Alvero, Kisah Seorang Spanyol yang Memeluk Islam

“Saya benar-benar terkejut ketika mengetahui jika orang-orang Arab juga mengetahui sosok Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, Ishak, Dawud, dan al-Masih. Aku pun berusaha untuk mencari tahu lebih jauh tentang mereka, tentang Islam, juga membaca dan menelaah Al-Quran. Dari kitab suci itulah saya kemudian mengerti kisah al-Masih yang sebenarnya. Hingga akhirnya, saya pun memutuskan untuk menekap ke pelukan Islam.”

Demikianlah, tiga babak singkat dan sederhana itu telah menjadikan seorang lelaki Katholik Spanyol bernama Pithanta Mathius Alvero menjadi seorang Muslim. Ia kini telah berubah nama menjadi Syaikh Haji Manshur, dan menjadi imam shalat di mesjid Islamic Center Valencia, Spanyol.

Setelah Alvero dipandang cukup keilmuannya, pihak Islamic Center Valencia dan Organisasi Islam untuk Dialog Spanyol pun memilihnya untuk menjadi imam shalat di mesjid tersebut, sekaligus sebagai bentuk motivasi dan sokongan bagi seorang muallaf Spanyol.

“Syaikh Manshur terbilang sangat menguasai ilmu fikih dan ilmu keislaman lainnya,” ungkap Thahir Iddah, Sekretaris Jendral Organisasi Islam untuk Dialog di Valencia sebagaimana dikutip Islamonline (8/2).

Dalam wawancara khususnya dengan Islamonline, Alvero yang kini berusia 33 tahun mengisahkan jika saat berusia 20 tahun, setelah ia menamatkan pendidikannya di tingkat Bachelor, ia memutuskan untuk melanjutkan jenjang studinya di Institut Eropa untuk Kajian Islam (European Institute for Islamic Studies) di kota Chatou Chenouz, Prancis. Di kota itu pula ia menikahi seorang gadis Prancis keturunan Aljazair.

“Sebelum masuk Islam, saya adalah seorang Katolik yang taat. Saya memiliki keimanan yang teguh kepada Allah. Hampir setiap minggu saya rutin pergi ke gereja, dan kerap menghabiskan waktu dengan membaca Injil,” ungkapnya.

Pada saat itu, Alvero mengaku sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang Islam.

Perihal awal mula dirinya mengenal dan tertarik dengan Islam, Alvero mengisahkan jika ia memiliki seorang tetangga Muslim keturunan Aljazair. Orang Muslim tersebut kerap menyapa Alvero dengan ramah.

“Hingga suatu hari, ia berkata kepada saya, bahwa kita semua adalah anak-anak Adam dan Hawa. Meski demikian, kenapa kita saling berperang dan membenci? Seharusnya kita dapat hidup bersama-sama, sebab pada akhirnya, kita ini adalah satu keturunan dari bapak yang satu, dan kita pun satu rumpun dari Ibrahim, Ismail, dan Israil (Ya’qub).”

Dari pertemuan tersebut, Alvero merasa heran jika ada seorang Arab yang mengetahui tentang Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, Ya’qub, dan juga sejarah nabi-nabi. Dalam pandangan saya, orang-orang Arab itu adlah orang-orang sederhana yang tidak tahu menahi hal-hal tersebut.

Selang beberapa hari kemudian, Alvero pun semakin penasaran dengan dunia Arab, begitu juga dengan agama mereka, Islam. Ia pun memutuskan pergi ke Perpustakaan Valencia, lalu membaca Al-Quran terjemahan bahasa Spanyol dan juga buku-buku keislaman lainnya.

“Setelah sekian lama saya mengkaji Al-Quran dan keislaman, saya pun meyakini jika kitab suci tersebut adalah benar-benar wayu Allah, dan Islam adalah agama pungkasan yang diturunkan Allah. Dan tak lama setelah itulah, saya meyakinkan diri atas pilihan saya untuk memeluk Islam.”

Demikianlah, Allah menghendaki untuk memberikan cahaya petunjuknya kepada siapapun orang yang Ia kehendaki.

sumber : [atj/iol/www.hidayatullah.com]

0 komentar:

Post a Comment