar Katolik Roma. "Hampir 18 tahun lamanya kuhabiskan masa kecil di sekolah yang berlatar belakang ajaran Katolik. Selama itu pula aku menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen," tutur dia.

Jeffrey, dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam, menulis:"Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an kulewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya pada masa itu aku sudah mulai banyak bertanya-tanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial dan keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk di dalamnya pemuka gereja Katolik."

Beranjak remaja, di usianya yang ke-18, Prof. Jeffrey mengaku sudah jadi atheis alias tak percaya lagi adanya tuhan. "Jika Tuhan itu ada, dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu kenapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Kenapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam syurga? Kenapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?" kisah Jeffrey muda tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.

Ketemu mahasiswa muslim

Akhirnya Prof. Jeffrey mendapatkan jawaban awal di kota San Francisco. Ceritanya, saat itu dia diangkat sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Jeffrey menemukan Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Tapi bagaimana cara dia menemukannya? Ternyata petunjuk itu didapatnya dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam!

"Saat pertamakali memberi kuliah di Universitas San Francisco, aku ketemu dengan seorang mahasiswa muslim yang mengambil mata kuliah Matematika. Akupun langsung akrab dengan mahasiswa ini, begitu pula dengan keluarganya. Agama, saat itu belum jadi topik perbincangan kami, hingga satu ketika aku diberi hadiah sebuah kitab suci Alquran," cerita dia.

Mahmoud Qadeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi. Mahmoud, cerita Prof Jeffrey, telah memberi banyak masukan baginya tentang hal ihwal Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. "Aku pernah diskusi dengan Mahmoud tentang riset kedokteran dan dia menjawab dengan sempurna sekali. Bahasa Inggrisnya juga bukan main. Aku dibuat terpana oleh Mahmoud, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi," lanjut Prof. Jeffrey kagum.

Hadiah Alquran

Satu ketika, berlangsung acara perpisahan. Semua dosen dan mahasiswa turut hadir dalam acara yang diadakan di sebuah tempat di luar kampus itu."Aku benar-benar terkejut saat Mahmoud memberiku hadiah sebuah mushaf Alquran. Mahmoud juga menghadiahiku beberapa buku Islam," kata Prof. Jeffrey.

Atas inisiatifnya sendiri, dia pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran. Dua juz pertama dari Alquran yang sempat dipelajarinya telah membuat dia bagai terhipnotis.

"Tiap malam muncul beraneka macam pertanyaan dalam diriku. Tapi entah kenapa jawabannya segera kutemukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiranku dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Aku seakan menemukan diriku di tiap halaman Alquran...," tukas Jeffrey lagi.

Bersyahadah di mushallah kampus

"Sekitar tahun 80-an belum banyak pelajar muslim yang studi di Universitas San Francisco. Waktu itu bisa jumpa dengan mahasiswa Islam sangat surprise," aku Prof. Jeffrey.

Ada cerita menarik tatkala dia sedang menelusuri kampus, secara tak terduga aku menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. "Rupanya ruang itu dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk shalat lima waktu," lanjut dia lagi.

Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahunya membuncah. Dia pun bersegera masuk ke tempat shalat tersebut. Waktu itu pas masuk waktu shalat zuhur dan dia pun diajak untuk ikut shalat oleh para mahasiswanya. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya. Air matanya terlihat menetes.

"Kami berdiskusi tentang masalah agama. Aku utarakan semua bertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalaku. Dan, sungguh luar biasa, aku benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata jawabannya ada dalam ajaran Islam," tutur dia. "Tahu tidak, setelah keluar dari mushallah itu, aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah!," tutur Prof Jeffrey.

Kenapa kita shalat, Ayah?

Prof Jeffrey secara rutin menunaikan shalat lima waktu dan merasakan ketentraman jiwa luar biasa. Shalat subuh, seperti diakuinya, adalah salah satu ritual yang sangat indah dalam Islam dan dia merasakan kesan mendalam dari shalat subuh.

Satu hari Jeffrey ditanya oleh Jameelah, anak perempuannya yang kala itu berumur delapan tahun, selepas dia shalat Zuhur. "Ayah, kenapa kita harus shalat?," tanya anaknya polos.

"Aku terhenyak dengan pertanyaannya. Aku benar-benar tidak mengira seorang anak berumur delapan tahun akan bertanya seperti itu. Ingin kuceritakan padanya bagaimana kelebihan dan kenikmatan shalat. Tapi apa dia bisa mengerti? Akhirnya kujawab bahwa kita shalat karena itu perintah Allah," tukas sang professor.

"Tapi ayah, apa yang bisa kita peroleh dengan shalat?," tanya sang anak lagi masih penasaran."Anakku, hal ini masih sulit untuk kamu pahami. Satu hari nanti, jika kamu sudah istiqamah dengan shalat lima waktu, ayah yakin kamu pasti akan dapatkan jawabannya," pungkas Prof Jeffrey bijak.

"Apakah shalat bisa bikin kita bahagia ayah?." lanjut Jameelah kecil.

"Sayangku, shalat adalah salah satu obat penenang jiwa. Sekali kita bersentuhan dengan kasih sayang Allah di dalam shalat, maka itulah kenikmatan yang luar biasa. Satu waktu, selepas lelah sehabis kerja, ayah merasakan semua rasa lelah itu hilang saat mengerjakan shalat," imbuhnya lagi meyakinkan sang anak.

Itulah kisah sang profesor yang juga meraih karir bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika. "Matematika itu logis dan berisi fakta-fakta berupa data real untuk mendapatkan jawaban konkret," tutur dia.

"Dengan cara seperti itulah aku bekerja. Adakalanya aku frustrasi ketika ingin mencari sesuatu tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Islam, bagiku, semuanya rasional, masuk akal dan mudah dicerna," tukasnya.

Prof Jeffrey saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Asosiasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar muslim dengan universitas. Tak hanya itu, dia bahkan ditunjuk untuk memberikan mata kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.

Prof Jefrey menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga buah hati yakni Jameelah, Sarah dan Fattin. Jeffrey juga penulis buku yang handal. Selain ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas muslim Amerika. "Even Angels ask; A Journey to Islam in America" adalah salah satu buku best sellernya. Dalam buku itu dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.

[Zulkarnain Jalil/irg


sumber :[www.hidayatullah.com]

Muhammad Abdullah (d/h Alexander Pertz) : Kisah Islamnya Bocah Amerika

0


illustrasi

Rasulullah saw bersabda: �Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.� (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas. Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi.

Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar�i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad �Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, �Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?

Wartawan itu berkata: �Tidak�. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , �Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?�. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. �Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan �umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?�

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, �Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.�

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, �Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?� Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, �Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku�.

Wartawab bertanya kembali, �Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?�

Muhammad tersenyum sambil menjawab, �Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama�. Kemudian dia meneruskan : �Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut�.

�Apakah cita-citamu ?� tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, �Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad�.

�Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?� tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : �Sesungguhnya gambar Ka�bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain�.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad �Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka�bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, �Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar."

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, �Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini."

�Apakah cita-citamu yang lain ?� tanya wartawan.

�Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.� jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, �Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina."

�Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?� tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, �Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.�

�Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?� tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : �Tentu"

�Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?�

Muhammad menjawab, �Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi."

�Apakah engkau sholat di sekolahan ?�

�Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari� jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,�Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?�

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.(Syhdt/sbl)

Berita diatas belum/tidak tersedia streaming medianya. But Instead ada kemiripan dengan versi british kids converted to Islam. Amazing!. Watch!!

http://www.youtube.com/view_play_list?p=03F2679F98A4125E


sumber : swaramuslim.net

Vicente Mota Alfaro: Dari Mualaf Sampai Menjadi Imam Masjid

0

Vicente Mota Alfaro menjadi mualaf pertama di Spanyol yang memegang posisi imam di masjid Islamic Cultural Center of Valencia (CCIV) dan memimpin salat berjamaah di masjid itu. Selain imam masjid, Alfaro juga menjadi anggota Dewan Direkur CCIV sejak tahun 2005.

Posisi imam masjid mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Alfaro, karena tiga belas tahun yang lalu ia adalah penganut agama Katolik yang taat, rajin membaca alkitab setiap hari dan tidak pernah absen menghadiri misa mingguan di gerejanya.

Ketika ditanya tentang perubahan hatinya dan perjalanannya dari seorang penganut Katolik yang taat menjadi seorang Muslim, Alfaro memberikan jawaban sederhana,"Ini semua adalah kehendak Allah, Islam menjadi pilihan saya dan menjadi hidup saya."

Alfaro memutuskan masuk Islam pada saat ia berusia 20 tahun dan masih menjadi siswa sekolah menengah. "Saya membaca kitab suci al-Quran. Saya menemukan kebenaran tentang kisah Yesus Kristus dan kemudian saya masuk Islam," Alfaro menceritakan perjalanannya menemukan cahaya Islam.

Pada dasarnya, Alfaro memang dikenal religius. Sejak masa kanak-kanak, Alfaro sudah rajin ke gereja setiap minggu dan membaca alkitab dengan teratur. "Saya melakukannya, sementara anak-anak lain pada saat itu tidak punya minat pada agama. Ketika itu, saya tentu saja belum tahu tentang Islam," ujarnya.

Alfaro mengenal Islam dari tetangganya, seorang Muslim asal Aljazair yang sering ia ajak berbincang-bincang. "Suatu saat kami sedang ngobrol dan dia bilang bahwa semua umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa dan kita semua adalah anak-anak dari Nabi Ibrahim," kenang Alfaro tentang tetangganya.

"Kala itu, saya tercengang mendengar Muslim dan orang-orang Arab tahu tentang Adam, Hawa dan Ibrahim," sambung Alfaro.

Perbincangan itu memotivasi Alfaro untuk menggali lebih jauh tentang Islam. Ia jadi sering berkunjung ke perpustakaan dan meminjam terjemahan al-Quran. Terjemahan al-Quran itu ia baca dengan seksama di rumah.

"Saya sudah sering membaca di Gospel bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan Tuhan mengirim anaknya ke bumi untuk dibunuh dan disiksa guna membebaskan dosa-dosa manusia. Saya selalu bermasalah dengan hal itu, terutama untuk bisa mempercayai cerita itu," kata Alfaro.

Dan jawaban yang ia cari, ditemukannya dalam al-Quran. "Saya pelajari dari al-Quran bahwa Yesus tidak dibunuh atau disalib," ujar Alfaro.

Kisah Yesus dalam kitab suci al-Quran menyentuh hati Alfaro yang sejak mengucap dua kalimat syahadat mengubah namanya menjadi Mansour. "Saya langsung meyakini bahwa al-Quran adalah kitab suci yang benar yang berasal dari Tuhan. Dan saya langsung memutuskan ingin menjadi seorang Muslim," tukas Alfaro.

Begitulah perjalanan Alfaro atau Mansour menemukan kebenaran dalam Islam. Sampai akhirnya para pemuka komunitas Muslim di kota Valencia sepakat memilihnya menjadi imam masjid Valencia. Alfaro dipilih karena dianggap memiliki kemampuan dan memenuhi syarat-syarat untuk menjadi imam masjid.

"Dia dipilih karena pengetahuannya yang luas tentang agama," kata El-Taher Edda, sekretaris jenderal Islamic League for Dialogue and Coexistence.

Edda juga menegaskan bahwa penunjukkan Alfaro sebagai imam masjid Valencia merupakan pesan yang jelas tentang integrasi para mualaf ke dalam masyarakat Muslim.

Jumlah mualaf di Spanyol terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Menurut laporan media massa lokal, warga Spanyol yang masuk Islam bahkan dari kalangan intelektual, akademisi dan aktivis anti-globalisasi. Saat ini, jumlah warga Muslim di Spanyol dipekirakan sekitar 1,5 juta jiwa dari 40 juta total penduduk negara itu. Di Spanyol, berdasarkan undang-undang kebebasan beragama tahun 1967, Islam diakui sebagai agama resmi dan menjadi agama kedua terbesar setelah agama Kristen.(ln/iol)

sumber :eramuslim.com

Michael: Kebenaran Itu Hanya Ditemukan Dalam Islam

0

Michael David Shapiro adalah seorang Yahudi Rusia. Dulu, ia tidak terlalu yakin dengan adanya Tuhan. Cita-citanya menjadi seorang bintang penyayi rock, tapi sekarang ia bekerja sebagai sekretaris dan tinggal di sebuah apartemen.

Pencarian jati dirinya dimulai ketika ia berusia 19 tahun. Suatu malam, berniat ke dapur dan bertemu dengan rekannya seorang kulit hitam. Ia bertanya pada rekannya itu,"Bolehkah saya menyimpan vodka di kulkas malam ini?". Tak diduga, pertemuan itulah yang mengubah hidup Michael secara drastis.

Teman kulit hitam yang dijumpainya di dapur adalah seorang Muslim dan dia adalah Muslim pertama yang pernah Michael jumpai. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Michael mengajak lelaki kulit hitam itu berbincang-bincang tentang agama Islam. Tentang semua hal yang pernah Michael dengar seperti salat lima waktu, jihad dan sosok Nabi Muhammad saw.

Kemudian, teman mereka bernama Wade, seorang Kristiani bergabung dalam perbincangan itu. Jadilah mereka bertiga malam itu berdialog dengan Yahudi, Kristiani dan Muslim. "Ternyata kami menemukan banyak perbedaan dan banyak persamaan antara ketiga agama itu," kata Michael.

Setelah perbincangan itu, minat Michael yang selama ini hanya berkutat pada sex, narkoba dan pesta-pesta jadi berubah total. Ia mulai berminat untuk mencari kebenaran, mencari Tuhan, mencari bagaimana cara menjadi pengikutNya.

Ketika itu, kata Michael, ia memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana pada dirinya sendiri seperti 'berapa sebenarnya jumlah Tuhan?'. Michael berpikir bahwa jumlah Tuhan pasti cuma satu. Tuhan akan lebih kuat jika cuma satu. Karena jika Tuhan dua, kalau ada salah satunya yang berbeda pendapat maka akan terjadi pertentangan dan pertikaian. "Maka saya berpikir bahwa Tuhan itu satu," kata Michael.

Ia juga memikirkan tentang eksistensi Tuhan dan menganalisa keyakinan atheist dan keyakinan theist-theist lainnya. Saya teringat akan kata bijak "Setiap disain pasti ada disainernya". Bertolak dari kata bijak itu, mata saya terbuka bahwa Tuhan itu ada. "Saya tidak bisa menjelaskannya mengapa, saya hanya bisa merasakannya," ujar Michael.

Hal-hal baru yang ditemukannya, membuat Michael berpikir bahwa ia harus bertanggungjawab untuk mematuhi Sang Pencipta dan itu artinya ia harus memeluk satu agama. Pertanyaan lain pun menyusul, 'darimana ia akan memulai? karena secara harfiah jumlah agama bisa ribuan dan ia perlu memperkecil jumlah itu. Langkah pertama yang Michael lakukan adalah mengelompokan agama-agama monoteis dan itu sejalan dengan keyakinannya bahwa Tuhan itu satu. Ia mencoret Budha dan Hindu dari daftarnya dan melingkari tiga agama monoteis yaitu Islam, Kristen dan Yudaisme.

Karena ia seorang Yahudi. Michael mulai mempelajari Yudaisme terlebih dulu, mulai dari konsep Tuhan, nabi-nabi, 10 larangan Tuhan, Taurat dan tentang 'roh keyahudian', satu hal yang menarik perhatian dan membuat Michael ragu. Ia berpikir, ide tentang 'roh keyahudian' tidak universal karena 'jika seseorang dilahirkan sebagai Yahudi, maka orang itu punya jiwa Yahudi dan harus menjadi pengikut Yudaisme. Bagi Michael, ide semacam itu diskriminatif. Ia berpendapat bahwa semua manusia diciptakan sama. "Mengapa seseorang yang dilahirkan dalam agama tertentu harus tetap memeluk agama itu meski jika seseorang itu menemukan bahwa keyakinan yang dianutnya salah?" itulah pertanyaan yang muncul di benak Michael dan ia tidak sejalan dengan konsep tersebut.

Hal lainnya yang membuat Michael ragu dengan Yudaisme, tidak ada konsep yang jelas tentang neraka dalam Yudaisme. Jika konsep itu tidak ada, kenapa seseorang harus berbuat baik atau melakukan dosa? "Jika saya tidak takut akan hukuman yang berat, jadi kenapa saya harus bermoral," pikir Michael.

Michael akhirnya meninggalkan Yudaisme dan beralih belajar kekristenan. Agama ini juga membuat Michael mundur karena konsep trinitas dalam kristen yaitu bapak, putera dan roh kudus. Ia berpendapat, bagaimana bisa Kristen mengklaik percaya hanya pada satu Tuhan, jika menganut konsep trinitas.

Michael juga menganggap sejarah Yesus dalam Kristen aneh dan tak masuk akal. Dalam doktrin Kristen, Yesus adalah anak Tuhan yang harus dibunuh untuk menyelamatkan manusia dari "dosa asal" yang dilakukan Nabi Adam. Dalam Kristen, Yesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia.

Doktrin itu membuat Michael berpikir bahwa dalam agama Kristen seluruh umat manusia itu dilahirkan sebagai pendosa, yang melakukan perbuatan yang salah. Itu artinya, seorang bayi yang baru dilahirkan sudah berdosa karena melakukan hal-hal yang salah. "Doktrin yang aneh. Karena dosa satu orang, maka semua manusia harus menderita. Pesan moral apa yang disampaikan oleh doktrin semacam itu? Pemikiran seperti ini tidak masuk logika saya," ujar Michael.

Michael lalu mempelajari Islam. Ia menemukan bahwa Islam berarti patuh dan berserah diri. Prinsip dalam Islam adalah Tuhan yang Esa, salat lima waktu sebagai wujud ketaatan pada Tuhan, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji jika mampu secara finansial. Konsep yang buat Michael tidak terlalu sulit untuk dipahami.

Apa yang Michael pelajari tentang Islam tidak ada yang bertentangan dengan logikanya, termasuk kitab suci al-Quran dengan keajaiban-keajaiban yang mengagumkan dan ajaran-ajaran yang tak lekang oleh waktu. Michael menemukan fakta-fakta ilmiah yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu.

Dari sekian banyak hal yang Michael pelajari tentang Islam lewat buku-buku dan riset. Satu hal yang paling membuatnya tertarik adalah kata "Islam" yang dijadikan nama agama Islam disebut beberapa kali dalam al-Quran.

"Dari studi-studi yang sudah saya lakukan sebelumnya, saya tidak menemukan satu kalipun kata 'Yudaisme' ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama atau kata 'Kekristenan' dalam Kitab Perjanjian Baru. Saya heran mengapa saya tidak menemukan dua kata itu dalam dua kitab tersebut!" tukas Michael.

Ia lalu berpikir lebih dalam menemukan jawabannya. Kata Judaism bisa dipisah menjadi "Juda-ism". Begitu juga dengan Christianity bisa dipenggal menjadi "Chris-ianity". Siapakah Juda? Juda adalah salah satu pemimpin suku Yahudi. Jadi nama agama Judaisme diambil dari nama orang. Hal yang sama buat Kekristenan yang diambil dari kata Christ nama untuk Yesus.

Michael akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Christianity dan Judaism tidak disebut-sebut dalam kitab suci karena kedua nama itu datangnya dari manusia dan bukan dari Tuhan. Sedangkan Islam adalah nama agama yang datangnya dari Tuhan.

"Oleh sebab itu ajaran Kristen dan Yudaisme tidak kredibel. Setidaknya dari perspektif saya, kedua ajaran tersebut tidak murni, tidak logis dan tidak lengkap," kata Michael.

Ia melanjutkan,"Islam adalah satu-satunya nama agama yang disebut-sebut dalam al-Quran. Ini punya arti yang besar buat saya."

"Saya sadar, bahwa saya harus mengikuti ajaran Islam. Kemudian saya memilih menjadi seorang Muslim. Saya telah menemukan kebenaran. Saya sudah keluar dari kegelapan dan menemukan cahaya ... cahaya Islam," tandas Michael. (ln/readingislam/iol)


sumber :eramuslim.com

Islam Tumbuh Pesat di Inggris

0
Oleh: Gus Drun

Jumlah populasi umat Islam di Inggris mengalami peningkatan yang cukup membahagiakan. Berdasarkan hasil sensus, pada empat tahun terakhir ini jumlah kaum muslimin di Inggris meningkat dari setengah juta jiwa menjadi 2,4 juta jiwa, demikian menurut laporan hasil sensus yang dilakukan oleh Koran The Times, Senin (01/02).

Peningkatan jumlah umat Islam yang berlipat itu merupakan perkembangan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan agama Kristen. Menurut surat kabar The Times, penambahan jumlah kaum kristiani pada empat tahun terakhir ini hanya mencapai dua juta jiwa saja, padahal Inggris dihuni oleh mayoritas penduduk beragama Kristen.

Menurut para pengamat, bertambah pesatnya jumlah kaum muslimin disebabkan karena adanya para imigran muslim yang datang ke Inggris, meningkatnya jumlah kelahiran dari kaum muslimin, dan banyaknya kaum kristiani Inggris yang masuk Islam.

Dengan bertambahnya jumlah kaum muslimin ini, kini muslim Inggris berani memperlihatkan identitas mereka sebagai muslim setelah sekian lama mereka menyembunyikannya akibat peristiwa 11 September lalu.

Seorang pengamat Inggris, David Coleman mengatakan, "Peningkatan jumlah populasi kaum muslimin di Inggris ini mempunyai nilai tersendiri, perkembangan itu akan menambah kekuatan dan pengaruh mereka di Inggris."
sumber :eramuslim.com

Kisah Yesus Tingkatkan Muallaf Spanyol!

0


Vicente Mota Alfaro Imam Mesjid CCIV

Tiga belas tahun yang lalu Vicente Mota Alfaro adalah salah seorang pemeluk Kristen yang taat yang secara rutin mendatangi kelas Minggu dan membaca Injil setiap harinya. Namun hari ini, dia tidak hanya seorang Muallaf, namun dia adalah Imam Masjid dari Pusat Kebudayaan Islam Valensia (CCIV) .

Selain merupakan Muallaf pertama yang dipersilakan mengimami setiap kali sholat berjamaah, dia juga merupakan anggota Dewan Kepengurusan CCIV sejak 2005. Pemimpin kelompok Muslim Valensia menetapkan Alfaro sebagai Imam besar, dan berterima kasih atas kerja kerasnya.

“Dia pantas kami pilih karena kehebatan pengetahuan agamanya”, kata El-Taher Edda Sekretaris Umum Liga Islam bagian Dialog dan Perdamaian.

Dia meyakini Alfaro telah menyebarkan pesan yang nyata mengenai Muallaf yang bergabung dalam kekuatan Islam.

Beberapa media setempat tidak lama lalu melaporkan adanya peningkatan jumlah Muallaf di Spanyol, tanpa adanya pertentangan dari pihak manapun.

Diperkirakan Muslim Spanyol berjumlah 1.5 juta dari 40 juta penduduk keseluruhan.

Islam merupakan agama terbesar kedua setelah Kristen, dan telah mendapatkan pengakuan hukum sejak Juli 1967.

Ketika masyarakat bertanya kepada Alfaro bagaimana dia dapat menjadi seorang Muallaf, dia akan memberikan jawaban yang sederhana.

“Allah telah menjadikan Islam sebagai agama dan hidupku”, katanya mantap.

Saat itu Alfaro berusia 20 tahun dan masih berkuliah ketika dia memutuskan untuk menjadi Muallaf.

“Saya membaca Al-Quran, saya menemukan kebenaran tentang Yesus (Nabi Isa) dan saya putuskan menjadi Muallaf”.

Pada awalnya dia adalah seorang pemeluk Kristen yang taat.

“Dulunya saya rutin pergi ke Gereja tiap Minggu dan membaca Injil setiap harinya”.

“Pada saat itu saya tidak tahu sama sekali mengenai Islam”.

Dia mempunyai seorang tetangga Muslim Algeria yang memperkenalkannya pada Islam.

“Ketika berbincang-bincang dia mengatakan bahwa seluruh umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, dan semuanya merupakan anak dari Nabi Ibrahim”, kenangnya.

“Saya terkejut mengetahui bahwa dalam Islam juga mengenal Adam, Hawa, dan Ibrahim”.

Perbincangan tersebut rupanya membuat Alfaro muda semakin ingin mengetahui tentang Islam.

“Selanjutnya, saya meminjam salinan Al-Quran dari perpustakaan”.

Dia membawanya pulang dan membaca salinan Al-Quran tersebut dengan teliti.

Namun titik balik bagi Alfaro datang ketika dia membaca kisah tentang Yesus (Nabi Isa) dan kejadian penyaliban.

“Sebelumnya yang saya ketahui adalah Yesus merupakan anak Tuhan yang diutus ke dunia untuk menebus dosa umat manusia, dan sebetulnya hal tersebut cukup mengganggu saya”.

“Dan saya temukan jawabannya dalam Al-Quran. Yesus tidak pernah disiksa ataupun disalib”.

Muslim meyakini Nabi Isa sebagai salah satu Rasul yang diberi penghormatan lebih.

Dalam Islam, Nabi Isa tidak mengalami penyaliban, namun diangkat ke surga dan akan diturunkan kembali pada akhir zaman untuk memerangi Dajjal Al-Masih dan akan membawa kemenangan dan kejayaan bagi Islam.

Dan kisah tersebut merubah keyakinan Alfaro untuk menjadi seorang Muallaf bernama Mansour.

“Dengan cepat saya menyadari bahwa Al-Quran adalah Kitab Tuhan yang sesungguhnya, dan saya tidak pernah menyesal menjadi seorang Muallaf”. (iol/smedia)


Vicente Mota Alfaro, dulunya adalah seorang pemeluk Kristen yang taat dan kisah kebenaran Yesus (Nabi Isa) dalam Al-Quran telah membawanya ke jalan yang terang. Menurut sebuah laporan media, jumlah Muallaf di Spanyol mengalami peningkatan pesat.
Amparo Sánchez RosellAmparo Sánchez Rosell: "Hay que dejar que cada mujer musulmana decida si usa pañuelo"Los musulmanes de la Comunitat Valenciana se preparan para el Ramadán
Jamaah Pusat Kebudayaan Islam Valensia

Playlist: Muslim convert Spanish



Islam IN spanish


jejal Islam di Andalusia


sumber :swaramuslim.net



Alvero, Kisah Seorang Spanyol yang Memeluk Islam

0

“Saya benar-benar terkejut ketika mengetahui jika orang-orang Arab juga mengetahui sosok Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, Ishak, Dawud, dan al-Masih. Aku pun berusaha untuk mencari tahu lebih jauh tentang mereka, tentang Islam, juga membaca dan menelaah Al-Quran. Dari kitab suci itulah saya kemudian mengerti kisah al-Masih yang sebenarnya. Hingga akhirnya, saya pun memutuskan untuk menekap ke pelukan Islam.”

Demikianlah, tiga babak singkat dan sederhana itu telah menjadikan seorang lelaki Katholik Spanyol bernama Pithanta Mathius Alvero menjadi seorang Muslim. Ia kini telah berubah nama menjadi Syaikh Haji Manshur, dan menjadi imam shalat di mesjid Islamic Center Valencia, Spanyol.

Setelah Alvero dipandang cukup keilmuannya, pihak Islamic Center Valencia dan Organisasi Islam untuk Dialog Spanyol pun memilihnya untuk menjadi imam shalat di mesjid tersebut, sekaligus sebagai bentuk motivasi dan sokongan bagi seorang muallaf Spanyol.

“Syaikh Manshur terbilang sangat menguasai ilmu fikih dan ilmu keislaman lainnya,” ungkap Thahir Iddah, Sekretaris Jendral Organisasi Islam untuk Dialog di Valencia sebagaimana dikutip Islamonline (8/2).

Dalam wawancara khususnya dengan Islamonline, Alvero yang kini berusia 33 tahun mengisahkan jika saat berusia 20 tahun, setelah ia menamatkan pendidikannya di tingkat Bachelor, ia memutuskan untuk melanjutkan jenjang studinya di Institut Eropa untuk Kajian Islam (European Institute for Islamic Studies) di kota Chatou Chenouz, Prancis. Di kota itu pula ia menikahi seorang gadis Prancis keturunan Aljazair.

“Sebelum masuk Islam, saya adalah seorang Katolik yang taat. Saya memiliki keimanan yang teguh kepada Allah. Hampir setiap minggu saya rutin pergi ke gereja, dan kerap menghabiskan waktu dengan membaca Injil,” ungkapnya.

Pada saat itu, Alvero mengaku sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang Islam.

Perihal awal mula dirinya mengenal dan tertarik dengan Islam, Alvero mengisahkan jika ia memiliki seorang tetangga Muslim keturunan Aljazair. Orang Muslim tersebut kerap menyapa Alvero dengan ramah.

“Hingga suatu hari, ia berkata kepada saya, bahwa kita semua adalah anak-anak Adam dan Hawa. Meski demikian, kenapa kita saling berperang dan membenci? Seharusnya kita dapat hidup bersama-sama, sebab pada akhirnya, kita ini adalah satu keturunan dari bapak yang satu, dan kita pun satu rumpun dari Ibrahim, Ismail, dan Israil (Ya’qub).”

Dari pertemuan tersebut, Alvero merasa heran jika ada seorang Arab yang mengetahui tentang Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, Ya’qub, dan juga sejarah nabi-nabi. Dalam pandangan saya, orang-orang Arab itu adlah orang-orang sederhana yang tidak tahu menahi hal-hal tersebut.

Selang beberapa hari kemudian, Alvero pun semakin penasaran dengan dunia Arab, begitu juga dengan agama mereka, Islam. Ia pun memutuskan pergi ke Perpustakaan Valencia, lalu membaca Al-Quran terjemahan bahasa Spanyol dan juga buku-buku keislaman lainnya.

“Setelah sekian lama saya mengkaji Al-Quran dan keislaman, saya pun meyakini jika kitab suci tersebut adalah benar-benar wayu Allah, dan Islam adalah agama pungkasan yang diturunkan Allah. Dan tak lama setelah itulah, saya meyakinkan diri atas pilihan saya untuk memeluk Islam.”

Demikianlah, Allah menghendaki untuk memberikan cahaya petunjuknya kepada siapapun orang yang Ia kehendaki.

sumber : [atj/iol/www.hidayatullah.com]

Indian Nobel Prize Nominee Embraces Islam

1 komentar
It takes extraordinary courage for a rich and famous Hindu to embrace Islam and be faced with the ire of Hindu extremists, who recently murdered an Australian Missionary priest and his two lovely children by burning them alive.
The celebrated Indian novelist and poetess Dr. Kamala Das is now Suraiyya. Her Krishna poems are replaced by Ya Allah.
Kamala's "My Story" has been published in more than 15 languages and is a text book in Japan. Her English poetry collections include: Summer in Calcutta, Alphabet of Lust, The Descendants, Old Play House, and Only the Soul Knows How to Sing. She has been awarded numerous prizes and was the only Malayalee to be nominated for the Nobel Prize.
Here is part of the "Times of India" article:
I like Islam's orthodox lifestyle: Kamala Das S Balakrishnan
The Times of India
MUMBAI: Noted writer Kamala Das finds herself in the eye of a storm following her recent decision to embrace Islam and change her name to Suraiya. This is not the first time she finds herself embroiled in a controversy. Her writings in the past have generated considerable heat. But the earlier controversies were essentially confined to literary circles. Her decision to convert to Islam has taken Kerla by storm with applause and criticism both flying in her direction. The Times of India spoke to her over the telephone at her home in Kochi on Tuesday evening. Excerpts:
Question: When exactly did you decide to embrace Islam? Answer: I do not remember the exact time. I think it was about 27 years ago.
Q: Why did you wait so long to convert? A: When I discussed the matter first with my husband in the early seventies, he asked me to wait. He advised me to read books on Islam. I again thought of converting before the 1984 parliamentary elections.
But, not all my children were married and settled at that time. I did not want my decision to impact on their lives. Now, all of them are well settled and happy. Hence, I have announced my decision now.
Q: Who introduced you to Islam? A: My first interface with Islam was through two blind Muslim children, Irshad Ahmed and Imtiaz Ahmed. They were sent to me by the National Association for the Blind since I had volunteered to read and teach the blind. The children virtually stayed at our flat at Bank House at Churchgate, Mumbai. I was required to read them Islamic scriptures.
Q: What was it in Islam which attracted you? A: I liked the purdah which Muslim women wore. I liked the orthodox lifestyle of Muslim women.
Q: But, doesn't the Purdah circumscribe your freedom? A: I don't want freedom. I had enough of it thrust on me. Freedom had become a burden for me. I want guidelines to regulate and discipline my life. I want a master to protect me. I wanted protection and not freedom. I want to be subservient to Allah. In fact, for the past 24 years I had worn a purdah off and on. I had gone to markets, matinee shows and even while abroad I had worn purdah. I have several of them.
A woman in purdah is respected. No one touches you or teases you if you wear one. You get total protection.
Q: But isn't freedom the most precious of all gifts enjoyed by humankind? A: My freedom had become frayed at the edges. It was not good any more. It was no more the toy I wanted to play with. I had outgrown the desire for freedom.
Q: What was the immediate reason to accept Islam? A: Recently I was travelling in a car from the Malabar to Kochi. I started the journey at 5.45 a.m. I looked at the rising sun. Surprisingly, it had the colour of a setting sun. It travelled with me and at 7.00 a.m. it turned white. For years I have been looking for signs telling me when to convert. Finally, I got the message.
Q: Can you please specify the three chief reasons which prompted you to become a Muslim? A: I cannot list the reasons like that. I wanted protection. My husband died seven years ago and I am now a lonely widow who is 67 years old. When he was there he provided me with protection. I had not to bother about getting tickets, passports, visa and such other things. I just had to follow him.
Q: Did your children approve of your decision? A: Yes they did. They respect my decision. In fact, one of my sons has embraced Buddhism.
For additional reading: High priestess of love "The Week" "How I embraced Islam "-Islamic Bulletin Kamala Das, nee Surayya, is VHP's new hate object - Rediff on the Net. "The Hindu" newspaper article: Suraiyya triggers purdah boom Famous Indian writer embraces Islam - Khaleej Times

source : http://islamedia.ws/

Iman from Italy finds Islam

0
By Mrs N. Hashim
The convert has asked to remain anonymous for her own reasons. I will call her "Iman" for although she is a new Muslim she has a faith that comes to many people only after countless hours of study and reflection. Her discovery and belief in Islam has come through such an unusual channel that its' purity and innocence alone is refreshing.
Iman was born in Italy and migrated with her parents to Canada when she was small. She was educated in Roman Catholic parochial schools equipped with nuns and priests and the daily lessons in catechism. She says that they spoke endlessly of their homeland and without the intention, instilled in Iman a yearning to see Italy.
When she finished her university she went for a vacation to Italy and found it more lovely than she had imagined. She had found her passion in life and after much contemplation, she made the move and lived there for six years.
She was never the materialistic type but more on the intellectual side and spent all her free time at museums and art galleries and Italian operas. She says quite animatedly, if one wants to enjoy life, then Italy is the place to go.
In Italy, she met a Jordanian man and married him, moving immediately to Jordan. The fact that he was Arabic-speaking and Muslim did not daunt her and she never gave it any other thought. She disliked having to leave Italy and felt homesick in the beginning. She was shocked by the Muslim way of dress and felt compassion for the covered women. She saw her mother-in-law wake at Fajr for prayer and made up her mind that it was definitely not the religion for her.
Iman always believed in God but was not a practising Christian. She had friends of both faiths in Jordan and she noticed some prejudice from the Christian Arabs towards the Muslims and thought perhaps because the Christians are a minority they felt threatened. She was dismayed when a Christian friend in Jordan who wanted to be Muslim had to run away from home to do so. Her family had warned her against it; there was nothing else she could do.
She came to Saudi Arabia with her husband and, as happens to many women, she found herself with lots of time on her hands and spent it reflecting about what life means and the direction hers was taking. Being away from the mundane things forced her to re-evaluate her life. She recalled many happenings from Jordan and began to think about Islam.
Iman never contemplated becoming Muslim until her son began school. She wanted to know what it was he was learning and how she might be able to help him in his studies. She thought that she should at least know what he expected of her. Her son is extremely intuitive and sensitive and she could tell that he was concerned about the souls of his parents. His father was not in the habit of taking him to the mosque but when he was in first grade he asked to go. This made a big impression on her coming from someone so young. She thought, could it be he knows something that I don't?
A Muslim friend gave her a book about Islam entitled Islam in Focus. She says she almost became convinced just from the introduction of the book. From her continued reading she found answers to Roman Catholic doctrines she had questioned long ago. For instance, how could it be that, if a child died before he was baptised that he would not go to heaven but instead stay in limbo. She learned that Islam teaches no form of original sin. She also learned about Jesus in Islam. This was a big factor in that before converting she felt she would be turning her back on everything she had been taught; that he was God made man and had died for our sins on the cross. "And when it is recited to them, they say; 'We believe therein, for it is the truth from our Lord: indeed we have been Muslims (bowing to Allah's will) from before this'". (Quran 28:53)
Looking back she realises how ridiculous it was. She understands that God does not make mistakes. He has sent us thousands of Prophets and now suddenly he comes to earth in the form of a man to convince mankind. No, the Prophets were all men, chosen for a specific purpose. She understands that man has included these items in the religion and they are not from God.
When some of her Christian friends learned of her intention to convert they disappeared from her life instantly. She finds it difficult to comprehend that they are not interested in finding out the truth and she is sure they have the same doubts that she had. People all over the world who had never heard of Islam before are becoming Muslim and the people who have been raised in Muslim countries deny the truth of Islam. Its incredible!
She was worried that she would not be able to pray five times a day. Coming from a Christian background it certainly seemed in-surmountable but she said it was so easy to do and she began to look forward to the next prayer time. Now she finds herself completely absorbed when she prays and is at peace and quite content that she has made the right choice.
She often thinks about her six years in Italy being wasted, in that she could have spent that time learning about Islam. It is strange to think that she was once so happy there, enjoying all that life could offer. She says alhamdulillah over and over for the gift of Islam.
"By no means shall ye attain righteousness unless ye give (freely) of that which ye love: and whatever ye give, Allah knoweth it well." (Quran 3:92) http://islamicweb.com/begin/newMuslims/convert_italy.htm

Source : http://www.islamselect.com

A French Doctor of Medicine Narrates his Adherence to Islam

0
As a Doctor of Medicine, and a descendant of a French Catholic family, the very choice of my profession has given me a solid scientific culture that had prepared me very little for a mystic life. Not that I did believe in Allah, but that the dogmas and rites of Christianity in general and of Catholicism in particular never permitted me to feel His presence. Thus, my unitary sentiment for God forbade my accepting the dogma of the Trinity, and consequently of the Divinity of Jesus Christ.
Without yet knowing Islam, I was already believing in the first part of the Kalimah - La ilaha illa-Allah (There is no true god except Allah). So, it was first of all for metaphysical reasons that I adhered to Islam.
Other reasons, too, prompted me to do that. For Instance, my refusal to accept catholic priests, who, more or less, claim to possess on behalf of God the power of forgiving the sins of men. Further, I could never admit the Catholic rite of communion, by means of the host (or holy bread), representing the body of Jesus Christ, a rite which seems to me to belong to totemistic practices of primitive peoples, where the body of the ancestral totem, the taboo of the living ones, had to be consumed after his death, in order better to assimilate his personality.
Another point which moved me away from Christianity was the absolute silence which it maintains regarding bodily cleanliness, particularly before prayers, which has always seemed to me to be an outrage against Allah. For if He has given us a soul He has also given us a body, then we have no right to neglect. The same silence could be observed, and this time mixed with hostility with regard to the physiological life of the human being, whereas on this point Islam seemed to me to be the only religion in accord with human nature.
The essential and definite element of my conversion to Islam was the Quran. I began to study it, before my conversion, with the critical spirit of a Western intellectual, and I owe much to the magnificient work of Mr. Malek Bennabi, entitled Le Phenomene Coranique, which convinced me of its being divinely revealed. There are certain Verses of this Book, the Quran, revealed more than fourteen centuries ago, which teach exactly the same notions as the most modern scientific researches do. This definitely converted me to the second part of the Kalimah: 'Muhammad -ur-Rasulullah' (Muhammad is the Messenger of Allah).
This was my reason for presenting myself at the Mosque in Paris, where I declared my faith in Islam and was registered there as a Muslim by the Mufti of the Paris Mosque, and was given the Islamic name of 'Ali Selman Benoist.'
I am very happy in my new faith, and proclaim once again: "I bear witness that there is no true god except Allah; and I bear witness that Muhammad is Allah's slave and Messenger."

Source:http://www.islamweb.net/ver2/archive/article.php?lang=E&id=35680

A Different Childhood

0
By Anisa Kissoon

Speaker’s Corner in Hyde Park.
I am a 26-year-old woman from a British -Caribbean background. I was brought up in the UK and currently live there. My journey started at the ripe old age of five. One day I ran away from Sunday school because the teacher was trying to convince me that God was really one but was also three at the same time. I didn’t believe him. I was not old enough to question and debate so I just rebelled and ran away. That was the end of Sunday school for me.
Throughout my early teenage years I visited many churches including the Catholic Church, the Seventh Day Adventist Church, the Mormons, and the Jehovah witnesses. I found that what they all had in common was that they professed monotheism but actually believed in more than one God. I found it strange that grown up people could think so illogically. At that time Islam was not on my mind because I had come to think it was an Asian religion. When I was a young teenager I didn’t know anything about Islam. As West Indians we always looked at Asians as having strange religions—idol worship and so on. So I ended up putting Islam into that category. At that time I felt Islam was not an option for me.
When I was eleven, my brother was learning about Islam. I found out in later years that he had actually embraced the religion but kept it somewhat secret. He always told me not to drink alcohol, date, or take drugs and so on. I listened to him and so was kept away from many dangers. The fact that he instilled these moral values in me was the beginning of a foundation of Islam in my heart. I had already stopped eating pork and in my heart I always believed there was only One God.
I was a person who spoke out and fought for what I believed. I had a positive view of life—taking care of the environment, speaking out against racism, and so on, and this led me to understand Islamic principles and later to recognize them when I read the Qur’an. Then one day my friend told me I should go to Hyde Park where they have a place for people to speak freely on any subject. The Muslims were a common sight there talking to the public about Islam. On that particular day Abdul Raheem Green, from London Central Mosque, was speaking and my heart was touched. He spoke about Prophet Muhammad (peace be upon him) in such a beautiful, simple, and attractive way that he had all my attention. I already believed in the other prophets. I knew they never sought the world and he explained that Muhammad (peace be upon him) was like them but the difference was that he was the final prophet in the long chain of prophethood that had begun with Adam, the first man (peace be upon him). Therefore, Muhammad (peace be upon him) concluded the divine message to mankind.
I already had belief in One God and I understood the importance of morality, so learning about the significance of the Qur’an and the role of Muhammad (peace be upon him) sealed my understanding. It was simple and understandable to me. That night I decided that I didn’t want to die in a state of hesitation, so I determined to make the Shahadah. My friend’s brother had become a Muslim at 17 years of age, so I went to her house to see her brother and make Shahadah. In my own little world I did not realize that I had already become a Muslim in my heart so my Shahadah simply confirmed what I already was.
I started attending lessons held by Abdul Raheem Green. I learnt more about the basic beliefs in Islam and the importance of Tawhid and the significance of these beliefs in everyday life. The lessons were very spiritual and motivated us to learn more and do more. From there I started to talk about Islam to my family and in my school. At school I started a prayer room and there we used to have discussions at lunchtime. From this many students were attracted to Islam. A lot of the influence came from the seeds my brother had planted in my heart long ago. The advice he gave us to keep away from harmful immoral actions and behavior held me in good stead until I came to understand Islam more fully. When he was just 12 years old my brother was already praying and reading Qur’an even though no one else in the family was Muslims. He influenced me so much.
The main obstacles I faced were peer pressure from the West Indian community particularly when it came to hijab. Even though I wasn’t wearing a full hijab the male teachers in my school would pressure me and belittle me in an attempt to take it off. Most of the kids at school that turned to Islam through the prayer room and study circle were born Muslims who had lost their identity, as well as some who reverted.
I used to attend a performing arts school but when I accepted Islam I stopped performing in front of men and this was a big sacrifice for me and caused a lot of pressure as teachers tried to coax me to continue because I was good at this. My faith was strong so I trusted in Allah and became determined to follow the rules regardless of what people might say, think, or do.
The thing that attracted me to Islam was that it coincided with my instinctive belief in One God; I always thought it was an insult to put partners with Him.
At one point my family took me to Jamaica to visit my extended family there who were Christians. They built churches and were very active in their community, so when I told them about my conversion to Islam, they told me: their prayers are ritualistic; their clothes are a costume; their women are oppressed, and basically they were determined to put Christ back into my heart. They didn’t understand that Christ was already in my heart but he is loved my me as a prophet and messenger of Allah; not in the way they loved him.
I was 15 years old, but I refused to attend church and I didn’t go swimming with them or attend functions when men and women mixed socially. I was determined to have the right to swim in a women’s area. They thought I was just going through a phase and that I’d change. So far, five members of my family have accepted Islam as a way of life. All Praise and Thanks be to Allah.

Source: http://www.islamonline.net/english/journey/2005/03/jour01.shtml

Kaci Starbuck Bangga Jadi Muslimah

0
Perceraian orangtua membuat keluar dari Kristen. Kaci kemudian lebih memilih Islam dan bangga dengan jalan hidupnya yang baru

Semasa remaja dia aktif di kelompok musik gereja. Kala orangtuanya cerai, ajaran Kristen mulai hilang dalam kehidupannya. Ketika masuk bangku perguruan tinggi dia pindah ke Winston Salem, North Carolina, AS untuk kuliah di Wake Forest University. Di sanalah dia kenal seorang mahasiswa muslim yang tinggal seasrama dengannya. Islam kemudian menjadi jalan hidupnya. Uniknya, walau belum masuk Islam, dia bahkan telah aktif membantu organisasi Islam di kampus. Tak hanya itu, dia juga mencoba mengenakan kerudung. Dialah Kaci “Raihanah” Starbuck yang memeluk Islam pada 12 Juli 1997.

“Aku bangga jadi muslimah,” kata dia satu ketika. Apa dan bagaimana hingga dia bersyahadah dan akhirnya mengenakan jilbab secara sempurna? Berikut kisahnya.

0O0

“Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen. Tapi aku tahu tentang Kristen justru setelah dibaptis di sebuah gereja. Saat itu usiaku masih sangat belia sekali. Di sekolah Minggu aku dapat pesan bahwa jika kamu tidak dibaptis, maka kamu tidak bakal masuk neraka," ujar Kaci memulai kisah uniknya.

Kaci mengaku waktu itu rela dibaptis untuk menyenangkan perasaan orang tuanya. “Satu hari, ayah dan ibuku masuk ke kamar dan meminta kesediaanku untuk dibaptis. Dia sangat berharap aku mau melakukannya. Akupun mau dan siap untuk dibaptis di gereja,” tukas Kaci.

Sebelum dibaptis dia musti menjawab beberapa pertanyaan. Kala ditanya: “Kenapa kamu mau dibaptis?“ Kaci menjawab, “Karena aku cinta Yesus dan aku tahu Yesus juga cinta aku.“ Begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan lain dijawabnya dengan lugas. Lalu diapun dibaptis dengan disaksikan sejumlah jamaah gereja.

Anggota vokal grup gereja

Masa-masa awal di gereja, begitu juga ketika masih di taman kanak-kanak, Kaci pernah jadi anggota vokal grup dan aktif di kegiatan misa mingguan. Kemudian, beranjak remaja, dia masuk dalam kelompok grup musik young girls” yang sering dapat undangan di berbagai kegiatan gereja dan juga aktifitas rohani lainnya di luar gereja.

“Waktu usia remaja aku sering dapat undangan seperti mengisi acara musik di perkemahan dan kegiatan rekreasi lainnya. Di dalam grup musik, aku dikenal saat itu sebagai yang ”dituakan” dan dijuluki "gadis pemain piano."

“Beberapa tahun kemudian, kedua orangtuaku bercerai. Satu hal yang tak pernah kubayangkan dalam hidup ini akhirnya terjadi padaku. Kejadian ini sampai membuat agama Kristen tak lagi menarik bagiku. Waktu masih bocah, aku melihat keluarga seakan sempurna, tak ada cela. Ayahku adalah salah satu pengurus gereja. Orangnya sangat respek hingga semua jamaah kenal dia. Tapi beranjak remaja begini kejadiannya,” ungkap Kaci kecewa.

”Tahun-tahun berikutnya kulalui tanpa ayah. Aku, abang, dan seorang adikku pindah ke rumah ibu. Saat itu, ibu tak begitu aktif lagi ke gereja. Begitu pula dengan kedua saudaraku, mereka menganggap gereja tak penting lagi. Selama pindah ke rumah ibu, aku juga pindah ke sekolah baru dan ketemu banyak teman baru. Dan disana pula aku memulai kehidupan baru dalam hal agama. Aku jumpa dengan satu grup musik gereja di sana,” kata dia.

”Mereka bercerita tentang keyakinan yang ada di gereja mereka. Jemaah di gereja ini mengamalkan kitab Perjanjian Baru. Mereka tak pakai alat musik saat nyanyi di gereja. Hanya grup paduan suara. Gereja ini juga tak menggaji pendeta. Tapi orang tertua dalam jemaah yang meminpin setiap acara hari Minggu. Jemaah perempuan tidak boleh ceramah di gereja ini. Begitu pula dengan acara Natal, Paskah dan hari-hari libur lainnya, tak pernah dirayakan. Bagiku ini termasuk hal baru. Hingga aku mengira, apa dulu aku berada di jalan yang salah? Haruskah aku dibaptis lagi?,” imbuh Kaci panjang lebar.

Kenal Islam

Terhadap semua hal baru itu, Kaci curhat pada ibunya. Dia mengaku sekarang bingung dengan kontradiksi dalam ajaran Kristen. Tahun berikutnya, Kaci pun mulai kuliah di perguruan tinggi dan dia pun pindah ke kota Winston Salem, masih di North Carolina, AS. “Satu hari aku ketemu dengan seorang pemuda muslim yang juga tinggal se-asrama dengan aku. Dia cukup ramah dan kami sering terlibat tukar pikiran masalah keyakinan hidup,” kata Kaci yang kuliah di Wake Forest University.

”Satu sore, kami habiskan waktu hingga berjam-jam untuk berdiskusi tentang filosopi dan keyakinan hidup Islam. Alhasil, muncul pertanyaan dalam diriku: Apakah manusia dilahirkan dalam satu agama, dan hanya ada satu agama yang benar? Hari-hari berikutnya aku sering ketemu mahasiswa Islam ini dan melanjutkan diskusi kami yang belum tuntas. Namun, aku masih belum puas dengan jawabannya, yang menurutku masih menyentuh dasar Islam. Aku sendiri dapat memahami keterbatasan dia dalam menjelaskan Islam. Aku berupaya mencarinya sendiri,” imbuh dia lagi.

Ketika libur musim panas, Kaci memutuskan untuk kerja part time di sebuah toko buku. Di sana pula dia bisa “mengenal Islam lebih dekat.” Buku-buku Islam yang ada di toko buku itu dilahapnya. Dia juga bisa ketemu dengan seorang mahasiswa muslim lain yang juga belajar di kampus yang sama. Berbagai pertanyaan yang tersimpan sekian lama dalam kepalanya pun ditumpahkan. Rupanya si pemuda ini mampu menjawab setiap ada pertanyaan dari Kaci. Tak lama, Al-Quran pun jadi bacaan rutinnya. Tak hanya itu, Kaci juga mulai tertarik ke mesjid. Setidaknya, dia ada dua kali dalam seminggu ke mesjid setempat. Ada kebahagian yang mulai meretas dalam dirinya kala itu.

“Selepas mempelajari Islam sepanjang libur musim panas itu, aku mulai tersentuh dengan berbagai pernyataan dalam Islam. Pernah, aku coba ikut kuliah Perkenalan Islam di kampus. Waktu itu aku sedikit frustrasi, sebab dosen pengajar mata kuliah ini memberikan komentar yang menurutku salah. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengoreksinya,” ungkap Kaci mengkritisi dosen yang bukan beragama Islam tersebut.

Organisasi Islam

Di luar aktifitas kuliah, diam-diam Kaci aktif terlibat sebagai anggota di sebuah organisasi sosial berafiliasi Islam. ”Ya aku terlibat di Islam Awareness Organization. Aku satu-satunya anggota yang perempuan. Oleh anggota lainnya, aku masih sering disebut dengan "gadis Kristen dalam kelompok kita". Tiap ada pertemuan, ucapan itu pasti keluar. Entah kenapa, batinku tak suka disebut seperti itu. Padahal, aku melakukan segala sesuatu persis seperti apa yang mereka lakukan. Jadi, menurutku, aku seorang muslim juga,” tukas Kaci.

Kaci mengungkapkan bahwa dia sudah tidak makan babi lagi. Sudah berhenti mengkonsumsi alkohol. Bahkan kala Ramadhan dia juga ikut berpuasa. Yang menakjubkan, persis di akhir tahun pertamanya di universitas, terjadi perubahan dalam diri Kaci. Dia memutuskan untuk mengenakan kain kerudung penutup rambutnya! “Aku tak ingin rambutku ini dilihat orang lain. Jika nanti menikah, hanya suamiku yang boleh melihatnya. Begitupun, aku belum berani memakai baju muslimah secara sempurna kala itu,” ujarnya.

Chating di internet

Satu hari Kaci mempelajari Islam melalui internet. ”Aku juga mencari alamat e-mail orang-orang Islam. Maksudnya biar bisa jumpa seorang muslim yang bisa kuajak diskusi. Aku selalu menulis di surat elektronik dengan pesan tambahan ”saya bukan sedang mencari jodoh – tapi hanya ingin mempelajari Islam,” kata dia.

Beberapa hari kemudian, Kaci menerima balasan dari tiga orang muslim. Satu dari mahasiswa Pakistan yang sedang studi di AS, satu dari India tapi sedang belajar di Inggris, dan terakhir berasal dari muslim yang berdomisili di Uni Emirat Arab (UAE).

”Masing-masing mereka saling membantuku. Kami terlibat diskusi secara unik di tiga negara berbeda. Tapi akhirnya aku sering kontak dengan yang di Amerika. Karena kami dalam zona waktu yang sama. Jadi perbedaan waktunya tidak jauh berbeda. Jika aku kirim pertanyaan, maka dijawabnya dengan segera dalam rentang waktu yang sama. Jawaban-jawabannya pun rasional, masuk logika pikiranku.

“Dalam pandangan Islam semua manusia sama. Islam tak melihat warna kulit, usia, jenis kelamin, ras, suku bangsa, dan lainnya. Yang penting hatinya beriman kepada Allah,” kata dia kagum. Kaci terus mendalami Islam hingga dia sampai pada keyakinan bahwa Islam adalah agama pembawa kebenaran.

”Tiap ada kesulitan akan suatu perkara, maka aku langsung melihat jawabannya dalam Al-Quran. Aku juga makin merasakan nikmatnya persaudaraan dalam Islam. Bukan main,” akunya.

Bersyahadah

Niat Kaci untuk mengikrarkan syahadahnya pun makin mengental. “Aku mendeklarasikan syahadah di mesjid. Aku kini percaya hanya ada satu Tuhan [Allah swt] yang patut disembah. Satu hari di bulan Juli 1997 aku berbicara dengan seorang muslim via telepon. Aku bertanya banyak hal tentang cara masuk Islam dan dijawab dengan simpel sekali. Hingga aku pun memutuskan untuk ke mesjid esok harinya,” kisah Kaci lagi.

Keesokan harinya Kaci pun berangkat dari rumah kost nya di Wake Forest ke mesjid terdekat. Dia ditemani oleh dua orang teman baiknya. Satu muslim, satunya lagi non-muslim. Tapi, menariknya, dia tidak menceritakan pada mereka apa maksudnya ke mesjid.

”Aku cuma bilang mau diskusi dengan pak imam. Sesampai di mesjid, pak imam barusan memberi khutbah dan jamaah mulai shalat Jumat. Nah setelah semuanya beres baru aku bicara dengan beliau. Waktu itu aku tanyakan apa yang musti dilakukan seseorang yang ingin masuk Islam. Sang imam menjawab bahwa ada beberapa hal dasar yang perlu dimengerti tentang Islam. Plus dua ikrar dua kalimah syahadah. Lalu aku beritahu pak imam bahwa aku sudah belajar Islam lebih dari setahun dan sekarang sudah siap jadi seorang muslimah. Tak menunggu lama, aku pun mengucapkan kalimah syahadah. Ya, tepatnya tanggal 12 Juli 1997 aku memeluk Islam. Alhamdulillah…

Dipecat karena jilbab

Kaci bangga dengan keislamannya. Ia terus belajar dan belajar. Termasuk dalam hal ibadah. “Mula-mula aku belajar tatacara shalat. Lalu mengikuti aneka aktifitas mesjid. Bahkan aku pergi ke banyak mesjid, seperti mesjid di Winston Salem, North Carolina. Yang paling menakjubkan, aku akhirnya berani memakai hijab secara sempurna, persis dua pekan setelah memeluk Islam. Alhamdulillah, selepas memeluk Islam, aku merasakan begitu banyak ”pintu” yang terbuka. Semua itu terbuka dengan kasih sayang Allah,” pungkas Kaci yang kemudian mengganti namanya menjadi Raihanah.

Pernah satu ketika, di musim panas, dia bekerja part time di sebua toko tas. Waktu itu dia sudah mengenakan jilbab. Rupanya direktur perusahaan itu tidak suka dengan jilbab Kaci. ”Dia minta aku untuk melepas jilbab jika ingin tetap bisa kerja. Tentu saja aku tidak mau. Akhirnya aku musti keluar dari tempat kerja alias dipecat. Mereka mengira jilbab akan membatasi aku dan menganggap aku tidak bisa bekerja jika mengenakan jilbab. Tapi aku sendiri merasa bisa bergerak bebas kendati berjilbab. Tapi tak apa, aku tak menyesal. Aku bangga bisa jadi seorang muslimah,” cerita Kaci tentang sikap diskriminasi di tempat kerjanya.

Itulah langkah besar dalam perjalanan hidup Kaci ”Raihanah” Starbuck. Ketabahan dan kekuatan imannya patut diacungi jempol hingga dia mampu menjalani berbagai ujian selaku muallaf baru. Begitulah.

sumber : [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]